
Hi readersku tercinta
Sebelum lanjut membaca part ini
Pastikan udah vote, like, favorit & rate 5 ya untuk author🙏
Author😘
Bang Fakhri tersenyum manis. Baru kali ini istrinya tersebut menurut dan sesekali pergi shooping seperti layaknya wanita kebanyakan. Walaupun nyatanya tetap saja Rania hanya membeli beberapa pakaian dan sepatu saja yang memang dipergunakannya untuk bekerja.
Bang Fakhri hendak mengambil alih semua paper bag belanjaan dari tangan Rania.
"Bang, biar Nia membawanya sebagian," ujar Rania tidak berniat memberikan semua paper bag di tangannya ke pada bang Fakhri.
"Tidak. Biar abang yang membawa semuanya," ujar bang Fakhri mengambil semua paper bag dari tangan Rania.
Kemudian memegang semua paper bag tersebut di tangan kirinya. Tangan kanannya menggenggam erat tangan Rania. Meski agak kesulitan dengan banyaknya paper bag di tangan kirinya. Tangan kanan bang Fakhri tidak sekalipun melepaskan genggamannya. Keduanyapun melangkah pasti keluar menuju areal parkir, dimana mobil bang Fakri berada.
Setelah memasukkan semua paper bag belanjaan Rania ke dalam bagasi mobil. Bang Fakhri membuka pintu sebelah kemudi mobil agar Rania masuk. Setelah Rania duduk di sana, barulah bang Fakhri memutari mobil menuju kursi kemudi.
"Setelah ini hendak kemana lagi sayang?" bang Fakhri menyunggingkan senyumnya, kemudian bertanya demgan lembut pada Rania sebelum melajukan kendaraannya.
"Pulang aja bang. Nia juga udah letih," jawab Rania sedikit mengeluh.
"Capek juga ternyata shooping. Nia heran kenapa semua wanita suka banget yah belanja?" tanya Rania terdengar seperti sebuah keluhan.
Bang Fakhri tersenyum. Menatap sekilas wajah Rania. Satu tangannya menggenggam erat tangan sang istri, satunya lagi masih terus mengemudi. Untung saja jalanan hari ini tidak terlalu padat kendaraan yang berlalu lalang. Senja sore itupun terlihat sedikit lenggang. Mungkin orang-orang belum ada yang berniat kembali ke rumah. Hingga bang Fakhri bisa mengemudikan kendaraannya dengan sangat santai.
Tidak lama kendaraan yang dikendarai keduanya memasuki restoran favorit mereka.
"Kita makan dulu sayang, sambil menunggu azan magrib. Takutnya habis waktu magrib jika di jalan, ada baiknya kita sholat dulu di sini," ujar bang Fakhri sambil memarkirkan mobilnya.
Raniapun hanya menganggukkan kepala dan tersenyum, membenarkan ucapan pak suami. Keduanya kemudian memasuki kawasan restoran. Mereserve tempat. Memesan menu makan malam yang minta di hidangakan bada magrib nanti. Kemudian keduanya menuju mushola kecil yang memang disediakan di restoran tersebut, yang letaknya di samping kiri resto, berhadapan dengan sebuah taman.
Rania mengambil tangan kanan bang Fakhri. Mencium tahzim punggung tangan laki-laki tampan yang telah berhasil meluluh lantahkan hatinya tersebut.
Kecupan lembutpun mendarat dengan sangat manis di kening dan pucuk kepala Rania. Usapan lembut di kepalanyapun tidak ketinggalan. Semua perlakuan manis tersebut seakan siraman air hujan yang menetesi hati Rania. Dingin namum menghangatkan.
Dan kini keduanya tengah menikmati santap malam berdua. Dalam satu piring berdua, di mana bang Fakhri yang menyuapi Rania kemudian bergantian memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya sendiri.
__ADS_1
Rania sudah tidak merasa aneh lagi. Acapkali ketika makan bang Fakhri selalu makan sepiring berdua dengam Rania, dan bahkan minum dari gelas yang sama pula.
Ini adalah ajaran Rasulullah yang patut diteladani yaitu menikmati santapan bersama. Hingga tak segan-segan sepiring berdua, serta minum dari gelas yang sama.
Dari Aisyah RA, berkata: "Saya biasa makan bubur bersama Nabi shallallahu 'alaihi wasallam." (HR. Bukhari)
Dalam hadis yang lain diriwayatkan oleh Imam Muslim, Rasulullah SAW dan Aisyah minum dengan gelas dan piring yang sama. Bahkan makan daging pada bekas jilatan Aisyah. (HR. Nasai).
Tanggung jawab seorang suami tentunya memberi nafkah pada keluarga. Hal itu dinilai sedekah, termasuk saat dirinya menyuapi sang istri dengan mesra.
