Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Rara Akhirnya Terpaksa Menyerah


__ADS_3

"Ndi, benar berita yang kudengar?" tanya Rara ketika mereka bertemu siang ini.


"Berita apa memangnya yang kau dengar," jawab Andi berpura-pura tidak tahu.


Rara menghela nafas dalam. Dia tahu Andi hanyalah berpura-pura. Dia pasti mengerti ke mana arah dari tujuan pertannyaan Rara padanya.


"Jadi akhirnya Rania yang mendapatkan cintanya bang Fakhri," gumam Rara tanpa menjawab pertanyaan Andi.


"Aku yang mati-matian mengejarnya. Aku yang berusaha keras memperjuangkan cinta bang Fakhri. Aku yang bahkan sampai merelakan memilih pekerjaan yang sama hanya karena untuk mengejarnya. Aku yang mengorbankan semua keinginan dan cita-citaku. Tapi gadis lain yang mendapatkan hasilnya tanpa perlu bersusah-susah," keluh Rara kembali.


Andi hanya diam saja. Sedari tadi dia hanya menyediakan telinganya untuk mendengarkan Rara berkeluh kesah.


Andi ikut merasakan pedih. Bukan karena sedih akan perasaan cinta tak berbalas gadis itu pada bang Fakhri.


Lebih ke rasa sakit yang menusuk hatinya, menyaksikan seseorang yang sesungguhnya di sukainya, menangis merasakan sakit, bahkan menderita demi laki-laki lain.


Percayalah perasaan seperti itu jauh lebih menyesakkan. Andai bisa membahagiakannya. Andai bisa merubah rasa yang terpatri di hatinya itu. Percayalah Andi pasti sudah melakukannya sedari dulu. Sebelum perasaan cinta itu kini akhirnya menyakiti Rara jauh lebih dalam.


Andi kembali menatap wajah cantik di hadapannya. Kedua alisnya menaut, keningnya berkerut. Ada yang berbeda dari tampilan Rara kali ini.


Yah. Rara terlihat berbeda kali ini di mata Andi. Entah apa yang membuat Rara berbeda. Tapi dari pandangan Andi, Rara terlihat tidak seperti biasanya.


Gadis itu kali ini tampil apa adanya. Tanpa make up tebal yang setiap hari dikenakannya. Dan juga dengan setelan santai ala anak muda seumurannya.


Dan Rara malah terlihat lebih cantik dan alami. Gadis itu benar menjelma menjadi seperti orang lain. Rara terlihat seperti bukan dirinya.


"Sesuatu yang memang tidak ditakdirkan untuk kita. Seberapa kerasnyapun kita kejar, pasti akan terlepas juga," ujar Andi akhirnya.


"Pun sebaliknya, jika memang ditakdirkan untuk kita. Allah akan selalu punya jalannya sendiri untuk menyatukan takdir tersebut," kembali Andi berujar.


"Jangan menyakiti diri sendiri, dengan berusaha berubah, agar cinta itu bisa dimilikì. Sesuatu yang dipaksakan akan berakhir tidak baik nantinya," nasehat Andi kembali.


Rara terdiam. Hatinya terasa amat sakit. Antara perasaan kecewa sekaligus terluka, karena menyaksikan jika cinta yang sangat diimpikannya ini kini benar-benar telah berlari dari dirinya. Cinta satu-satunya yang diyakini Rara dalam hatinya. Ternyata cinta itulah yang menyakitinya dengan sangat dalam.


Tetapi rasa perih di hatinya makin terasa, saat akhirnya menyadari bahwa dia telah melakukan apapun, mengorbankan semuanya demi mendapatkan cinta itu. Membuat dada Rara makin bertambah sesak. Air bening itu sudah terjun bebas begitu saja membasahi pipi putih mulusnya.


Beruntung kedua orang tuanya membekalinya dengan iman yang kuat, sandaran agama yang kokoh. Jadi meskipun melakukan banyak kebodohan diatas namakan oleh cinta. Rara mampu menjaga marwahnya sebagai seorang wanita. Rara masih menjaga harkat juga martabatnya sebagai seorang muslimah.

__ADS_1


"Aku ingin bertemu Rania Ndi," tiba-tiba saja Rara berujar dengan sudah mulai terisak.


Andi menatap heran gadis di hadapannya ini. Mengerutkan kedua alisnya. Memikirkan kemungkinan terburuk yang akan dilakukan Rara dengan menginginkan untuk bertemu dengan Rania.


Rania. Gadis itu saat ini bukan hanya sekedar teman mereka berdua. Rania adalah calon istri bang Fakhri. Gadis itu calon bidadari surganya abang ustad. Lalu bagaimana mungkin Andi membiarkan saja hal buruk yang akan menimpanya, jika keduanya bertemu.


