
Hi readersku tercintahh🤩😍
Sebelum baca
Pastiin udah
👇
Vote
Love
Like
Rate5
Kasih Bonus
Semoga Othor bisa update rutin setiap hari💪💪🤗
Love All
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
"Bang, kita nggak ke rumah Abi dan Umi. Katanya Rey pulang hari ini?" tanya Rania pada bang Fakhri.
"Nggak usah sayang. Nanti kita undang Rey aja ke rumah," jawab bang Fakhri lugas.
Hubungan Rania dan Reyhan memang sudah membaik. Rey sudah menerima jika Rania adalah kakak iparnya. Kedua ingin tetap baik seperti sebelumya, sebelum kata cinta itu menyapa hati mereka.
"Tapi nanti nggak enak bang. Bukannya setiap Rey kembali, kita selalu kumpul keluarga di rumah Umi dan Abi," Rania kembali bersikeras.
"Kakek masih menginap sayang. Abang tidak ingin kembali memulai keributan. Abang tidak ingin kakek terus menekan kita," jelas Fakhri pada Rania.
"Nia nggak apa-apa bang. Kalau itu yang abang khawatirkan. Nia malah khawatir ketidakhadiran kita akan makin memperkeruh kondisi, dan malah makin menyulut emosi kakek," ujar Nia mencoba menjelaskan.
"Bukan karakter abang yang pemarah seperti ini," Rania masih berusaha membujuk suaminya.
Astagfirullah.....Astagfirullah.....Astagfirullah......bang Fakhri mengucap istigfar dalam hatinya. Menghela nafas, berusaha memendam emosi yang semakin sering sedikit teraulut.
"Baiklah sayang, jika memang bisa memaklumi semuanya.
Dan di sinilah, di rumah Umi dan Abi. Dan Reyhan sudah dengan gagahnya duduk di tengah-tengah keluarganya.
__ADS_1
"Rey, belum ada niatkah untuk menikah?" tanya kakek tanpa basa basi.
"Aku masih mencari gadis yang cocok kek," balas Reyhan santai.
Dibanding sang abang. Reyhan memang lebih dekat dengan sang kakek. Karena karakter Reyhan yang memang berbandik terbalik dengan sang abang.
Jika bang Fakhri cenderung pendiam, cool dan dingin. Maka Reyhan adalah kebaliknya, sosoknya ramah, pandai bergaul dan menyebangkan.
"Apa kakek yang harus mencarikanmu jodoh?" tanya sang kakek kembali dengan tersenyum.
"Ayolah kek. Aku bisa mencari wanitaku sendiri," balas Reyhan sambil tertawa menjawab sang kakek.
"Tapi buktinya belum ada satu wanitapun yang kau bawa ke hadapan kakekmu ini," balas kalek mulai tidak mau mengalah.
"Come on kek. Jangan menjatuhkan imageku sebagai seorang tentara tampan di depan keluargaku sendiri," ujarnya lagi menjawab sang kakek dengan manja.
"Lihatlah, tingkah manjamu sendiri yang membuat tentara yang katanya tampan ini tetap saja menjadi cucu terkecilku," balaa kakek tertawa kecil.
Dan semua keluargamu ikut tertawa. Reyhan memang selalu pembawa keceriaan di tengah keluarga. Rey sepertinya juga sudah melupakan semuanya. Dan kembali ke sifat asalnya, yang periang, ramah dan menyenangkan.
Rania sedikit tertegun. Dia tidak mengira, ternyata sang kakek bisa tersenyum juga, bahkan bercanda bersama Reyhan.
"Apa kalian menginap di sini sayang?" tanya umi bang Fakhri pada Rania.
Seakan mengerti arah lirikan istrinya, bang Fakhri hanya menganggukkan kepalanya dan tersenyum tipis.
Lalu mengalirlah cerita dari bibir Reyhan, mengenai tugas yang diembannya sebagai seorang tentara. Bagaimana lika likunya menghadapi keadaan genting di tengah menjaga keamanan nasional dan internasional.
"Ahhh, dia memang tentara tampan umi," jawab umi menatap putra bungsu kesayangannya itu.
Dan Reyhan serta merta memeluk uminya yang sangat cengeng itu. Lihat saja matanya bahkan sudah memerah, air mata sudah menggenang di pelupuk matanya.
"Ayolah umi. Lihat Rey baik-baik saja, dan bisa menjaga diri. Rey yakin doa Umi dan keluarga akan menjaga Rey dimanapun Rey bertugas nanti," Reyhan melepaskan pelukannya dan memghapus air mata di pipi Uminya tersayang.
