
Hi readersku tercintah🤩😍
Sebelum baca, mohon pencet dulu Vote, Like, Love, Favorit & Rate5, kalau mau kasih hadiah juga lebih bagus🙏🙏
Demi kelanjutan novel author agar bisa naik level🙏✌
Dan demi semangat author biar rutin updatenya💪💪🙏
Love lagi sekebon ubi dari author😘
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Pertemuan dua keluarga itu akhirnya akan terjadi juga minggu depan.
"Apa Rey sudah berangkat abi," tanya umi pada suaminya
"Sepertinya masih bersiap-siap di kamarnya umi.
Segera saja sepasang suami istri tersebut menuju kamar putra bungsu mereka.
Saat berada di sana, ternyata bang Fakhri juga tengah berada di dalam kamar adik satu-satunya.
"Loh abang kapan datang," tanya sepasang suami istri, orang tua dari dua laki-laki tampan tersebut.
"Abang baru sampai umi, abi. Maaf tidak menemui umi dan abi terlebih dahulu. Karena abang sampai tadi, umi dan abi masih di kamar," bang Fakhri menjelaskan, di sahuti dengan anggukkan kepala dari kedua orang tuanya tersebut.
"Rania tidak ikut kemari bang?"
"Nggak umi. Nia masih banyak kesibukan di kantornya. Tadi saja abang yang antar, dan nanti juga abang yang jemput. Sementara abang hari ini memamg tidak ada kelas," jelas bang Fakhri kembali.
Lagi-lagi umi dan abi me ganggukkan kepalanya dan tersenyum.
"Kamu jadi berangkat siang ini dek?" tanya bang Fakhri pada Reyhan.
"Iya bang. Pesawat sore bang, paling juga satu jam sebelum landing aku stay di bandara," jawab Reyhan masih sambil berbenah.
"Umi kira kamu baru kembali minggu depan Rey, jadi masih bisa ikut silahturahmi ke rumah kakek Kosim," sela umi diantara percakapan dua putra tampannya.
"Nggak bisa umi, udah jadwalnya Rey kembali," balas Reyhan kali ini tersenyum menatap wajah lembut sang umi.
Kemudian segera bergerak mendekati sang umi. Rey yakin sekali, sebentar lagi air mata pasti sudah luruh di pipi wanita yang melahirkannya itu. Saat di tatap Rey saja matanya sudah berkaca-kaca.
Segera dipeluknya satu-satunya wanita yang ada dalam hidupnya itu. Satu-satunya wanita yang dicintainya saat ini.
__ADS_1
"Rey janji akan selalu sehat dan selamat. Umi jangan khawatir yah," ucapnya di telinga umi tanpa melepaskan pelukannya sedikitpun.
"Doakan selalu Rey...umi," ucapnya kembali.
"Pasti sayang. Di setiap sujud umi selalu mendoakanmu," jawab umi makin mempererat pelukannya pada sang putra.
"Semoga Allah selalu menjaga dan melindungimu sayang," ujar umi kembali sudah terisak.
Reyhan masih memeluk uminya. Membiarkan saja ibu yang melahirkannya itu melepaskan tangisnya. Hal ini selalu dilaluinya ketika akan berangkat meninggalkan keluarganya untuk bertugas. Uminya tersayang adalah yang paling berat untuk melepas kepergiannya.
Setelah reda tangisnya, pelukan umi di tubuh putra bungsunya itupun mulai terurai. Reyhan tersenyum, menatap wanita tua yang masih terlihat cantik di hadapannya ini. Menghapus sisa-sisa air mata yang masih tersisa di pipinya dengan jarinya. Lalu menatap lembut umi dengan senyuman termanisnya. Reyhan berharap senyuman yang ditunjukkannya akan membuat umi lebih kuat tiap melepas kepergiannya bertugas.
Reyhan beralih menatap sang abi. Memeluk pundak kuat yang selalu menjadi pelindungnya itu.
"Semoga Allah selalu menjagamu. Semoga Allah selalu bersamamu nak," ujar abi memeluk Reyhan sambil menepuk nepuk pelan punggung dari tubuh kekar milik tentara tampan, putra bungsunya itu.
"Makasih abi. Jaga kesehatan dan jaga umi yah," jawab Reyhan kemudian.
"Rey kembali tiga bulan lagi, karena ada tugas di kota ini nanti. Rey harap saat kembali nanti. Rey tidak akan mendengar pernikahan kedua abang itu terjadi," ujarnya menatap bang Fakhri lekat.
"Semoga abang dan abi bisa menyakinkan kakek atas rencana tidak masuk akalnya itu," ujarnya kembali.