Bukan tanpa alasan jika Andi berfikir demikian. Selama ini, sudah begitu banyak hal yang dilakukan Rara, bukan hanya pada Rania, tapi jua gadis-gadis lainnya yang mencoba dekat dengan bang Fakhri. Obsesi Rara pada sang ustad idolanya itu, bahkan membuatnya bertindak di luar logika. Walaupun tindakannya tersebut tidak sampai melakukan kekerasaan fisik dan mencelakai orang lain. Tetapi tetap saja semua hal yang dilakukan Rara tidak bisa dibenarkan.


"Aku hanya ingin bicara dan meminta maaf," ujar Rara kembali seolah tahu apa yang kini berada pada isi kepala Andi.


"Aku tahu, isi kepalamu pasti sudah berfikiran buruk kan Ndi. Jangan khawatir, aku hanya ingin meminta maaf atas kelakuanku pada Rania selama ini. Aku sadar banyak hal buruk yang telah kuperbuat pada Rania. Berkata kasar bahkan mengancamnyapun sudah pernah kulakukan."


Rara kembali berujar pada Andi seakan memupus kecurigaan laki-laki di hadapannya ini, yang tampak menatapnya bukan hanya penuh curiga juga selidik, tapi seperti prihatin sekaligus miris.


Andi kembali makin terdiam. Tapi hatinya terasa menghangat. Akhirnya gadis cantik di hadapannya ini menyadari kesalahannya selama ini. Akhirnya Rara bisa legowo, membiarkan bang ustad bersama pilihan hatinya.


Bahwa cinta memang tidak bisa dipaksakan. Bahwa perasaan tidak akan pernah bisa berbohong. Berusaha sekeras apapun, jika memang tidak ditakdirkan bersama, semua akan menjadi percuma.


Akan ada saatnya nanti, hati menetap pada satu pilihan hati. Dan kali ini hati abang ustad sudah memutuskan. Ternyata nama bang Fakhri dan Ranialah yang tertulis pada catatan takdir dalam kitab di Lauhul Mahfudz.


"Terima kasih Ndi. Kamu memang sahabat terbaik," balas Rara tersenyum tulus.


Entah mengapa senyum itu membuat Rara berkali lipat bertambah cantik di mata Andi.


"Tapi aku ingin lebih dari sekedar sahabat Ra....," balas Andi ragu.


Rara menatap Andi dengan bingung. Apa maksud omongan Andi barusan, fikir Rara. Tapi karena gadis cantik itu lagi dalam mode patah hati. Omongan Andipun hanya dianggapnya angin lalu aja.


Dan Andipun tidak berniat untuk menjelaskan lebih perasaan sesungguhnya yang dirasakannya pada Rara. Andi tidak ingin dianggap mengambil kesempatan ketika gadis itu tengah labil.


Bukankah orang yang sedang patah hati, terluka hatinya, akan sangat mudah untuk di sentuh. Dia membutuhkan pelarian dari rasa sakit itu. Akan mudah bagi Andi untuk melesat masuk, mengisi kekosongan hati yang tengah terluka.


Menawarkan perasaan baru yang akan memupus rasa cinta yang sakit. Rasa sakit yang menyesakkan dada akan membuat hati yang kosong, kecewa dan terluka itu akan dengan mudahnya untuk menerima uluran cinta baru. Cinta yang berharap dapat membalut luka dan mengobati sakitnya.


Tapi Andi tidak menginginkan itu. Andi tidak mau cintanya hanya sebagai pelarian saja, dari rasa kecewa dan terluka yang saat ini tengah dirasakan Rara.


Andi ingin Rara merasakan ketulusan cintanya untuk gadis itu. Andi ingin perlahan-lahan Rara menyadari bahwa ada seseorang yang mencintainya dengan tulus. Seseorang yang tidak pernah dipandangnya karena pandangannya telah tertutup oleh obsesinya pada cinta seorang bang Fakhri.

__ADS_1


Andi memanglah tidak seimbang jika harus dibandingkan sang ustad idolanya itu. Kakak angkat sekaligus sahabat terbaiknya. Teman terdekat rasa keluarga itu. Tapi Andi yakin perasaan dan cintanya yang tulus jauh melebihi perasaan Rara sendiri pada sang ustad


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Hiiii readersku tercintahh😗😙😚


Maaf banget🙏 Author baru bisa update kembali🙏


Karena di titipin anak adik karena masuk rumah sakit. Lalu ibu pula yang sakit😓😭🙏 Kemudian authorpun jatuh sakit karena kecapekan😭🙏


Alhamdulillah saat ini semua sudah dalam keadaan sehat walafiat🙏


Tetapi dua novel author akhirnya di turunkan levelnya satu peringkat oleh pihak Mangatoon karena terlalu lama tidak update😭😭😭


Semoga author selalu sehat🤲


Hingga bisa update rutin kembali🙏


Mohon jangan lupa Vote, Like, Favorit & juga coment tuk Author.


Agar peringkat level bisa naik kembali🙏


Makasih readers tercintah yang tetap setia pada Rania & Fakhri🙏🏻😚


Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻


Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻




Love


Author Kesayanganmu 😗😙😚


WCU

__ADS_1


__ADS_2