
Hi readersku tercintah🤩😍
Sebelum baca, mohon pencet dulu Vote, Like, Love, Favorit & Rate5🙏🙏
Kalau mau kasih hadiah juga lebih bagus🙏🙏
Demi kelanjutan novel author agar bisa naik level🙏✌
Dan demi semangat author biar rutin updatenya💪💪🙏
Teteup setia yak✌
Author jamin, part selanjutnya akan makin seru✌
Love lagi sekebon ubi dari author😘
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Akhirnya pertemuan antara keluarga abah Gunawan dan abi Kosim terjadi hari ini.
Semua sudah terlihat bersiap. Umi dan abi tampak masuk dalam mobil yang dikemudikan Andi. Yah, bang Fakhri memang meminta bantuan Andi yang menyupiri mobil abi. Karena dia tidak ingin orang tuanya kelelahan membawa mobil sendiri. Sementara nenek dan kakek menjadi penumpang di mobil bang Fakhri dan Rania.
Jalanan yang cukup lenggang di hari libur, membuat iring-iringan dua mobil tidak mendapati hambatan yang berarti.
Ketika mobil sudah memasuki pagar rumah megah berwarna putih itu, tampak tuan rumah sudah menyambut di depan teras besar rumah mereka.
Kakek Gun dan nenek melangkahkan kaki pertama setelah keluar dari mobil. Diikuti abah dan umi. Menyusul di belakang bang Fakhri, Rania serta Andi.
"Assalamualaikum," sapa kakek Gun begitu tiba di hadapan sahabatnya.
"Waalaikumsalam," jawab kakek Kosim
Keduanyapun berpelukan erat bak saudara kandung yang telah terpisah lama. Bahkan mata kedua kakek tersebut sempat berkaca-kaca. Ini memang kali pertamanya mereka bertemu dengan keluarga yang lengkap.
Terlihat nenek Meyrapun memeluk nenek Rinjani. Keduanya sama seperti para suami mereka, yang terlihat sangat dekat dan akrab. Tidak salah jika kakek Gun sering berkata kakek Kosim itu bukanlah lagi sahabat, beliau sudah seperti saudara kandung bagi kakek Gun. Toh sebuah hubungan tidak melulu soal hubungan darah.
Kemudian abi dan umipun bergantian menyujut tangan kakek kosim dan nenek Rinjani. Juga bersalaman dengan tante Aisyah dan om Pandu suaminya. Abi dan tante Aisyah yang dahulu juga sempat dijodohkan, nyatanya keduanya bukanlah tulang rusuk yang harus disambungkan.
"Ini cucuku Fakhri dan istrinya Rania," ujat kakek memperkenalkan bang Fakhri dan Rania pada keluarga kakek Kosim.
__ADS_1
Fakhri dan Raniapun bergantian menyalami dan mencium tangan keempat orang tua yang disebutkan kakek pada mereka. Kakek Kosim dan keluarganya, sahabat dari kakek Gunawan, terlihat menyambut hangat kedua pasang suami istri baru tersebut.
Tidak bisa dipungkiri, keempat orang tua tersebut terlihat tengah menilik lekat-lekat pasangan suami istri di hadapan mereka. Bagaimanapun semua tentu saja penasaran pada laki-laki yang membuat anak dan cucu perempuan mereka satu-satunya itu sampai bersedia untuk menjadi istri kedua.
Fakhri. Laki-laki berkulit bersih, tampan, bergaris rahang tegas, pemilik tatapan mata teduh itu, terlihat dengan sisiran rambut yang rapi dan mengenakan kemeja koko putih bermotif.
Terlihat sangat tampan dan sangat kontras dengan sikap dan penampilan pemuda yang merupakan cucu tertua Gunawan tersebut.
Bahkan nenek Rinjani dan bunda Aisyahpun sependapat jika laki-laki di hadapannya ini adalah imam terbaik bagi wanita manapun.
Fakhri yang tampan, soleh, lembut, baik, cerdas dan berpendidikan. Kenapa sekarang nenek Rinjani dan bunda Aisyah menjadi memaklumi jika anak dan cucu perempuan satu-satunya itu sangat mencintai cucu laki-laki tertua Gunawan ini.
Tapi begitu mata keduanya menangkap sosok wanita di samping Fakhri. Keduanyapun menarik nafas dalam. Gadis disamping Fakhri itu, yang sedari tadi tangannya terus di genggam erat Fakhri. Yang langkah kakinya tidak pernah jauh dari sisi Fakhri. Gadis itu menempel lekat pada Fakhri, karena sang suami tidak sekalipun melepaskan genggaman tangannya dari tangan Rania.
Gadis cantik berkulit putih, berwajah mungil, dengan senyum dan mata yang sangat cantik itu, terlihat bertambah cantik dengan gamis sederhananya yang juga berwarna putih bercorak bunga lily itu. Soleha sekali.
