
Hi readersku tercintahh🤩😍
Udah 2022 nih. Semoga di tahun yang baru semua pembaca setia novel "Mengejar Cinta Ustad" bisa mewujudkan semua mimpi dan cita2nya. Semoga keberkahan bersama kita semuanya....Aamiin🤲🏼
Kalau author sih nggak muluk2. Di 2022 semoga othor makin aktif nulisnya💪💪 Semoga novel othor bisa naik peringkat🤲🏼
Sebelum baca
Pastiin udah
👇
Vote
Love
Like
Rate5
Kasih Bonus
Love All
Author Kesayanganmu
WCU
Perjalanan kehidupan rumah tangga abang Ustad dan Rania, alhamdulillah berjalan mulus-mulus saja. Keduanya menjadi pasangan yang saling mencintai, saling menerima dan saling memahami. Tidak terasa satu tahun sudah ikrar janji suci di depan penghulu yang di ucapkan dengan lancar dalam satu tarikan nafas bang Fakhri kala itu.
Baik bang Fakhri maupun Rania, telah menjelma menjadi dua orang pasangan suami istri yang makin sabar, makin bijaksana dan dewasa tentunya.
"Assalamualikum sayang....," sapa bang Fakhri begitu panggilan teleponnya diangkat sang istri.
Bang Fakhri memang tidak lagi memanggil Rania adek. Panggilan sayang sudah lama mereka biasakan.
__ADS_1
"Walaikumsalam sayang," jawab Rania di ujung telepon dengan tersenyum.
Bahkan Rania yang pendiam dan pemalu, kini sudah sedikit bertramformasi lebih berani dan terbuka, walaupun hanya kepada suaminya sendiri.
"Sayang, abang jemput jam seperti biasakah?" tanya bang Fakhri kembali.
"Seperti biasa aja sayang," jawab Rania.
"Okey. Kita makan malam di luar dulu. Baru setelahnya langsung ke rumah abi dan umi ya sayang," jelas bang Fakhri kembali.
Dan di sinilah keduanya. Walau di restoran sederhana saja, dengan menu yang biasa mereka pesan pula. Kedua pasangan anak adam dan hawa tersebut menikmati santap malam mereka dengan saling menatap dan tersenyum bahagia. Adalah yang lebih indah dari perasaan dua orang yang saling mencintai, saling menerima dan saling memahami.
"Alhamdulillah, satu tahun sudah kita mengarungi biduk rumah tangga sayang. Semoga rumah tangga kita menjadi rumah tangga yang sakinan mawadah dan warohmah. Semoga allah selalu meridhoi perjalanan kehidupan berumah tangga kita sayang," ujar tulus bang Fakhri dengan nada lembut kepada Rania.
"Aamiin ya rabb," balas Rania dengan tatap memuja.
Laki-laki di hadapannya ini adalah laki-laki yang dipujanya sedari dulu. Walaupun semua dilakukannya dalam diam.
Dan kini satu tahun sudah sang pemuja hidup bersamanya, dengan disirami banyak cinta. Bukan hanya sekedar kasih sayang, perhatian dan pengertian yang membuat Rania makin memuja.
Tapi bersama laki-laki pemuja inilah, Rania mendapatkan banyak bimbingan, terus belajar, dan lebih dekat kepada sang pemilik jiwa raga. Cintanya yang besar makin membawanya untuk lebih mencintai Rabbnya.
Hussttt. Bang Fakhri menempelkan jari telunjuknya di bibir Rania.
"Jika Allah memang memberi kita rezeki keturunan. Itu berarti Allah masih menguji kesabaran kita sayang. Allah ingin tahu sesabar apa kedua mahluknya yang lemah ini," bang Fakhri kemudian berucap lembut menjelaskan kepada Rania.
Rania yang tampak sudah berkaca-kaca hanya menatap lekat tatap mata elang namun teduh milik laki-laki di hadapannya ini. Rania seakan memilih berlindung di balik tatapan teduh penuh kasihnya itu.
"Ingatlah pada qada dan qadarnya Allah. Semua adalah atas kehendaknya," ucap bang Fahkri kembali.
Ditatapnya lembut wajah sang terkasih. Istri yang dipilihnya sendiri karena rasa cinta yang Allah masukkan dalam hati. Menatap manik cantik berbulu mata lentik yang sudah sedari awal tadi tampak berkaca-kaca.
"Qada dapat dipahami sebagai putusan Allah pada azali atau mengenai suatu hal yang akan menjadi apa kelak. Sedangkan qadar merupakan realisasi Allah atas qadha terhadap diri manusia sesuai kehendak-Nya." jelas bang Fakhri sedikit memberi ilmunya pada sang istri.
