
"Assalamualikum.....," sapa Rania begitu menemukan sosok Rara yang sudah lebih dulu datang, duduk agak di pojok kanan rumah makan.
"Walaikumsalam.....Duduk Nia," Rania mempersilahkan.
"Oh iya ini mbak Sinta, rekanku di kantor. Maaf jika mbak Sin ikut juga, karena kami memang menghabiskan waktu istirahat berdua," ucap Rania meminta maaf.
"Okey, nggak apa-apa," jawab Rara.
Lalu merekapun duduk santai sambil memesan minuman. Karena masing-masing sudah lebih dulu makan siang tadi sebelum janji ketemuan.
"Oh iya Ra. Tumben ngajak ketemuan, ada yang ingin dibicarakan," tanya Rania pelan dan sopan.
Rara menatap Rania. Tatapan yang bagi Rania tampak berbeda. Rara menarik nafas dalam sebelum kemudian menghembuskannya.
__ADS_1
"Okey. Aku to do point aja Nia," ujar Rara akhirnya.
Rania menatap sahabat kecilnya itu. Masih berfikir apa yang akan disampsikannya.
"Nia, kita sudah bersahabat lama, sedari kecil. Tidak pernah ada pertentangan dan keributan antara kita sejak dulu bukan?" tanya Rara.
Dan Rania menganggukkan kepala tanda menyetujuinya.
"Dan kita juga sama-sama tahu. Sedari dulu, sejak masa remaja kita, kita memang menyukai orang yang sama," jelas Rara kembali.
Sementara Sinta asyik memainkan handponenya sambil memasang telinga. Ternyata gadis ini berniat menekan Rania, sinis Sinta.
"Nia, aku tidak ingin bermasalah apalagi ribut dengan sahabatku sendiri, hanya karena masalah laki-laki," ucap Rara lagi setelah beberapa saat.
__ADS_1
Itu tahu nggak mau ribut karena masalah laki-laki. Tapi sengaja datang untuk menekan orang lain...ciiih...., gumam Sinta kembali.
Mau tidak mau di tatapnya gadis yang ada di sampingnya ini, yang duduk tepat menghadap Rania.
Gadis ini cantik. Dia terlihat sexy walaupun dengan balutan hijab yang menutupi tubuhnya. Karena dia mengenakan celana Palazo yang cukup ngepas walaupun agak sedikit cutbray di bagaian bawah, ditambah kemeja body fit yang juga ikut membentuk tubuh. Kalau saja hijab segi empat yang dikenakannya tidak sedikit dijuntaikannya di bagian depan, dia sukses berhijab tapi mengumbar aurat, Sinta menelisik.
Wajah gadis ini sebenarnya cantik, cuma kecantikan terlalu tertutup make up, atau memang make up tebal itulah yang membuatnya cantik, Sinta kembali menelisik wajah di sampungnya ini.
Kalau mau dibandingan Rania. Dia tidak akan bisa menandinginya. Nia itu punya wajah yang asli cantik alami. Wajahnya yang memang putih dan seperti artis korea, tidak memerlukan make up sama sekali. Make up tipis yang selalu dipakainya setiap hari, sudah membuat aura kecantikannya mempesona. Pantas saja kalau gadis ini menjadi takut untuk bersaing dengan Rania, kali ini Sinta tersenyum sinis.
"Aku mencintai bang Fakhri. Sangat mencintainya. Sejak dulu, sejak kita sama-sama menyukainya. Dan perasaan itu tetap sama, tidak berubah hingga detik ini. Aku bahkan sengaja kuliàh dan bekerja di bidang yang sama dengannya, hanya agar selalu bisa dekat dengannya. Aku berharap, suatu saat nanti bang Fakhri akan sadar, dan menerima cintaku. Dia akan sadar ada seorang gadis yang tidak pernah berhenti mencintainya di sini," ucap Rara sendu.
Kali ini wajah Rara benar-benar terlihat putus asa. Kata-katanya seakan kekecewaan yang menumpuk akan usahanya atas nama cinta selama ini.
__ADS_1
Rania terdiam. Dia memahami semuanya. Tapi Rania belum tahu mesti bagaimana dan bicara apa pada Rara saat ini.