
Rania selesai membereskan bekas makan malam di atas meja makan, mencuci piring-piring kotor dan merapikan dapur. Sholat isyapun sudah keduanya jalankan lebih dahulu setelah makan malam.
Bang Fakhri memeriksa keadaan sekeliling rumah, juga mengunci pintu rumahq dan pagar depan. Setelah memastikan semua dalam keadaan aman, kemudian bang Fakhri mematikan lampu-lampu yang tidak diperlukan.
"Dek, ayo istirahat.....," ajak bang Fakhri pada Rania begitu dilihatnya istrinya itu sudah selesai dan bersantai.
"I...iya bang," jawab Rania sedikit gugup.
Lalu berjalan mengikuti bang Fakhri menuju lantai dua kamar mereka berada.
Tiba-tiba bang Fakhri merangkul Rania, memeluk erat pinggang ramping itu. Pelukan yang membuat Rania terhenyak seketika.
Yah. Walaupun mereka telah menikah. Telah sah menjadi pasangan suami dan istri. Tetap saja Rania masih merasa malu. Belum terbiasa dengan sentuhan dan kedekatan yang tanpa berjarak tersebut.
Walaupun bang Fakhri terlihat santai saja menunjukkan semua perhatian dan sentuhan nyata yang memang sudah seharusnya tercipta. Sebenarnya bang ustad juga meeasakan hal yang sama yang dirasakan oleh Rania.
Tetapi sebagai pria dewasa, bang Fakhri memang harus lebih berinisiatif dan lebih luwes ketimbang istri remajanya itu. Apalagi mengingat sifat asli Rania yang memang pendiam dan sangat pemalu.
Bang Fakhri tersenyum. Melirik istri pemalunya yang terlihat kaku dan tegang. Walaupun sejujurnya bang Fakhripun baru pertama kalinya begitu dekat dan intim dengan seorang wanita. Tapi nalurinya sebagai seorang laki-laki membawanya untuk lebih bisa tenang dalam bersikap. Apalagi wanita yang intim dan dekat ini adalah istri sahnya. Dan apapun yang mereka lakukan telah halal dan boleh dilakukan.
Satu tangan bang Fakhri membuka pintu kamar mereka. Sementara satu tangannya lagi tetap merangkul manis pinggang langsing milik Rania.
Setelah masuk ke dalam kamar, lalu keduanyapun duduk di sudut tempat tidur king size yang sudah tertata rapi dan bersih. Bang Fakhripun sudah melepaskan rangkulannya pada pinggang Rania.
Kini keduanya duduk saling berhadapan. Bang Fakhri menatap lekat Rania yang tampak tertunduk malu, membuat bang Fakhri semakin gemas saja melihatnya.
"Dek.....," panggil bang Fakhri menaikkan sedikit dagu Rania lembut.
Pandangan keduanyapun kini bertemu.
"Adek masih malu....," tanya bang Fakhri kembali yang diangguki kepala saja oleh Rania.
Gadis itu hanya bisa terdiam kaku, tidak mengerti mesti bersikap bagaimana. Ini pertama kalinya setelah pernikahan, mereka sedekat ini di rumah mereka sendiri.
Ketika di rumah orang tua bang Fakhri, baik Rania maupun bang Fakhri langsung tertidur karena rasa capek setelah serangkaian acara persiapan hingga pernikahan mereka berdua saat itu.
"Apa abang boleh meminta hak abang malam ini?" tanya lembut bang Fakhri kembali pada Rania.
Rania menatap bang Fakhri seketika. Perkataan bang Fakhri barusan mengenai haknya sebagai seorang suami membuat Rania kembali menegang.
Rania bukannya tidak tahu ataupun tidak mau. Rania tahu, sudah kewajibannya sebagai seorang istri untuk melayani suaminya, bukan hanya segala keperluannya dari makanan, pakaian dan lain sebagainya, tapi juga pelayanan kebutuhan biologis sang suami.
__ADS_1
Hanya saja Rania masih merasa malu, takut dan juga tidak mengerti apa yang mesti dilakukkanya sebagai seorang istri, agar bisa memenuhi semua tugasnya.
"Nia....Nia gugup bang. I...i...ini pertama kali bagi Nia, bang.....," jawab Rania terbata.
Bang Fakhri tersenyum sambil membelai lembut pipi Rania.
"Apa kau kira ini juga bukan pengalaman pertama bagi abang," jawab bang Fakhri tersenyum.
Rania tersadar. Bang Fakhripun sama dengan dirinya. Bukankah selama ini bang Fakhri memang tidak pernah mau berpacaran. Karena baginya memang tidak ada istilah berpacaran dalam islam. Mereka berdua akan sama-sama memulai hubungan suami istri ini sebagai pengalaman pertama keduanya.
"Jadi bolehkah malam ini abang meminta hak abang?' bang Fakhri kembali mengulang pertanyaannya pada Rania.
