Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Pindah Ke Rumah Sendiri


__ADS_3

"Cukup bu. Biarkan Fakhri dan Rania pindah ke rumah mereka. Biarkan keduanya mandiri, memulai kehidupan rumah tangga mereka dengan arti yang sebenarnya. Dengan berdua tinggal di rumah mereka sendiri, akan membuat Fakhri dan Nia merasakan nikmatnya berumah tangga. Semua hal dilakukan berdua, tanpa ada bantuan keluarga dan orang lain. Segala sesuatu hal, merwka berdualah yang merasakan dan menjalaninya. Itulah nikmatnya berumah tangga," ujar ayah Rania dengan tegas.


Ucapan tegas sang ayah, serta merta membuat ibu Rania tidak berani melanjutkan bicaranya kembali. Yah, ayah Rania adalah orang yang juga pendiam dan irit bicara. Sekali dia bicara panjang lebar begitu, ibu Rania akan langsung faham bahwa itu adalah kode baginya agar membiarkan Rania dan Fakhri mwmutuskan rumah tangga mereka sendiri.


Dan di sinilah mereka kini. Setelah berdebat dengam ibu Rania yamg belum ingin berpisah jauh dengan putrinya. Kemudiam umi bang Fakhri yang juga menginginkan putra sulung dan istrinya itu untuk sementara tinggal bersama mereka.


Akhirnya atas persetujuan ayah Rania dan abi bang Fakhri. Tentu saja dengan keputusan yang akhirnya disetujui oleh para istri. Di sinilah hari ini kedua pengantin baru dan para keluarga berkumpul.


Di sebuah rumah modern minimalis bertingkat dua. Rumah yang terlihat modern dan sejuk itu terlihat begitu rapi dan terurus. Karena selama ini bang Fakhri memamg memperkerjakan tetangga sekitar untuk datang membersihkan dan menjaga rumahnya tersebut.


Kebetulan saat itu kedua orang suami istri yang tinggal tidak jauh dari perkampungan dekat rumahnya membutuhkan pekerjaan karena kena phk dari pabrik tempat mereka bekerja.


"Rumahnya sangat bersih dan terawat nak," ujar ibu Rania pada menantunya.


"Kebetulan ada tetangga dekat sini, yang memang datang setiap hari untuk membersihkan dan menjaga rumah ini sebelum nantinya ditempati bu," jawab sopan bang Fakhri menjelaskan.


"Pantas saja.....," gumam ibu Rania kembali dengan mengangguk-anggukkan kepalanya.


Sementara Rania sudah berjalan menuju dapur. Dibukanya kulkas yang sudah terisi penuh dengan bahan-bahan makanan.


"Abang memang sudah mbak Ike untuk belanja di pasar kemarin. Agar saat kita pindah hari ini, adek tidak perlu capek-capek ke pasar," ujar bang Fakhri tiba-tiba sudah berada di belakang Rania.


Rania tersenyum. Lalu memasak air berniat membuatkan teh untuk kedua orang tua mereka yang ikut mengantar keduanya hari ini.


"Selanjutnya adek yang mengantur semua keperluan rumah kita," ujar bang Fakhri kembali.


Dan Rania kembali menganggukkan kepalanya dan tersenyum hangat.


"Tapi biarkan mbak Ike dan suàminya tetap bekerja di rumah kita ya dek," ucap Fakhri penuh harap.


"Selain karena keduanya tidak punya pekerjaan. Bantuan mereka juga akan meringankan pekerjaan adek nantinya," jelasnya kembali dengan kelembutan.


"Iya bang....," akhirnya Rania mengeluarkan suaranya menjawab laki-laki yang baru berapa hari resmi menjadi suaminya itu.


"Ayo bang, kembali ke ruang tamu. Abang tolong bawa toples kue-kue itu yah," ajak Rania pada bang Fakhri.


Yang dijawab bang Fakhri dengan anggukkan kepalnya. Lalu berjalan membawa beberapa toples kue mengikuti di belakang Rania yang tengah membawa nampan berisi teh.

__ADS_1


Rania menyajikan teh buatannya di atas meja ruang tamu. Berbarengan dengan bang Fakhri yang juga meletakkan nampan berisi beberapa toples kue di atas meja. Karena toples itu tergelak begitu saja, mau tidak mau Rania mengeluarkannya dari nampan dan menyusunnya di tengah meja, lalu menyingkirkan nampannya bersama nampan bekas teh tadi.


