
Rania melanglah gontai menyusuri sebuah taman kota di pinggiran sungai. Karena sudah sore, udara juga sudah mulai tidak lagi panas. Mataharipun akan mulai meredup. Rania berjalan menyusuri taman, walaupun tidak terlalu banyak, bunga-bunga cantik itu menghiasi sisi jalan yang Rania lalui.
Taman ini sebenarnya tidak lagi cocok lagi disebut sebuah taman. Pedagang dan arena bermain anak-anak yang kini memenuhi taman ini. Rania memilih duduk di sebuah bangku panjang di sudut taman. Dari tempat duduknya Rania bisa dengan leluasa memperhatikan suasana di sekitar taman. Para pedadang yang terlihat sibuk menawarkan dagangannya. Anak-anak yang terlihat sangat senang mencoba semua arena permainan ditenami ayah dan ibu mereka. Pasangan muda mudi yang terlihat banyak dilihatnya tengah berdua.
Namun tiba-tiba saja mata Rania menangkap sosok laki-laki yang tengah berdiri dengan kedua tangan di masukkan ke saku celananya, pandangannya menatap jauh ke arah cakrawala.
Rania terbengong. Matanya menyusuri laki-laki tampan itu dari ujung rambut hingga ke ujung sepatunya. Karena jarak Rania dengan laki-laki itu termasuk dekat, Rania bisa dengan sangat dengan jelas memperhatikannya.
Laki-laki itu sepertinya baru pulang dari kampus, menyelesaikan aktifitasnya sebagai seorang dosen. Kemeja lengan panjangnya sudah di gulung hingga siku. Mengenakan celana bahan berwarna gelap, membuatnya tampilannya makin tampan saja di mata Rania.
Wajah tampan dan teduhnya itu, selalu saja menyenangkan untuk dipandang berlama-lama. Alis hitamnya, hidung mancungnya, kumis tipis dan bulu-bulu halus di dagunya itu, membuat penampilannya bukan hanya tampan tapi juga sangat sexy. Uuuuhhh.....Rania berkata-kata sendiri seperti tengah mengeluh.
Rambut itu sudah sedikit berantakan, ujar Rania saat melihat laki-laki di hadapannya itu tengah menyugar rambutnya dengan jari.
Rania memejamkan matanya. Detak jantungnya sudah sedari tadi bersuara seperti gendang. Tak ketipak ketipung, suara gendang bertalu-talu.
Rania memegang dadanya. Jangan sakit jantung dong. Mosok harus mati muda, cinta aja belum pernah diungkapkan, ucapnya miris pada diri sendiri.
Wahai tampan, benarkah itu wajah nabi Yusuf. Yang bukan hanya tampan, tapi tenang lagi meneduhkan.
Lalu tatapan itu. Tatapan itu ibarat sebuah telaga, tenang tapi menenggelamkan.
Dan liatlah alis yang menaut pada hidung mancung itu, tidak ada yang seindah yang terlihat saat ini.
Dan bibir itu. Masya Allah......bibir itulah yang dengan indahnya melantunkan ayat-ayat suci Al-quran yang sering kudengarkan. Andai bisa berdiri di belakang sebagai makmumnya. Saling bermunajat mengingat kebesaran Rabbnya. Melangkah beriringan atas izin Allah.
Cinta ini bukan mengagungkanmu dalam raga. Bukan pula meresap sepenuhnya dalam jiwa. Cinta ini, cinta yang semakin mendekatku pada Rabbku. Cinta ini membuat aku makin mencintai penciptaku. Cintaku padamu takkan melebihi cintaku padamu ya Allah.
Cinta ini aku yakin akan membawaku lebih mencintai Allah. Cinta ini akan semakin membuat hatiku utuh dalam mencintaiNya.
Astagfirullah. Rania kembali memejamkan matanya. Saat ini, cinta itu benar-benar berpendar indah dalam hatinya. Ya Allah, laki-laki ini apakah memiliki rasa. Laki-laki ini apakah bisa peka. Andai dia bisa melihat cinta itu dari pandangan mataku. Andai dia bisa melihat cinta itu dari sikapku selama ini. Andai bisa dia lihat cinta dalam ragu-ragu dan rasa maluku. Ahhhh.....andai dia bisa menerka hatiku.
Rania. Nia.....panggilan itu seketika menghentikan langkah Rania yang hendak berlalu pergi.
__ADS_1
Suara itu, adalah suara yang ingin selalu di dengar Rania. Bunda, tolong Rania bunda. Nia cuma ingin berhenti saja mengharap. Nia cuma ingin berhenti saja akan rasa ini. Karena Rania juga lelah bunda, lelah akan perasaan yang begitu menyiksa, Rania mengeluh seolah pada bundanya.
Laki-laki itu baru saja menyugar rambutnya yang tertiup angin sore, ketika tidak sengaja pandangan menangkap sosok gadis yang dikenalnya.
Rania. Mengingat gadis ini, jadi mengingatkan obrolan terakhirnya bersama Andi.