"Yakinlah sayang. Janji Allah pada mahluknya yang beriman kepadanya," tegas bang Fahkri menyakinkan sambil memegang lembut kedua tangan Rania.
__ADS_1
Bang Fakhri tahu dan memahami bagaimana perasaan sang istri. Tapi selama mereka sudah cukup berusaha. Apalagi penjelasan dari dokter yang menyatakan keduanya dalam kondisi sangat sehat. Tidak ada satu penyakit atau penyebab apapun yang membuat mereka tidak bisa memiliki anak.
Rahim Rania sehat, sempurna, tidak ada apapun yang menghambat. Begitupun ****** abang ustad, semua telah diteliti dan diperiksa oleh akhlinya. Tidak ada gangguan apapun.
Lalu kenapa harus takut dan mengeluh, itu yang ada di fikiran bang Fakhri. Bukankah hanya sabar dan tawakal jawabannya. Persis seperti yang dikatakan dokter kandungan langganan pasangan suami istri ini.
"Ibu dan bapak dalam keadaan benar-benar sehat. Tidak gangguan ataupun penyakit yang bisa menghambat proses pembuahan,"
"Jika kondisi fisik tidak dalam keadaan lelah. Fikiranpun tidak tengah stress. Saat melakukan hubungan suami istri juga dalam keadaan rileks dan bahagia. Saya rasa hanya kesabaran dan tawakal dengan terus berusaha yang bisa bapak dan ibu lakukan," jelas sang dokter kembali kala itu, entah sudah konsultasi yang keberapa kalinya.
Tapi tentu saja berbeda dengan Rania. Sebagai seorang wanita, walaupun Rania memahami yang dubutuhkannya hanyalah rasa sabar dan tawakal. Namun tetap saja, banyak ketakutan yang terus menyelimuti hatinya.
Walaupun Rania bersyukur, suami sholehnya adalah benteng terkuat dari hatinya yang lemah. Tapi tetap saja tidak dapat menghapus semua rasa takutnya.
Ini baru satu tahun perjalanan. Bagaimana jika sampai lima tahun, sepuluh tahun, atau bahkan lebih. Allah masih menguji kesabaran mereka sebagai pasangan. Mampukah bang Fakhri tetap tegar di sampingnya untuk bersabar.
Lalu bagaimana keinginan umi dan abi. Walaupun tidak pernah mereka tunjukkan di hadapan Rania, sang menantu.
Tapi Rania sangat mengerti, kedua mertuanya itu pasti juga sangat menginginkan kehadiran seorang cucu. Sama halnya dengan kedua orang tua Rania sendiri.
Mungkin kedua orang tua dan mertuanya memiliki pemikiran sang sama dengan bang ustad Fakhri. Tapi keluarga tidak hanya kedua orang tua saja. Ada uncle, aunty, paman bibi, uwak, ditambah anak-anak mereka. Juga kakek dan nenek.
Rania seringkali hanya menjawab dengan senyum terpaksa, jika keluarga menanyakan sudah isi belum, atau apa sudah ada tanda-tanda bang Fakhri junior di perutnya. Hanya genggaman tangan dan tatapan tulus suaminyalah yang seringkali menguatkan hatinya. Tapi apa hati yang menguatkan itu juga akan tetap kuat dan bersabar?
Apalagi jika acap kali Rania dan bang Fakhri kumpul acara keluarga. Sepupu-sepupu anak dari aunty, uncle, om, tante dan uwak-uwak, yang sebagian sudah menimang buah hati, acapkali membuat perasaannya iri. Bagaimana kebahagian yang mereka rasakan bersama putra putri mereka membuat senyum getir di bibir mungil Rania. Dan lagi-lagi tangan kuat dan tatapan lembut itulah yang dengan setia mengingatkannya untuk terus bersabara dan tawakal.
Lalu benarkah tangan kuat dan tatap mata teduh itu bisa terus bersabar dan tawakal. Mungkin saja kesabarannya akan habis. Mungkin tawakalnyapun berkurang. Bisa saja hatinya lelah untuk menunggu. Bisa saja keinginannya untuk memiliki keturunan akhirnya membangkitkan egonya sebagai seorang laki-laki.
Bukankah salah satu keluarganyapun pernah tiba-tiba berkata untuk mencoba berpoligami saja agar bisa memperoleh keturunan. Toh dalam islam, laki-laki memang diperbolehkan beristri lebih dari satu, bahkan maksimal empat istri, jika mempu berlaku adil. Apalagi alasannya menikah lagi adalah untuk memperoleh keturunan. Sebagai seorang istri yang memang tidak mampu memberikan bang Fakhri seorang anak, istrimu tidak bisa menolak. Setidaknya begitulah pemikiran dan saran dari salah satu saudara sepupu bang Fakhri.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
__ADS_1