Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Lauhul Mahfudz


__ADS_3

Lamaran Reyhan berjalan lancar. Kesepakatan keluarga bahwa pernikahan keduanya akan dilangsungkan dua bulan ke depan. Agar bisa mempersiapkan semuanya semaksimal mungkin meskipun hanya dalam rentang waktu dua bulan saja.


"Apa bisa maksimal mempersiapkan semua dalam rentang waktu dua bulan saja bang?" tanya Rania pada bang Fakhri ketika keduanya tengah merebahkan tubuh mereka di tempat tidur empuk di kamar keduanya.


"InsyaAllah. Karena untuk menunda waktunya lebih lama, sepertinya Rey juga tidak akan mungkin menyetujuinya," jawab bang Fakhri sambil memiringkan badan menatap sang istri.


Rania tersenyum mendemgar ucapan suaminya.


"Bisa dilihat bagaimana mas Rey bahkan berniat ingin mempercepat pernikahan mereka kemarin," jawab Rania mengingat bagaiamana saat lamaran berlangsung Rey ingin agar mempercepat pernikahan keduanya.


"Akhirnya ada yang mengalihkan hatinya dari dirimu sayang," ucap bang Fakhri membelai lembut wajah Rania.


"Dan itu bukanlah pelarian," ucap bang Fakhri kembali menatap lembut Rania.


Rania hanya terdiam. Balas menatap lekat wajah bang Fakhri.


"Kadang kala kita tidak menyadari siapa sebenarnya cinta sejati kita. Siapa sebenarnya wanita yang benar-benar kita tempatkan di sudut paling spesial di dalam sini," bang Fakhri meletakan tangannya di dadanya sendiri.


"Maksud abang bagaimana?" tanya Rania bersuara.


Suaranya yang lembut, masuk ke telinga bamg Fakhri seperti alunan merdu sebuah lagu indah bak bulu perindu. Begitu manis dan menenangkan.


Bang Fakhri kembali melebarkan senyumnya. Menatap teduh wajah Rania. Inilah yang paling mendasari bang Fakhri mantap menjatuhkan pilihan hatinya. Pada wanita cantik di hadapannya ini. Pada dirinya yang begitu lembut dan baik. Pada hatinya yang begitu tulus apa adanya. Pada keindahan ragawi yang dia tutupi dengan sikap pendiamnya. Pada akhirnya bang Fakhripun menyerah atas nama cinta.


"Mungkin awalnya Rey mengira kamu adalah gadis yang sangat dicintainya. Karena seorang gadis yang hadir dengan wujud yang jauh berbeda dari wanita-wanita yang selama ini selalu mengitari dirinya. Gadis cantik pendiam yang seolah adalah jelmaan umi kami," bang Fakhri kembali bicara.


"Rani dan umi?" tanya Rania bingung.


Bang Fakhri kembali melebarkan senyumnya. Menatap lucu Rania yang terlihat kebingungan.


"Kamu tahu sayang. Abang dan Rey sejak dulu sudah menetapkan kriteria seorang gadis yang harus persis seperti umi. Bukan soal wajah dan tampilan luarnya. Tapi lebih kepada hati dan kepribadiannya. Bahkan mungkin akhirnya, sosok umi benar-benar terdoktrin di hati kami berdua. Bahwa gadis seperti umilah yang akan menjadi jodoh kami kelak," jelas bang Fakhri.


Rania masih memperlihatkan wajah bingungnya di hadapan bang Fakhri. Walaupun sering mendengar cerita kesamaan antara dirinya dan umi. Tetap saja selama ini Rania mengira itu hanyalah sebuah candaan belaka.


"Kadang rasa suka, rasa kagum, dan perasaan yang dikira sebuah cinta, nyatanya hanya sebuah rasa yang harus dilalui sebelum akhirnya bertemu dengan orang tepat, di waktu yang tepat pula,"

__ADS_1


"Sepertinya setelah bertemu Humai, Rey baru menyadari siapa sesungguhnya tulang rusuknya yang kurang satu."


Bang Fakhri mendekatkan tubuhnya. Merapatkan tubuhnya pada sang istri. Menarik Rania dan memindahkan kepalanya ke lengan kirinya sebagai pengganti bantal di kepala Rania.


"Abang minta jangan lagi merasa tidak enak ataupun selalu bersalah pada Reyhan. Karena sesungguhnya tulang rusuk tidak akan pernah tertukar," bisik bang Fakhri lembut di telinga Rania.


Rania seketika mengangkat kepalanya menatap bang Fakhri. Yang di tatap justru memberikan tatapan dan senyum yang begitu lembut.


