Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Undangan Bersampul Silver


__ADS_3

Nia, mbak mampir ke kantormu siang ini. Kita makan siang bareng, pesan whatsapp yang dibaca Rania pagi itu setelah duduk di meja kerjanya.


Baik mbakku, balas Rania cepat dengan tidak lupa menambahkan emoticon hati. Tiba-tiba saja, Rania begitu merindukan mbak Sinta.


Sejak keputusan Rania yang meminta direktur Reymond kembali pada kekasihnya. Rania memutuskan untuk keluar dari perusahaan milik direktur Reymond dimana selama ini dirinya bekerja. Walaupun pak Reymond bahkan mbak Bella memintanya untuk bertahan di sana, namun Rania sudah bulat dengan keputusannya.


Rania bukannya takut akan jadi bahan gunjingan di kantor. Karena sejak dulu Rania memang bukan jenis wanita yang perduli akan omongan orang lain. Rania gadis yang sangat lurus, untuk berfikir negarif saja dia tidak pernah. Kehidupan gadis cantik itu selalu lempeng saja, datar. Lempeng aja seperti tidak ada iramanya.


Dan di sinilah Rania. Sebuah perusahaan baru temparnya kini bekerja kini. Dia harus menerima bantuan direkturnya itu yang sudah merecomentkan dirinya untuk bisa bekerja pada perusahaan sahabatnya.


Rania tidak bisa menolaknya. Apalagi saat pak Reymond berkata setidaknya inilah hal terakhir yang bisa dilakukannya untuk Rania.


"Jangan pernah menyangkal bahwa kau pernah sangat berarti dalam hatiku. Setidaknya ini adalah hal terakhir yang bisa kulakukan untuk dirimu Nia," pinta Reymond tulus kala itu pada Rania.


"Andai aku bisa mengganti perasaanku dan menganggapmu hanya sebagai seorang adik saja, mungkin hal itu sudah kulakukan," jelas Reymond kembali.


Perkataan pak direktur saat itu otomatis sukses membuat Rania terdiam. Mungkin kali ini lebih baik Rania menerima kebaikan pak direktur padanya.


Tapi jujur, sesungguhnya dalam hati Rania juga akhirnya terenyuh.


Maaf baru menyadari bahwa cinta itu ternyata benar ada dan tulus. Maaf jika memutuskan untuk menjauh. Maaf jika Allah ternyata tidak memggariskan jodoh kita, ujar Rania sendu dalam hati.


"Nia sayangku.....," teriak Sinta begitu tiba di rumah makan dekat kantor Rania tempat mereka janjian untuk bertemu.


"Mbak Sinta....Nia kangen banget," jawab Rania sudah tampak berkaca-kaca.


Sudah hampir tiga bulan Rania pindah ke kantor baru. Tidak lagi bisa bertemu Sinta setiap hari. Selama ini Sinta dan Rania layaknya seperti adik dam kakak. Saling berbagi, saling melindungi, saling menyayangi. Bahkan Sintalah satu-satunya orang yang paling keras membela Rania ketika para karyawan tidak menyukai Rania dulu karena iri.


Setelah tidak lagi satu kantor. Setelah sangat jarang bisa bertemu setiap hari. Rania dan Sinta makin menyadari, bahwa mereka menyayangi satu sama lain. Tenyata cinta dan kasih sayang itu nggak melulu soal hubungan darah.


"Udah ah....adek mbak Sin kok cengeng gini," Sinta mencoba tertawa menghilangkan suasana sedih yang tiba-tiba menggelayuti keduanya.


"Mbak Sin....Nia beneran kangen," rajuk Rania pada Sinta kemudian.


Sinta tersenyum menatap Rania. Kenapa gadis ini sekarang jadi cengeng dan manja begini yah, ujar Sinta dalam hati.


"Mbak Sinta malah lebih kangen lagi dek," balasnya kembali tersenyum lembut.

__ADS_1


"Adikku ini, sudah beberapa bulan nggak ketemu, makin cantik aja sih," rayu Sinta kemudian.


"Mbak ngerayu Nia yah....," sungut Rania kembali.


"Ya udah kita pesen makan siang dulu sambil cerita. Ntar keburu habis jam istirahat kantor," ajak Sinta yang diangguki Rania setuju.


Tidak berapa lama keduanya sudah asyik menikmati makan siang menu andalan di rumah makan ini sambil asyik bercerita kembali.


Rania dan Sinta seakan dua saudara yang terpisah belasan tahun dan dipertemukan kembali oleh jalinan kasih. Tidak ada habis rasanya cerita yang keluar dari bibir keduanya.


"Mbak....Mbak Sinta tumben ngajakin ketemuan, ada apa?" akhirnya Rania bertanya juga setelah menyelesaikan suapan terakhirnya.


Sinta menyelesaikan makan siangnya, kemudian mnyeruput sisa juice jeruknya yang tersisa seperempat gelas lagi itu. Lalu mengeluarkan undangan tebal berwarna silver dari dalam tasnya.


