
Bang Fakhri melepaskan pelukannya perlahan. Menatap wajah cantik istri tercintanya itu. Kemudian mengangkat kembali dagu Rania saat gadis itu mulai menunduk kembali.
Cup.
Seketika Rania merasakan benda kenyal itu menyentuh bibirnya. Rasanya begitu empuk. Kecupan sekilas yang mampu membuat Rania semakin terdiam mematung.
Bang Fakhri bisa merasakan keterkejutan Rania, gadis itu makin terdiam kaku. Setelah beberapa detik menatap lekat Rania. Kemudian bang Fakhri kembali memajukan wajahnya. Menempelkan kembali bongkahan lembut mereka berdua. Awalnya hanya ciuman sekilas, lama kelamaan ciuman itu sudah menjadi ******* dan sesapan. Bang Fahri bahkan menahan tengkuk belakang Rania untuk lebih memperdalam ciumannya.
Rania yang memang belum pernah berciuman hanya bisa pasrah. Menikmati saja tiap sesapan dan ******* bang Fakhri di bibirnya. Tidak dipungkiri Rania juga menikmati ciuman yang sudah mulai memburu itu.
Bang Fakhri terus saja melakukan aksinya, makin memperdalam ciumannya seakan dirinya adalah seorang pria yang sangat berpengalaman. Bukan karena bang Fakhri sudah pernah berciuman, tapi nalurinya sebagai seorang laki-lakilah yang membawanya menunjukkan sisi kelaki-lakianya.
Bang Fakhri melepaskan pertautan bibir keduanya, setelah mereka kehabisan oksigen untuk bernafas. Dengan nafas yang mulai memburu, baik bang Fakhri maupun Rania segera menarik nafas dalam mengisi rongga paru-paru keduanya.
Bismillah.
Allahumma jannibnaasy syaithoona wa jannibisy syaithoona maa rozaqtanaa.
Dengan menyebut nama Allah.
Ya Allah, jauhkanlah aku dari syaitan dan jauhkanlah syaitan dari anak yang akan Engkau karuniakan kepada kami.
Bang Fahkri mencium pucuk kepala Rania. Kemudian melafaskan doa, sebelum memulai aktifitas halal suami istri mereka. Merengkuh secara bersama kenikmatan akan indahnya surga dunia. Raniapun memejamkan matanya dan melafaskan doa yang sama.
Sesaat bang Fakhri melapaskan diri dan menjauhkan dirinya dari Rania. Lalu berdiri, melepaskan kaos rumahan yang melekat di tubuhnya. Seketika tubuh Rania menegang, degup jantungnya makin meningkat berkali lipat.
Matanya melotot sempurna dengan mulut yang sedikit menganga.
Rania menelan salivanya yang mulai mengering. Bagaimana bisa body si abang begitu six pack. Barisan roti sobek yang berderet di perutnya, dan otot dada serta pinggangnya si abang, persis banget sama gambaran dalam novel-novel online yang sering Rania dan mbak Sinta baca.
Jangan lupakan punggung kokoh dan kekar itu juga. Seketika mata Rania turun ke bagian bawah lagi dari bongkahan-bongkahan otot kenyal yang bak roti sobek itu.
"Astagfirullah," seketika Rania menutup kedua matanya dengan tangan.
Keremangan kini melingkupinya.
Apakah malam ini akan terjadi akhirnya, desah Rania sendiri dalam hati.
Bang Fakhri menarik kedua tangan Rania, meletakkan kedua tangan Rania di dadanya. Tangan itu menyentuh dengan gugup sesuatu yang tadi membuta matanya melotot tanpa berkedip. Kemudian bang Fakhri mencium pucuk kepala Rania lembut dan dalam. Lalu mengucap basmallah dan membaca doa.
"Bismillahirohmanirohim
Allahummaj'alhu dzurriyyatan thayyibah in qaddarta an takhruja min shulbi. Allahumma jannibnis syaithana wa jannibis syaithana ma razaqtani.
Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung.
Tuhanku, jadikanlah ia keturunan yang baik bila Kau takdirkan ia keluar dari tulang punggungku. Tuhanku, jauhkan aku dari setan, dan jauhkan setan dari benih janin yang Kauanugerahkan padaku."
Rania memejamkan matanya. Kemudian membaca doa yang sama seperti bang Fakhri.
__ADS_1
Ciuman bang Fakhri kini telah pindah ke wajah Rania, Menciumi lembut mata, hidung, pipi dan berakhir pada bibir mungil pink merekah milik Rania. Ciuman penuh kelembutan yang seketika membuat Rania membuka matanya. Bang Fakhri menghentikan ciumannya, lalu keduanya saling bertatapan sebentar. Karena sesaat kemudian dua benda kenyal tersebut telah saling menyatu kembali. Ciuman yang awalnya lembut kini berubah semakin mendalam, meluap bersama deru nafas keduanya yang makin meningkat.
Keduanya baru berhenti untuk mengisi oksigen kembali masuk dalam paru-paru mereka.
"Kamu benar-benar siap dek?" tanya bang Fakhri kembali dengan nafas yang sudah memburu dan mata yang telah berkabut.
Rania menganggukkan kepalanya lemah. Masih merasakan bibirnya yang seperti membengkak selepas ciuman memburu mereka tadi. Tapi tidak dapat dipungkiri, rasa nikmatpun telah merasuki otak Rania kini.
Begitu anggukkan tanda setuju Rania berikan. Bang Fakhri segera melucuti pakaian keduanya dengan sedikit malu-malu. Bahkan Rania berusaha terus berusaha menutupi tubuh polosnya dengan kedua tangannya.
