
"Pak direktur......," sapa Rania dengan wajah terkejutnya.
Ada mbak Sinta juga di sebelahnya. Rania mengerutkan alisnya bingung.
"Apa ada laporan yang Anda perlukan dari saya bapak direktur," tanya Rania setelah berdiri dan membungkuk hormat.
"Ada yang ingin aku bicarakan berdua denganmu. Biar setelah ini langsung saja pergi bersama supir. Tidak perlu kembali ke kantor, biar Sinta yang menghadle semua pekerjaanmu hari ini," perintah Reymond tegas
"Ba...baik pak direktur," jawab Rania gugup.
Rania menatap mbak Sinta dengan sorot mata yang meminta penjelasan. Tapi yang didapatinya justru Sinta mengangkat kedua bahunya tanda tidak mengerti.
Hayolah calon ibu direktur, biarkan saja calonmu itu menunjukkan perhatiannya, gumam Sinta dalam hati.
Karena Sinta memang sama sekali belum mengetahui tujuan dari atasannya tersebut.
"Baiklah kalau begitu saya kembali ke kantor pak direktur," pamit Sinta pada Reymond.
"Yah, biar supir kantor yang mengantarkan kamu Sinta," perintah Reymond.
Sinta ingin membuka mulutnya dan bertanya tapi kemudian Reymond kembali bicara.
"Biar Rania langsung pergi naik mobil bersama denganku," ujar Reymond kembali seolah faham akan hal yang akan di tanyakan Sinta.
Sementara di sudut lain cafe itu, ada sepasang anak manusia yang menatap Reymond dan Rania dengan tatapan berbeda.
Kalau Rara tampak tersenyum senang melihat kebersamaan temannya itu bersama sang bos. Karena fikir Rara, Rania tidak akan lagi menjadi penghalangnya untuk mendekati bang Fakhri. Rania tidak akan memjadi saingannya lagi untuk mendapatkan cinta sang ustad.
Sementara seseorang tampak menatap sendu ke arah Rania. Entah kenapa perasaannya seperti tidak rela. Tapi bukan ustad Fakhri namanya jika harus menampakkan isi hatinya yang sesunghuhnya. Karena Fakhri adalah laki-laki yang sangat menjaga pandangannya. Fakhri segera mengalihkan pandangannya untuk hal yang memang bukan seharusnya dipandang. Dan begitulah pula Fakhri menampakkan mimik wajahnya yang terlihat biasa tanpa ekspresi tersebut.
"Nia, saya ingin berbicara empat mata saja dengan kamu," ujar Reymond lurus menatap wajah Rania.
"Baik pak," jawab Rania patuh.
"Tapi kita tidak bisa bicara di sini. Aku butuh tempat yang lebih privacy," ujar Reymond kembali pada Rania.
Privacy. Apa yang sebenarnya ingin pak direktur bicarakan dengan dirinya, Rania membatin.
Sesaat kemudian Rania mengikuti saja langkah direkturnya itu menuju mobilnya. Meskipun diliputi banyak pertanyaan yang kini menggelayuti benaknya.
Dan kepergian keduanya sampai menuju tempat parkir hingga menghilang dan masuk ke dalam mobil yang sama tidak lepas dari pandangan dua orang anak adam dan hawa yang masih tertahan di cafe itu.
__ADS_1
"Bang, itu yah bos Rania yang sudah melamar Rania?" tanya Rara mencoba memancing.
"Iya," jawab Fakhri menganggukkan kepalanya.
"Perfekto👍🏻Udah tampan, baik, kaya, keren dan kayaknya cinta banget lagi," Rara melebih-lebihkan pujiannya pada bos Rania.
Fakhri cuma tersenyum menanggapi ucapan Rara. Fakhri tahu Rara mencoba memprovokasinya.
Mengingat pembicaraannya tempo hari dengan Andi. Rara kembali menjadi sangat kesal.
Flash Back On_Rara
"Kenapa kau itu tidak menyerah saja Ra." ujar Andi ketus.
"Aku sudah berjuang sejauh ini, lalu kenapa aku harus menyerah begitu saja," jawab Rara tidak kalah ketusnya.
"Berjuang itu kalau memang orang yang kita perjuangkan mau dan bersedia berjuang bersama. Kalau kamu itu bukan berjuang tapi memaksa," sindir Andi kemudian.
