
Rania tampak khawatir. Sebentar-sebentar pandangannya terarah ke pintu ruang kerja si Bos. Sudah cukup lama mbak Sinta berada di dalam ruangan itu. Apa saja yang mereka bicarakan hingga bisa selama ini, batin Rania.
Apalagi sikap bos nya itu tidak seperti biasanya. Sekarang bosnya itu cenderung terlihat menghindar, bahkan tidak mau kalau sampai terlihat akrab dengan Rania. Bahkan sikapnya yang biasanya sangat lembut dan perhatian pada Rania, sekarang berubah sangat datar dan cuek.
Rania terus bertanya-tanya sendiri, apa kesalahan yang pernah dilakukannya hingga bos nya itu jadi berubah sikap padanya 90 derajat. Karena terlalu lelah untuk menunggu dan memandangi pintu ruangan bosnya itu, Rania kembali memilih untuk melanjutkan pekerjaannya saja.
Hingga tak berapa lama terngar suara derit pintu, Sinta tampak keluar dari ruangan si bos.
"Mbak kok lama bener di ruangan si bos? Emang ngapain aja sih di dalam? Mbak nggak ada yang serius kan?" Rania langsung memberondong Sinta dengan banyak pertanyaan begitu baru saja memdudukkan bokongnya di kursi kerjanya.
"Kamu kayak wartawan saja. Mana yang harus mbak jawab lebih dulu, nanya satu-satu aja," balas Sinta kemudian.
"Mbak tadi di dalam lama karena ngebahas detail event yang akan diselenggarain perusahaan," jelas Sinta lagi menjawab semua kekhawatiran Rania.
"Tuhh....udah di bahas semua, tinggal pelaksanaannya aja," tunjuk Sinta pada lembar kertas yang ada di atas mapnya.
"Trus kok aku nggak diajak juga ikut berdiskusi, aku kan penanggung jawab acara ini juga, wakil mbak Sinta," Rania melayangkan protesnya.
"Mungkin si bos mau ngomong sama kita masing-masing, biar lebih dan detail," elak Sinta.
Lagian nggak mungkin juga ngomongnya juga sama kamu Nia, yang mbak bahas sama si bos kan kamu," Sinta membatin.
"Tapi kayaknya si bos berubah deh sama Nia mbak Sin," ucap Rania sendu.
"Berubah gimana?" tanya Sinta.
"Bos itu nggak kayak biasanya mbak," ucap Rania menatap dalam Sinta.
Sinta mengerutkan alisnya seolah bertanya. Andai kamu tahu Nia, itu semua sengaja bos lakukan agar kamu bisa menyadari perhatiannya dan rasa cintanya selama ini sama kamu. Dan agar kamu juga bisa menyadari perasaan kamu sendiri.
"Biasanya si bos itu selalu lembut dan perhatian sama Nia. Tapi sekarang Nia merasakan berbeda. Si bos jadi berubah sangat datar dan cuek sama Nia sekarang mbak," keluh Rania.
__ADS_1
"Perasaan kamu aja kali Nia...." elak Sinta.
"Nggak mbak si bos emang berubah kok. Nia sampai mikir keras, Nia salah apa yah," keluh Rania kembali.
Kesalahan kamu itu cuma satu Rania. Kamu tidak bisa melihat ketulusan dan cinta yang diberikan si bos selama ini. Kamu menutup semua hati kamu utuh karena sang ustad idola kamu itu, balas Sinta dalam hati menanggapai pertanyaan Rania.
"Mungkin si bos lelah. Terus menunjukkan perasaan dan mengalah. Sementara gadis yang disukainya tidak merespon apa-apa," sindir Sinta.
Rania terdiam, menatap Sinta sendu. Membuat Sinta menjadi tidak enak hati telah menyindir gadis itu.
"Aku bukannya tidak mau menjawab atau menghindari perasaan si bos mbak. Karena aku sendiri bingung bagaimana perasaanku ini sesungguhnya," ujar Rania lagi masih dengan wajah sendunya.
Sinta menatap Rania. Akhirmya setelah terdesak begini, gadis ini juga bisa memgungkapkan perasaannya, batin Sinta kembali.
"Mbak tau sendiri aku menyukai bang Fakhri bukan sebentar, dia cinta sejak masa remajaku. Walaupun belum pernah diungkapkan secara langsung, perasaan itu juga belum pernah berbalas. Tapi jauh di dalam hati aku merasa bahagia, aku menyukai perasaan ini mbak," ucap Rania.
"Si bos juga baik. Dia juga sudah menumbuhkan satu sisi rasa di hati Nia. Jujur Nia juga sudah mulai menyukai semua sikap lembut dan perhatiannya. Hingga saat si bos berubah seperti ini, ada sesuatu yang serasa menyakitkan di hati Nia untuk menerimanya," jelas Rania kembali.
"Jadi maksudnya, Nia punya perasaan yang sama pada dua laki-laki tersebut,"
"Trus maksud kamu gimana?" Sinta sudah mengeryitkan alisnya kembali. Gagal faham dia kalau sudah menyangkut gadis di hadapannya ini.
"Nia yakin kalau Nia itu mencintai bang Fakhri, cinta Nia tidak main-main," Rania terdiam.
"Karena rumitnya mencintai seorang ustad, tentu saja dengan banyak wanita yang juga mengidolakannya. Rania ingin memastikan semuanya dulu pada bang Fakhri untuk memulai perasaan yang baru," jelas Rania kembali.
"Tapi itu menjadi tidak adil untuk si bos. Dia pasti mau menunggu, tapi menunggumu ini sangat tidak jelas...," tolak Sinta.
"Itulah sebabnya kenapa Rania menghindar mbak. Karena tahu bagaimana rasanya menunggu," tutup Rania akhirnya.
Lalu suasana hening. Baik Rania maupun Sintaa sibuk melanjutkan pekerjaan masing-masing, dengan berbagai pertanyaan di kepala mereka sendiri.
__ADS_1
Dan tanpa mereka sadari, sesorang melangkah menuju ruangan di depan mereka, setelah sangat jelas mendengar percakapan keduanya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Mengejar Cinta Ustad"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Love Or Be Loved
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
__ADS_1
Favorit ❤
Coment💬