"Uminya ini, selalu saja masih menganggap Rey anak kecil nik," adu Rey pada sang nenek yang sedari tadi juga menatapnya penuh rindu.
Nenek dan kakek memang jarang sekali bertemu Rey karena pekerjaan dan tugasnya sebagai tentara yang selalu tidak bisa mempunyai waktu yang sama dengan yang lain. Saat keluarganya berkumpul, Rey tengah bertugas. Saat dirinya libur, nenek dan kakeknya berada di daerah tempat tinggalnya.
"Kau bukan hanya putra kecilnya menantu nenek, kau juga cucu kecilku nak," balas nenek mengusap kepala sang cucu.
Dan Rey akhirnya hanya bisa menyerah. Beginilah resikonya menjadi putra bungsu, apalagi nenek dan kakek hanya mempunyai abinya saja. Otomatis cucu mereka hanya dirinya dan sang abang.
Untungnya Umi berempat saudara, masih ada anak-anak om-om dan tantenya, jika tidak bisa dipastikan, dirinya sang tentara tampan ini akan menjadi rebutan kedua kakek dan nenek mereka.
__ADS_1
"Jadi bagaimana dengan tawaran kakek Rey. Cucu Haji Kosim tidak masalah jika memjadi istri kedua," tiba-tiba kakek kembali memulai.
Wajah bang Fakhri yang semula tenang langsung berubah tegang. Ditatapnya Rania dalam, seakan mengisyaratkan kebenarannya untuk tidak berada di sini, ketika pagi tadi menolak ajakan Rania untuk datang ke rumah orang tuanya. Bahkan istrinya itu telah mengiyakan permintaan uminya untuk menginap.
"Maaf kek. Fahkri sudah bosan mengatakannya pada kakek. Kali ini abang tegaskan sekali lagi. Apapun yang terjadi pada Rania, meski kami tidak punya anak sekalipun. Fakhri akan setia berada di sisinya. Tidak wanita lain lagi di sisi abang," Fakhri tetap bicara dengan sopan namun tegas.
Reyhan yang mendengar pembicaraan kakek dan abangnya tampak mengerutkan alisnya bingung.
Ada apa? Apa maksud dari perkataan abangnya.
Dan ini menyangkut Rania, gadis yang pernah dicintainya. Walaupun kini hatinya sudah menerima dan ikhlas. Tapi tetap saja, semua hal yang berhubungan dengan Rania akan membuatnya ingin tahu.
Reyhan menarik tangan uminya lembut, menuju ruangan lain, setelah dilihatnya sang kakek masih berbicara keras dan ngotot kepada abangnya itu.
"Umi, ada masalah apa?" tanya Reyhan to do point pada Uminya.
Reyhan benar-benar tidak tahu permasalahannya, dan bingung dengan pembicaraan yang di dengarnya dari mulut sang kakek, juga bantahan dari abangnya. Reyhan sempat melirik Rania, gadis itu hanya menunduk dan terdiam. Reyhan sangat mengenal sifatnya yang pendiam dan pemalu. Tidak akan ada yang dilakukan gadis itu.
"Kakekmu meminta abangmu berpoligami," jawab Umi menghela nafas berat.
"What?" Reyhan berteriak kaget.
"Apa kakek sudah gila. Apa maksudnya dengan meminta abang berpoligami?" tanyanya kembali pada sang Umi.
"Karena sudah satu tahun pernikahan mereka, Rania belum juga kunjung hamil, itulah kenapa kakek mengajukan penawaran pada abangmu," jelas Umi kembali.
"Kakek itu seorang kyai. Apa kurang faham dengan ajaran agama. Anak itu rezeki dari Allah. Jika Allah memang belum memberikannya, kita sebagai manusia bisa apa Umi," ujar Reyhan dengan kelas.
"Justru karena kakekmu faham agama, beliau meminta abang berpoligami. Karena memang agama memperbolehkan bagi laki-laki untuk menikah lebih dari satu kali," jawab Umi pada Reyhan.
"Tapi jika abang menginginkannya. Yang Rey dengar tadi abang mati-matian menolak. Lagian mereka baru menikah satu tahun, mungkin saja Allah baru memberikan anak di pernikahan yang kedua atau ketiga tahun nanti," jawab Reyhan.
"Kau tahu sendiri bagaimana keras kepalanya kakekmu itu. Beliau takut tidak sempat melihat cicitnya karena usis yang sudah tua," jawab Umi kembali mendesah nafas kasar.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil untuk cek novel Author yg lain🙏🏻🙏
Author Kesayanganmu😘😘
WCU
__ADS_1