Saat menatap sepasang pengantin muda tersebut. Semua orang pasti sepakat. Keduanya adalah pasangan yang serasi. Terlihat cocok sekali, yang satu tampan dan berkharisma. Yang perempuan, cantik, lembut dan menenangkan.
Ahhhh, seketika kedua wanita yang dicintai kakek Kosim itu kembali menghela nafas dalam, ketika mengingat bagaimana mungkin, Humairoh akan menjadi wanita di tengah-tengah hubungan cinta yang benar-benar terlihat indah dan harmonis di antara keduanya, pasangan suami istri Fakhri dan Rania.
"Apakah pemuda tampan ini putramu yang satunya lagi?" tanya Kosim pada sahabatnya.
"Ini Andi, dia sahabat cucuku. Tapi dia sudah seperti cucu kandungku sendiri," ujar Gunawan memperkenalkan Andi.
Pemuda itu langsung mengambil tangan semua keluarga kakek Kosim dan mencium punggung tangannya tanda hormat.
"Hehehehhh.....Aku kira dia si tentara tampanmu itu," kekeh kakek Kosim akhirnya.
"Maafkanlah, cucuku itu sudah kembali bertugas minggu kemarin. Jadi tidak bisa ikut pada kunjungan kita sekeluarga kali ini," ucap kakek Gunawan menyesal.
"Tidak apa-apa Gun. Kami sekeluarga memaklumi, tugasnya jauh lebih penting, jangan sampai terabaikan," jawab kakek Kosim menyahuti sahabatnya yang merasa tidak enak hati tersebut.
Karena sebelum pertemuan dua keluarga mereka. Sejak hari di mana putranya, Fahlevi, menegaskan kembali ketegasannya menolak perjodohan kedua bagi putra sulungnya. Juga betapa kerasnya Fakhri mati-matian, menolak mentah-mentah keinginan kakeknya untuk menjodohkannya, dan menikah kembali untuk kedua kalinya dengan cucu Kosim, sahabatnya.
Kakek Gunawan dan kakek Kosim, secara diam-diam tanpa sepengatahuan anak dan istri mereka. Keduanya bertemu kembali untuk membahas keinginan agar mereka bisa berbesan.
Flash Back On
"Aku sepertinya tidak akan bisa membujuk Fakhri agar mau menikahi Humai Sim," ujar kakek Gun saat itu.
__ADS_1
Kakek Kosim menghela nafasnya berat.
"Aku sesungguhnya sangat tidak ingin sekaligus tidak rela jika cucu perempuanku satu-satunya itu harus menjadi istri kedua cucumu, Gun," jawab kakek Kosim terdengar seperti keluhan.
"Kalu tidak karena keinginan Humai sendiri karena dia mencintai cucumu, akupun akan sama kerasnya dengan Rinjani dan putriku Aisyah menentang perjodohan ini," ujar kakek Kosim kembali dengan menatap lekat sahabatnya itu.
"Akupun sama Sim. Aku menyayangi Humai seperti cucuku sendiri. Alasanku bukan hanya sekedar dari rasa bersalahku pada masa lalu. Tapi lebih kepada kebahagian Humai, jika dia bahagia bisa hidup bersama laki-laki yang dia cintai, aku akan berusaha membantunya," ujar kakek Gunawan menjelaskan.
"Andai kau tahu, bagaiamana sulitnya aku mengeraskan hati menghadapi penolakan tegas dari putraku Fahlevi dan cucukku Fakhri," keluh kakek Gun kemudian pada sahabatnya.
"Aku faham Gun. Aku memahami situasinya," ujar kakek Kosim lagi-lagi menghela nafas berat.
Keduanya terdiam sesaat, meminum secangkir coffe hangat di tangan mereka masing-masing. Keduanyapun hanyut dalam fikiran masing-masing. Permasalahan perjodohan pelik yang melibatkan dua sahabat terbaik ini.
"Andai Humai bersedia. Aku lebih menyukai jika menjodohkannya dengan tentara tampanmu itu Gun," tatap kakek Kosim pada kakek Gunawan.
Kakek Gunawan ikut menatap kakek Kosim.
"Andai Humai mau, ini menjadi lebih mudah Sim. Reyhan pernah mengalah, mengikhlaskan Rania yang dicintainya, karena nyatanya gadis itu memang mencintai Fakhri bukan Reyhan," jawab kakek Gunawan terdengar curhat.
"Jika kita terus memaksakan Humai bersama Fakhri. Aku malah takut, Reyhan yang akan bertindak. Dia tidak akan membiarkan Rania, gadis yang pernah dicintainya itu tersakiti. Meski terlihat lebih terbuka dan ramah, Reyhan sesungguhnya lebih keras dan tegas dari abangnya Fakhri," jelas kakek Gun.
"Aku takut, Reyhan mengambil langkah yang membuat kedua cucuku itu akhirnya saling bersitegang," cemas kakek Gun kini.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil untuk cek novel Author yg lain
⤵️
Author Kesayanganmu😘😘
WCU
__ADS_1