Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Perjodohan


__ADS_3

Sebelum baca, mohon pencet dulu Vote, Like, Love, Favorit & Rate5🙏🙏


Kalau mau kasih hadiah juga lebih bagus🙏🙏


Demi kelanjutan novel author agar bisa naik level🙏✌


Dan demi semangat author biar rutin updatenya💪💪🙏


Teteup setia yak✌


Author jamin, part selanjutnya akan semakin seru✌


Love lagi sekebon ubi dari author😘


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Setelah makan siang bersama dan sholat berjamaah, kini dua keluarga tersebut telah berada di taman samping rumah abi Kosim.


Di taman samping juga tertata beberapa kursi dan meja untuk dua keluarga bersantai sesaat. Tampak aneka buah dan kue beserta minuman telah tersedia di meja hidangan di taman tersebut.


"Kakek Kosim, nenek Jani, bunda Aisyah, ayah Pandu, bisakah Fakhri izin berbicara," ucap bang Fakhri tenang sudah tidak bisa menahan diri lagi untuk semua keputusan yang diambil kedua kakek yang bersahabat karib tersebut.


Tampak semua yang berada di taman tersebut menoleh pada bang Fakhri. Rania terlihat memegang gemetar tangan bang Fakhri takut. Kepalanya berfikir, jangan sampai apa yang diucapkan suaminya akan membuat pertengkaran dan kerenggangan antara dua kelurga.


"Sebelumnya abang mau meminta maaf pada semua keluarga. Terutama kakek Kosim sekeluarga," ujar bang Fakhri menjeda sesaat perkataanya, kemudian menatap satu persatu wajah yang berada di sana.


"Abang ini hanyalah laki-laki biasa kek. Abang kadangkala masih melibatkan emosi. Abang belum bisa seratus persen bersabar mengendalikan diri. Lagipula abang ini hanyalah seorang dosen, dan pemilik usaha kecil yang sangat jauh jika dibandingan kakek Kosim ataupun bang Jonathan," ujar bang Fakhri kembali.


"Abang sungguh-sungguh meminta maaf," bang Fakhri menangkupkan kedua tangannya di depan dadanya sendiri sebagai simbol permintaan maaf.

__ADS_1


"Abang sangat menghargai persahabatan kakek Kosim dan kakek Gunawan. Bahkan abang sudah menganggap kakek Kosim dan nenek Jani sebagai kakek dan nenek abang sendiri. Begitupun bunda Aisyah dan ayah Pandu, sudah seperti orang tua kandung abang sendiri,"


Semua terlihat menatap bang Fakhri, tak terkecuali Rania dan Humairoh. Semua sebebenarnya sudah bisa menebak kemana arah pembicaraan laki-laki tampan di hadapan mereka ini. Tapi mendengar betapa rendah suara yang diucapkan bang Fakhri. Juga betapa santun dan hati‐hatinya dia dalam berucap. Membuat semua yang ada terlihat sabar menunggu dan mendengarkan tiap kata yang meluncur dari bibirnya.


"Maafkan abang kali ini, jika menolak niat kakek Gun dan kakek Kosim yang hendak menjodohkan abang dan Humairoh," akhirnya perkataan itu keluar juga dengan tegas dari bibir bang Fakhri. Meskipun ada rasa bergetar menahan rasa tidak enak hati dari nada suaranya.


Bang Fakhri kembali menatap semua orang sebelum melanjutkan kembali bicaranya. Bisa bang Fakhri lihat di ujung sana Humai telah menundukkan wajahnya.


"Humai gadis yang cantik, cerdas dan soleha. Sebagai seorang laki-laki abang juga mengakuinya. Abang jujur sebagai laki-laki mengatakan bahwa Humai adalah calon istri yang sempurna," bang Fakhri menelan ludahnya, mengucapakan tiap kata dengan hati-hati.


Kemudian menatap lembut wajah Rania, istri tercintanya. Lewat tatapannya bang Fakhri seakan meminta maaf, dan memohon pengertian untuk tiap ucapaknnya yang memuji wanita lain di hadapan istrinya sendiri.


"Abang menolak karena alasan yang benar kakek. Abang sudah mempunyai seorang istri. Wanita cantik, soleha dan penyabar di samping abang ini adalah wanita yang abang cintai. Sebagai kakek Kosim mencintai nenek Rinjani. Juga seperti ayah Pandu mencintai bunda Aisyah. Begitu pula abang mencintai Rania. Sekali lagi maafkan abang," Kali ini wajah bang Fakhri mengenadah ke atas, matanya sudah berkaca-kaca, bang Fakhri takut ada bulir bening air mata yang bisa saja meluncur, jika dia tidak menguatkan perasaannya.


