
Hi readersku tercinta
Sebelum lanjut membaca part ini
Pastikan udah vote, like, favorit & rate 5 ya untuk author🙏
Author😘
"Bang, Nia jam sepuluan nanti izin ke pusat perbelanjaan membeli keperluan wanita ya," pamit Rania minggu pagi itu pada bang Fakhri setelah keduanya selesai sarapan bersama.
"Apa perlu abang temani sayang?" jawab bang Fakhri menatap lembut wajah sang belahan jiwa.
"Nggak usah bang. Biar Nia sendiri aja, lagian nggak banyak juga. Bukan belanja bulanan, hanya membeli beberapa keperluan wanita aja," balas Rania lembut memberi penjelasan.
"Lagipula abang sudah janji pada abi dan kakek akan ke pesantren pagi ini bukan?" jelas Rania kembali.
"Tapi abang bisa menemani sebentar sayang. Setelahnya barulah abang pergi ke pesantren," jawab bang Fakhri kembali.
"Nggak usah bang. Nggak enak kalau abi dan kakek mesti menunggu lama. Apalagi hari ini kakek secara resmi akan melepaskan semua urusan pesantren kepada abang. Tidak enak jika abang terlambat nantinya, apalagi sampai membuat abi dan kakek menunggu lama," Rania tetap sabar memberikan masukannya pada sang suami.
Hari ini, kakek benar-benar akan melepaskan kekuasaan penuhnya di pesantren miliknya tersebut. Setelah kesepakatan antara kakek bersama abi, bang Fakhri juga bang Reyhan. Maka diputuskan, bang Fakhrilah yang akan bertanggung jawab penuh akan kelanjutan pesantren nantinya.
Karena bang Rey belum bersedia ikut serta mengurusnya untuk saat ini. Pekerjaannya sebagai seorang tentara elit tidak akan memungkinkannya membagi waktu untuk urusan pesantren.
Dan agaknya bang Fakhri juga akan mulai memangkas jadwalnya sebagai dosen sedikit demi sedikit. Pelan-pelan akhirnya sang dosen tampan nan dingin itu tidak akan bisa untuk melakukan kedua pekerjaan tersebut sekaligus.
Karena sebagai pemilik sekaligus penanggung jawab pesantren sebagai pengganti sang kakek, bang Fakhri meski bertanggung jawab penuh.
"Hmmmm, baiklah. Tapi berhati-hati ya sayang. Nggak usah bawa kendaraan, perginya biar sekalian bareng abang, abang drop ke mallnya. Nanti abang juga sempatkan waktu untuk menjemput pulang," ujar bang Fakhri sembari mencium pucuk kepala Rania.
Rania menganggukkan kepalanya tanda menyetujui permintaan suaminya itu.
"Pergilah shooping sekalian. Semenjak kita menikah, abang perhatikan kau belum pernah berbelanja sayang. Atau mungkin uang bulanan yang abang berikan malah belum pernah dipakai sekalipun," ujar bang Fakhri menebak.
Semenjak mereka menikah, tepatnya satu tahun yang lalu. Tidak sekalipun bang Fakhri lihat Rania pergi shooping seperti kebanyakan para kaum wanita, membeli baju branded, tas atau sepatu branded misal.
__ADS_1
Rania hanya berbelanja bulanan untuk keperluan rumah mereka saja, itupun pergi berdua dengan dirinya. Kalaupun petgi shooping, Rania hanya membeli beberapa keperluan wanita atau perlengkapan wanita yang mungkin sudah habis.
Bang Fakhri sebagai suami seolah dianggap suami yang pelit dan tiak bisa menyenangkan istrinya. Memberi kehidupan mewah seperti keinginan kebanyakan dari semua wanita. Padahal semua uang mereka Ranialah yang mengaturnya.
Rania hanya tersenyum menanggapi ucapan bang Fakhri. Suaminya itu sepertinya sangat tahu jika dia memang belum pernah menggunakan uang yang dimasukkan bang Fakhri setiap bulannya ke rekening pribadinya sebagai uang nafkah.
Karena memang, sudah menjadi kewajiban seorang suami memberikan nafkah kepada istrinya berupa uang belanja dan uang jajan khusus untuk istri atau uang nafkah.
Karena bagi Rania gaji yang dia dapatkan lebih dari cukup untuk dipergunakan memenuhi semua kebutuhannya sebagai seorang wanita.
Sementara kebutuhan rumah tangga dan semua kebutuhan sehari-hari selama satu bulan bang Fakhri selalu memberikannya secara terpisah dengan uang nafkah yang dimasukkannya ke rekening Rania.
