Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Semesta Yang Bicara


__ADS_3

"Bang......," panggil Rara beberapa saat setelah pesanan minuman mereka tersaji.


Fakhri menatap gadis di hadapannya ini. Pada dasarnya Rara itu cantik. Tapi make up tebal yang biasa dikenakannya menutupi kecantikan alaminya yang pada dasarnya memang cantik. Dan dia juga terlalu agresif.


Fakhri lebih menyukai kecantikan alami seorang wanita. Yang berdandan seadanya, tanpa menutupi kecantikan aslinya. Wajah cantik yang selalu tersiram air wudhu, tentu memancarkan kecantikan alami yang akan menggetarkan hati. Sikap lembut dan santunnya yang lebih dominan.


"Bang Fakhri tentu tahu kan, kalau Ra mencintai abang sejak dulu," ujar Rara memulai pembicaraan.


Fakhri terdiam. Iya, bagaimama bisa Fakhri tidak mengetahuinya. Jika secara lantang Rara berulang kali terang-terangan mengatakan cintanya. Bahkan banyak tingkah absolute yang dilakukan Rara untuk menunjukkan perasaannya itu secara agresif.


Fakhri menghela nafas dalam sebelum menghembuskannya kemudian.


"Bukankah abang juga sering mengatakan pada Rara, abang mengangap Rara sebagai adik abang," ujar Fahri memjelaskan dengan pelan dan sangat lembut.


"Tapi Rara nggak mau jadi adik abang. Rara mau abang menganggap Rara sebagai seorang wanita. Wanita dewasa yang memcintai abang," tegas Rara tidak terima.


"Maaf abang Ra. Perasaan itu sama sekali tidak bisa dipaksa," elak Fakhri kembali.


Rara menatap Fakhri lekat.


"Apa kurangnya Rara. Abang harus tahu, bahkan.Rara belajar mati-matian hanya agar bisa dekat dengan abang. Rara giat dan memutuskan jadi dosen hanya karena abang berada di kampus itu," jelas Rara kembali berusaha mencari simpati.


"Jangan berubah hanya karena orang lain. Jangan menjadi baik cuma karena ingin simpati," ujar Fakhri kembali sedikit tegas.


"Abang juga belum punya kekasih. Abang tidak menjalin hubungan dekat dengan siapapun. Jadi tidak salah jika Rara mengejar abang," gadis itu tetap saja ngotot dengan keputusannya.


Fakhri kembali menarik nafas dalam, kali ini dihembuskannya dengan sedikit kasar.

__ADS_1


"Abang pernah mengatakan bukan, bahwa tidak ada istilah pacaran dalam islam. Jadi abang tidak mungkin dekat dengan gadis manapun. Bahkan ini kali pertamanya abang berdua saja dengan seorang gadis, biasanya abang selalu mengajak Andi," jelas Fakhri kembali dengan sopan dan lembut.


Bagaimana bisa aku tidak makin mencintaimu bang. Bahkan dengan sikapku ini kau masih berbicara begitu santun dan lembut. Apa cinta bisa salah bang, bisik hati Rara kembali.


"Lalu bagaimana Rara harus memutuskan menyerah, jika Rara fikir akan selalu ada peluang masuk ke dalam hati abang. Mungkin saat ini abang hanya menganggap Rara adik. Tapi tidak ada yang perasaan apa yang timbul nanti ke depannya. Hanya Allah kan bang yang bisa membolak balikkan hati manusia," Rara menjelaskan pemikirannya.


Hufft.....Akan sulit menasehati gadis ini, fikir Fakhri.


"Abi sudah mentaarufkan seorang gadis untuk abang. Gadìs itu anak sahabat Abinya abang. Walaupun abang belum memutuskan permintaan Abi. Tapi seorang anak abang tentu akan memoertimbangkan keinginannya," jelas Fakhri pada akhirnya.


Fakhri berharapa Rara akan mengerti. Memutuskan untuk tidak lagi terus mengganggunya, gadis itu juga berhak bahagia. Mencintai laki-laki yang juga mencintainya.


Degg. Dada Rara seakan dihantam benda keras. Pertama kalinya Fakhri mengingatkannya. Kalau biasanya Fakhri membiarkan saja Rara. Tidak kali ini. Bang Fakhri sengaja mengakat pentaarufan ini agar Rara sadar dan menyerah. Agar Rara mengerti keputusan Fakhri. Tapi bukan Rara namanya jika langsung kalah dan terluka. Bahkan Rara mati-matian untuk tidak menangis. Meski matanya telah memerah, Rara mencegah agar bulir bening itu tidak jatuh.


Seketika Rara juga mengingat Rania.


"Andi pernah bilang kalau abang seperti menaruh hati pada Rania?" tanya Rara kembali pada Fakhri.


Kepolosan, kebaikan dan kelembutannya memang sedikit menyentuh hati Fakhri. Tapi Fakhri sendiri belum jelas dengan perasaannya.


"Abang tidak Ra. Abang hanya manusia biasa yang mempunyai keterbatasan. Pada siapa kelak akhirnya abang akan menyempurnakan ibadah abang, abang sendiri tidak ada kuasa di atasnya. Karena jodoh, maut, rezeki hanyalah milik Allah," jelas Fakhri kembali.


Lagi-lagi Rara terdiam. Jika tadi bang Fakhri terang-terangan menolaknya. Dan hanya menganggap Rara sebagai adik. Kali ini bang Fakhri malah tidak menyangkal ataupun mengiyakan. Rara yakin yang dikatakan Andi adalah benar. Tidak. Rara akan mencegah mereka agar tidak bisa dekat, tekat Rara membulat.


"Ayo kita kembali. Tidak baik laki-laki dan wanita berduaan saja cukup lama," ujar Fakhri kembali.


Tapi belum juga keduanya hendak beranjak. Fakhri dan Rara menoleh pada sosok tampan berkharisma yang memasuki cafe. Pengawalan dan sekretaris pribadi yang selalu di dekatnya, jelas menegaskan bahwa laki-laki ini bukan pria sembarangan.

__ADS_1


Direktur Reymond, gumam Fakhri.


Rarapun melihat ke arah yang sama. Wajahnya yang sedih sedari tadi jadi kembali tersenyum cerah.


Semesta ternyata masih berpihak padanya. Kebetulan yang sangat indah, gumam Rara.


Rara tahu laki-laki tampan penuh kharisma itu adalah bos Rania di kantornya. Rara juga tahu bahwa laki-laki keren itu mencintai Rania. Bahkan Rara sudah mendengar lamaran luar biasa si bos di tengah kemeriahan acara amal perusahaannya waktu itu. Rania benar-benar beruntung, dikejar mati-matian oleh laki-laki yang sangat sempurna.


Entah dari mana Rara mendapatkan beritanya. Gadis itu selalu saja tahu mengenai kehidupan Rania.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


Benar kata bang Fakhri. Jodoh, maut, Rezeki ada di tangan Allah🙏🏻🙏🏻


Tapi Rara fikir Author mau jodohin dia sama ustad Fakhri😁🤭😂😜✌


Hii readers tercintahh😚😘


Semoga bisa selalu up per hari🙏🏻✌😚😘


Jangan lupa Vote & Likenya yah readers tercintahhh🙏🏻🙏🏻



Novel Author yg lain👆


Baca juga kisah Nayna yang nggak kalah serunya sama kisah Rania✌

__ADS_1


Vote & Like juga yahh reader tercintahhh✌


Author kasih double kiss deh😗😙😚


__ADS_2