"Ayah, ibu, umi, abi.....silahkan diminum," tawar Rania dengan lembut dan sopan.


"Makasih sayang.....,"


'Makasih nak....,"


Jawab kompak kedua orang tua mereka tersebut.


Rania kemudian mengambil satu gelas teh, dan diberikannya pada bang Fakhri.


"Ini bang.....diminum dulu," ucap lembut Rania menyerahkan satu gelas teh pada bang Fakhri.


"Makasih dek," jawab bang Fakhri lalu mulai menyeruput teh hangat tersebut.


Baru kemudian Rania mengambil satu gelas, dan ikut menyeruputnya.


Obrolan demi obrolan penuh kehangatan kemudian mengalir begitu saja. Tidak terasa haripun menjelang sore.


"Ayah dan ibu juga ikut pamit pulang," sahut ayah Rania juga pada bang Fakhri.


"Kenapa abi, umi, ayah dan ibu tidak menginap saja di sini," jawab Fakhri pada pasangan orang tua mereka.


"Jangan khawatir, ada dua kamar kosong di rumah ini yang bisa ayah, ibu, umi, dan abi tempati," jelas bang Fakhri kembali.


"Lain kali aja abi sama umi menginap bang. Abi mau menumpang shalat ashar saja sebelum pulang," jawab abi.


"Lagian kalau keempat orang tuamu menginap, pasti akan membuat pengantin baru terganggu," kekeh umi menyahuti abi.


Dan mau tidak mau disambut gelak tawa dari para orang tua keduanya.


"Kalau gitu kita sholat ashar berjamaah saja. Bagaimana ayah, ibu, umi, abi?" tanya bang Fakhri membuang rasa malu dari tertawaan para orang tua keduanya.


"Apa ruangannya cukup untuk kita berjamaah bang?" tanya abi kembali.


"Di samping ada mushola kecil, yang insyaAllah muat menampung kita semua abi. Fakhri sengaja menambahkan bangunan mushola di samping, agar kedua keluarga kita bisa shalat berjamaah bersama bila sedang berkumpul," jelas bang Fakhri memjawab pertanyaan abinya.

__ADS_1


"Alhamdulillah......," kali ini ayah Rania yang menyahut, sementara abi hanya me gangguk-anggukkan kepalanya.


Dalam hati ayah Rania begitu mengucap syukur, putri sulungnya itu berjodoh dengan pemuda sholah yang sangat santun ini. Rasanya perasaan itu mengembang penuh haru di dada ayah Rania saat ini.


Dan akhirnya semuanyapun menuju mushola di samping rumah untuk menunaikan perintahnya.


"Bang, jadilah imam sholat ashar ini," perintah abi pada putranya.


Sekilas abi menatap pada ayah Rania hendak meminta izin, dan sudah mendapat anggukkan kepala juga senyum yang tersungging di bibir mertua laki-lakinya itu.


Dan bang Fakhripun segera mengambil posisi tempat imam sholat, agar bisa segera mengerjakan kewajiban shalat ashar.


"Ayah dan ibu pamit ya nak. Ayah titipkan Rania padamu. Didiklah dia agar menjadi istri yang sholeha. Tanggung jawab ayah kini ayah serahkan kepadamu," ujar ayah Rania dengan penuh haru memeluk menantunya itu.


"InsyaAllah ayah. Kami berdua sama belajar dan saling mengingatkan, agar rumah tangga kami diridhoi dan selalu dalam lindungan Allah SWT," balas bang Fakhri tanpa menyombongkan diri sedikitpun.


Perkataannya makin menyakinkan sisi hati ayah Rania. Laki-laki ini, menantunya, adalah sosok laki-laki soleh terbaik, yang dikirimkan Allah untuk putrinya yang patuh. Putri solehanya itu telah lama memantaskan diri agar kelak mendapatkan seseorang yang soleh pula untuk mendampinginya.


Tidak ada yang bisa membuat haru seorang ayah, kecuali kenyataan bahwa putrinya mendapatkan pendamping yang soleh, baik dan santun. Laki-laki dengan akhlakul kharimah.


Pun demikian dengan ibu Rania. Perbedaan usia yang awalnya menjadi pertimbangannya pada bang Fakhri, seakan menguap. Seiring sikap dan tanggung jawab yang ditunjukkan suami putrinya itu pada keduanya. Ibu Rania amat mengucap syukur, bahwa putrinya mensapatkan pendamping yang terbaik.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻


Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻




Love😗😘


Autor Kesayanganmu


WCU

__ADS_1


__ADS_2