"Sesungguhnya betapapun kita akan mengikat seseorang. Merantainya agar tidak jauh dari kita. Kalau memang tidak jodoh, ada saja yang akhirnya memisahkan keduanya,"


"Begitupun sebaliknya. Sejauh apapun kita menghindar. Sekuat apapun kita menolak. Kalau memang jodoh, akan ada saja cara Allah yang tidak kita duga akan mendekatkan kedunya,"


"Bukankah Allah mencatat takdir setiap makhluk 50.000 tahun sebelum penciptaan langit dan bumi." (HR. Muslim)


"Ruh-ruh itu diibaratkan seperti tentara yang saling berpasangan, yang saling mengenal sebelumnya akan menyatu dan yang saling mengingkari akan berselisih." (HR. Bukhari dan Muslim)


"Kemudian diutus kepadanya seorang malaikat lalu ditiupkan padanya ruh dan dia diperintahkan untuk menetapkan empat perkara : menetapkan rizkinya, ajalnya, amalnya dan kecelakaan atau kebahagiaannya (HR. Bukhari dan Muslim)," jelas bang Fakhri akhirnya.


Rania masih mengenadahkan kepalanya menatap bang Fakhri. Mendengarkan semua yang dikatakan bang Fakhri dan sedikit menganguk-anggukkan kepalanya. Rania menyetujui semua yang diucapkan ustad suaminya itu.


"Kenapa istri abang jadi meragu. Pertanyaannya kenapa jadi begitu ambigu?" tanya bang Fakhri tersenyum.


"Diriwayatkan dari Abu Hurairah radliallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda :


"Berwasiatlah (dalam kebaikan) pada wanita, karena wanita diciptakan dari tulang rusuk, dan yang paling bengkok dari tulang rusuk adalah pangkalnya.


Jika kamu coba meluruskan tulang rusuk yang bengkok itu, maka dia bisa patah. Namun bila kamu biarkan maka dia akan tetap bengkok.


Untuk itu nasihatilah para wanita". (HR. Bukhari dan Muslim)"


"Makna kiasan dianggap lebih mampu menjelaskan tema hadits tersebut, sehingga dapat dipahami. Perempuan diciptakan dari sifat-sifat seperti tulang rusuk – yang bengkok, dan tidak bisa diluruskan apalagi secara paksa. Pemahaman ini kiranya lebih mudah dipahami oleh nalar." jelas bang Fakhri akhirnya dengam begitu lembutnya.


"Percayalah pada takdir Allah sayang. Bahwa lima puluh ribu tahun sebelum dilahirkan. Namamu dan abang sudah tertulis di lauhul mahfudz," kemudian bang Fakhri mengecup lembut pucuk kepala Rania.


"Seringkali yang dikejar-kejar menjauh. Yg tak sengaja mendekat. Yang seakan sudah pasti menjadi ragu. Awalnya di ragukan menjadi pasti. Yang selalu diimpikan, tak berujung kepastian. Pun yang tak pernah terfikirkan, bersanding di pelaminan," ujar bang Fakhri kembali.

__ADS_1


"Karena sekuat apapun kamu menggenggam. Yang harus pergi akan pergi. Sesering apapun kamu menolak. Yang harus datang akan datang. Itulah dia yang namanya tertuli di Lauhul Mahfudz."


Bang Fakhri mendekatkan wajahnya. Menyatukan hidungnya dengan hidung bangir milik Rania. Tangan sebelah kanannya yang bebas makin memeluk erat Rania.


Sementara sang istri yang tubuhnya makin merapat, menikmati mencium aroma maskulin bercampur mint dari tubuh sang suami. Aroma menenangkan yang begitu disukai Rania. Pelukan bang Fakhri yang semakin erat membuat Rania makin membenamkan wajahnya ke dada bidang bang Fakhri yang dilapisi kaos dalaman tipis model baju, menikmati seluruh aroma tubuh sang suami yang makin lama makin membuatnya betah.


"Boleh abang ikhtiar kembali sayang," bisik bang Fakhri lembut di telinga Rania, bisikannya terdengar seperti sebuah permohonan.


Setelah terlihat anggukan kepala malu dengan wajah bersemu merah. Ah....wanita ini, meskipun sudah banyak malam yang mereka lewatkan melakukan ritual ibadah sepasang suami istri. Istri pemalunya ini masih saja sama pemalunya, gumam bang Fakhri dalam hati tersenyum.


Kemudian bang Fakhri mengucapkan dengan lembut di teling Rania.


"Bismillah. Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa.


Dengan menyebut nama Allah.


Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami."


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Bismillah🙏


Author dan semua readers setia mendoakan semoga segera dikaruniakan anak-anak yang soleh soleha di rahim Rania🤲🏼


Baca juga novel aurhor


👇





Author Kesayanganmu😘

__ADS_1


WCU


__ADS_2