
Fakhri masih menikmati secangkir kopi latte di sudut favoritnya, tempatnya setelah peluh bekerja, memberikan ilmu yang dibagikannya dengan cinta sebagai dosen pengajar di kampusnya.
Fakhri menyeruput kopinya dengan elegan. Menikmati sore yang akan menjelang senja. Sejak pertemuan terakhirnya dengan Rania. Entah mengapa, fikirannya selalu dipenuhi gadis berkulit putih itu. Fakhri bahkan mengingat dengan detail pertemuan terakhir mereka itu.
Hari itu, hari dimana Fakhri tidak sengaja menjumpai Rania. Menatap lekat wajah seorang gadis, memastikan pandangannya pada sosok yang tengah duduk sendiri di sebuah bangku taman, tengah memperhatikan anak-anak bermain dan suasana sekitar taman malam itu.
Hari itu kali pertamanya Fakhri berani menatap lekat wajah Rania. Kali pertamanya Fakhri menyadari betapa cantiknya gadis yang sudah cukup lama dikenalnya itu. Fakhri memandang wajah cantik alami yang tidak pernah dipoles make up tebal itu. Hari itu Fakhri pertama kalinya mengagumi kecantikan alami seorang Rania.
Gadis itu, Rania Atmaja. Seorang gadis cantik berkulit putih. Seorang gadis pendiam yang santun. Gadis soleha pemilik senyum indah. Wajah putihnya, hidung mancung kecilnya, bibir tipisnya. Berpadu indah membingkai pemilik wajah imut itu. Rambut hitam panjangnya tergerai indah, di tutupi poni hingga di ujung alis hitamnya. Membuat Rania lebih terlihat mirip seperti boneka barbie, kesukaan umumnya anak-anak perempuan itu.
Dan Fakhri yakin, kecantikan Rania akan lebih terpancar seandainya wajah imut itu tertutup hijab. Biar hanya Fakhri seorang yang kelak menikmati rambut dan poni indah tersebut. Biar Fakhri seorang yang menikmati keindahan ragawinya kelak. Karena tampilan luar Rania tertutup berbalut gamis panjang disertai hijab seorang muslimah sejati.
Degg. Jantung Fakhri tiba-tiba saja berdetak. Apa yang dikatakan hatinya barusan. Benarkah hati Fakhri sesungguhnya kini menginginkan Rania. Fakhri bukan hanya tidak menjaga pandangannya. Pertama kalinya Fakhri membiarkan matanya menyusuri diri seorang gadis. Mulai dari wajah imut Rania, mata, hidung, alis hingga bibir mungilnya. Bahkan juga rambut hitamnya yang tergerai indah, juga poni yang membingkai wajahnya, yang membuat Rania terlihat begitu imut.
Kini alam fikirannya malah menginginkan Rania sendiri. Menutupi semua kecantikan ragawinya hingga hanya Fakhri seorang saja yang berhak memandanginya. Benarkah gadis itu kini sudah mulai memasuki hati Fakhri. Benarkah kini pesona seorang Rania sudah mulai membius sang ustad.
Fakhri kembali menyeruput kopinya. Tegukan di cangkir kopi makin berkurang di senja yang mulai tiba itu. Fakhri mendesah, entah keraguan apa lagi yang membuat seorang Fakhri seakan menjadi gundah. Alisnya kembali menyatu, keningnya berkerut, apa yang menjadi peetanyaan di isi kepalanya itu.
Aku harus memastikan hatiku. Mempertanyakan kembali akan perasaan yang kini tampaknya mulai berkembang ini. Benarkah perasaan ini berubah sejak hari itu? Sejak aku melihatnya menatap langit senja di sudut taman kota. Wajah putihnya tampak bersinar tertimpa cahaya senja yang mulai akan meredup. Senyum manisnya yang tersungging manis menatap anak-anak yang menikmati permainan di taman sore itu terlihat begitu manisnya. Kilatan kebahagian yang terpancar dari mata indahnya, memperlihatkan betapa tulusnya hati gadis pemalu itu.
