
Sepulang kerja Rania mampir ke toko buku. Sudah sejak kemarin Rania merencanakan ingin membeli beberapa novel dari penulis favoritnya. Setelah tertunda beberapa hari, akhirnya Rania menyempatkan waktunya sepulang kerja hari ini.
Dengan masih mengenakan setelan kantor. Hari ini Rania tampak begitu menawan dengan pakaian kerjanya. Mengenakan skinny pants warna khaky, blouse putih dipadankan blazer navy, tidak lupa dengan hells tingginya. Walaupun terlihat santai semiformal, Rania begitu cantik dan fashionable. Rambutnya yang diikat model sanggul kecil sembarang malah semakin memperlihatkan leher jenjangnya, membuat Nay makin bertambah manis saja.
Rania sudah memilih beberapa novel karya penulis favoritnya ketika tidak sengaja matanya menangkap sosok yang sangat dikenalnya. Seseorang yang bahkan selalu berada di hatinya. Seseorang yang tidak pernah pergi dari hatinya itu. Rania mengucek matanya, memastikan bahwa tidak ada yang salah dengan pengelihatannya.
Tiba-tiba dia merasakan detak jantungnya menjadi berdetak lebih dari biasanya. Rania tidak mampu mengendalikan hati apalagi perasaannya ketika akhirnya mata keduanya bersitatap.
"Nia....," seseorang itu sudah memanggil namanya ketika Rania memutuskan melangkah cepat menuju meja kasir untuk membayar semua novel yang telah dipilihnya.
Kenapa harus menyapaku, batin Rania.
Rania kemudian menghentikan langkahnya yang belum terlalu jauh. Lalu memutar tubuhnya menatap sumber suara.
"Bang Fakhri....," jawab Rania menatap mahluk tampan di hadapannya ini.
"Assalamualaikum. Apa kabar Nia?" salam Fakhri kemudian dengan tersenyum lembut.
"Walaikusalam. Alhamdulillah Nia sehat. Abang apa kabarnya," tanya balik Rania setelah hilang kakunya.
"Alhamdulillah, kabar abang juga baik," lagi-lagi Fakhri menjawab lembut dengan senyum tersungging.
Jangan senyum semanis itu bang, adek bisa diabetes natapnya. Kenapa bicara selembut itu bang, hati adek jadi tambah meleleh. Kalau sudah kayak gini, nggak ada yang bisa bantu adek, untuk berpaling dari abang, keluh Rania konyol.
Ya Allah. Gimana bisa nggak jatuh cinta pada laki-laki tampan, baik, bertutur kata lembut ini. Selalu menjaga pandangan dari hal-hal yang dilarang. Setiap ucapannya didasarkan pada sunah rasulnya. Setiap sikapnya didasari imam dan agama. Dedek terlanjur jatuh cinta ya Allah, ujar Rania kembali.
"Nia beli buku?" tanyanya lagi pada Rania.
"Iya bang. Ini mau di bayar ke kasir. Abang juga lagi cari buku?" tanya Rania.
"Iya buat bahan perkuliahan," jawabnya tetap dengan lembut.
Oh iya, bang Fakhri kan seorang dosen, Rania hampir saja melupakannya dan berniat bertanya.
"Ayo sekalian ke kasir?" ajak Fakhri mendahului Rania.
"Iya bang," Rania mengikuti langkah Fakhri di belakangnya.
Kali ini aku berjalan di belakang bang Fakhri, bukan sebagai siapa-siapa. Nanti, semoga aku berjalan di belakangnya sebagai makmum dari imamnya. Bisa di gandeng tangannya, sebagai istri soleha disampingnya, doa Rania penuh harao dalam hati.
__ADS_1
"Sekalian sama yang ini mbak. Ditotal aja semuanya," ujar Fakhri kepada kasir di hadapannya
"Mbak....," panggil Fakhri lagi dengan sopan.
Sementara yang di panggil hanya melongo tanpa bwrkedip menatap Fakhri. Hhmmm, Rania menghembuskan nafasnya, liat betapa banyak wanita yang terpesona padamu bang, ustadku, keluh Rania dalam hati.
"Biar Nia bayar sendiri aja bang," tolak Rania ketika Fakhri menunjuk juga buku belanjaannya pada kasir.
Kata-kata Rania pada Fakhri mengejutkan mbak kasir.
Seketika kesadarannya timbul. Kemudian menatap keduanya. Ah, ternyata cowok ganteng ini tidak sendiri, fikirnya dalam hati.
"Biar aja abang yang bayarnya, sekali-sekali Nia. Lain hari kita belum tentu bertemu," jelas Fakhri pada Rania.
"Tapi bang......," Rania tetap ingin menolak.
Buku yang dibelinya banyak sekali, harganya juga tidak murah. Ramia tidak enak hati jika Fakhri harus membayarkannya.
"Husstt.....tidak baik menolak rezeki," putus Fakhri akhirnya pada Rania.
"Makasih ya bang atas bukunya," senyum Rania ketika mereka sudah keluar dari toko buku.
"Setelah ini mau ke mana?" tanya Fakhri
"Nia mau langsung pulang bang," ujar Rania.
"Nia bawa kendaraan sendiri atau naik taxi," tanya Fakhri
"Nia nggak bawa kendaraan bang. Pulang pergi naik taxi online aja," balas Rania tersenyum manis.
"Ya udah pesen taxinya. Abang nungguin kamu sampai naik taxi," perintah Fakhri.
"Nggak usah bang. Nia nggak apa-apa sendiri. Udah biasa banf, abang pulang aja," kali inipun Rania tetap menolak.
"Nia, abang nggak akan tenang kalau ngebiarin kamu sendiri dan pulang lebih dulu. Pesan taxinya, biar cepat dam sebelum magrib udah sampai rumah," perintah Fakhri kembali.
"Maaf abang nggak bisa anterin kamu pulang. Kebetulan mobil abang di bengkel, abang cuma bawa motor tadi. Dan kita nggak mungkin pulang bareng berdua naik motor," jelas Fakhri pada Rania.
"Nggak apa-apa bang. Nia ngerti kok," jawab Rania sambil memencet aplikasi taxi online di handphonenya.
__ADS_1
Nia sangat faham. Bang Fakhri tidak akan mungkin mau memboncengnya naik motor. Dia bukan laki-laki pada umumya. Sikap dan tingkah lakunya mencontoh sunah rasulnya. Bang Fakhri tidak akan mungkin berjalan berdua saja dengan seorang wanita, apalagi sampai naik motor berdua. Bahkan bang Fakhri mengajak Andi ketika menemui cinta pertamanya itu. Mengingatnya wanita yang dicintai Fakhri itu seketika membuat wajah Rania berubah. Rasa cemburu mulai menguasai hatinya.
Untunglah taxi yang dipesannya tiba, Rania jadi bergegas pergi untuk menenangkan hatinya sendiri.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Haiii🖐🖐
Views tercintahhh🤩😍
Mohon maaf karena kesibukan Author
Baru bisa update kembali🙏🏻✌
Mohon dukungannya untuk Author biar semangat updatenya per hari🙏🏻💪💪
Novel Mengejar Cinta Ustad mengikuti Lomba Menulis Novel Season 4💪💪✌
You Are A Write S4🤩😍
Jangan Lupa Dukungannya dong buat Author🙏🏻
Bantu Vote Author
Like & Coment Tiap episode yang dibaca
Kasih Tip & Rate5 dong🙏🏻
Baca dan dukung juga Novel Author lainnya
👇
☆ Love Or Be Loved
☆ Cinta 90
Salam Manis😊
Author
__ADS_1