
"Assalamualaikum," salam Fakhri masuk dalam whatsapp di ponsel Andi.
"Walaikumsalam bang," Andi segera menjawab pesan dari bang Fakhri.
"Lagi dimana Ndi?" tanya bang Fakhri lagi di pesannya.
Sepagi ini si abang ustad udah Whatsapp, Andi jadi heran. Dengan cepat dibalasnya pesan whatapp tersebut, karena takutnya nanti ada keperluan penting sehubungan dengan kepentingan umat.
"Masih di rumah bang," balas Andi kembali.
"Bisa ke resto abang siangan Ndi," pinta Fakhri.
"Asiiapp, bisa bang," sahut Andi.
"Siangan baqda dhuzur aja ya Ndi. Kebetulan pagi ini abang mesti ke kampus bentar," jelas Fakhri kembali.
"Baik bang, baqda dzuhur, Andi udah di resto," jawab Andi.
"Ya udah kl gitu. Assalamualikum," Fakhri menutup pesan whatsappnya dengan salam.
"Waalaikumsalam." balas Andi
Siang itu, Fakhri sudah berada di resto miliknya. Setelah menyelesaikan sholat Dzuhur di mushola resto, Fakhri kembali ke ruangannya.
"Ton, kalau bang Andi dateng, suruh langsung ke ruangan abang yah," Fakhri memberi perintah karyawannya sebelum menuju ke ruangannya.
"Baik bang," jawab Toni pada permintaan Fakhri, bosnya itu.
Tidak berapa lama terdengar ketukan dari luar pintu ruangan bang Fakhri.
"Masuk.....," sahut Fakhri dari dalam.
Terdengar knop pintu di buka, dan muncullah Andi.
"Duduk Ndi....," tawar bang Fakhri.
Andipun telah mengambil tempat duduk di sofa yang ada di ruangan bang Fakhri, posisi yang persis berhadapan dengan bang Fakhri.
"Abang ada keperluan apa dengan saya bang?" tanya Andi to do point pada bang Fakhri begitu sudah duduk berhadapan.
Karena Andi sangat penasaran. Tidak biasanya bang Fakhri mengajaknya bertemu di resto kepunyaannya itu.
Sebagai ketua pengurus masjid, bang Fakhri mamang lebih dekat dengan Andi ketimbang yang lain.
Bang Fakhri menatap Andi, netra keduanya bertemu. Menghela nafas berat, kemudian menghembuskannya dengan kasar.
__ADS_1
"Abang sebenarnya malu hendak bicara pada kamu Ndi," bang Fakhri memulai bicaranya.
"Abang kayak sama siapa saja," balas Andi tersenyum.
"Justru kedekatan kitalah yang membuat abang bertambah malu," bang Fakhri tersenyum miris.
Andi kembali tersenyum, sebelum kemudian serius menatap lelat bang Fakhri.
"Ada apa bang? Abang mau membicarakan apa?" tanya Andi dengan mode serius.
"Tentang Rania Ndi....," akhirnya bang Fahkri berucap setelah beberapa saat terdiam seperti sedang berfikir.
Andi mengeryitkan dahinya. Menatap bingung wajah bang Fakhri.
"Rania??" Andi menyebut nama Rania bingung dengan tanda tanya.
"Apa benar seperti yang pernah kamu katakan pada abang bahwa Rania sesungguhnya menyukai abang," jawab bang Fakhri ambigu.
"Abang hanya ingin memastikan semuanya, agar langkah yang akan abang ambil tidak salah," ujar bang Fakhri kembali menjelaskan pada Andi yang terlihat masih diam belum mengerti.
"Abang ingin memastikan perasaan Rania atau perasaan abang sendiri?" tanya Andi beberapa saat kemudian.
Setelah berfikir sejenak. Andi memahami pertanyaan yang diajukan bang Fakhri. Juga permintaannya untuk bertemu di resto kepunyaan bang Fakhri hari ini.
Bang Fakhri menatap Andi kembali.
"Sekaligus abang juga ingin memastikan kembali perasaan abang sendiri," jawab bang Fakhri kembali.
"Memastikan perasaan abang?" tanya Andi heran.
Sejauh ini Andi tidak pernah menangkap, melihat pun mengetahui jika bang Fakhri juga menaruh perasaan yang sama pada Rania. Andi tidak pernah melihat itu .
Bahkan ketika dua kali terlibat kerja sama dengan perusahaan di mana Rania bekerja, ketika mengadakan acara amal kantor tempat Rania bekerja, Bang Fakhri dan Rania sama sekali tidak terlihat menunjukkan kedekatan di antara keduanya, gumam Andi berfikir.
Bang Fakhri tetaplah bang Fakhri yang cool, sholeh dan berwibawa. Dan Rania, meskipun sangat menyukai bang Fakhri sejak dari dulu. Tapi tetap tidak merubah sosoknya yang pendiam, ramah, lembut dan baik. Gadis itu tidak akan mungkin berterus terang tentang perasaannya pada bang Fakhri.
