
Acara lamaran bang Fakhri dan Rania berjalan sangat lancar. Sejak dari awal sampai akhir tidak ada satupun hambatan yang menghalangi rencana indah kedua anak adam itu.
Bahkan hari baik tanggal pernikahan dan resepsipun sudah diputuskan pihak keluarga. Dua bulan lagi adalah waktu yang akan menyatukan keduanya dalam ikatan suci sebuah pernikahan.
Alhamdulillah dari keluarga kedua belah pihak juga sangatlah baik. Kesepakatan tidak sulit untuk dicapai. Mufakat menjadi sebuah keindahan yang terlontar demi kebahagian anak-anak mereka, Rania dan Fakhri.
Kini kedua keluarga besar, teman, sahabat, jiron dan tetangga, tengah menikmati santapan yang memang telah di sediakan tuan rumah.
Satu meja prancis terdapat di teras depan rumah orang tua Rania. Satu lagi diletakkan di taman samping yang sangat teduh. Taman yang tertata apik dan rapi malah terlihat instaframable setelah ditambah beberapa furniture pendukung, yang memang sengaja disiapkan untuk shet buat foto-foto.
Bang Fakhri izin mendekati Rania pada sang ibu, yang dibalas anggukkan kepala. Biarlah mereka makan bersama mengisi tenaga, toh ini sudah langkah awal menuju halal. InsyaAllah akan terjaga hingga hari H nanti tiba, dan ibu Rania mempercayai abang ustad.
"Dek, mau makan?" tanya bang Fakhri sopan pada Rania yang tengah bersama kedua sahabatnya.
"Abang.....," balas Rania berbalik menatap Fakhri yang masih berjarak berdirinya dengan Rania.
"Kalau gitu Rara sama mbak Sinta ambil makan juga ya Nia," ujar Rara berusaha menghindar dan mengajak Sinta menjauh mencari tempat duduk lain.
"Nggak apa-apa kalian di sini aja. Tidak baik kalau abang hanya berduaan dengan Rania saja," ujar bang Fakhri mencegah niatan Rara.
"Tapi kan barangkali aja abang mau bicara gitu sama Rania," jawab Rara kembali.
"Nanti abang bisa bicara lewat pesan saja. Untuk sekarang kami berdua belum halal, jadi belum pantas untuk duduk hanya berdua saja," jelas Fakhri kembali.
Seketika Rara menelan ludahnya kasar. Bagaimana aku bisa melupakan kalau bang Fakhri itu juga seorang ustad, ahli ibadah. Emang gua yang maunya emang pacaran, gumam Rara dalam hati menganggukkan kepalanya atas ucapan bang Fakhri barusan.
"Ayo sekalian aja kita ambil hidangan. Tapi nanti kalian ke sini lagi temenin Rania," ujar bang Fakhri membuat keduanya ikut berdiri dan mengikuti keinginan sang calon manten itu.
Baru saja mbak Sinta dan Rara hendak beranjak dari duduk mereka menuju meja prasmanan. Mata keduanya menangkap detergent gatal yang sedari tadi sudah grasa grusu pasang aksi, berniat melancarkan serangan mereka menggaet para pangeran tampan.
"Mbak Sin, nooohh para detergent udah mulai pasang aksi," tunjuk Rara dengan bibirnya.
Sinta yang juga melihat arah yang sama dengan Rarapun ikut menjadi geram. Tapi ketika melihat Rara berbicara Sinta malah menjadi geli sendiri.
"Biasa aja kali Ra. Nunjuk tu pake tangan jangan pake bibir. Andi juga tahu bibir kamu itu seksi," ujar mbak Sinta menertawakan Rara.
"Ihhh mbaaakk.....," rajuk Rara yang membuat Sinta makin tertawa kencang.
Tawa Sinta bahkan sampai menarik perhatian tiga pangeran ganteng yang menoleh bersamaan menatap keduanya.
Merasa menjadi perhatian keduanyapun langsung pasang gaya, berjalan cantik bak model menuju meja prasmanan.
__ADS_1
Mbak Sinta yang dewasa dan cantik, berkulit sama putihnya dengan Rania. Kedewasaan, kelembutan dan kecantikannya, pria mana yang tidak mungkin tergoda.
Dan Rara. Gadis cantik yang juga berkulit putih itu, hanyalah terobsesi oleh perasaan cintanya pada bang ustad. Kini setelah menyadari semua kesalahan dan kekeliruan yang dilakukannya. Rara berubah menjadi sifatnya yang semula, gadis muda yang apa adanya. Wajahnya yang cantik kini lebih terlihat natural tanpa make up tebal yang selama ini selalu menutupi kulit remajanya. Usianya yang seumuran dengan Nayna kini malah terlihat sesuai dengan usianya.
