
Makasih bang traktirannya," ujar Rania pelan setelah selesai menikmati mie nikmat yang membuat perutnya yang kosong kini menjadi berisi.
"Sama-sama.....," jawab bang Fakhri biasa.
"Pantes rame banget dari tadi, ternyata emang enak ya bang," ujar Rania kembali mengajak bicara.
"Iya, ini yang dinamain rasa bintang lima harga kaki lima," jawab bang Fakhri kembali seperti biasa.
Lalu keduanyapun terdiam kembali.
"Bang....Nia pamit yah. Udah mau magrib, Nia mau ke masjid yang deket sini aja," ujar Rania menunduk tanpa menatap Fakhri.
"Kenapa nggak langsung pulang aja," tanya bang Fakhrì pada Rania.
"Takut nggak keburu. Waktu magrib kan singkat bang," jawab Rania mengemukakan alasannya.
Tadinya Fakhri ingin gadis itu cepat pulang karena hari sudah menjelang malam. Tapi seperti yang Rania katakan, nggak akan keburu magribnya kalaupun pulang ke rumah sekarang.
"Ya udah. Kita bareng aja, sama-sama ke masjid depan," tawar Fakhri pada Rania akhirnya.
Dan Rania mengiyakan, membalasnya dengan anggukkan kepala.
""Assalamualaikum," sapa Fakhri pada Rania yang tengah duduk di tangga sebelah kiri bangunan masjid.
Gadis itu telah lebih dulu keluar dari dalam masjid setelah menyelesaikan sholat magribnya.
""Waalaikumsalam," sahut Rania tersenyum dengan lembut.
Karena Rania sempat menoleh pada Fakhri ketika Fakhri menyapa dengan mengucapkan salam, otomatis pandangan mata merekapun bertemu. Dan Fakhri sempat melihat senyum manis yang Rania berikan ketika menjawab balasan salam darinya.
Degg. Jantung Fakhri berdetak kencang saat menatap senyum manis yang Rania berikan barusan saat bertatapan.
Perasaan apa ini, ucap Fakhri dalam hati sembari memegang dadanya dengan sebelah tangan.
Fakhri merasakan dadanya berdebar-debar, jantungnya seakan mau melompat keluar.
Dengan cepat Fakhri mengalihkan pandangannya dari Rania. Astaghfirullah, Fakhri beristigfar dalam hatinya mengingat tidak menjaga pandangan matanya barusan.
__ADS_1
"Kamu bawa kendaraan?" tanya Fakhri menatap lurus ke depan.
Langit malam mulai kelam, udarapun sudah mulai dingin karena angin malam.
"Nggak bang, Nia naik kendaraan online tadi berangkatnya," jawab Rania.
"Motor kamu kemana? Biasa naik motor?" tanya Fakhri kembali tanpa menatap Rania.
"Pagi tadi mau ke kantor motor Nia mogok bang. Tadi abi bilang di pesan udah dimasukinnya ke bengkel. Isya Allah lusa udah kelar," jelas Rania lembut.
"Lain kali kalau tahu pulang pake kendaraan umum, jangan sampai malam jalannya," Fakhri mengingatkan.
Rania hanya tertunduk diam tanpa menoleh. Menganggugkan kepalanya saja mengiyakan perkataan Fakhri.
Rania mengeluarkan handphone dari dalam tasnya, berniat hendak memesan aplikasi kendaraan online.
"Kamu tunggu di sini aja, abang ambil mobil dulu. Biar sekalian pulang bareng abang aja," perintah Fakhri pada Rania.
"Eeehhh.....nggak usah bang. ini juga Nia udah mau pesen aplikasimya," tolak Rania tidak enak hati.
"Udah malem Nia. Biar abang yg anter. Kamu tunggu di sini aja, jangan ke mana-mana," perintah Fakhri lagi pada Rania.
Tet...tet...tet....Rania yang tengah duduk melamun dikejutkan oleh suara klakson mobil. Dilihatnya Fakhri melambaikan tangan dari balik pintu mobil. Raniapun berjalan bergegas. Mengambil posisi duduk di depan, persis di sebelah Fakhri yang sudah duduk di belakang kemudinya.
Fakhri segera mengemudikan mobilnya santai menuju jalan raya. Membelah malam yang kini diterangi sinar rembulan. Sepanjang perjalanan hanya keheningan yang tercipta. Bang Fakhri yang ingin menjaga pandangannya tidak menatap Ranìa. Rania yang memang seorang gadis yang pendiam, tidak berani untuk memulai percakapan. Jangankan menatap bang Fakhri, untuk meliriknya sajapun Rania tidak berani.
