
"Nia........," tatap Reymond dalam pada netra indah di hadapannya ini.
Dipanggil begitu, Raniapun ikut menatap manik teduh tapi tajam milik bosnya itu.
"Iya pak direktur," jawab Rania.
"Nia, sejak awal kamu berada di perusahaan, entah mengapa aku tidak dapat memalingkan pandanganku darimu," Reymond mengawali bicaranya.
Rania terdiam, menatap takut manik laki-laki di hadapannya ini.
"Kau tahu dengan pasti Nia, kalau aku mencintaimu. Bukankah bukan sekali dua kali aku mengungkapkan perasaanku padamu. Kau tahu Nia, aku tidak pernah bermain-main dengan perkataan dan perasaanku," ujar Reymond lagi menatap Rania.
Pandangannya menyelidik. Mencoba menyusup diam-diam ke dalam hati gadis di hadapannya ini.
"Bahkan kau tahu sendiri. Aku tidak ragu melamarmu di acara perusahaan waktu itu. Aku bahkan menekan ego dan harga diriku hari itu, jika kau pada akhirnya menolakku di tengah semua karyawan dan kolega perusahaan,"Reymond meneruskan perkataannya.
Rania makin terdiam, wajahnya kali ini sudah menunduk. Rania baru menyadarinya.
Reymond bukanlah laki-laki sembarangan. Reymond Syahputra adalah putra seorang Adi Wijaya Syahputra. Pebisnis terkenal dan terkaya no.2 di kota ini. Dan laki-laki itu rela melepaskan ego dan harga dirinya demi seorang Rania.
Tiba-tiba saja rasa bersalah menyergap Rania. Rania mengingat kala acara lamaran tersebut, Rania tidak mampu memberi jawaban apapaun. Rania hanya mematung. Saat itu antara rasa tidak percaya, sekaligus juga mempertanyakan hatinya sendiri yang masih belum bisa untuk membuat keputusan apapun.
Rania berusaha menelan Salivanya. Wajahnya makin tertunduk. Ranià tahu Reymond masih menatapnya lekat.
"Boleh aku bertanya satu hal padamu, sebelum aku benar-benar memutuskan langkah yang akan aku ambil nanti?" tanya Reymond lagi.
Dan Rania akhirnya hanya bisa menganggugkan kepalanya saja sebagai jawaban.
"Kali ini jangan pandang aku sebagai pimpinan di perusahan. Pandang aku hanya sebagai seorang laki-laki biasa yang mencintai seorang wanita," pinta Reymond pada Rania.
Sekali lagi Rania menatap netra teduh yang mampu menenggelamkannya itu.
"Setelah tahu semua perasaan dan rasa cinta dalam hatiku. Setelah mendengar dan merasakan sendiri bagaimana caraku mengungkapkan perasaanku. Kali ini aku ingin mendengar lamgsung jawaban yang belum kau berikan ketika aku mengajukan lamaran padamu kala itu?" pinta Reymond pada Rania.
__ADS_1
Rania makin kesulitan menelan salivanya sendiri. Kerongkongannya seperti tercekat. Belum lagi netra teduh itu terus menatapnya, makin membuat Rania kesulitan untuk sekedar bernafas bebas.
"Jawab saja bagaimana hati dan perasaanmu. Aku akan mencoba menerima apapun keputusan yang keluar dari mulutmu nanti," jawab Fakhri yakin.
Katakan saja Nia. Aku hanya butuh jawabanmu untuk menyakinkan diriku sendiri. Bahwa benarkah keputusanku untuk melepas rasa cintaku padamu. Bukan hanya karena masih ada Bella dalam hatiku. Tapi juga karena memang bukan aku laki-laki yang bertahta dalam hatimu itu.
Andai saja walaupun cuma sepersekian persen dari saja rasa cintamu itu ada untukku. Aku akan berjuang Rania. Bukan hanya sekedar makin menyuburkan rasa cinta di hatimu agar bertambah tiap saat. Tapi juga berjuang untuk menghapus cinta pertama yang harus aku relakan pergi. Mengusir cinta itu setelah kemarin aku memberikan kembali janji padanya, bahwa rasa itu tidak pernah pergi. Membayangkan menyakiti hati Bella sekali lagi, membuat dada Reymond terasa ikut pedih.
"Aku tahu kau mencintai laki-laki cinta pertamamu itu Nia. Aku tahu cinta sejak dulu pada ustad itu tidak berubah sedikitpun dari hatimu. Tapi cinta dalam diam yang tidak berbalas. Cinta tanpa bisa diungkapkan. Cinta yang sama sekali tidak saling bertaut, benarkah itu cinta? Atau itu hanyalah rasa kagummu pada sosok yang tidak pernah bisa kau gapai? Atau itu hanya sebuah kekaguman saja yang kau kira adalah cinta Nia?" jelas Reymond pada Rania mempertanyakan perasaan Rania sesungguhnya.
