
Rania terbangun pukul empat tiga puluh subuh. Dan segera beranjak dari tempat tidur, berniat hendak mandi dan mensucikan diri. Takut azan subuh akan lebih dulu berkumandang.
Perlahan Rania melepaskan pelukan bang Fakhri dengan sangat hati-hati. Rania ingin mensucikan diri terlebih dahulu, baru kemudian membangunkan bang Fakhri, agar bisa berjamaah mengerjakan shalat subuh.
Tapi ternyata gerakan slow motion Rania, nyatanya juga telah membangunkan bang Fakhri. Walaupun sebenarnya si abang memang selalu bangun menjelang subuh agar bisa melaksanakan kewajiban subuhnya.
"Pelan-pelan dek, biar abang bantu," suara serak khas bangun tidur abang suami membuat Rania mengurungkanla langkahnya.
"Adek tunggu sebentar, biar abang siapain air panas terlebih dahulu. Mandi air panas akan membuat rasa sakit sedikit mereda dan badan juga menjadi enak," terang bang Fakhri kembali.
Lalu bergeges beranjak dari tempat tidur, tanpa menunggu jawaban yang keluar dari bibir Rania. Rania ingin menolak, dia masih bisa melakukannya sendiri, walaupun sedikit menahan rasa perih. Kenapa malah abang yang melayaninya? Bukankah ini menjadi terbalik, fikir Rania kembali.
'Ayo dek," ajak bang Fakhri beberapa saat kemudian.
"Bang, adek bisa sendiri," jawab Ramia malu sambil melangkah pelan
"Abang hanya......,"
"Bang.....," ujar Rania kembali memotong ucapan bang Fakhri.
"Baiklah....," jawab bang Fakhri tersenyum akhirnya.
Setelah selesai membersihkan diri dan bersuci. Keduanya lalu mengerjakan kewajiban mereka, sholat subuh secara berjamaah. Setelah Rania mencium punggung tangan bang Fakhri yang dibalas dengan ciuman bang Fakhri di pucuk kepalanya. Kemudian kedua suami istri tersebut mulai mencicil satu ayat per sholat agar kemudian khatam Al-Quran kembali.
"Bang, adek siapin sarapan dulu yah....," Rania beranjak hendak menuju dapur.
"Nanti aja dek, masih gelap juga," ujar bang Fakhri kembali menarik Rania dalam dekapannya.
Rania yang belum terbiasa dengan kegiatan intim mereka, hanya terdiam membeku. Dan mulai kembali menjadi cosplay sebagai batu bernafas.
"Kenapa masih malu dek," bisik bang Fakhri di telinga Rania.
"Nia....Nia be....belum terbiasa bang," jawab Rania kembali dengan wajah memerah.
Bang Fakhri kembali tersenyum. Mebatap tulus istri lugu dan pemalunya itu.
"Nanti lama-lama akan terbiasa dek. Karena abang bukan orang lain lagi sejak ijab qabul," jawab bang Fakhri lembut dengan tersenyum manis.
Ah....Kalau menikah bisa sebahagia ini. Aku bahkan rela menunggu meski lebih lama lagi, Rania membatin sendiri.
Dan alhasil sarapan pagi itu berubah menjadi jam makan siang. Karena sarapan versi pengantin baru tentu saja tetap berada di dalam kamar. Menyisil persiapan calon anak masa depan.
Bang ustad juga manusia yah Thor😁🤭
Bang Fakhri melangkahkan kakinya menuju lemari pakaian. Setelah membersihkan diri dengan handuk yang masih melilit di pinggangnya.
Jangan tanya Rania di mana. Karena gasis itu masih saja tertegun menatap tidak percaya betapa tampan dan perfecknya ternyata suaminya ini.
"Dek, bersucilah. Sebentar lagi kita berjamaah azan Dzuhur. Biar nanti abang aja yang pesan makan. Adek nggak usah masak dulu," ujar bang Fakhri sambil me genakan pakaiannya tanpa melihat ke arah Rania.
Rania yang terkaget dari bengongnya, bergegas menuju kamar mandi untuk mensucikan diri. Meski masih terasa sedikit sakit, Rania memaksakan diri. Jangan sampai bang Fakhri membantunya kembali, fikir Rania lagi.
__ADS_1
Bang Fakhri menatap heran Rania yang bergerak cepat menuju kamar mandi.
Ku kira sudah di kamar mandi, gumam bang Fakhri menggelengkan kepalanya.
Rania mencium punggung tangan bang Fakhri selesai sholat. Lalu suaminya itu membelai pucuk kepalanya kemudian mencium keningnya takzim.
Semoga lekas hadir ya nak...., ujar bang Fakhri mengusap perut Rania yang masih tertutup mukena putihnya.
Rania tersenyum manis melihat perlakuan bang ustad. Aamiin....jawabnya juga dengan penuh harap.