"Pak direktur menugaskan mbak langsung untuk mengantarkan undangan ini padamu Nia. Dengan pesan agar diterima langsung olehmu. Pak direktur juga meminta dengan sangat untuk hadir di acara pernikahannya nanti," ujar Sinta menyerahkan undangan tersebut pada Rania.


Rania menerima undangan tebal bersampul silver tersebut. Membaca nama kedua mempelai yang tertera di sana. Tersenyum tulus membaca tiap kata yang tertulis di dalam hatinya.


"Akhirnya cinta pak direktur dan mbak Bella bersatu mbak," ujar Rania dengan nanar.


Sinta menangkap sedikit kesedihan dari suara Rania. Gadis ini terlalu polos untuk memahami bagaimana cinta mestinya harus diperjuangan. Bagaimana naifnya Rania dulu, yang mengangap perasaan pak direktur hanyalah lelucon belaka.


"Semoga keduanya selalu berbahagia. Karena kebahagian mereka juga sudah mengorbankan kebagian satu orang di sini," ujar Sinta seolah menyindir.


"Itu namanya nggak jodoh mbak. Makin berusaha dikejar mati-matian kalau memang nggak jodoh nggak akan mungkin bersatu. Memutuskan menyerah dan melepasnyapun kalau memang jodoh pasti akan bersatu mbak," jawab Rania berusaha diplomatis.


Sinta setuju. Karena diapun percaya bahwa jodoh itu di tangan Tuhan.


"Lalu bagaimana dengan ustadmu itu?" tanya mbak Sinta mulai kepo.


"Entahlah mbak. Nia juga memutuskan untuk melupakan cinta Nia padanya," ujar Rania ambigu.


"Maksudnya kamu sudah tidak ingin lagi mengejar cinta ustad idolamu itu Nia?" tanya Sinta lagi memastikan.


"Serius mau ngelupain itu ustad? Melupakan laki-laki yang bahkan sudah membuat kamu hendak menolak perasaan cinta sesempurna pak direktur?" lagi-lagi Sinta bertanya karena meragu.


Rania memandang Sinta. Jangankan dirinya. Mbak Sinta sendiripun meragukan keputusannya.

__ADS_1


"Sejujurnya perasaan itu tidak pernah berubah di hati Nia. Tapi Nia mau realistis saja mbak," keluh Rania menarik nafasnya berat.


"Kalau memang Nia dan bang Fakhri berjodoh. Nia yakin, cinta kami pasti akan menemukan jalannya sendiri. Tapi kalaupun memang bang Fakhri bukan jodoh Nia, pasti Allah juga tidak akan membuat kami bersatu mbak," jelas Rania kembali.


Sinta menatap saja Rania. Membenarkan semua yang dikatakannya. Sekaligus menatap sedih akan kisah cintanya yang sulit sekali untuk bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kalau laki-laki itu orang lain, bukanlah sang ustad yang diidolakannya itu, mungkin akan lebih mudah untuk mencomblangkan keduanya. Tapi ini, yang dicintai Rania itu seorang ustad. Bagaimana bisa memaksanya untuk bersama Rania.


"Bang Fakhri itu udah kenal Nia lama mbak. Bahkan beberapa kali kita bertemu karena menyangkut urusan pekerjaan. Sepertinya memang tidak ada ketertarikan bang Fakhri pada Nìa mbak," Rania kembai mengeluh.


"Bang Fakhri memang pernah mengatakan kalau dia tidak mungkin pacaran, karena dalam agama memang tidak ada istilah pacaran mbak. Jadi bila bang Fakhri bertemu wanita soleha yang dikiranya baik untuk dirinya, keluarga dan agama. Bang Fakhri akan mengajaknya bertaaruf," ujar Rania kembali.


"Sepertinya Rania bukanlah wanita soleha yang pantas mendampinginya mbak," kali ini Rania benar-benar seperti sedang mengeluh.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Hiks....hikss....hikkss.....semangattt Rania💪💪💪


Author bukannya nggak mau bantu. Tapi seperti kata kamu, jodoh itu nggak bisa dipaksain. Karena semua punya jalan ceritanya sendiri🙏🏻✌


Maaf banget baru update🙏🏻✌


Coz Author juga punya kesibukan di dunia nyata🤭🤭✌


Disamping lagi ngerjain juga novel terbaru Author.


Klik profil aku aja, biar gampang buka novel Author yang lainnya🙏🏻😊



Jangan lupa Vote, Favorit & Like & Comennya yah readers tercintahhh🙏🏻🙏🏻


Biar Author jadi semangat buat up per harinya🙏🏻✌



Novel Author yg lain👆


Baca juga kisah Nayna dan Nayla dalam novel "Love Or Be Loved" yang nggak kalah serunya sama kisah Rania di novel "Mengejar Cinta Ustad✌🙏🏻

__ADS_1


Vote, Favorit & Like juga yahh reader tercintahhh✌🙏🏻


Author kasih double kiss nih😗😙😚


__ADS_2