Penjelasan yang membuat Rania memegang dadanya. Apa yang dikatakan Reymond barusan terasa menyakiti sisi hatinya. Sisi cinta dalam diam yang selama ini selalu dijaganya. Sisi cinta dalam hati yang jauh tersimpan dengan rasa yang indah tanpa tersentuh. Rania semakin takut. Takut akan kebenarannya.
"Maaf aku tidak bermaksud mengintimidasimu. Aku hanya menjelaskan agar semua terlihat lebih gamblang. Agar kau juga mengerti, aku tidak pernah bermain-main dengan kata-kata dan perasanku," tegas Reymond kembali akhirnya.
Reymond sudah bicara segini banyak. Reymond sudah mengungkapkan semua keluh kesahnya. Reymond menunggu Rania. Yang sedari tadi hanya menatapnya tanpa bicara sedikitpun. Mendengarkan saja semua yang dikatakam oleh Reymond tanpa berniat sedikitpun untuk menyangkal kecuali ketika ditanya.
Dan ketika suara Rania terdengar lirih dari bibir mungilnya, yang terucap hanya sebuah tanya saja.
Reymond kembali menatap teduh netra indah di hadapannya ini. Manik itu berkejab-kejab cantik memainkan bulu mata lentiknya.
"Bella adalah cinta pertamaku. Satu-satunya wanita yang bisa memiliki hatiku. Kami menjalani kisah indah layaknya sepasang kekasih. Aku tidak akan detail menceritakan berbagai kisah itu padamu," jawab Reymond santai.
Rania mengeryit, menatap lekat wajah Reymond di hadapannya. Reymondpun membalas tatapan Rania padanya. Ini saat pertama kalinya Reymond bicara banyak pada Rània.
"Hingga akhirnya Bella memilih meninggalkanku. Lebih memilih keluarga dan cita-citanya. Bella bahkan menolak mentah-mentah laranganku padanya agar jangan pergi," jelas Reymond kembali.
"Dan bapak masih mencintai mbak Bella bukan?" Rania mencoba menyelidik.
"Bohong jika aku mengatakan tidak lagi mencintai wanita cinta pertamaku itu. Bahkan kau saja yang mencintai sendiri ustad itu tanpa dia tahu perasaanmu, masih tetap mencintai bukan?" Reymond membalikkan pertanyaan Rania padanya kembali.
"Kami berpisah dengan rasa cinta yang masih sama besarnya. Tapi tidak berjanji untuk tetap saling menunggu. Bella bahkan mengatakan padaku jika aku bebas setelah kepergiannya. Bella akan kembali jika aku masih sendiri. Walaupun kenyataannya Bella melalui banyak hal di sana demi bertahan untuk tetap setia pada cintanya padaku. Bella menjaga diri dan hatinya masih sama hanya untukku," jelas Reymond mencoba bicara sejujurnya pada Rania.
"Begitulah hati wanita pak," sela Rania singkat.
__ADS_1
Reymond menatap Rania. Menilik dari sifat melankolisnya itu, Reymond sudah menebak Rania pasti akan menjawab demikian.
"Tapi aku tidak jatuh cinta setelah kepergian Bella. Hampir lima tahun aku bertahan akan perasaanku padanya Nia. Hampir lima tahun aku tidak dekat dengan wanita manapun. Hampir lima tahun pula, aku menjadi Reymond yang dingin dan tidak bisa diraih," keluh Reymond kembali pada Rania.
Yah, Rania mendengar bagaimana karyawan wanita membicarakan direktur Reymond ketika Rania pertama kali menginjakkan kakinya di kantor ini.
Direktur Reymmond itu laki-laki yang tampan dan dingin. Banyak sudah wanita kolega perusahaan atau anak dari sahabat tuan besar yang mendekati pak direktur, dan hasilnya nol besar. Pak direktur tetap laki-laki sempurna tanpa bisa dijangkau. Dan hanya pada mbak Sinta, sekretarisnyalah pak Reymond bisa berbicara dan tertawa normal pada umumnya.
Dan pada saat akhirnya Rania menjadi wakil dari Sinta, sekretaris direktur. Rania tidak mempercayai bahwa dia jadi orang kedua yang bisa bicara dengan normal pada direkturnya itu. Rania bahkan tidak percaya jika si bos malah sangat baik dan bersikap sangat bertolak belakang dengan gosip-gosip yang beredar di pasaran.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Eee....lu nggak tahu aja Nia.
Direktur Reymond juga bersikap baik, lembut, dan berbeda pada Author🤭😁😂😜✌
Enak aja bilang Author menghaluuu😏😏
Apa mesti Author bikin aja part berduan sama si bos😂😂😂😜😜
Jangan lupa Vote, Favorit & Likenya yah readers tercintahhh🙏🏻🙏🏻
Biar Author jadi semangat buat up per harinya🙏🏻✌
Novel Author yg lain👆
Baca juga kisah Nayna dan Nayla dalam novel "Love Or Be Loved" yang nggak kalah serunya sama kisah Rania di novel "Mengejar Cinta Ustad✌🙏🏻
Vote, Favorit & Like juga yahh reader tercintahhh✌🙏🏻
Author kasih double kiss nih😗😙😚
__ADS_1