
"Morning mbak Sinta sayang," sapa Rania dengan ceria begitu sampai di hadapan Susan.
Sinta yang sudah sampai lebih cepat lima menit dari Rania memicingkan matanya curiga.
"Assalamualaikum," sapa Rania lagi dengan tersenyum manis.
Raniapun duduk di kursi kebesarannya di samping Susan.
"Walaikumsalam," balas Sinta menatap Rania.
"Kamu kenapa, tumben baru dateng sudah sumringan banget," selidik Sinta.
"Kenapa? Aku kan biasa menyapa mbak Sinta, nggak ada apa-apa perasaan mbak Sin aja keles," elak Rania.
"Nia, beberapa hari ini kamu mengeluh dan manyun karena sikap si bos padamu. Pagi ini kamu tampak berbeda, tidak lg suram tapi terlihat sangat bahagia," jelas Sinta masih menyekidik.
"Cerita sama mbak, ada apaan?" Sinta masih memberondong Rania.
"Nggak ada apa-apa mbak Sintaku sayang," jelas Rania kembali membujuk.
Lalu keduanyapun kembali sibuk di depan komputer masing-masing. Baik Rania maupun Sinta seperti berlomba, siapa yang lebih dulu menyelesaikan pekerjaan mereka.
Sinta tampak melemaskan otot-otot tangannya, menggoyangkan kepala ke kiri dan kanan. Lalu bernafas lega setelah menyelesaikan semua pekerjaannya.
"Mbak, jam makan siang nanti aku mau izin ketemu bang Fakhri yah," tiba-tiba Rania meminta izin pada Sinta.
"Oooo, jadi kamu sebahagia ini sedari pagi karena mau ketemu Fakhri," ejek Sinta setelah menyadari penyebab utamanya Rania bisa sebahagia ini.
"Iihh mbak Sin apaan sih. Orang mau minta tolong untuk kegiatan event bakti sosial perusahaan nanti," bantah Rania.
"Sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui. Sekalian ngomongin kerjaan, bisa ketemu pujaan hati," ledek mbak Sinta.
__ADS_1
"Apa sih mbak Sinta. Bisa banget deh kalau ngeledek," sungut Rania.
"Cieee ada yang ke gap malu tuh...," Sinta masih asyik meledek.
"Ihhh mbak Sintaaaaa.....," Rania merajuk.
"Udah jangan merajuk gitu ntar ilang cantiknya loh," bujuk Susan.
"Lebih baik kamu pikirin apa yang mau kamu bicarakan sama Fahri ntar siang, susun semua, jadi enak," saran Sinta.
"Bener juga yah mbak. Rania mengambil agendanya, dan menuliskan semua yang direncanakannya untuk brrbicara pada Fakhri nanti."
"Serius amat, pake di catet semua. Takut yah ntar pas ketemu malah nggak bisa ngomong," Sinta tertawa puas.
"Mbak Sin jahat banget deh," sungut Rania.
"Cewek itu yah gitu. Kalau ketemu orang yang dicintainya jadi keder sendiri," ledek Sinta kembali.
Rania tampak mengiyakan apa yang dikatakan Sinta.
"Mbak Sin tau banget. Pasti gitu ya sama mas Rido," Rania berusaha balas meledek Sinta.
"Itu sih dulu waktu belum jadian. Kalau sekarang udah tayang-tayangan aja," Sinta membalas Rania.
"Tuk kan tadi ngeledek, sekarang malah bikin iri," Rania bersungut.
"Emang Nia nggak bisa rileks aja gitu kalau ketemu Fakhri," Sinta berubah mode serius.
"Nggak tahu mbak. Nia kalau deket mbak Fakhri itu suka kayak ngeblang. Apapun persiapan dan kata-kata yang udah Nia susun menguap gitu aja. Nia sendiri kadang bingung," keluh Rania.
Sinta memperhatikan Rania saat berbicara. Gadis ini sepeetinya benar-benar mencintai Fakhri. Apa berarti tidak ada harapan untuk si bos, batin Sinta.
__ADS_1
"Tapi untungnya Nia masih bisa ngedaliin perasaan Nia. Untuk beberapa saat mungkin akan ngeblang gitu. Tapi kemudian saat Nia sudah menenangkan diri, dan bisa mengatasi perasaan Nia. Semua pembicaraan akan berjalan nirmal kembali," jelas Rania terkesan mengadu.
Sinta hanya menatap Rania. Berusaha mendengarkan tanpa membantah. Berusaha mendengarkan saja untuk tidak menyela. Sinta lebih memilih berbicara pada hatinya sendiri, akan pertanyaan-pertanyaan yang berhubungan dengan Rania. Rekan kerjanya yang sudah Sinta anggap seperti adiknya sendiri itu.
Tingkiyuu bangetz yg udah setia membaca novel "Mengejar Cinta Ustad"
Mohon Dukungannya
👇
Vote
Like 👍
Favorit ❤
Coment 💬
Baca juga Novel Author Lainnya
☆ Love Or Be Loved
☆ Cinta 90
Mohon juga Dukungan
👇
Vote
Like 👍
__ADS_1
Favorit ❤
Coment 💬