Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Ungkapan Cinta Si Bos Tampan


__ADS_3

"Udah ah, Nia mau laporan dulu ke si bos," Rania meninggalkan mbak Susan menuju ruangan bosnya.


Rania membuka knok pintu begitu didengarnya sahutan dari dalam ketika dia mengetuk pintu.


"Permisi pak Direktur.....," sapa Rania begitu sudah berdiri di hadapan meja bosnya.


"Masuk Rania, silahkan duduk," sahut si bos kemudian.


"Begini pak. Ini laporan dan tanda terima sementara dari masjid yang kita percayakan mengurus bantuan dan donasi yang diberikan perusahaan kemarin," Rania menyerahkan map di meja bosnya.


Bapak direktur membuka dan membaca semua file di amplop yang diserahkan Rania.


"Laporan lengkap nanti di serahkan pihak masjid, sebelumnya akan meminta tanda tangan dari perusahaan, pak direktur selaku pimpinan dan penanggung jawab kegiatan, juga perwakilan dari remaja masjid sebagai penyalur donasi dan bantuan," jelas Rania lengkap.


"Baik, kamu atur aja semua. Saya percayakan semua kepada kamu," jawab si bos enteng.


"Baik pak. Insha allah saya melaksanakan tugas ini sebaik-baikya dan amanah," balas Rania mantap.


"Oh iya pak. Saya juga meminta izin saat donasi dan bantuan diserahkan, pihak masjid meminta perwakilan kita agar bantuan dan donasi insha allah berjalan dengan amanah. Sekalian mereka juga akan mengambil foto-foto saat penyaluran bantuan dan donasi tersebut sebagai file masjid juga untuk file kita pak," pinta Rania.

__ADS_1


"Kamu atur aja sama Susan, biar dia bisa menghandel semua pekerjaan kamu selama berapa hari kamu mengurusì kegiatan bantuan dan donasi," jelas bos Rania.


"Baik pak. Jika tidak ada lagi yang dibicarakan, saya permisi," Rania berdiri dan melangkah keluar menuju pintu.


"Nia tunggu....," panggil si Bos.


Rania berhenti. Panggilan Nia yang di ucapkan si bos membuatnya bertanya-tanya. Karena selama ini selain keluarganya, mbak Susan, hanya teman-teman dekatnya sajalah yang memanggilnya dengan panggilan Nia saja.


"Iya pak....apa masih ada yang mau dibicarakan," Rania berbalik menatap bosnya.


"Nia, maaf kalau yang ingin saya katakan ini tidak ada hubungannya dengan urusan pekerjaan," ujar direktur lembut.



Jika dilihat sedekat ini, Rania jadi tidak bisa bernafas. Ketampanan paripurna milik bosnya ini asli tanpa rekayasa. Wajah tampan yg di tunjang hidung mancung yang diapit alis tebalnya itu, bibir penuh sexynya. Ditambah bulu2 halus di jambang dan kumis tipisnya membuat si bos makin terlihat macho aja. Belum lagi tatapannya yang teduh itu, seakan bisa menengelamkanku di dalamnya, bisik hati Rania menahan nafas.


Aduh Rania, apa yang kamu fikirkan....


haaiisss....," tiba-tiba Rania tersadar dan mengusir semua imajinasi nakal yang menhiasi kepalanya barusan

__ADS_1


"Maksud bapak ba...bagaimana," tanya Rania terbata.


Reymond, bos Rania menatap lekat dan tajam bawahannya itu. Rania menunduk. Dia tidak sanggup menatap lama-lama mata teduh itu, bukan karena mata teduh milik bosnya itu bisa menenangkannya, merasakan tenggelam dalam tatapan teduhnya.Tapi tatapan teduh itu mengingatkannya pada seseorang yang memiliki tatapan yang sama, seseorang yang begitu dipuja Rania sejak dulu. Kenapa mereka punya kesamaan itu, batin Rania.


"Aku bukanlah jenis laki-laki yang bertele-tele. Aku juga bukan jenis orang yang bisa dengan sabar menyimpan perasaan," ujar Reymond lagi.


Rania terdiam, mendengarkan saja dengan jantung yang seperti berkejaran, begitu gugup.


"Aku menyukaimu sejak pertama kau datang ke kantor ini. Aku menyukaimu bukan sebagai seorang bos dan bawahan. Tapi rasa suka sebagai seorang pria dan wanita. Aku sudah berusaha menghindari perasaan ini. Tapi sekarang aku yakin, ini bukan sesekar rasa suka saja. Aku rasa, aku mencintaimu Nia" ucapnya lagi tegas tapi begitu lembut.


Rania makin bertambah gugup saja. Rasanya jantungnya itu sudah hendak melompat keluar. Ini kali pertamanya dia ditembak laki-laki. Kali pertamanya ada yang mengucapkan cinta padanya. Dan laki-laki itu bosnya, laki-laki yang sesempurna ini.


"Aku tidak memintamu untuk langsung menjawabnya sekarang. Aku tahu, ini sangat tiba-tiba, aku memberimu waktu, Nia," ucapnya lagi ketika melihat Rania tampak bengong dan gugup.


"Tapi aku tidak pernah bermain-main dengan kata-kata yang ku ucapkan. Aku juga tidak pernah bermain-main dengan perasaan," Reymond memegang dagu Rania agar gadis itu berhenti menunduk dan menatapnya.


"Kau bisa kembali ke mejamu," perintah Reymond akhirnya sambil mengusap lembut rambut Rania.


Rania mengangguk. Lalu berjalan meninggalkan ruangan bosnya masih dengan wajah terkejut dan tidak percaya.

__ADS_1


__ADS_2