Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Poligami


__ADS_3

Sebelumnya Author minta untuk Klìk Vote & Favorit dong readers tercintahh🙏🏻🙏🏻


Coz akan sangat berpengaruh sama Level Novel Author🙏🏼✌🏻



Bang Fakhri tidak mau terlalu memaksakan kehendaknya mengajak Nia bertaaruf, mengkitbahnya untuk segera menikah.


Bang Fakhri membiarkan Nia menjalani hari-harinya.


Bukankah Rania telah cukup lama menunggu dan berkorban. Bertahan pada satu cinta meski hanya dalam diam. Kali ini giliran bang Fakhri yang menunggu. Mendamba dalam doa, meminta di ujung sajadah.


Tapi sebagai seorang laki-laki. Fakhri tidak mumgkin bersikap seperti Rania. Walau bagaimanapun, bang Fakhri harus berani bertindak. Menilik dari sikap pendiam Rania. Juga sifat dingin dan diamnya sendiri. Maka jika dibiarkan tanpa tindakan tegas, hubungan mereka dipastikan akan jalan di tempat. Tidak akan ada sedikitpun kemajuan sama sekali.


Maafkan abang Nia. Abang melakukan ini semua, sebagai bentuk keseriusan abang padamu, bisik hati bang Fakhri dalam.


Dan hari itupun tiba. Minggu cerah itu, Rania sudah berdandan cantik menuruti permintaan ayah dan ibunya.


Rania tidak bisa membantah dan menolak semua yang diperintahkan oleh ayah dan ibunya.


Bang Fakhri telah menemui kedua orang tua Rania. Hari ini bang Fakhri berencana hanya datang bersama omnya dan Andi saja. Bahkan niatnya mengajak Rania bertaaruf telah di sampaikan bang Fakhri pula kepada kedua orang tua Rania. Nanti jika Rania menyambut baik ajakannya, barulah bang Fakhri membawa umi dan abi untuk mengkhitbah Rania.


Dan sebagai orang tua, tentu saja Ayah dan juga ibu Rania menyambut bahagia dengan tangan terbuka kedatangan bang Fakhri. Orang tua mana yang tidak akan bahagia penuh suka cita. Jika ada seorang lelaki baik, berakhlak baik, santun, sopan, hormat kepada orang tua dan bertanggung jawab, berniat melamar putri tercintanya. Menyampaikan niat baiknya untuk saling berkenalan lewat taaruf, sebelum akhirnya mengkhitbah dan melaksanakan pernikahan suci di mata Allah.


Lalu apa yang kurang dari kelanjutan pembicaan hubungan ini. Jika sejujurnya putri mereka malah jauh lebih dulu mencintai laki-laki ini. Bukankah itu jodoh namanya. Bertahun-tahun mendamba, kini diajak serius laki-laki yang lama sudah dicintai.


Dan di sinilah kini bang Fakhri. Di rumah yang tenang sejuk dan indah bercat putih itu. Suasana rumah ini begitu damai dan tenangnya, seakan menggambarkan isi dari para penghuni di dalamnya.


"Assaalamialikum....," om Rido memulai pembicaraannya.


"Walaikumsalam....," dibalas berbarengan seluruh yang hadir di ruang tamu cantik itu.


"Jadi begini bapak dan ibu. Perkenalkan nama saya Rido. Saya adalah pamannya Fakhri, tepatnya saya adik bungsu dari abinya Fakhri," om Rido memperkenalkan diri.


"Sebelumnya kami juga sudah menjelaskan kepada kedua orang tua Fakhri jika kedatangan Fakhri kali ini saya bersama saya dan Andi saja," jelasnya kembali yanh di sambut anggukkan kepala dari semuanya.


"Dan seperti sudah Fakhri sampaikan langsung kepada bapak dan ibu, karena menurut yang dikatakannya kepada saya bahwa Fakhri telah menemui bapak dan ibu secara langsung," lagi-lagi penjelasan om Rido mendapat anggukkan kepala dari semua yang hadir.

__ADS_1


"Adapun tujuan kedatangan kami hari ini adalah mewakili Fakhri sendiri, dan sudah diketahui kedua orang tuanya. Fakhri berniat mengajak ananda.......," om Rido menoleh pada Fakhri.


Lalu keluarlah nama Rania dari bibir abang ustad.


"Keponakkan kami Fakhri berniat mengajak ananda Rania bertaaruf. Proses untuk saling mengenal pribadi masing-masing terlebih dahulu," om Rido akhirnya menjelaskan maksud kedatangan ketiganya.


"Mohon maaf jika kami hanya datang berkunjung bertiga saja, dan membawa buah tangan yang tidak seberapa," om Rido meminta maaf.


"Karena tujuan awalnya hanya meminta persetujuan ananda Rania saja. Jika maksud Fakhri di terima dan di sambut baik. Maka orang tua Fakhri akan datang untuk khitbah. Kiranya demikian saja yang dapat saya sampaikan," tutup om Rido di akhir bicaranya.


