Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Membicarakan Kesepakatan Kerjasama


__ADS_3

"Jadi gitu bang. Seperti yang tadi Nia jelasin ke abang. Karena abang dan para remaja masjid pernah membantu Nia dalam menyalurkan bantuan dan donasi waktu itu. Bos Rania mempercayakan abang kembali sebagai badan atau wadah yang menyalurkan full semua dana yang yang masuk dari event Bakti Sosial kali ini bang," jelas Rania.


"Apa bos Nia yakin mempercayakan semua pada abang dan para pengurus masjid," tanya Fakhri menyakinkan.


"Sepertinya begitu bang. Tapi karena ini Event Bakti Sosial berskala besar, karena tidak hanya melibatkan perusahanan kami saja. Dan juga bisa dipastikan dana yang masuk dari kegiatan kali ini sangatlah besar. Jadi bos Nia meminta abang mengajukan proposal terlebih dahulu bang," jelas Rania lagi.


Fakhri serius memandang Rania berbicara. Dalam


hati tidak menyangka kalau gadis pemalu ini ternyata sangat cerdas jika sedang berbicara serius mengenai pekerjaan.


"Karena nantinya. Kesepakatan kita akan dituangkan dalam bentuk kerjasama, perjanjian tertulis yang jelas antara perusahanna bos Nia sebagai penyelenggara, dan abang dengan para remaja masjid dalam ruang lingkup badan usaha amal yang bertugas memyalurkan hasil dari event bakti sosial ini bang," jelas Rania kembali.


Fakhri tampak terdiam lama, seperti berusaha memikirkan semua hal yang sudah dijelaskan Rania barusan. Membuat Rania kembali menjadi gugup, takut jika kali ini Fakhri tidak berniat membantunya.


"Apa bang Fakhri ragu untuk membantu Nia?" tanya Rania penasaran.


"Bukan begitu. Abang tidak pernah ragu bila berhubungan dengan bantuan untuk umat. Tapi abang juga belum yakin apakah mampu melakukan kerjasama ini. Amanah untuk kegitan yang termasuk berskala besar dan bukan main-main," jawab Fakhri akhirnya mengungkapkan kekhawatirannya juga.


"Insya Allah bang. Karena ini bukanlah kegiatan pertama bagi abang dan teman-teman remaja masjid. Apalagi badan amal masjid yang abang dirikan bersama teman-teman kan sudah berbadan hukum," ucap Rania berusaha menyakinkan.


Fakhri menganggukkan kepalanya menyetujui pendapat Rania.


"Nia juga yakin bang. Perusahan besar punya bos Nia tidak mungkin memilih orang sembarangan. Bos pasti sudah mengecek dan menyekidiki semuanya terlebih dahulu. Karena setahu Nia si bos itu orangnya sangat teliti dan perfectionis. Tidak akan ada celah dari pengamatannya," Rania kembali menjelaskan keyakinannya.


Fakhri kembali menatap gadis di hadapannya ini yang terlihat begitu optimis mendukungnya, sesaat kemudian mengalihkan pandangannya.


"Baiklah abang akan mencoba membuat proposalnya terlebih dahulu," ucap Fakhri setelah beberapa saat akhirnya.


Rania tersenyum. Wajahnya tampak sumringah. Dia senang sekali akhirnya bang Fakhri mau di ajak bekerja sama.


"Tapi abang ingin bertemu langsung dengan atasan Nia....," syarat Fakhri.


"Baik bang. Nia juga bermaksud agar nanti setelah proposalnya selesai, mempertemukan langsung bang Fakhri dan pak Reymond, bos Nia," jawab Rania mantap.


"Abang akan menghubungi Nia lagi jika akan mengajukan proposal nanti," ucap Fakhri akhirnya.

__ADS_1


"Baik bang. Dan untuk selanjutnya mungkin bisa langsung ke kantor Nia aja bang," saran Rania.


"Baik....," jawab Fakhri kembali.


"Jika pembicaraan kita sudah selesai abang permisi dulu," Fakhri sudah berniat mengakhiri pertemuan mereka.


Rania terdiam. Bang Fakhri hanya bertemu karena kerjasama ini saja, sepertinya tidak ada secuilpun di hatinya ingin menjumpaiku. Sepertinya hanya aku sendirilah yang terlalu berharap," gumam Rania kecewa.


"Nia ke sini naik apa," tanya Fakhri.


Rania sebenarnya ingin sekali berbohong, bahwa dia tidak membawa mobil, jika tadi dari kantor naik taxi online. Dengan begitu Nia yakin bang Fakhri akan mengajaknya, memberi tumpangan dan mengantarkannya pulang. Rania ingin bisa lebih lama berdua dengan bang Fakhri.


"Kebetulan Nia bawa mobil sendiri bang," kenapa mulut dan hatinya seolah bertentangan.


Hati Rania ingin mengatakan tidak membawa mobil, tapi mulutnya malah berkata lain. Aachhhh.....Rania berteriak dalam hati.


"Baiklah kalau begitu abang pamit yah," ucap Fakhri berdiri.


"Iya bang. Makasih yah bang Fakhri," jawab Rania ikut berdiri.


"Bang nggak usah, biar Nia aja yang bayar, semua juga di tanggung kantor bang," Rania mencegah Fakhri menyerahkan sejumlah uang diatas nota bon yang diterimanya pada pelayan restoran.


"Sesekali abang yang traktir," jawab Fakhri lembut dan tersenyum.


Senyuman yang selalu saja menyihir Rania. Membuat jantung gadis itu kembali berdetak dengan kencang.


"Kamu hati-hati ya nyetirnya, abang pamit....,"


"Ea...aa...eehh.....," Rania terkejut dari lamunanannya yang seolah tersihir menatap Fakhri.


"Iy....Iya bang. Sekali lagi makasih yah," jawab Rania.


Fakhri membalasnya dengan tersenyum.


"Assalamualaikum," Fakhri menyatukan kedua tangannya mengucapkan salam.

__ADS_1


"Walaikumsalam," jawab Rania membalas menyatukan kedua tangannya di dada.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Mengejar Cinta Ustad"


Mohon Dukungannya


👇


Vote


Like 👍


Favorit ❤


Coment 💬


Baca juga Novel Author Lainnya


☆ Love Or Be Loved


☆ Cinta 90


Mohon juga Dukungan


👇


Vote


Like 👍


Favorit ❤


Coment 💬

__ADS_1


__ADS_2