"Tentu saj. Abang bisa pastikan tidak akan mungkin menikah kembali," jawab bang Fakhri tegas.
Sementara abi hanya menatap saja putra bungsunya tanpa berniat menyahuti. Abi tahu, Rania adalah gadis yang dicintai dua putranya sekaligus. Memang berat bagi Reyhan untuk melupakan begitu saja perasaannya. Walaupun sudah sangat berusaha, abi yakin, perasaan itu masih terselip di hati biarpun sedikit.
Wajar saja jika Reyhanpun tidak rela Rania disakiti dengan adanya pernikahan kedua. Jika itu terjadi, abi sangat yakin, Reyhan bukan tidak akan memaafkan abangnya saja. Tapi pasti tidak akan memaafkan dirinya sendiri juga.
Melepaskan perasaan dan gadis yang dicintainya agar berbahagia dengan pilihannya. Jika nyatanya pilihan itu justru menyakitinya, abi sangat yakin, Rey tidak akan tinggal diam.
Ya Allah, abi mendesah dalam hati
"Aamiin. Tegaskan kembali semuanya pada kakek," jawab Reyhan.
"Tentu saja. Bahkan jika abang memang ditakdirkan tidak memiliki anakpun. Abang pastikan akan hidup berdua Rania, saling mengisi hingga tua nanti," ujar Fakhri kembali.
"Jangan sembarangan bicara bang. Omongan itu adalah doa. Ucapanmu akan melesat ke langit. Dan jangan lupakan malaikat kanan kiri yang akan mencatat semua ucapan dan perbuatanmu," ujar umi mengingatkan.
"Bicaralah yang baik. Ucapkan harapan dan doa terbaik. Semoga Allah segera mengijabah," lanjut abi bicara.
"Astagfirullah....," bang Fakhri beristighfar.
"Semoga harapan abang, Rania, umi dan abi di ijabah. Aamiin ya Allah," ucap Fakhri penuh harap.
__ADS_1
Aamiin ya Rabb, ucap satu keluarga itu dalam hati masing-masing.
"Jika sudah siap, abang antar ke bandara," tawar bang Fakhri pada adiknya.
"Ayo, sekalian pamit pada kakek dan nenek," umi menimpali.
Dan sekali lagi, isak tangis sang nenek tercinta juga uminya kembali menyesakkan dada Reyhan.
Ah, Rey tidak ingin menyalahkan kenapa perasaan wanita sangat sensitif. Gampang sekali bersedih dan menangis. Jika yang menangis di hadapannya ini bukan umi dan neneknya, mungkin sudah di tinggalkan Reyhan begitu saja sedari tadi.
"Hati-hati cucuku sayang. Selamat bertugas, jadilah tentara kebanggan keluarga dan tanah air. Semoga Allah selalu menjagamu," kini giliran kakek Gun yang memeluk dan memberi ucapan selamat jalan pada cucu bungsunya.
"Jaga kesehatan kek, dan jaga nenek. Jangan terlalu memikirkan banyak beban yang bisa mempengaruhi kesehatan," balas Rey membalas pelukan sang kakek dengan hangat.
Tidak lama kemudian mobil bang Fakhri sudah membelah jalan, menuju bandara, mengantarkan keberangkatan Reyhan, adiknya satu-satunya.
"Bang, aku memilih mundur dan merelakan Rania juga perasaanku karena dia mencintaimu," ujar Reyhan membuat bang Fakhri menoleh.
"Jika nyatanya kebahagian yang kufikir akan dirasakannya justru membawa luka bagi hatinya, aku tidak akan tinggal diam bang," lagi-lagi Reyhan berujar.
"Apa maksud perkataan kamu Rey?" tanya bang Fakhri menyelidik.
Sedikit banyak dia memahami kemana arah pembicaraan adiknya itu.
"Jika abang salah melangkah. Salah menentukan pilihan nantinya, jangan salahkan Rey jika akhirnya kembali menuai perasaan yang sudah aku ikhlaskan," Reyhan menjawab tegas pertanyaan bang Fakhri.
"Jangan melewati batasanmu Rey," ujar bang Fakhri sedikit tersulut emosi.
"Abang sudah berulang kali menegaskan. Bukan hanya padamu, tapi juga pada kakek. Hanya Rania satu-satunya wanita di hati abang. Dan satu-satunya yang menjadi istri abang," Fakhri kembali menegaskan.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil untuk cek novel Author yg lain
⤵️
Author Kesayanganmu😘😘
__ADS_1
WCU