Lihatlah, benar kata Andi, Rania itu memang cantik. Dan sepertinya hanya aku sendiri yang baru menyadari hal ini, gumamnya saat menatap Rania.
Gadis itu tampak cantik mengenakan pakaian kerja formalnya. Blouse lengan panjang dipadu rok sebetis dengan potongan pinggang tinggi yang lain in sekarang. Scraff yang melingkar manis di lehernya, membuat tampilan Rania jadi semakin manis. Kulit putihnya tampak berseri tertimpa cahaya langit senja. Matanya yang besar tapi sipit tanpa kelopak itu berpedar dengan indahnya.
Senyuman itu selalu tersungging manis di bibir penuhnya yang tipis. Karena mengingat sifat Rania yang memang pendiam, gadis itu lebih sering tersenyum ketimbang berbicara. Kecantikan gadis itu justru terlihat dari sifat malu-malu dan menjaga dirinya. Rania akan bertambah cantik terlihat dengan senyum malu dan pipi yang memerah tiap kali tidak bisa menutupi perasaannya.
Dan rambut panjangnya yang belum tertutup hijab itu tergerai indah terbang tertiup sedikit angin. Poni yang membingkai wajah Rania membuat gadis itu terlihat makin bertambah mungil saja. Kalau tidak memgenalnya, orang pasti mengira Rania itu hanyalah gadis SMA yang belum dewasa.
"Nia......," panggil laki-laki itu ketika dilihatnya Rania berniat beranjak dari tempatnya sadari tadi duduk.
Dan kini keduanya sudah berdiri tidak berjauhan, tidak saling menatap. Keduanya mengarahkan pandangannya jauh ke depan, ke arah langit senja yang sebentar lagi akan pulang keperaduannya. Menatap garis batas cakrawala senja, dengan saling diam.
Setelah beberapa saat keduanya saling terdiam. Menikmati saja udara senja dan kesyahduannya. Ternyata berdiri di sini, menggelung angan, menyingkap memori, menikmati senja, adalah sesuatu yang ternyata indah.
Senyumpun tampak menyungging di sudut bibir keduanya. Perasaan tenang, damai, syahdu seakan melingkupi keduanya kini.
Rania mengalihkan pandangannya pada sekelompok anak yang tertawa bahagia dalam odong-odong yang tengah berputar seiring musik dan lagu yang keluar tiap kali odong-odong itu berputar.
Rania ikut tersenyum. Seakan kebahagiaan anak-anak di sana menular.
"Betapa menyenangkannya menjadi mereka. Bermain, tertawa, bahagia. Yang ada hanya senang dan bahagia, tidak perlu capek berfikir banyak hal. Andai bisa kembali ke masa kecil itu," ujar Fakhri kembali tersenyum.
"Bener bang. Bagi mereka kesulitan saat ini hanyalah pr matematika," timpal Rania tergelak.
"Kamu dari pulang kantor?" tanya Fakhri sudah berbalik memghadap Rania.
"Iya bang. Berjalan-jalan saja, melepas penat dan menghirup udara segar?" jawab Rania lembut tidak mengalihkan pandangannya.
"Abang juga baru pulamg dari kampus. Ternyata enak juga menikmati sore menunggu senja di tempat ini," ujar Fakhri kembali sudah mwngalihkan pandangannya dari Rania.
__ADS_1
"Mau mencoba makanan di sana," tawar Fahkri pada Rania.
Menunjuk penjual mie di sore itu yang tengah sibuk membuatkan pesanan.
Rania mengangguk. Nuansa senja yang redup, aroma mie yang menggelitik perut kosongnya. Dan keramaian pelanggannya membuat Rania menyetujui ajakan bang Fakhri.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Fakhri : Kedatangan senja yang menenggelamkan matahari. Mengajarkan pada kita bahwa segala sesuatu tidak ada yang abadi.
Author : Cobalah jadi malam agar kau tahu rasanya rindu. Dan jadilah senja sesekali agar kau tahu rasanya menanti.
Rania : Author....kan harusnya aku yang bilang ke bang Fakhri
Author : Uppss Sorry😁🤭 Author nggak bisa nahan diri😁🤭🙏🏻✌
Maaf banget baru update🙏🏻✌
Coz Author juga punya kesibukan di dunia nyata🤭🤭✌
Disamping lagi ngerjain juga novel terbaru Author.
Klik profil aku aja, biar gampang buka novel Author yang lainnya🙏🏻😊
Jangan lupa Vote, Favorit & Like & Comennya yah readers tercintahhh🙏🏻🙏🏻
Biar Author jadi semangat buat up per harinya🙏🏻✌
Novel Author yg lain👆
Baca juga kisah Nayna dan Nayla dalam novel "Love Or Be Loved" yang nggak kalah serunya sama kisah Rania di novel "Mengejar Cinta Ustad✌🙏🏻
__ADS_1
Vote, Favorit & Like juga yahh reader tercintahhh✌🙏🏻
Author kasih double kiss nih😗😙😚