Dan Fakhri menyukainya. Seketika itu juga dia mengagumi semua yang tampak indah dihadapannya kala senja itu. Bukan hanya itu saja yang membuat hati Fakhri jadi bergetar. Saat Fakhri berbicara dengan Rania, gadis itu tampak selalu saja menundukkan kepalanya, sangat takut untuk menatap wajah Fakhri. Fakhri tersenyum, sangat menyukai sifat pemalunya. Bahkan suara lembutnya saat membalas semua ucapan Fakhri kala itu, terdengar begitu lembut dan merdunya di telinga Fakhri.
Kenapa saat itu Fakhri jadi mengingat uminya. Jika ada uminya saat itu, maka umi seperti berkaca pada dirinya sendiri. Rania itu umi seumurannya.
Rania itu fotocopynya umi.
__ADS_1
Kelembutan dan kepolosan yang sama dengan uminya. Fakhri kembali tersenyum. Kali ini dia membayangkan kala dua wanita itu bertemu. Memiliki kesamaan sikap dan sifat, tentu saja akan membuat keduanya bisa cepat dekat.
Fakhri terkaget, hampir saja tersedak kopi yang dihirupnya. Menyangsikan pemikirannya yang semakin jauh. Benarkah hatinya menginginkan Rania. Atau hanya karena gadis itu seperti sosok uminya, satu-satunya wanita yang sangat dicintai Fakhri. Fakhri masih saja menelisik hatinya sendiri.
Tapi andai benar hatiku menginginkan Rania. Apa gadis itu juga akan menyambut perasaan yang kurasakan, tanya hati Fakhri kembali.
Aku pernah mendengar kalau Rania juga menyukaiku. Tapi apa rasa suka saja sudah cukup untuk mengajaknya serius. Rania masih terlalu muda, mungkin masih banyak cita-cita dan keinginan yang ingìn diraihnya ke depan. Masa depannya masih amat panjang, keluh Fakhri kembali dalam hati.
Apakah Rania bersedia bila diajak bertaaruf? Taaruf dalam hubungan percintaan diartikan sebagai proses perkenalan yang tujuannya adalah menyempurnakan agama yaitu mengacu kejenjang pernikahan.
Bukan hanya sekedar ingin berkenalan saja ataupun iseng-iseng dalam mencari jodoh, lebih dari itu taaruf menjadi lebih mulia karena sang pelaku memiliki niat yang suci.
Taaruf sangat berbeda dengan pacaran. Secara syari, taaruf diperintahkan oleh Rasulullah bagi setiap pasangan yang ingin menikah.
Selama menjalin proses taaruf pastinya pria atau wanita memiliki kewajiban mencari tahu sebanyak-banyaknya mengenai satu sama lain dalam waktu singkat. Hal ini disebut dengan masa penjajakan sebelum menikah. Taaruf juga dianggap sebagai masa saling bertukar informasi mengenai satu sama lain.
Didalam Al Qur’an surat Al Hujurat ayat 13 menerangkan secara jelas mengenai kata taaruf :
Yā ayyuhan-nāsu innā khalaqnākum min żakariw wa unṡā wa ja'alnākum syu'ụbaw wa qabā'ila lita'ārafụ, inna akramakum 'indallāhi atqākum, innallāha 'alīmun khabīr
Arti👉🏽 Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Fakhri menyeruput hirupan terakhir kopinya. Langit senja sudah memudar, magrib semakin menjelang. Fakhri menarik nafasnya dalam, semua pertanyaan masih menggelayuti isi kepalanya. Fakhri sudah bergegas beranjak, mencari masjid terdekat. Fakhri berharap dengan berwudhu dan sholat akan sedikit menenangkan hati juga perasaannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
__ADS_1
Mantapkan hati abang ustad. Tanyakan pada Rania bersediakah bertaaruf.
Semakin lama berfikir, Author khawatir si mas tentara langit yang akan garcep duluan.
Haii readers tercintaku😗😙😚😘
Ayo dong kalau suka ceritanya👌👍🏻
Jangan pelit untuk kasih Vote, Favorit, Like & Comentnya untuk Author🙏🏻ŕ
Karena itu akan sangat berpengaruh pada Level novelnya Author.....pleaseee🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Love
Author Kesayanganmu 😗😙😚
WCU
__ADS_1