"Assalamualaikum wr wb. Baiklah saya selaku ayah dari ananda Rania. Dengan mengucapkan terima kasih dan menyambut dengan tangan terbuka kedatangan Fakhri dan juga omnya," kali ini ayah Rania yang lanjut bicara.


"Sejujurnya sebagai orang tua, baik saya selaku ayahnya Rania dan juga ibunya Rania. Merasa sangat bahagia dan suka cita. Kami berdua tidak berhenti mengucapkan syukur, karena nak Fakhri menyatakan niat baiknya karena Allah kepada putri kami tercinta," jelas ayah Rania.


"Di zaman yang sekarang, pergaulan para pemuda pemudinya yang kadang kala seringkali melewati batas norma, dan tentu saja menyimpang dari ajaran agama kita. Maka kami selaku orang tua sangat respek dengan seorang pemuda yang berfikir seperti Fakhri," puji ayah Rania lagi.


Dan Rania sangat mengerti ayahnya itu. Beliau bukanlah jenis orang yang gampang suka dan dekat dengan orang lain, apalagi sampai memberi pujian setinggi langit. Itu sudah cukup membuktikan pada Rania bahwa ayah dan ibunya itu menyukai bang Fakhri.


"Kami berdua selaku orang tua Rania sangat senang jika benar nak Fakhri bisa menjadi menantu kami nantinya," ucap ayah Rania tegas dan yakin.


Kemudian memandang istrinya, ibu Rania, yang dibalas senyum dan anggukkan kepala, menyetujui perkataan suaminya itu.


Suasana hening sesaat. Ayah dan ibu Rania menatap wajah putri tercintanya itu. Setelah semua disampaikan melalui om Rido, pamannya Fakhri. Dan juga mendengar tanggapan dari kedua orang tua Rania. Rasanya semua sudah setuju dengan keinginan dan rencana yang di sampaikan Fakhri melalui omnya itu.


Kali ini keputusan hanya ada di tangan Rania saja. Apapun yang dikatakan Rania mengenai keputusannya, itu pulalah yang akan membawa langkah bang Fakhri selanjutnya.


"Jika masih ada yang mengganjal di hati atau pertanyaan yang mungkin ananda Rania tanyakan kepada Fakhri. Tidak apa-apa, disampaikan atau ditanyakan saja?" ujar om Rido merujuk Rania.


Baik om Rido maupun bang Fakhri sendiri tahu, bahwa masih ada keraguan di hati gadis itu. Atau tepatnya ketakutan untuk menjalani hubungan yang serius. Walaupun sebelumnya, saat mereka bertemu pertama kalinya, bang Fakhri telah jujur mengutarakan semuanya.


"Nia....Nia ha...hanya ingin tahu pendapat abang tentang po...poligami?" ujar Rania terbata.


Benar sekali dugaan Fakhri. Ternyata pemikiran inilah yang membuat hati Rania meragu. Cintanya yang banyak dan besar telah mengalahkan ketakutan dan keraguan hatinya. Bertahun mencintai tulus dalam diam. Ternyata tidak sebanding dengan ketakutan hatinya. Entahlah, walaupun agama memperbolehkan. Kenapa setiap wanita sangat ketakutan dengan hal itu.


Jika mereka berpegang pada ajaran agama dan Al-Quran. Mereka akan faham bahwa apa yang diperbolehkan dalam agama itu sesungguhnya kepada kebaikan. Dan tentu syarat dan ketentuanpun berlaku. Dalam hal ini bukan hanya mampu secara lahir, namun mampu juga secara bathin. Bersikap adil bagi manusia, apakah sudah mampu untuk menjalaninya.


¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤

__ADS_1


Bagaimana jawaban bang Fkhri atas pertanyaan Rania?


Bagaimana akhirnya jalan kisah cinta taaruf mereka?


Tetap setia sama Rania dan bang ustad yah🙏


Hiiii readersku tercintahh😗😙😚


Makasih banget yang udah Vote, Like & Coment.


Maaf banget juga, bukannya Author nggak mau update rutin🙏🏻


Coz selain hidup dalam dunia novel dan halu. Author juga hidup di dunia nyata dengan segala aktifitas yang nggak bisa di tinggalin🙏🏻✌🏻


Tapi Author akan berusaha update rutin jika Vote, Like, Favorit makin bertambah🙏🏻✌🏻😊


Mohon tetap setia pada Rania & Fakhri ya readers tercintahhh🙏🏻😚


Ayo dong kalau suka ceritanya👌👍🏻


Jangan pelit untuk kasih Vote, Favorit, Like & Comentnya untuk Author🙏🏻


Karena itu akan sangat berpengaruh pada Level novelnya Author.....pleaseee🙏🏻🙏🏻🙏🏻


Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻


Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻




Love


Author Kesayanganmu 😗😙😚


WCU

__ADS_1


__ADS_2