Dari Saad bin Abi Waqosh RA berkata, bahwa Rasulullah SAW bersabda : "Dan sesungguhnya jika engkau memberikan nafkah, maka hal itu adalah sedekah, hingga suapan nasi yang engkau suapkan ke dalam mulut istrimu." (HR. Bukhari dan Muslim).
Banyak sekali pelajaran dengan meneladani romansa Nabi Muhammad SAW bersama istrinya. Banyak kisah yang tertuang dalam hadist, menceritakan keindahan romantisme Rasul kala itu. Begitu luar biasanya, beliau memuliakan sang istri.
Salah satunya memanggil istri demgan mesra. Hampir sebagian besar wanita pasti akan luluh hatinya saat dipanggil mesra oleh pasangan. Sehingga baik untuk para suami, mencontoh perangai Nabi SAW yang satu ini.
Menurut riwayat Nasai, Ibnu Majah, Baihaqi Nabi SAW juga memanggil Aisyah dengan 'ya Humaira', berarti kemerah-merahan. Panggilan tersebut sebagai ungkapan kekaguman Nabi pada kecantikan Aisyah yang merona pipinya.
Bahwa sesungguhnya kita tidak perlu jauh-jauh untuk belajar dalam berumah tangga. Cukuplah berkaca pada baginda Rasullullah.
Era modern saat ini banyak sekali wanita yang tidak pandai memasak. Saat ini tak jarang wanita yang tengah berjuang belajar memasak sebelum menikah. Meski begitu, ada pula yang merasa kesulitan dalam menghasilkan makanan yang mungkin kurang memuaskan. Tak jadi masalah, selama sang suami memberikan bentuk penghargaan, setidaknya istri sudah berusaha dan belajar membahagiakan.
Itulah sebagian dari beberapa ajaran kiat romantis Rasulullah . Berbagai cara yang patut di coba mulai saat ini, demi meraih keharmonisan, serta mencapai keluarga yang 'sakinah mawaddah wa rahmah'.
"Udah kenyang sayang?" tanya bang Fakhri saat suapannya disambut gelengan kepala dari Rania.
"Udah cukup bang. Perut Nia yang nggak bisa menampungnya lagi," jawab Rania menjawab terdengar seperti rengekan lembut di telinga bang Fakhri.
"Ya udah minum air putihnya dulu sayang," jawab bang Fakhri dengan tersenyum menatap istrinya.
"Biar abang yang menghabiskan sisanya. Mubazir jika di tinggalkan," ucap bang Fakhri kembali mulai memasukkan suapan demi suapan ke dalam mulutnya.
Tidak terasa hidangan yang dipesan pasutri tersebut sudah sukses mengisi perut keduanya. Menu hidangan lezat kesukaan keduanya kala tiap memesan di reatoran tersebut sudah berpindah posisi.
Alhamdulillah," ucap keduanya bersyukur.
Setelah mengistirahatkan perut yang kenyang sesaat. Bang Fakhri dan Raniapun kembali melanjutkan perjalanan ke rumah mereka.
Suasana malam selepas magrib yang masih lenggang mempersingkat waktu perjalanan mereka kembai ke rumah. Dan merekapun bisa dengan cepat tiba kembali di rumah.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri dan berganti pakaian tidur, suara azan isyapun berkumandang.
Selepas shalat Rania kembali mengambil tangan bang Fakhri dan mencium punggung tangannya. Bang Fakhri membalas dengan mengusap lembut kepala Rania yang sudah tidak tertutup hijab.
Kemudian cukup lama menjatuhkan kecupan lembut di kening Rania. Menikmati keintiman yang tercipta selepas shalat malam ini.
Setelah membereskan peralatan shalat, keduanyapun sudah naik ke atas tempat tidur, dengan kepala Rania yang bersadar di dada bidang bang Fakhri yang hanya memakai baju kaos dalamam tipis berwarna putih, yang terlihat jelas mencetak body sang ustad yang cukup berotot itu. Sementara bang Fakhri menyederkan punggungnya pada kepala ranjang.
Tanganya membelai lembut rambut panjang Rania. Mengusap ngusap leher dan telinga belakang Rania. Usapan lembut yang menghadirkan getaran berbeda pada reaksi tubuh Rania.
"Boleh abang memintanya malam ini?" bisik bang Fakhri lembut di telinga Rania.
Bisikan bang Fakhri, bahkan nafasnya yang terasa menghangat menyapu leher dan pipi Rania, sehingga menyisakan gelejar aneh yang membuat tubuh Raniapun mulai ikut meremang.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Auto ikhtiar yang bang😁🤭
Kudu sering-sering💪
Semoga segera di ijabah sama Allah🤲
Otw calon penerus peradapan🙌
Baca juga novel aurhor
👇
Author Kesayanganmu😘
WCU
__ADS_1