Ya Allah. Gimana Nia bisa lupa. Gimana Nia nggak jatuh cinta. Kenapa harus kembali berjumpa, saat Nia udah pasrah dan berniat untuk melepas semua perasaan ini. Nia mesti gimana ya Allah, keluh Rania dalam hatinya.
Rania tidak berani menatap, hanya duduk diam menatap lurus ke depan. Sesekali menoleh ke kaca samping mobil, menatap lalu lintas sepanjang perjalanan pulang.
Rania ingin sekali bicara terus terang. Mengungkapkan semua perasaannya selama ini. Mengatakan kalau dia menyukai bang Fakhri. Sejak dulu, sejak usia remajanya. Saat ketika menjadi gadis kecil murid bang Fakhri saat belajar mengaji, Rania sudah menyimpan perasaannya. Saat itu Rania fikir perasaannya hanyalah rasa kagum seorang gadis belia pada idolanya saja. Makin lama rasa itu pastì akan berlalu dengan sendirinya. Apalagi di saat bersamaan ada Rara, sahabat Rania, yang juga menaruh perasaan yang sama pada bang Fakhri. Dan Rania sangat tidak percaya diri, kalau dirinya yang akan lebih dipilih ketimbang Rara. Dan Rania, sangat takut harus bersaing, berebut perhatian. Rania yang pendiam, hanya menyimpan saja semuanya di dalam hati.
Namun hingga detik ini, perasaan itu tidak pernah bisa pergi dari hati Rania. Malah semakin bertambah subur dan bersemi. Apakah salah mencintai dalam diam. Apakah salah hanya memintanya pada Allah lewat doa. Apakah salah untuk tidak menjadi berani, dada Rania semakin sesak saja rasanya.
Fakhri masih dengan santainya mengemudikan kendaraannya. Lalu lintas malam yang tidak terlalu padat, membuat Fakhri lebih santai membawa mobilnya. Walaupun dalam hati, Fakhripun merasakan perasaan yang berbeda kali ini. Perasaan yang tidak sama dengan sebelumnya. Saat beberapa kali Fakhri terlibat masalah pekerjaan dengan Rania, dan juga terpaksa satu mobil berdua seperti ini.
Fakhri sebenarnya ingin sekali menoleh. Menatap lembut wajah cantik Rania sesaat. Menikmati indahnya wajah Zulaikha di masanya kini. Tidaklah salah jika Fakhri berfikir demikian. Rania, gadis di hadapannya ini adalah perpaduan antara kecantikan, kecerdasan dan kelembutan. Dialah Zulaikha itu.
__ADS_1
"Rania itu bukan hanya cantik bang. Semua yang abang inginkan ada pada dirinya. Gadis yang baik, lembut, santun, pemalu dan tidak agresif. Dia wanita soleha yang seperti abang harapkan," ujar Andi kala itu pada Fakhri.
Andi benar. Mencari yang seperti apa lagi, jika pada diri Rania, Fakhri bisa menemukan semuanya.
"Atau abang lebih menyukai tipe yang seperti Rara? Gadis yang berani, agresif, terbuka dan tidak malu-malu. Abang akan lebih mudah untuk menghadapinya," ujar Andi kembali menyindirnya.
Fakhri mendelik, menatap Andi tajam. Membicarakan Rara, membuat Fakhri bergidik ngeri. Untuk membayangkannya saja Fakhri sudah ketakutan, apalagi sampai benar jika harus bersama dengan gadis afresif itu.
Astaghfirullah.....kembali Fakhri mengucapkan istighfar. Membuang jauh semua yang sedari tadi memenuhi isi kepalanya. Menjaga kembali pandangan dan juga hatinya.
"Makasih tumpangannya bang," ujar Rania tertunduk tanpa berani menatap.
Perjalanan sunyi yang mereka lalui berdua akhirnya sudah sampai mengantarkan Rania ke rumahnya.
"Sama-sama. Maaf abang tidak mampir ke dalam karena sudah malam. Tolong titip salam pada abi dan umi," jawab Fakhri tenang
Gadis itu mengiyakan dengan menganggukkan kepalanya saja. Masih berdiri di halaman rumah hingga mobil Fakhri berlalu dan pergi.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Memang sulit menyadari perasaan sendiri bagi laki-laki seperti bang Fakhri.
Bagaimana akhirnya keduanya mengetahui perasaan yang tersembunyi itu??
Tungguin terus up selanjutnya ya readers tercintahh🤩😍🙏🏻✌
Ayo dong kalau suka ceritanya
Jangan pelit untuk kasih Vote, Favorit, Like & Comentnya untuk Author.....pleaseee🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
__ADS_1
Love Author 😗😙😚
WCU