Bang Fakhri memang ingin menanyakan kesediaan Rania terlebih dahulu. Jikapun seandainya Rania masih merasa belum siap, bang Fakhri bisa memaklumi. Bang Fakhri akan menunda meminta haknya sekarang, hingga Rania sudah benar-benar siap melaksanakan kewajibannya.
Bang Fakhri tidak akan egois untuk memaksa dan menggunakan otoriternya sebagai sebagai suami. Bagaimanapun baginya saat ini, kenyaman istrinya adalah menjadi tanggung jawabnya sekarang.
"Iy....iya bang," jawab Rania tertunduk.
Sedari tadi Rania sudah berusaha mengendalikan rasa gugupnya. Mengendalikan kecemasannya yang tidak beralasan. Toh setiap suami istri selumrahnya sudah melakukan malam pertama mereka sesudah hari mereka dinyatakan sah oleh bapak penghulu.
Dan mereka telah melewati berapa hari dari hari malam pertama tersebut.
Rania menggigit bibir bawahnya gugup, kemudian langsung memejamkan matanya. Membuat senyum semakin mengembang di bibir bang Fakhri.
Kemudian bang Fakhri merengkuh pundak Ramia. Menarik tubuhnya mendekat, lalu bang Fakhri memeluk Rania erat. Pelukan kedua kalinya sejak gadis pemalu dan pendiam ini menjadi istrinya.
Bang Fakhri memeluk Rania begitu erat. Mengelus lembut punggungnya. Memberi rasa tenang pada istrinya itu. Menyalurkan rasa nyaman melalui pelukan hangatnya. Berharap bisa menghilangkan sedikit demi sedikit rasa tegang dan gugup istrinya.
Rania sendiri ikut merapatkan tubuhnya di dada bidang abang ustad. Pelukan hangat itu terasa begitu nyaman bagi Rania. Memberi rasa tenang sehingga akhirnya mengaburkan segala perasaan gugup dan takut yang sedari tadi menderanya.
"Jika memang belum siap, abang tidak akan memaksa," ujar bang Fakhri lembut di telinga Rania.
"Abang akan menunggu sampai adek benar-benar siap untuk melakukannya," lagi-lagi bang Fakhri berucap memaklumi.
Aahhh.....Rania tidak salah jatuh cinta. Rania tidak salah harus menunggu bertahun lamanya. Rania tidak salah jika harus cukup lama mencintai dalam diam saja. Rania tidak salah, memilih laki-laki shaleh yang menjadi imamnya ini.
Rasanya Rania rela. Rania ikhlas. Rania bersyukur. Mencintai dalam diam. Meminta dalam doa. Kebahagian ini adalah balasan setimpal semua rasa yang pernah terdera.
"A...a...abang boleh meminta hak abang. Abang....a...abang boleh melakukannya malam ini," jawab Rania gugup masih dalam pelukan bang Fakhri.
Bang Fahkri tersenyum. Andai Rania tahu, bukan hanya dirinya yang merasakan kegugupan. Bang Fakhri sendiripun juga merasakan hal yang sama, hanya saja bang ustad terlalu pandai menutupi perasaan yang ikut berpenar dalam hatinya itu. Abang ustad berusaha tenang, agar bisa memberikan rasa nyaman pada bidadari surganya itu.
__ADS_1
Bang Fakhri melepaskan pelukannya, kemudian menatap Rania lekat yang saat ini juga tengah menatapnya.
"Bagaiamana, adek sudah merasa tenang?" tanya lembut bang Fakhri, yang dibalas dengan anggukkan kepala dari Rania.
Yah, saat ini Rania merasa sedikit tenang. Debaran di dadanyapun sudah sedikit berkurang, walaupun detaknya masih belum normal. Rania berusaha menetralisir rasa gugupnya.
Bang Fakhri kembali memegang dagu Rania. Perlahan mulai mendekatkan wajahnya pada Rania. Kini jarak mereka hanya beberapa inci saja. Bahkan hidung mereka hampir saja bersentuhan. Rania bisa merasakan hembusan nafas bang Fakhri yang aroma menthol, juga bau farfum maskulin yang begitu di sukainya. Rania sudah dua kali menikmati dengan dalam aroma maskulin segar yang menenangkan itu ketika bang Fakhri memeluknya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Hayooo ngaku pada penasaran kelajutan malam pertama si babang ustad kan😁🤭😛😝
Timbal baliknya dong🙏🏼
Kalau mau othor semangat nulisnya
Jangan pelit🙌
Untuk kasih Vote
Untuk Favorit ❤
Untuk kasih Like👍
Agar novelnya author juga bisa naik peringkat🙏🏼
Agar novelnya author juga masuk rating🙏🏼
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Love😗😘
Autor Kesayanganmu
WCU
__ADS_1