Andi sangat mengenal Rania. Tepatnya lagi mengenal Rania dan Rara. Dua R tersebut adalah sahabatnya saat mengaji sejak dari kecil dulu. Jika Rara adalah gadis yang agresif, berani dan sangat percaya diri. Maka Rania adalah kebalikannya. Rania yang pendiam, lembut, santun dan ramah.
Andi paling tahu bagaimana perasaan keduanya pada bang Fakhri. Rara bahkan terus mengikuti bang Fakhri demi selalu bisa dekat dengan laki-laki pujaannya itu. Tidak terhitung lagi sudah berapa sering ungkapan cinta yang dikatakan Rara pada bang Fakhri. Gadis itu benar-benar tidak tahu malu, senyum Andi sarkis.
Tapi anehnya, Andi menyukainya. Yah, walaupun Rara dan orang lain tidak ada yang mengetahuinya, bahwa Andi menyukai Rara. Entah apa yang membuat Andi mempunyai perasaan itu. Andi sendiri tidak tahu alasannya dengan pasti.
Dan Rania. Gadis pendiam itu hanya bisa mencintai dalam diam. Menatap dengan damba dari kejauhan. Menyunggingkan senyum dan binar indah penuh cinta bila tampa sengaja pandangannya menangkap sosok bang Fakhri. Cinta pertamanya. Cinta pandangan pertama yang hanya hatinya sendirilah yang merasakannya.
"Rania mencintai abang. Bahkan mungkin abang sendiri tidak akan menduganya, betapa abang adalah cinta pertama baginya," ujar Andi menatap Fakhri serius.
__ADS_1
"Kamu yakin dengan ucapanmu itu Ndi?" bang Fakhri meragukan pernyataan Andi.
"Saya bersama keduanya sejak kecil bang. Rania dan Rara adalah sahabat saya. Rania, gadis pemalu itu. Gadis itu mencintai abang dalam diam. Jika yang lain akan terus terang mengungkapkan perasaan cintanya pada abang seperti halnya Rara. Maka Rania akan memilih memendamnya saja. Menatap cintanya dari kejauhan. Bersikap biasa saja, walau sejujurnya hatinya seakan hendak meledak jika berdekatan dengan abang."
"Jangan tanyakan kenapa saya bisa seolah semengerti ini bang, tentu saja karena persahabatan kami bertiga selama ini. Dan sayapun sudah pernah mengatakan agar Rania sekali saja mengungkapkan perasaanya. Menunjukkan rasa cintanya itu pada abang," ujar Andi kembali.
Bang Fakhri menatap lekat Andi. Mendengarkan dengan serius semua yang dikatakan Andi padanya.Tak terlewat sedikitpun penjelasan Andi padanya.
"Abang tahu apa yang Rania katakan pada saya?" tanya Andi yang diikuti gelengan kepala oleh bang Fakhri.
"Andai aku punya sedikit saja keberanian, mungkin sudah lama ku ungkapkan perasaanku pada bang Fakhri. Andai aku bisa seperti gadis-gadis lain yang bisa dengan lugas dan bebes mengatakan betapa aku sungguh mencintainya, sejak dulu. Tapi aku tidak punya semua itu, aku tidak punya keberanian itu," ujar Rania tertunduk malu kala itu pada Andi.
"Kalau sekali saja kau tidak pernah mengungkapkan pada bang Fakhri. Kalau sekalipun saja kau tidak bicara jujur tentang cintamu itu, bagaimana bang Fakhri bìsa tahu perasaanmu Nia?" tanya Andi kembali saat itu.
"Mendoakannya adalah caraku memintanya pada Allah. Walau mungkin aku bukanlah gadis yang ada dalam doa-doanya, tapi dia yang selalu ada dalam tiap doa di ujung sajadahku," jawaban Rania kala itu pada pertanyaan Andi.
Bang Fakhri makin terdiam. Bukan tidak hendak menimpali omongan Andi. Tapi penjelasan Andi mengenai Rania, benar-benar telah masuk ke sudut hatinya. Gadis itu, gadis yang selama ini dicarinya. Gadis yang mempunyai semua yang ada dalam angannya. Gadis itu, sikapnya benar-benar telah menggetarkan hati Fakhri kini.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Haii readers tercintaku😗😙😚😘
Maaf karena kesibukan Author di dunia nyata, Author baru bisa up🙏🏻✌
Mohon tetap setia pada Rania & Fakhri ya readers🙏🏻
Sebagai ucapan terimaksh, Author akan up 2 episode kali ini✌
Satu episode lagi akan Author up sorean/malam ya cintahhh🙏🏻✌😚
Ayo dong kalau suka ceritanya👌👍🏻
Jangan pelit untuk kasih Vote, Favorit, Like & Comentnya untuk Author🙏🏻
Karena itu akan sangat berpengaruh pada Level novelnya Author.....pleaseee🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Love
__ADS_1
Author Kesayanganmu 😗😙😚
WCU