Semua yang hadir tampak membeku. Menelan kasar ludahnya masing-masing. Mereka semua di hadapkan pada sebuah kebenaran hakiki yang tidak dapat disangkal lagi. Semua yang disampaikan bang Fakhri adalah mutlak sebuah kebenaran. Realita sesunghuhnya yang mau tidak mau harus mereka akui dan terima. Terutama bagi kakek Kosim dan kakek Gunawan. Memaksakan keinginan keduanya adalah sebuah kesalahan.


Juga bagi Humairoh. Tidak sedikitpun bang Fakhri memandang rendah dan hina gadis itu. Memaklumi perasaan cinta yang dia punya untuk dirinya sebagai sebuah pemakluman. Bahwa bagaimanapun, tidak ada yang bisa mencegah sebuah perasaan. Bahwa memang cinta tidak pernah salah.


"Maafkan kakek Kosim dan kakek Gun bang. Kami hanya memandang semua dari sudut pandang kami saja. Kami memudahkan sebuah perasaan yang nyatanya memang tidak bisa dipaksakan," kakek Kosim akhirnya berbicara setelah cukup lama kesunyian mendera, karena tidak ada satu suarapun berbicara setelahnya.


"Maafkan juga cucu kami Humairoh. Maafkan untuk cintalah yang nyatanya telah salah tempat," ujar kakek Kosim lemah sambil memeluk hangat cucu perempuan satu-satunya itu.


Humairoh sejatinya ingin menyerah saja. Melupakan rasa cintanya pada sosok laki-laki pertama yang menggetarkan perasaannya. Sebagai wanita dan muslimah, Humai sadar keputusannya menyakiti wanita lainnya.


Tapi Humai diam saja, tetap melanjutkan semuanya. Humai hanya ingin memastikan bagaimana bang Fakhri mempertahankan istrinya. Bagaimana bang Fakhri bertahan pada perasaannya di tengah kerasnya keinginan sang kakek. Humai sebenarnya ingin memastikan hatinya sendiri. Bahwa laki-laki yang dicintainya itu sudah benar-benar menemukan tulang rusuknya sendiri.


"Jadi sebagai ayah dari Humairoh.....," belum selesai ayah Pandu berniat memutuskan perjodohan ini, terdengar ucapan salam dari arah luar pintu taman.


"Assalamualikum," seorang pemuda tampan berseragam tentara, dengan tubuh sempurna, tinggi dan atletis terlihat mengucapkan salam dengan tersenyum tampan.

__ADS_1


"Walaikusalam," jawab keluarga kakek Gunawan menatap ke arah pemuda tampan tersebut.


Sementara keluarga kakek Kosim terlihat menatap bingung. Bertanya-tanya sendiri siapa tentara tampan yang berdiri di hadapan mereka ini.


"Rey, kapan sampai nak?" tanya abi Fahlevi pada putranya.


"Baru saja abi. Rey tadi menghubungi Andi, karena tidak ada seorangpun di rumah," jelas Reyhan sambil mencium punggung tangan abinya.


Kemudian beralih mencium punggung tangan uminya, nenek Meyra dan kakek Gun. Lalu kemudian mendatangi kakek Kosim, nenek Jani, bunda Aisyah juga ayah Pandu. Keluarga kakek Kosim tampak terdiam menatap pemuda tampan berseragam tentara di hadapan mereka. Membiarkan saja pemuda itu mencium punggung tangan mereka. Keadaan tegang yang diciptakan bang Fakhri barusan sepertinya masih menghipnotis mereka menjadi terdiam dan kaku di tempat.


"Ini cucuku Sim. Tentara tampan kebangganku. Reyhan, adiknya Fakhri," ujar kakek Gunawan sudah mempetkenalkan cucunya.


Keluarga kakek Kosim terlihat menganggukkan kepalanya mulai faham. Menatap cucu kedua kakek Gunawan yang memang terlihat sangat mempesona di balik seragam tentaranya itu.


Sementara tanpa mereka semua sadari. Sepasang mata berbulu mata lentik terlihat melototkan matanya. Kaget dan tidak menyangka akan bertemu kembali dengan laki-laki yang beberapa minggu lewat ditemuinya lewat insiden tidak sengaja saat sedang menunggu teman-temannya.


Bukankah dia laki-laki yang waktu itu, batin Humairoh dalam hatinya.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻


Klik profil untuk cek novel Author yg lain


⤵️



__ADS_1


Author Kesayanganmu😘😘


WCU


__ADS_2