Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Akhirnya Bang Fakhri Bertemu Humairoh


__ADS_3

Sebelum baca, mohon pencet dulu Vote, Like, Love, Favorit & Rate5🙏🙏


Kalau mau kasih hadiah juga lebih bagus🙏🙏


Demi kelanjutan novel author agar bisa naik level🙏✌


Dan demi semangat author biar rutin updatenya💪💪🙏


Teteup setia yak✌


Author jamin, part selanjutnya akan makin seru✌


Love lagi sekebon ubi dari author😘


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


"Apa maksudmu Gun?" tanya kakek Kosim pada Gunawan.


"Kita laki-laki Sim. Kau tahu bukan apa yang bisa kita lakukan jika menyangkut orang yang kita cintai," jawab kakek Gun yang dibalas kerutan di kedua alis kakek Kosim seakan bertanya.


"Jika menyangkut kebahagian Rania, dua cucuku itu akan berusaha sama kerasnya," ujar kakek Gun lagi menjelaskan, kali ini sambil menghela nafasnya berat.


"Kau tahu Sim. Reyhan bahkan bersedia menggantikan abangnya Fakhri untuk di jodohkan dengan Humai," kakek Gun berkata kembali.


"Demi Rania?" tanya kakek Kosim yang dibalas anggukkan kepala dari kakek Gun.


Kakek Kosim terdiam. Menatap ragu pada wajah sahabatnya itu.


"Jika kita akhirnya menjodohkan Humai dengan Reyhan saja, apakah itu tidak justru lebih menyedihkan Gun?" tanya kakek Kosim pada kakek Gun.


"Bukanlah lebih baik keduanya mencoba untuk saling mencintai. Ketimbang menikah dengan laki-laki yang jelas sudah mencintai wanita lain," jawab kakek Gunawan akan pertanyaan sahabatnya itu.


Kakek Kosim terlihat menghela nafasnya kembali masih dengan berat. Baik Fakhri maupun Reyhan, nyatanya keduanya sama saja, sam menyulitkannya bagi Humai nantinya.


Belum lagi kemauan cucunya itu yang mencintai Fakhri. Merelakan dan ikhlas meski hanya dijadikan istri kedua sekalipun. Lagi-lagi helaan nafas berat kakek Kosim yang terdengar.

__ADS_1


"Kita lihat bagaimana nanti setelah semua bertemu Gun," ujar kakek Kosim lagi pelan.


"Iya Sim," balas kakek Gun sama pelannya, bahkan nyaris tidak terdengar.


Keduanya sadar persoalan perjodohan ini menjadi semakin rumit dan sulit.


Flash Back Off


"Lalu putramu apakah tidak datang?" tanya kakek Gun mencari keberadaan putra tertua kakek Kosim.


"Maaf. Putraku itu sedang berada di luar kota menyelesaikan pekerjaannya. Bahkan istrinyapun diajak serta. Kau tahu bagaiamana posesifnya Jo pada istrinya itu," jawab kakek Kosim tersenyum.


Kakek Gunawanpun tersenyum saja mendengarnya. Berbeda dengan bang Fakhri, laki-laki dingin itu terlihat mendengarkan saja percakapan kedua kakek yang bersahabat karib itu dengan mimik wajah yang sama sekali tidak terbaca.


"Mari kita langsung ke meja makan saja. Ngobrol santai sambil santap siang," ajak kakek Kosim kepada tamunya.


Semuapun beralih ke ruang tengah yang sudah di tata menjadi ruang makan besar yang menampung semua anggota keluarga dan para tamu. Banyak hidangan yang tertara dan terlihat sangat menggiurkan di atas meja makan.


Nenek Rinjanipun mempersiapkan semuanya di bantu Aisyah, putrinya. Saat semua sudah menuju meja makan dan baru hendak memilih tempat duduk masing-masing. Suara lembut seseorang terdebgar mengucapkan salam terdengar.


"Waalaikumsalam," jawab semua orang yang ada di ruangan berbarengan.


Kini semua pandangan mengarah pada satu suara tersebut. Semua mata memandang sosok gadis yang baru saja mengucapkan salam tersebut.


"Perkenalkan, ini cucu perempuanku, Humairoh," kakek Kosim membawa Humai di hadapan semua orang.


Seorang gadis cantik berhijab navy memakai gamis renda berwarna biru laut berenda navy, terlihat tengah tersenyum cantik menatap semuanya.


Kemudian gadis itu memberi salam dan mencium punggung tangan semua orang tua yang berada di ruangan itu, terkecuali Andi, bang Fakhri dan Rania. Humai hanya menyatukan dua tangannya di depan dada, menatap lawan bicaranya, dan tersenyum cantik.


