Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Kesadaran Rara


__ADS_3



Sebelumnya Author mohon untuk Klìk Vote & Favorit dong readers tercintahh🙏🏻🙏🏻


Coz akan sangat berpengaruh sama Level Novel Author🙏🏻✌🏻


Kalau readers banyk yang klik Vote & Favorit.


Author jadi semangat untuk up date rutin & akan di usahakan untuk crazy up🙏🏻🙏🏻✌🏻


☆☆☆☆☆☆☆☆☆


"Duduk Ra?" Andi menawarkan tempat duduk begitu gadis itu mendekat.


Hari ini, Rara sengaja mengajak Andi bertemu. Rasanya sudah tidak sabar lagi Rara hendak mengungkapkan semua kekesalannya pada Andi.


Sementara Andi menghela nafas berat dan bergumam dalam tadi.


Kufikir suasana sudah tentram dan damai, gadis ini tidak akan berulah dan melupakan perasaan cinta yang tak berbalasnya itu.


Rara menarik kursi, lalu duduk dengan wajah yang cemberut. Sementara Andi cuma bisa mendesah, dan mulai berfikir bahwa pasti akan ada kerusuhan yangee dibuat gadis di depannya ini.


"Kenapa kamu lebih suka kalau bang Fakhri itu bersama Rania ketimbang bersamaku? Kamu itu temenku juga, bukan hanya temen Rania. Kamu juga tahu kalau aku itu sangat mencintai bang Fakhri kan," Rara sudah mencecar pertanyaan begitu mereka berdua sudah duduk berhadapan.


Andi menghela nafas berat. Memikirkan bagaimana cara menghadapi Rara. Andi sudah sangat mengenal gadis di hadapannya ini. Juga segala pola dan tingkah lakunya, yang selalu saja membuat Andi menggelengkan kepalanya dan tidak habis mengerti.


"Kenapa hanya menatapku saja. Apa lidahmu kelu hìngga tidak bisa menjawab pertanyaanku," teriak Rara kembali.


"Kecilkan suaramu Ra. Tidak usah berteriak begitu. Apa kamu tidak malu dilihat orang-orang," ucap Andi memberi tekanan pada ucapannya.


Rara terdiam. Melihat sekilas sekeliling.


Kemudian kembali memberi tatapan tajam pada Andi.


"Tingkahmu itu tidak mencerminkan jika kau itu seorang dosen. Aku jadi meragukan kampus itu yang telah mengangkatmu menjadi seorang dosen," cibir Andi pada Rara.

__ADS_1


"Tentu saja sikapku di kampus berbeda. Aku bisa memposisikan diri sebagai seorang pengajar," balas Rara kesal.


"Aku bukan membantu Rania untuk dekat dengan Fakhri. Bukankah kau tahu sendiri bagaimana Rania selama ini. Dia tidak pernah sekalipun mengatakan langsung perasaannya. Apalagi menunjukkannya di hadapan bang Fakhri," jawab Andi kembali mencibir.


"Harusnya kau berkaca pada dirimu sendiri Ra. Sudah berbagai usaha yang kau lakukan untuk mendekati bang Fakhri. Sudah berapa ratus kali kau mengungkapkan perasaanmu itu. Apa yang kau dapatkan? Apa perasaan cintamu itu berbalas?" tanya Andi pada Rara.


Rara terdiam. Perkataan Andi barusan membuatnya terdiam. Yah....Andi benar. Laki-laki yang merupakan sahabat Rara dan Rania ini sangat mengetahui semuànya.


Aku sudah melakukan banyak hal untuk mendekati bang Fakhri. Aku bahkan sampai berusaha sangat keras, agar bisa menjadi dosen di kampus yang sama dengan bang Fakhri mengajar, demi bisa terus dekat dengannya. Bahkan sudah tidak terhitung lagi aku mengucapkan perasaan cintaku padanya, gumam Rara dalam hatinya.


"Seharusnya bang Fakhri menyadari betapa besar rasa cinta yang kupunya untuknya. Seharusnya dia bisa melihat betapa besar usaha yang aku lakukan àgar bang Fakhri menyadari kehadiranku," ujar Rara kembali dengan pelan dan wajah sedih.


Andi jadi kasihan menatapnya. Andi adalah satu-satunya sahabat yang mengetahui dengan pasti perjuangan Rania mengejar cinta bang Fakhri dengan berbagai cara dan usaha. Semua itu dilakukan Rara tentu saja atas nama cinta.


"Tapi setidaknya sebagai wanita kau itu bisa peka. Jika usahamu selama ini mengejar bang Fakhri itu sia-sia saja. Jangankan membalas perasaan cintamu, melirikmu saja tidak," jawab Andi ketus.


"Tapi jika aku menyerah, bukankah berarti perasaan cintaku tidak sebesar yang kukatakan pada bang Fakhri," Rara kembali membela diri.


"Hei....seharusnya yang mengejar-ngejar itu kami kaum lekaki, ini malah terbalik," jawab Andi dengan kesal.