Dan dari sisa gaji juga pendapatan lainnya dari gaji bang Fakhri juga di pegang dan diatur oleh Rania. Rania mengalokasikannya dalam tabungan mereka.
Bang Fakhri hanya menyimpan sedikit saja setiap bulannya sebagai pegangan dan keperluan mendadak jika sewaktu-waktu diperlukan. Dan bila tidak dipergunakan pada bulan tersebut, maka bulan depannya uang tersebut juga akan terkumpul.
Definisi uang nafkah dan uang belanja ini memang berbeda. Uang belanja dialokasikan untuk memenuhi semua kebutuhan sehari-hari keluarga selama sebulan.
Sementara uang nafkah diperuntukan khusus untuk kebutuhan istri selama sebulan atau uang jajan istri. Di sinilah letak perbedaan uang nafkah dan uang belanja yaitu pada penggunaan uang tersebut, meski sama-sama diserahkan kepada istri.
"Ketahuilah, bahwa barang-barang yang menumpuk, termasuk pakaian, apalagi tidak pernah dipakai, menjadi tidak memiliki manfaat dan bisa menjadi bagian dari perhitungan hisab harta kita kelak di akhirat," ucap bang Fakhri.
"Bahwa pakaian-pakaian itu akan dihisab semua. Karenanya, menyarankan pakailah segera pakaian itu untuk ibadah. Jadi ketika nanti kita dihisab, akan lebih ringan."
"Minimal pakaian itu akan bersaksi dihadapan Allah SWT, “Ya Allah, saya (pakaian) ini pernah digunakan untuk salat oleh orang ini." senyum bang Fakhri.
"Dan mulailah membiasakan ketika mendapatkan sesuatu yang baru, pakai dulu untuk ibadah. Ada baju baru, pakai dulu untuk salat, sehingga hak Allah terpenuhi," lanjut bang Fakhri kembali.
"Karena ketika nanti kita dihisab, mulut itu dikunci. Dan yang berbicara adalah benda-benda. Semisal, baju bicara, apa saja benda berbicara, jangan kira tidak akan berbicara,"
"Hal ini sebagaimana firman Allah SWT dalam Alquran Surah Yasin ayat 65 yang artinya:
Pada hari itu kami tutup mulut mereka. Tangan mereka akan berkata kepada kami dan kaki mereka akan memberikan kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan."
"Tapi sayang, sejatinya islam tidak pernah melarang kita untuk membeli apa pun yang kita sukai. Selama itu halal dan sesuai dengan syariat. Namun, apakah yang kita beli itu mendatangkan manfaat dan kebaikan atau justru sebaliknya?"
__ADS_1
"Lagipula selama ini abang lihat tidak pernah sekalipun sayang abang ini membelanjakan sesuatu secara berlebihan. Jadi pergilah berbelanja, beli semua yang di sukai, ini atas ridho suamimu sendiri," jawab bang Fakhri akhirnya dengan tersenyum lembut.
Dan disinilah keduanya berada. Di sebuah mall ternama di kota mereka.
Setelah memarkirkan mobilnya bang Fakhri menggandeng Rania mengantarkan istrinya masuk ke dalam mall.
"Ingat, shooping dan bersenang-senanglah. Gunakan me time hari ini untuk happy. Nanti hubungi abang minta dijemput jam berapa," bang Fakhri berkata pada Rania setelah memasuki satu lokasi di dalam toko yang menjual segala keperluan wanita.
"Iya bang," jawab Rania kemudian mencium punggung tangan bang Fakhri.
"Abang berangkat ke pesantren ya sayang," pamit bang Fakhri sambil mengusap lembut pucuk kepala Rania yang ditutupi hijab berwarna pink.
"Iya bang. Hati-hati ya. Dan titip salam untuk abi dan kakek," ucap Rania akhirnya.
Begitu bang Fakhri sudah menuruni tangga eskalator turun menuju parkiran. Rania masuk ke dalam toko dan mulai berbelanja.
Dan sepertinya setelah membeli semua kebutuhannya sebagai wanita, Rania akan berbelanja sesuai keinginan bang Fakhri.
Bukan karena Rania ingin shooping menghabiskan uang di rekeningnya. Tapi lebih kepada menghargai sang suami. Yang sepertinya merasa bersalah karena tidak sedikitpun menggunakan uang yang memang diberikannya secara tulus dan penuh cinta dari usahanya mencari nafkah halal untuk istrinya tercinta.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Semoga semua readers mendapatkan suami sesoleh abang ustad yah🤲🏼🙏
Baca juga novel aurhor
👇
Author Kesayanganmu😘
__ADS_1
WCU