Humai memang cantik, Andi bahkan mengakuinya. Gadis itu sebelas dua belas dengan Rania. Sama cantiknya, sama lembutnya, sama santunnya, sama pemalunya, bahkan mereka terlihat seperti dua saudara kembar saja. Bang Fakhri tentu saja bisa bingung jika harus memilih andai dia belum mencintai Rania, gumam Andi sesaat setelah menatap Humairoh.


Persepsi yang sama juga memenuhi kepala abi dan umi. Gadis ini adalah versi Rania yang terpisah dari keluarganya. Andai mereka tidak mengenal jika Humai adalah anak Aisyah dan Pandu. Tidak dapat dipungkiri jika Humai dianggap kembaran Rania. Tapi jika dilihat kembali, malah terlihat seperti adik kandung Rania. Karena Rania yang tinggi dan langsing. Sedang Humai imut dan mungil. Benar sekali apa yang dibilang abah Gunawan, jika gadis itu sangat mirip dengan Rania.


Tapi berbeda halnya dengan bang Fakhri. Dia memicingkan matanya menatap Rania. Mencoba mengingat dosen di tempat yang sama dengan dirinya mengajar. Humairoh Spd.Mpd. Iya, bang Fakhri mengingat dosen sastra inggris ini. Bang Fakhri mengingat mereka pernah berapa kali berjumpa. Dan bahkan gadis ini selalu membantunya kala itu.

__ADS_1


Tetapi tetap saja, bang bang Fakhri yang hatinya sudah dipenuhi dengan Rania. Humairoh itu B aja. Tidak ada yang istimewa. Bang Fakhri menatapanya seperti biasa dia menatap para gadis yang selalu mendamba dan memujanya. Tatapan yang sangat dingin dan kaku.


Rania berusaha melirik suaminya. Diam-diam menatap laki-laki yang sangat dicintainya itu. Bang Fakhri terlihat biasa saja, bahkan sedari tadi masih menggenggam erat tangan Rania. Membawa istrinya itu kemanpun dia melangkah. Hati Rania menjadi sedikit tenang, kala mata teduh itu menatapnya lembut dan menghadiahkan satu senyuman tampan.


Terlihat masih dengan menggenggam tangan Rania, Fakhri menarik satu kursi, untuk ditempati Rania duduk. Baru kemudian menarik satu kursi lagi disebelah Rania, untuk bang Fakhri sendiri. Dan jangan lupakan, tangan itu masih posesif menggenggam tangan Rania. Bang Fakhri menggunakan satu tangan lainnya untuk melakukan hal tadi.


Dan semuanya tidak lepas dari perhatian Humairoh. Gadis itu terus menatap kedua pasangan di hadapannya itu. Seketika nyalinya menjadi ciut. Keberanian hatinya yang berulang ingin berada di sisi bang Fakhri, meskipun menjadi istri keduanya sekalipun, mendadak raib. Humairoh menelan ludahnya kasar, sambil terus memperhatikan bagaimana lembut dan perhatiannya bang Fakhri pada istrinya itu.


Semua sudah berada di meja makan besar di ruangan tersebut. Menikmati suguhan makan siang lezat yang disediakan tuan rumah, keluarga abah Kosim. Nenek Rinjani benar-benar mempersiapkannya dengan sangat baik. Semua hidangan yang tersedia begitu lezat dan menggugah selera.


"Bang, bagaimana Nia bisa makan....," bisik Rania pelan sambil melirik tangan kanannya yang terus digenggam bang Fakhri di atas meja.


Fakhri menatap tangannya yang menggenggam erat tangan Rania. Menatap Rani lbut, tersenyum tampan, baru kemudian melepaskan genggaman tangan tersebut.


Keduanya mulai mengikuti yang lain, menikmati kelezatan makan siang yang dihidangkan nenek Rinjani dan keluarga.


Sesekali Fakhri meletakkan potongan lauk di piring Rania. Bang Fakhri sangat faham bagaimana pemalunya istrinya itu. Rania pasti terpaksa hanya mengambil lauk yang terdia dihadapannya saja, kekeh bang Fakhri tersenyum sendiri.


Dan perlakuan manis tersebut bukan hanya tertangkap pandangan mata Humai saja. Keluarga abi Kosimpun melihat bagaiamana kedua pasangan pengantin itu menunjukkan keharmonisan keduanya.


Sementara keluarga abah Gun terlihat biasa saja. Mereka semua, baik Kakek Gun dan nenek Meyra, abi Fahlevi dan umi Reka sudah terbiasa melihat bagaiamana bang Fakhri selalu memperlakukan lembut istrinya Rania.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻


Klik profil untuk cek novel Author yg lain


⤵️




Author Kesayanganmu😘😘

__ADS_1


WCU


__ADS_2