Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Pahala Bagi Orang-Orang Yang Bersabar


__ADS_3

Sebelum baca, mohon pencet dulu Vote, Like, Love, Favorit & Rate5🙏🙏


Kalau mau kasih hadiah juga lebih bagus🙏🙏


Demi kelanjutan novel author agar bisa naik level🙏✌


Dan demi semangat author biar selalu rutin updatenya💪💪🙏


Maaf Author tiga hari ini tidak update novel, karena dalam kondisi sakit🙏


Note


Dalam penulisan, kata umi yang benar adalah double M yaitu ummi.


Author baru merevisi sebagian, mohon maaf jika masih terdapat salah penulisan dalam part yang belum di revisi🙏


Author juga akan bertahap merevisi typo dalam kesalahan typo pada penulisan nama tokoh dan lain-lain🙏


Mohon memaklumi🙏


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Bang Fakhri yang sempat tertidur sebentar sambil memeluk Rania, tiba-tiba terbangun. Jam sudah menunjukkan hampir pukul sembilan malam.


Ditatapnya Rania yang masih terlelap dalam gelungan selimut. Bang Fakhri bergerak perlahan, memindahkan kepala Rania yang terlelap dalam pelukannya ke atas bantal secara perlahan. Istrinya itu terlihat sedikit bergerak, namun matanya tetap terpejam. Sepertinya masih di bawa alam mimpi bawah sadarnya.


Bang Fakhri yang telah memindahkan Rania, menurunkan kakinya perlahan dari atas tempat tidur, membersihkan diri dan mandi wajib, kemudian melaksanakan kewajibannya sebagai seorang muslim, mengerjakan shalat isya.


Karena dilihatnya Rania masih terlelap dalam mimpi. Bang Fakhri memutuskan keluar dari kamarnya, berjalan menuju arah dapur. Bang Fakhri masih melihat uminya yang saat itu masih berada di dapur.


"Mau makan bang? tanya ummi begitu dilihatnya putra sulungnya itu berada di meja makan.


"Maaf ummi, Rania sepertinya kecapekan dan masih tertidur," ujar bang Fakhri menjawab pertanyaan ummi dengan permintaan maaf.


Ummi tersenyum. Teringat bahwa Rania tadinya memang berjanji akan memasak makan makan malam untuk mereka sekeluarga, hingga membuat putranya itu mengucapkan permintaan maaf.


"Tidak apa-apa bang, Ummi mengerti," jawab ummi masih tersenyum menatap sang putra sulung.


"Bawalah nampan itu ke kamar abang. Ummi sudah menyiapkannya. Ajaklah istrimu mengisi perutnya dulu. Jangan biarkan tidur dengan perut kosong, nanti sakit," ujar ummi pada bang Fakhri akhirnya.


"Baik ummi, terima kasih perhatiannya pada istri abang," jawab bang Fakhri menatap lembut ibu yang melahirkannya itu.


Umi menatap lembut putra sulungnya lalu berkata, "Sejak hari dimana izab kabul, istrimu sudah menjadi putri ummi juga bang," balas ummi tersenyum dan memerintahkan putranya untuk kembali membawa nampan berisi makan malam ke dalam kamarnya.

__ADS_1


"Sayang.....," panggil bang Fakhri lembut membangunkan Rania setelah meletakkan nampan makanan tadi di meja yang ada di kamar mereka.


"Hmmm.....," Rania membuka mamatanya perlahan.


"Ayo makan dulu, ini sudah hampir jam sepuluh malam. Setelah makan bersihkan diri lalu shalat isya," ujar bang Fakhri kembali menatap istrinya lembut.


"Astagfirullah, Nia ketiduran bang," Rania beristighfar menatap sendu bang Fakhri dengan perasaan bersalah.


"Kenapa wajahnya bersedih begitu?" tanya bang Fakhri heran.


"Nia malu bang. Nia udah janji sama umi untuk memasak makan malam, tapi malah berakhir ketiduran," jawab Rania kembali, nada suaranya penuh dengan rasa bersalah.


"Ummi memakluminya sayang. Ummi malah menyuruh abang membawa makanan untuk makan malam kita," jawab bang Fakhri mengusap lembut pucuk kepala Rania, menunjuk nampan yang berisi makanan yang tadi diletakkannya di atas meja kamar.


Mendengar penjelasan bang Fakhri membuat Rania makin diliputi rasa bersalah.


"Sudahlah jangan merasa bersalah sayang. Besok pagi bisa menggantikan ummi membuat sarapan untuk kita sekeluarga, sebelum kembali ke rumah," saran bang Fakhri menenangkan perasaan Rania yang merasa tidak enak hati pada umminya.


Rania menganggukkan kepalanya menerima saran dari sang suami.


"Nia mau membersihkan diri dulu bang," ujar Rania lembut.


"Lebih baik makanlah dulu sayang. Tidak enak nanti jika makanannya sudah dingin. Setelah makan baru membersihkan dan sholat," bang Fakhri memberi sarannya kembali.


"Baiklah bang," balas Rania.


Lalu membawa Rania untuk duduk di ujung ranjang dan bersandar di dipan ranjang tempat tidur mereka.


