
Sebelumnya Author minta untuk Klìk Vote & Favorit dong readers tercintahh🙏🏻🙏🏻
Coz akan sangat berpengaruh sama Level Novel Author🙏🏼✌🏻
☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆☆
Rania masih tertunduk malu. Meski hatinya memang sudah terisi nama bang Ustad sejak dulu. Tapi sebagai seorang wanita, Rania juga merasa malu. Cinta dalam diamnya selama ini akhirnya terbuka. Rasa cinta itu akhirnya akan terjawabkan.
Bang Fakhri sengaja mengajaknya bertemu untuk membicarakan tentang perasaan mereka berdua. Tentang kelanjutan dari hubungan yang ada dalam hati keduanya, meski belum pernah saling diungkapkan.
"Bang, Andi pindah ke bangku sebelah aja yah," ujar Andi mengulang pertannyaannya.
Andi menunjuk meja kosong tepat di belakang meja mereka saat ini.
"Andi nggak enak bang. Lagipula biar abang dan Rania lebih enak dan nyaman untuk bicara," Andi kembali menjelaskan
"Biar saja di sini Ndi. Abang tidak keberatan, dan sepertinya Niapun tidak keberatan bukan?" tanya bang Fakhri pada Rania.
Dan gadis itu hanya menundukkan kepalanya tanda menyetujui.
"Niapun juga tidak keberatan Ndi. Dan untuk menghindari fitnah, sekaligus juga menjaga nama baik Nia, ada baiknya memang Andi tetap bertiga dengan kita." bang Fakhri menjelaskan.
"Lagipula Andi satu-satunya orang yang paling faham persoalan yang hendak abang bicarakan dengan Rania, sekaligus teman dekat Rania," tambah bang Fakhri kembali.
Andi akhirnya setuju dan duduk diam sebagai pendengar yang baik.
"Nia, maaf jika mengejutkanmu. Abang secara tiba-tiba mengajakmu bertemu," ujar bang Fakhri memulai bicara dengan menatap lembut netra lentik itu.
Sementara Rania hanya bisa menundukkan wajahnya saja. Hatinya bahkan masih ragu, apa benar bang Fakhri yang kini berada di hadapannya yang kini tengah mengajaknya berbicara.
"Jujur saja, abang bahkan bingung, darimana untuk memulai bicara. Tapi ini memang meski segera abang bicarakan," ujar bang Fakhri lembut.
Ahhh.....siapapun pasti akan suka bisa berhadapan dan bicara berdua dengan bang Fakhri. Wajahnya yang tampan sungguh sepandan dengan tutur katanya yang lembut. Netranya yang dalam dan teduh, benar-benar ibarat telaga yang bisa menenggelamkan kita di dalamnya. Rania menggumam dalam hati sembari menetralkan debaran jantungnya yang sudah makin tidak beraturan.
"Abang tidak tahu bagaimana mulainya dan sejak kapan. Jangan tanyakan hal itu pada abang. Yang pasti abang menyukai Nia. Tidak ini bukan sekedar rasa suka. Abang yakin, abang mencintai Nia," ujar Fakhri akhirnya dengan tegas namun tetap lembut.
__ADS_1
Seketika Rania menatap bang Fakhri. Berusaha memastikan bahwa pendengarannya tidak salah. Atau itu hanyalah sebuah candaan yang keluar dari mulut bang Fakhri, tapi tidak mungkin. Bukan hanya Rania ingin memungkirinya, tapi memang tidak mungkin sang ustad bercanda hal seperti itu.
"Abang mencintaimu Rania Atmaja. Ini benar adanya, kau sama sekali tidak salah mendengar," ulang bang Fakhri kembali menilik ketidakpercayaan dari wajah cantik Rania saat menatapnya.
Sementara Rania makin membeku di tempatnya duduk. Seketika Nia mencubit tangannya sendiri, dan sedikit berteriak kecil saat merasakan sakit.
Ternyata ini nyata. Kufikir hanya mimpi, gumam Rania dalam hati.
Bagaimana mungkin ini nyata. Bagaimana bisa, laki-laki yang telah sangat lama kucintai menyatakan rasa cintanya padaku. Aku bahkan selama ini memendam cinta itu dalam diam. Bearkah ini kenyataan. Aku takut semua ini hanya mimpi, dan ketika aku terbangun, maka menghilang ibarat angin. Rania bermonolog sendiri. Masih tidak mempercayai semuanya.
"Nia, boleh abang meminta jawabanmu?" tanya bang Fakhri dengan lembut.
Rania masih terdiam. Kalu mau kejujurannya, Rania akan langsung mengutarakan perasaannya. Cintanya selama ini kepada bang Fakhri akhirnya berbalas. Sungguh Rania bahagia ternyata cintanya kini tidaklah bertepuk sebelah tangan saja.