"Kalau bang Fakhri menyukaiku, aku juga tidak mungkin mengejar-ngejarnya," Rara tetap saja menjawab.


Degg. Rara terdiam. Perkataan Andi barusan benar-benar menusuk hatinya. Jadi inilah tanggapan mereka selama ini. Aku adalah wanita yang tidak punya harga diri, bisik hati Rara sedih.


Tuhan. Bukankah cinta tidak pernah salah. Bukankah kita tidak akan tahu pada siapa kita akhirnya jatuh cinta, keluh Rara kembali di dalam hati dengan sedih.


Andi yang melihat perubahan pada wajah Rara menjadi tidak enak hati. Sedari awal tadi, Andi memang terlalu ketus pada gadis itu. Tapi jika tidak mengungkapkan semua kebenarannya, Rara tidak akan menyadari kesalahannya selama ini. Gadis itu harus berubah, agar menyadari kualitas dirinya sendiri.


"Apa kau juga menganggapku seperti itu Ndi?" tanya Rara tiba-tiba pada Andi.


Ditatapnya Rara lekat. Andai kau bisa menjaga diri dan tidak terlalu agresif, kau itu juga manis Ra. Andai selama ini kau bisa melihat bahwa ada seseorang yang tulus mencintaimu. Tapi hatimu sudah terlanjur tertutup, dan hanya melihat bang Fakhri seorang, gumam Andi dalam hati.


"Aku tidak berhak menilai apapun. Apa yang kau katakan adalah kebenaran yang selama ini menutup matamu Ra. Bahkan mungkin juga sudah menutupi hatimu," jawab Andi atas pertanyaan Rara.


Rara juga menatap Andi. Berusaha memahami semua yang di bicarakan sahabatnya itu. Entahlah, kenapa kali ini Rara tidak menjadi seperti biasanya. Seorang gadis cantik yang pemarah, agresif, dan suka menang sendiri.


Biasanya Rara akan langsung marah, berteriak dan tidak terima. Entahlah, kali ini hati Rara rasanya telah lelah. Mungkin kesabarannya berjuang untuk mendapatkan cinta bang Fakhri telah tiba di ujung batas kesabarannya selama ini. Usaha dan berbagai cara yang dilakukan Rara agar bisa dekat dengan bang Fakhri tidak pernah membuahkan hasil.

__ADS_1


Bahkan bang Fakhri nyatanya lebih menyukai Rania. Padahal tidak sekalipun Rania menunjukkan perasaannya pada bang Fakhri. Dan Rara sangat mengetahuinya, jika perasaan cinta Rania pada bang Fakhri itu sama halnya dengan perasaan yang Rara rasakan. Sejak dulu, mereka berdua sudah menyukai bang Fakhri. Rasa suka yang berkembang menjadi sebuah cinta yang mendalam di hati keduanya.


Bahkan karena mencintai lakì-laki yang sama itulah, Rara jadi memusuhi Rania. Menukar persahabatan mereka sejak lama menjadi sebuah permusuhan dalam persaingan. Mengganti rasa sayang itu dengan sikap sinis.


"Betapa buruknya sikapku yah Ndi. Karena cinta buta itu aku bahkan menukar seorang sahabat dengan rasa benci. Aku bahkan tidak pernah lagi bisa tertawa bahagia seperti kala kita bersahabat dekat dulu. Aku selalu bersiķap sinis, bahkan sampai Rania," keluh Rara menunduk malu.


Sementara Andi terkesiap. Tidak menyangka pertemuannya dengan Rara kali ini menjadi di luar ekspektasinya. Andi menatap kembali gadis di hadapannya ini, berusaha mencari kebenaran dari perkataannya barusan yang membuat Andi sanksi.


"Apa benar ini Rara?" tanya Andi tanpa sadar.


Rara cemberut. Menatap kesal pada Andi. Bahkan Andipun tidak percaya jika hatiku bisa saja berubah. Bahkan dia tidak mempercayai semua perkataanku, hanya karena sikap burukku selama ini, batin Rara masih memoyongkan bibirnya.


"Mungkin hatiku sudah lelah Ndi. Mungkin sampai sinilah batas kesabaran dari sebuah cinta yang aku sangat inginkan itu," ujar Rara kembali hampir tidak terdengar.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Andai Ŕara bisa melihat, bahwa ada laki-laki lain yang tulus mèncintainya. Laki-laki yang tidak dilihatnya, karena mata dan hatinya hanya tertuju pada bang Fakhri saja.


Haii readers tercintahku😗😙😚


Mohon tetap setia pada Rania & Fakhri ya readers🙏🏻


Ayo dong kalau suka ceritanya👌👍🏻


Jangan pelit untuk kasih Vote, Favorit, Like & Comentnya untuk Author🙏🏻


Karena itu akan sangat berpengaruh pada Level novelnya Author.....pleaseee🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻


Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻




Love

__ADS_1


Author Kesayanganmu 😗😙😚


WCU


__ADS_2