"Duduklah dan pakai selimut saja, biar abang yang menyuapimu sekalian," ujar bang Fakhri yang telah selesai mencuci tangannya.


"Tapi bang.....," bantahan Rania sudah dipotong bang Fakhri begitu saja.


"Sudah, jangan membantah abang terus. Hari sudah bertambah malam, dan kita harus segera mengisi perut kita yang kosong," jawab bang Fakhri.


Setelah mengucapkan bismillah. Rania dengan malu membuka mulutnya, ketika satu sendok nasi dan lauk sudah di suapkan bang Fakhri tepat di depan mulutnya. Secara bergantian bang Fakhri juga memasukkan suapan nasi beserta lauk tersebut ke dalam mulutnya sendiri. Hingga beberapa saat kemudian, isi nampan telah tandas masuk ke dalam perut pasangan suami istri tersebut.


Setelah keduanya meneguk air putih dan mengucapkan hamdalah, bang Fakhri membereskan nampan dan meja serta kursi kembali ke tempatnya semula.


"Istirahatkan sebentar perutmu sayang. Baru setelah itu bersih-bersih dan sholat. Abang membawa nampan ini ke dapur dulu," perintah bang Fakhri pada Rania.


Tidak ingin merepotkan umminya kembali. Sampai di dapur bang Fakhri membawa bekas makannya tadi ke dalam wastafel cuci piring, kemudian mencucinya bersih. Setelah semua dirasa beres, bang Fakhripun kembali ke kamarnya, dengan membawa satu botol air minum dan gelas. Persiapan jika Rania atau dirinya sendiri merasa haus nanti malam.


Setelah sampai di kamarnya kembali. Dilihatnya Rania sudah tidak berada di tempat tidur, bahkan sprei tempat tidur terlihat telah rapi dan telah berganti dengan yang baru. Bang Fakhri mendengar suara keran air di dalam kamar mandi kamarnya.

__ADS_1


"Nia, jangan terlalu lama mandinya, hari sudah malam, nanti masuk angin," ujar bang Fakhri di depan pintu kamar mandi setelah lebih dulu mengetuknya, agar Rania mendengar.


"Iya bang...," jawab Rania dari dalam.


Setelah beberapa saat Raniapun keluar dari dalam kamar mandi, sudah memakai daster tidurnya. Lalu segera mengerjakan kewajibannya shalat isya. Rania langsung saja shalat tanpa mengajak bang Fakhri, karena Rania yakin suaminya itu sudah mengerjakan shalatnya lebih dulu.


Selesai shalat Rania naik ke atas tempat tidur, mendekati bang Fakhri, meminta tangan bang Fakhri untuk mencium punggung tangannya. Setelah melihat punggung tangannya di cium Rania. Bang Fakhri mendekatkan wajahnya kemudian mencium lembut kening istrinya untuk beberapa saat.


Dengan tetap tersenyum kemudian tangan bang Fakhri mengusap lembut perut datar Rania yang masih tertutup dengan mukena.


"Robbanahablana min azwajina wazurriyatina qurrata a’yunin waj’alana lilmuttaqina imaama.”


Artinya, "Ya Tuhanku, anugerahkan kepada kami istri-istri kami beserta keturunan kami sebagai penyenang hati kami dan jadikanlah kami imam bagi orang yang bertakwa."(Al-Furqan: 74).


"Aamiin....," jawab Rania dengan penuh harap pula.


Setelah membereskan mukena dan peralatan sholatnya. Rania kembali naik ke atas tempat tidur, dan kembali masuk ke dalam pelukan bang Fakhri, dengan menjadikan salah satu lengan bang Fakhri sebagai bantal. Meringsek kembali dalam dekapan hangat sang suami. Sebuah pelukan yang seakan terus menguatkan dan memberi perlindungan untuk diri dan hatinya.


"Istirahatlah sayang, pasti masih lelah," ujar bang Fakhri semakin menarik tubuh Rania lebih rapat dengan tubuhnya.


"Abang tahu, pelukan ini adalah tempat ternyamanku saat ini. Nia tidak butuh ke tempat yang indah dimanapun. Cukuplah berdua abang, dalam dekapan hangat ini. Itu sudah cukup bagi Nia," ujar Rania berucap masih dalam dekapan suaminya.


Bang tersenyum. Ternyata istri pemalunya ini bisa juga berkata manis. Bang Fakhri mengecup lama pucuk kepala Rania yang tidak lagi tertutup hijab. Sebelah tangannya yang bebas membelai lembut rambut panjang hitam milik Rania.


Sesungguhnya orang-orang yang bersabar akan dipenuhi pahala mereka tanpa hitungan. Semoga aku dan istriku sabar dan ikhlas atas semua ujianmu ya Rabb, ucap bang Fakhri dalam hati dengan penuh khusuk.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡




Dua novel author di atas mungkin akan jarang update🙏☝️


Tapi tetap autor usahakan diselingi updatenya walau tidak rutin🙏


Author fokus pada novel Mengejar Cinta Ustad ini☝️


Dan juga novel baru author ini


👇


__ADS_1


Author Kesayanganmu😘


WCU


__ADS_2