"Nia.....," tegur bang Fakhri kembali ketika sedari tadi Rania sama sekali tidak merespon perkataannya.
"Abang mengatakan jujur perasaan abang padamu untuk memperjelas keseriusan abang. Abang tidak berniat mengajakmu untuk berpacaran, karena memang tidak ada istilah pacaran dalam agama kita," terang bang Fakhri.
"Jika Nia setuju, mari kita menjalani taaruf. Lewat masa taaruf, kita bisa gali sebanyak mungkin informasi tentang abang dan Nia masing-masing. Baik hobi, sifat, kondisi kesehatan, impian dan sebagainya. Hanya saja memang prosesnya harus syar'i yaitu dengan didampingi perantara atau mahram. Intinya sih saling mengenal tanpa interaksi berlebihan," ujar bang Fakhri kembali dengan jelas.
Rania sendiri belum mampu untuk berkata apa-apa. Sedari tadi dia hanya bengong, tidak mempercayai pendengarannya.
Kini saat bang Fakhri yang malah menyatakan perasaannya. Rania yang sesungguhnya merasa bahagia, malah meragu, takut dan tidak percaya. Benarkah ini nyata. Atau abang ustad memang sudah seharusnya menikah karena usianya yang matang, hingga akhirnya menjatuhkan pilihan acak padaku, sekelebat fikiran buruk kini menggelayuti hati Rania.
Astahfirullah. Rania berucap istighfar dalam hati menyadari fikiran buruknya barusan yang sudah bersuudzon pada bang Fakhri.
"Taaruf hanya proses untuk kita lebih mengenal karakter masing-masing. Setelah abang akan bicara pada umi dan abi agar mengkhitbahmu. Tidak berapa lama dari itu kita akan menikah. Biarlah nanti pacarannya setelah halal saja," bang Fakhri kembali menjelaskan dengan kelembutannya seperti biasa.
"Aa...a....apa benar abang mecintai Nia?" tanya Rania terbata pada akhirnya setelah cukup lama bungkam dan bicara dengan hatinya sendiri.
Rasanya Rania tidak mengerti jika bang Fakhri tidak mengetahui jika Rania sudah lama mengidolakan abang ustad. Rania mencintai ustad Fakhri sejak lama dulu, sejak masih jadi remaja tanggung.
Tapi sedari tadi bang Fakhri tidak pernah menanyakan hal itu pada Rania. Bang Fakhri tidak sedikitpun mencela tentang perasaan cintanya itu. Bahkan sedari tadi bang ustad tidak terdengar membahasnya.
Bang Fakhri sedari tadi hanya bicara perasaannya saja. Keputusan untuk bertaaruf dan mengkhitbahnya. Serius menikah dan mengajak berpacaran setelah halal.
Rania masih bingung. Rasanya tidak mungkin jika tidak mengetahui tentang dirinya juga perasaan cintanya sedari dulu itu. Mengingat Andi, yang sahabatnya itu notabene adalah adik angkat bang Fakhri.
Dan Fakhri sendiri sesunghuhnya memang tidak berniat membicarakan perasaan Rania. Fakhri cukup tahu dan menyimpannya saja. Fakhri tidak ingin, sebagai seorang wanita, Rania merasa malu dan tidak enak karena perasaannya yang jauh lebih dulu mencintai ketimbang Fakhri.
__ADS_1
Mengetahui bahwa gadis cantik berkulit putih itu mempunyai perasaan yang sama dengan yang tengah dirasakannya, itu saja sudah cukup bagi bang Fakhri. Cukuplah gadis itu mengetahui bahwa sesungguhnya Fakhri yang menyukainya. Hingga hatinya akan bahagia menyadari bahwa perasaannya selama ini tidaklah bertepuk sebelah tangan. Laki-laki yang disukainya ini juga mencintainya.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Hiiii readersku tercintahh😗😙😚
Makasih banget yang udah Vote, Like & Coment.
Silahkan readersku tercintahhh bisa coment apapun🙏🏻
Don't worry......Authornya nggak baperan kok🤭😁✌🏻
Maaf banget juga, bukannya Author nggak mau update rutin🙏🏻
Coz selain hidup dalam dunia novel dan halu. Author juga hidup di dunia nyata dengan segala aktifitas yang nggak bisa di tinggalin🙏🏻✌🏻
Tapi Author akan berusaha update rutin jika Vote, Like, Favorit makin bertambah🙏🏻✌🏻😊
Mohon tetap setia pada Rania & Fakhri ya readers tercintahhh🙏🏻😚
Ayo dong kalau suka ceritanya👌👍🏻
Jangan pelit untuk kasih Vote, Favorit, Like & Comentnya untuk Author🙏🏻
Karena itu akan sangat berpengaruh pada Level novelnya Author.....pleaseee🙏🏻🙏🏻🙏🏻
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Love
Author Kesayanganmu 😗😙😚
WCU
__ADS_1