Bang Fakhri memberikan sentuhan-sentuhan lembutnya sebelum memulai penyatuan mereka, agar Rania merasakan rileks tanpa beban.
Bang Fakhri melihat air mata yang lolos dari netra cantiknya itu. Dia tahu ini adalah pengalaman pertama Rania. Bagaimana rasa sakit yang mendera ketika selaput darah keperawanan itu terobek.
Bang Fakhri mengusap lembut kepala Rania, menatap wajah cantik di bawahnya yang sudah memerah padam, berkeringat dan begitu kesakitan, air mata di sudut mata Rania yang mengembang menandakan perasaan itu.
"Maaf sayang, abang janji akan melakukannya dengan lembut," ujar bang Fakhri lalu kembali mencium lembut bibir Rania.
Membuai gadis itu agar sedikit meredakan rasa sakit yang menderanya di bawah sana. Andai Rania tahu, bang Fakhripun sedikit kesulitan. Menerobos makhkota indah yang alhamdulillah, dijaga baik istrinya itu. Hanya untuk diberikan pada dirinya, laki-laki pertama sekaligus suami.
Bang Fakhri harus membagi, antara nafsunya sendiri, juga memikirkan cara agar bisa memberikan rangsangan dan kelembutan yang bisa mengaburkan rasa sakit itu.
"Sabar sayang.....," ucap bang Fakhri kembali di telinga Rania.
Sementara gadis itu hanya bisa memejamkan mata sambil menggit bibir bawahnya, menahan agar suaranya tidak sampai terdengar.
Hingga akhirnya makhota terjaga itu robek sudah. Semua sudah sempurna berada pada tempatnya. Rasa sakit itupun akhirnya hanya menyisakan gelejar nikmat yang semakin memacu andrenalin.
"Bang.......," akhirnya suara cantiknya lolos juga, walaupun hanya sekedar menyebut kata abang.
"Jika malu, adek bisa membisikkan saja nama abang di telinga," ujar bang Fakhri dengan suara parau, di sela terus melakukan kegiatan surga dunia yang makin memabukkannya itu.
Selanjutnya hanya bisikkkan lembut yang terdengar indah di telinga keduanya, saat gelombang dasyat seakan memacu tubuh mereka. Bisikkan-bisikkan yang terdengar indah saat memanggil nama pasangan masing-masing, makin sering terdengar di telinga keduanya seiring tiap gerakan dan deru nafas yang tercipta.
Beginilah mungkin percintaan yang paling sopan yang pernah terjadi. Bang Fakhri kini telah menjadi pemilik utuh jiwa dan raga gadis yang telah lama diam-diam mencintainya itu. Gadis yang sudah menjadi teman hidupnya kini, nanti dan selamanya. InsyaAllah sehidup sesurga.
Di tengah kegiatan indah tercipta rasa bersyukur yang dalam yang dirasakan bang Fakhri. Begitupun juga dengan Rania, akhirnya dia menyerahkan jiwa raganya utuh kepada pemilik hati yang ada di hadapannya ini.
"Allahummaj'alnuthfatanaa dzurriyyatan thayyibah"
Ya Allah jadikanlah nutfah kami ini menjadi keturunan yang baik (saleh)," ucap bang Fakhri kembali di pucuk kepala Rania.
"Ammiin.....," gumam Rania dengan nafas yang sudah naik turun kelelahan.
Setelah hampir satu jam lebih akhirnya kegiatan indah itu berakhir juga.
"Makasih sayang," bang Fakhri kembali mencium pucuk kepala Rania lembut.
"Abang mencintaimu karena Allah," ucap bang Fakhri kembali, kemudian mencium lembut bibir manis Rania kembali.
__ADS_1
Rania hanya membuka matanya sebentar dan tersenyum.
"Terimakasih bang. Terimakasih akhirnya menerima cinta ini," ucap Rania dalam hati.
Ahhh....Rania, kenapa begitu sulitnya untuk berkata langsung daripada selalu menyimpannya saja sendiri di dalam hati.
Rania mengambil selimut dan menutupi tubuh polos keduanya. Dia masih merasa malu, belum terbiasa dalam keadaan polos di hadapan abang ustad. Tersenyum manis demgan wajah memerah malu. Tidak berapa lama kemudian mata Rania sudah terpejam. Rasa lelah membuat Rania sangat mengantuk.
Bang ustad hanya tersenyum melihat tingkah istrinya. Sepertinya hari-hari yang dilaluinya ke depan akan sama menggemaskannya dengan tingkah istrinya itu.
Bang Fakhri menarik Rania yang telah terlelap lebih dahulu. Menarik tubuh yang masih dalam keadaan polos itu merapat ke dadanya. Kemudian ikut tertidur dengan Rania dalam pelukannya.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Cieee🤭😁
Akhirnya bakalan otw nih bang ustad junior atau Nia junior nih🤣😂😜😛
Author deg-deg ser nulis kisah MPnya si abang ustad ganteng.
Serba salah dah✌
Terlalu hot nggak etis sama si abang ustad. Tapi jika nggak ada percikan-percikan aroma kenikmatannya serasa bukan MP yakk🤣😂🤣😁🤭😜😛
Timbal baliknya dong readersku tercintahh🙏🏼🙏🏼
Kalau mau othor semangat nulisnya
Jangan pelit🙌
Untuk kasih Vote
Untuk Favorit ❤
Untuk kasih Like👍
Agar novelnya author juga bisa naik peringkat🙏🏼
Agar novelnya author juga masuk rating🙏🏼
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Love😗😘
__ADS_1
Autor Kesayanganmu
WCU