Kedua gadis cantik yang merupakan sahabat terdekat Rania itu tengah sibuk memilih jenis makanan yang akan mengganjal perut langsing keduanya siang ini. Ditatap oleh tiga pangeran tampan, adik dan sahabat dekat bang Fakhri. Tentu saja membuat para detergent julid makin bertambah julid. (yang dimaksud author nerizen)
Para detergent yang sudah sangat panas dan gerah, di atas kepala mereka sampai sudah mengepul asap, serta merta langsung merengsek ke sasaran. Bergenit-genit dan bermanja ria mendekati tiga pangeran tampan kita.
Tapi mirisnya ketiga pangeran tampan, ralat dua pangeran tampan. Karena abang tentara sudah lebih dulu meninggalkan area prasmanan, mencari tempat duduk di paling sudut. Sepertinya mencoba berafas dan mencari udara masuk ke oksigennya mengusir kepenatan hati, yang sedari tadi menggelayut tidak mau pergi.
Tapi pandangannya malah tertuju pada sang abang dan Raniku. Yang duduk diam menikmati santapan di hadapan mereka, tapi dengan pandangan mata yang sama-sama mengunci. Kali ini mata mereka berdua yang berbicara.
Bang Reyhan segera mengalihkan pandangannya dengan perasaan nelangsa. Hidangan yang ada di tangannyapun terasa sangat hambar. Sehambar hati dan perasaan sang tentara langit
Kedua pangeran tampan yang sudah tetpesona sedari tadi, segera bergegas melanglah mendekati dua gadis cantik yang dengan santainya menikmati hidangan mereka sambil saling berbisik, kemudian tertawa bahagia.
Para detergent yang merasa gagal, mengepalkan kedua tangannya geram. Mereka memeloti dua gadis cantik di sana yang menjegal rencana mereka.
"Dek, cantik banget pake hijab," ujar bang Fakhri tapi tetap menundukkan pandangannya.
"Makasih bang," balas Rania lembut dengan malu.
"Bisa minta terus mengenakan hijab ini nantinya setelah kita menikah," pinta tulus bang Fakhri.
"InsyaAllah bang. Ini juga Nia masih belajar, semoga istiqomah ya bang," balas Rania kembali.
Bang Fakhri menyunggingkan senyumnya mendengar jawaban Rania.
Alhamdulillah ya Allah. Aku memang tidak salah memilih, ucap bang Fakhri dalam hati dengan rasa syukur.
Sementara Reyhan menatap keduanya dengan berbagai perasaan yang menggelayuti hatinya. Antara sakit, sedih dan terluka. Tapi juga bahagia karena abang satu-satunya dan gadis yang dicintainya itu akhirnya menemukan cinta sejatinya, yang akan memulai mengarungi bahtera hidup berdua hingga jannahnya Allah.
"Ra......noohh temen loe. Lihat aja, udah tunangan aja masih malu-malu meong," ledek Sinta berbisik pada Rara.
"Jiahhh mbak Sin, kayak kagak kenal Nia aja. Selama ini aja cuma dipendemnya aja tu cinta. Apa nggak makin cantik tu anak," balas Rara sembarangan.
"Kok bisa mendem cinta jadi cantik Ra.....," tanya mbak Sinta yang cerdas tiba-tiba jadi bodoh sendiri karena bingung.
__ADS_1
Sementara Rara cuma senyum-senyum menanggapi kebingungan mbak Sinta.
"Mbak sinta sayangku, Nia itu cintanya nggak dipendem sembarangan. Noooh dia rajin sholat malem, tahajud. Sepertiga malam itu tikungan tajem tuh mbak," jelas Rara.
"Bukan aja wajahnya Nia makin cantik karena rajin berwudhu. Tapi tikungan sepertiga malemnya itu yang bahaya. Bisa nyikut saingan apalagi pecakor," jelas Rara kembali dengan menggebu.
Sinta yang mendengarkan Rara manggut-manggut setuju.
"Tapi apaan Ra pecakor?" tanya Sinta bingung
"Perebut Pacar Orang mbak," jawab Rara nyengir santai.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Auto makin seru nih 😁🤭👌👍
Jangan ketinggalan up selanjutnya ya readers tercintah👌🤩😍
Tapi sebelumnya jangan lupa Vote, Like, Favorit & juga coment tuk Author🙏🙏
Tadinya mau update perhari✌🏾
Cuma karena ada dua novel yang mesti dikejer✌🏾
Othor agak kesulitan🙏✌🏾
Makasih readers tercintah yang tetap setia pada Rania & Fakhri🙏🏻😚
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻
Love
Author Kesayanganmu😗😙😚
WCU
__ADS_1