Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Apakah Pantas Bersama Sang Ustad


__ADS_3

"Assalamualaikum.....," sapa suara di seberang telepon begitu Rania menggeser tanda menerima telepon di kontak handphonenya, suara yang amat dikenalnya.


"Walaikumsalam bang," balas Rania.


"Nay maaf kl abang mengganggu," ucap suara di seberang lagi.


"Nggak kok bang. Nia udah dari tadi sampe di rumah kok," Rania cepat membalas.


"Gini Nia, lusa jadwal abang kosong. Jadi abang bisa menyerahkan draft kontrak kerjasama yang dipinta perusahaan Nia," bang Fakhri langsung menjelaskan tujuannya.


"Baik bang. Nanti Rania akan hubungin abang lagi, abang bisa bertemu bos Rania di kantor atau di luar kantor. Rania akan menyampaikan dan menanyakan pada bos Rania besok bang," jawab Rania.


"Baik Nia, abang tunggu infònya, terimakasih,"


"Sama-sama bang Fakhri. Kayaknya Nia yang harus berterima kasih pada abang, sudah kedua kalinya bersedia membantu," balas Rania.


"Insya Allah, kalau untuk kepentingan umat, abang akan mengusahakan untuk meluangkan waktu," balas Fakhri.


"Baik, sampai di sini dulu Nia. Assalamualaikum," Fakhri kembali lebih dulu mengakhiri panggilan telephonenya.


"Wakaikumsalam," balas Rani tidak bersemangat menutup telephone.


Rania yang awalnya sangat bahagia begitu membaca nama Fakhri yang tertera di kontaknya melakukan sambungan telephone. Berubah menjadi sedih saat sang Ustad bergegas saja menutup telephonenya. Sepertinya bang Fakhri memang hanya menghubunginya hanya karena masalah pekerjaan saja. Aku yang terlalu berharap lebih akan perasaanku sendiri. Saat berdua bang Fakhri dalam mobil di kegiatan amal sebelumnya. Rania telah berfikir lebih, saat Fakhri lebih mengajaknya satu mobil ketimbang dengan Rara, sahabat kecilnya. Rania berfikir ada sedikit saja rasa di hati bang Fakhri untuknya. Rania sampai tidak nyenyak tidur hingga beberapa hari, setelah sempat satu mobil dan berdua saja pada kegiatan amal tersebut.

__ADS_1


Ya Allah. Gadis mana yang bisa tenang saat satu mobil bersama seorang ustad ganteng yang dicintainya sejak lama. Rania berkali-kali tidak dapat mengedipkan matanya menatap sosok Fakhri saat itu. Bang Fakhri bagai titisan nabi Yusuf baginya. Berwarjah tampan dan berakhlaq mulia. Bakhan saat Rania terang-terangan sering melirik dan mengambil kesempatan untuk terus dekat di sampungnya. Bang Fakhri tetap saja menjaga pandangangnnya, juga menjaga jarak mereka.


Ayolah Rania, jangan berharapkan lebih dari sikap seorang Ustad, Rania bahkan mengingatkan dirinya sendiri waktu itu.


Lalu bagaiamana aku bisa dekat dan mengabarkan rasa cintaku. Bila nyatanya tidak ada istilah pacaran di kamus si Ustad. Setelah sekian purnama aku tetap setia dengan rasa cintaku, mana boleh aku menyerah pada akhīrnya. Dan sesungguhnya bang Fakhri bukannya tidak tahu dengan perasaan cintaku. Rara, sahabatnya itu sudah berukang kali tanpa malu berterus terang pada bang Fakhri, bahwa kami berdua bersaing dan sama-sama mencintai bang Fakhri. Walaupun jawaban yang kami terima tidak swperti yang kami inginkan.


"Teruslah menjadi baik dan memperbaiki diri. Allah akan memberikan jodoh yang baik pula pada kalian nanti. Sekarang lebih baik kalian fokus belajar, untuk masa depan kalian," jawab bang Fakhri waktu itu padaku dan Rara.


"Kita tidak minta nasehat padanya. Sebentar lagi kita akan masuk ke sekolah menengah atas, lalu melanjutkan kuliah, dan mengejar cita-cita kita. Tanpa bang Fakhri katakanpun kita sudah faham," omel Rara padaku saat bang Fakhri sudah meninggalkan kami.


"Harusnya bang Fakhri hanya perlu menjawab. Dia memilih aku atau kamu. Dia lebih memilih cintaku atau cintamu Nia," ujar Rara lagi kesal.


Aku cuma diam, tidak menjawab dan mendengarkan Rara saja sedari tadi. Walaupun bersahabat akrab, aku dan Rara benar-benar dua pribadi yang berbeda. Rara itu periang, lincah, berani, dia sangat agresif. Sementara aku, adalah Rania yang pemalu, pendiam, dan apa adanya.


Aku bersyukur, Rara tadi tidak hanya menyampaikan perasaannya sendiri, dia juga menyertakan perasaanku yang sama dengannya menyukai bang Fakhri. Karena aku tidak akan mungkin bisa berani untuk mengatakanya langsung pada bang Fakhri.


Tapi menilik dari sifat sahabatnya ini yang tidak akan mungkin mendengarkan masukan. Rania lebih memilih untuk diam saja.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Mengejar Cinta Ustad"


Mohon Dukungannya

__ADS_1


👇


Vote


Like 👍


Favorit ❤


Coment 💬


Baca juga Novel Author Lainnya


☆ Love Or Be Loved


☆ Cinta 90


Mohon juga Dukungan


👇


Vote


Like 👍

__ADS_1


Favorit ❤


Coment 💬


__ADS_2