Cepatlah hadir mengisi kebahagian ayah dan bunda ya nak, kali ini bang Fakhri menarik Rania dalam pelukannya.
Mereka berpelukan cukup lama. Hingga terdengar suara perut keroncongan milik Rania.
"Hahahah....kamu udah laper dek?" tanya bang Fakhri tertawa.
Rania tertunduk malu. Dalam hati merutuki perutnya yang bernyanyi tanpa di minta.
"Ya udah kita turun ke bawah dek. Sebentar lagi pesanan makanannya sampe," ujar bang Fakhri mengajak sang istri.
Benar saja. Tidak berapa lama mereka turun ke lantai satu, abang kurir makanan sudah sampai di pintu depan.
Setelah bang Fakhri menerima pesanan dari abang kurir makanan. Segera Rania menyiapkan makanan tersebut di meja makan.
Bang Fakhri tersenyum dalam hati melihat istrinya yang sudah sangat kelaparan. Dalam hati merasa bersalah, menyesal karena mengajak Rania menghabiskan kegiatan suami istri hingga melewatkan sarapan juga makan siang yang sudah hampir terlewat pula waktunya.
"Makan yang banyak sayang," ucap bang Fakhri menatap Rania.
Rania tersenyum malu membalas ucapan suaminya.
"Perut Nia benar-benar keroncongan bang," jawab Rania kecil hampir tidak terdengar.
"Maafin abang yah. Lain kali abang janji tidak akan sampai membuat adek kelaparan," ucap bang Fakhri tulus meminta maaf.
"Nggak apa-apa bang. Udah kewajiban Nia untuk melayani abang," jawab Rania tersenyum manis.
Bagaimanapun Rania bisa memakluminya. Memaklumi bagaimana hubungan dari suami istri baru.
Lagipula Rania memang akan selalu berusaha menjadi istri yang baik dan penurut. Akan memenuhi semua kewajibannya sebagai seorang istri. Akan meleyani bang Fakhri, bukan hanya makanan pakaian dan kebutuhannya fisiknya saja. Tapi juga kebutuhan bathin harus lebih terpenuhi.
Jangan sampai seperti suami-suami di luaran, yang berusaha mencari kepuasan di luar, dengan alasan kurang pelayanan dari istri di rumah. Nia ingin dirinya dan rumah merekalah tempat bang Fakhri kembali. Nia ingin, abang ustad mendapat kehangatanya yang cukup, tanpa ada niat mencari atau bahkan menambah kehangatan yang lainnya lagi di luaran.
Ah...kok mikirnya kejauhan. Kok mikirnya jadi negatif. Astaghfirullah, Rania beristigfar. Menyudahi fikiran-fikiran buruk yang memenuhi kepalanya. Memupus prasangka-prasangka negatif yang tiba-tiba terlintas. Bukankah fikiran negatif itu sama saja kita berbicara pada diri kita sendiri.
Tidak. Tidak. Rania menggelengkan kepalanya. Tdak boleh Negative Self talk pada dirinya sendiri. Harus positive thinking.
Sementara bang Fakhri menatap binging pada Rania. Tiba-tiba saja wajah istrinya itu berubah serius seperti tengah memikirkan sesuatu. Kemudian tiba-tiba menggelengkan kepalanya sendiri. Seperti ada yang tengah membebani pikirannya, batin bang Fakhri.
"Sayang....Dek....," panggil bang Fakhri menyadarkan Rania.
"Ada masalah yang difikirin?" tanya bang lembut Fakhri mencemaskan Rania.
__ADS_1
"Nggak bang. Yuk makan lagi bang. Abang dikit banget makannya, emangnya nggak laper?" tanya Rania mengalihkan pembicaraan.
"Abang udah kenyang lihat kamu makan dek," jawab bang Fakhri jujur, walaupun nyatanya terdengar seperti gombalan,
"Abangggg.....Nia kan jadi malu," jawab Rania manja walaupun dengan wajah memerah.
Dan keduanya meneruskan makan siang yang kesorean itu dengan binar bahagia.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Mohon maaf banget buat readers tercintahh🙏
Karena kesibukan di dunia nyata, Othor baru bisa update malam ini🙏✌
Besok Othor janji akan up satu part kembali.
Yang kangen babang Reyhan, tentara ganteng kebanggaan Indonesia.
Akan ada part abang tentara langit di selingi partnya abang uatad.
Semoga edisi patah hati yang dirasakan abang ustad tidak membuat tentara langit yang hangat berubah katakter menjadi dingin dan beku yah✌😥
Dukungannya dong readersku tercintahh🙏🏼🙏🏼
Biar othor semangat nulisnya
Jangan pelit🙌
Untuk kasih Vote
Untuk Favorit ❤
Untuk kasih Like👍
Agar novelnya author juga bisa naik peringkat🙏🏼
Agar novelnya author juga masuk rating🙏🏼
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Love😗😘
Autor Kesayanganmu
WCU
__ADS_1