"Tidak masalah selama yang kuperjuangkan masih sendiri. Bukankah itu tidak salah," Rara tetap saja ngotot.
"Ahhh....sudahlah, aku bukan mau berdebat denganmu," ujar Rara cepat memotong ketika Andi kembali akan membatah omogannya.
"Mana aku tahu. Itu urusan bang Fakhri dan hatinya sendiri. Aku tidak berhak ikut campur," jawab Andi.
"Isss kau ini. Kau bukan harus ikut campur. Kau hanya perlu mengatakan kepada, adalah seseorang di hati bang Fakhri. Dan aku yakin kau pasti tahu," Rara menjawab kembali.
"Ya sudah ganti topik aja. Apa bang Fakhri menyukai Rania?" tanya Rara kembali.
"Jangankan bang Fakhri, aku saja menyukai Rania. Dia itu bukan hanya wajahnya yang cantik, kepribadiannyapun sama cantiknya," jawab Andi yakin.
"Yah....yah....memang sejak dulu kau selalu saja membela Rania dibandingkan aku," sungut Rara.
"Aku tidak menanyakan perasaanmu. Aku menanyakan perasaan bang Fakhri," geram Rara.
"Baiklah aku akan mengatakan sejujurnya padamu, agar kau bisa sadar diri," ucap Andi kembali dengan tajam.
Rara melototkan matanya pada Adi. Bibirnya sudah dirapatkannya dengan kesal.
"Dari yang kulihat sebenarnya bang Fakhri itu menyukai Rania. Cuma mungkin bang Fakhri belum menyadari perasaannya sendiri," ujar Andi menjelaskan.
"Cihh kau ini yakin sekali kalau bang Fakhri menyukai Rania. Darimana pula kamu bisa mengambil kesimpulan seperti itu," balas Rara tidak terima dengan penjelasan Andi.
__ADS_1
"Kau ini yah, benar-benar. Kau tadi yang bertanya, kujawab kau malah marah. Nanti tidak ku jawab kau marah juga. Kau ini benar-benar tidak jelas," maki Andi kesal.
"Ah sudahlah aku mau pergi saja. Bicara padamu malah membuatku semakin emosi. Dari dulu kau itu memang tidak pernah menyukaiku, kau selalu saja membela Rania,"
Andi melihat punggung Rara yang berjalan menjauh.
Ahhh, kau tidak tahu saja perasaanku sebenarnya Ra. Andai hatimu tidak hanya melihat bang Fakhri saja, tatap Andi nanar.
Flash Back Off_Rara
"Apakah mereka benar-benar akan berjodoh bang," Rara masih saja bertanya.
"Jodoh itu di tangan Allah. Kita tidak akan pernah tahu siapa dan bagaimana jodoh kita itu. Allah pasti sudah menyiapkan jodoh terbaik untuk kita, kita hanya perlu untuk terus memperbaiki diri menjadi lebih baik," jawab Fakhri kembali.
Rania terdiam. Niatnya membuat Fakhri jadi tidak menyukai Rania, malah membuatnya harus mendapatkan qultum siang dari bang Fakhri.
"Kalau tidak ada lagi yang ingin dibicarakan, abang permisi dulu," ujar Fakhri sudah berdiri.
"Maaf abang tidak bisa mengantarkanmu, karena dari sini abang langsung ke masjid ada kegiatan remaja masjid," jelas Fakhri kembali yang membuat Rara mengurungkan niatnya untuk bicara.
Sebenarnya Rara sedari tadi sudah merencanakan untuk ikut mobil Fakhri kembali, dan berniat berpura-pura ada keperluan ingin bertemu dengan bundanya bang Fakhri. Dan nyatanya rencana Rara hanyalah tinggal sebuah rencana saja.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Andai Rara tahu bahwa Authorlah yang sudah menggagalkan rencananya😁🤭😜
Author pamit duku ya readers🙏🏻 Takut ketahuan sama Rara😁🤭✌
Jangan lupa Vote, Favorit & Likenya yah readers tercintahhh🙏🏻🙏🏻
Biar Author jadi semangat buat up per harinya🙏🏻✌
Novel Author yg lain👆
Baca juga kisah Nayna yang nggak kalah serunya sama kisah Rania✌
Vote, Favorit & Like juga yahh reader tercintahhh✌
Author kasih double kiss nih😗😙😚
__ADS_1