Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Satu Mobil


__ADS_3

Setelah mobil Sisca dan Rara udah jalan, Raniapun berjalan menuju mobil Fakhri. Tampak sudut matanya menangkap sosok tampan Fakhri yang sudah duduk di belakang kemudi sambil menyandarkan satu tangannya di pintu mobil. Rania melihat beberapa kali Fakhri tampak memejamkan matanya. Rania menjadi tidak tega sekaligus tidak enak hati.


"Bang....," sapa Rania tiba-tiba menyentak kesadaran Fakhri dari rasa lelahnya. Kemudian tersenyum manis memandang Rania.


"Kalau bang Fakhri capek, sebaiknya istirahat saja dulu di masjid sambil menunggu magrib. Biar Nia naik taksi aja bang," pinta Rania.


Lagi-lagi Fakhri tersenyum manis memandang Rania. Membuat rasa gugup kembali menjalari gadis itu.


"Udah masuk mobil, biar abang antar," perintah Fakhri masih dengan senyuman lembutnya.



Rania tampak terpaku menatap sosok di depannya. Please, jangan semanis itu dong bang Fakhri. Abang tahu, senyum itu bukan hanya bisa bikin diabetes, bahkan bisa bikin jantung Nia jadi berhenti bernafas, keluh Rania dalam hati.


"Ayo naik, keburu mahgrib. Kok malah bengong di situ....Nia....," panggil Fakhri.


Panggilan Fakhri jadi menyadarkannya, membuatnya menghentukan segala ketertegunan dan gumamannya barusan.


"Iy...iyaa bang....," jawab Rania gugup lalu memutar langkah menuju pintu mobil bagian depan di samping Fakhri.

__ADS_1


Rania tampak sangat gugup saat sudah duduk di kursi samping Fakhri. Dia tidak dapat menutupi perasaan yang berkecambuk di hatinya. Rania memilih menunduk dan terdiam.


Fakhri membunyikan klakson mobilnya, dan disambut lambaian tangan oleh Andi. Kemudian menutup kaca mobil di sisi kanan dan kiri, lalu mulai melajukan mobilnya pelan keluar dari halaman Masjid.


Mobil sudah membeΔΊah jalan kota perlahan. Tampak macet sepanjang jalan karena jam segini masih banyak kendaraan-kendaraan yang sedang pulang kantor. Fakhri tampak beristiqfar.


Rania mengalihkan pandangannya ke kaca mobil di sampingnya. Menikmati keriuhan jalan yang sudah penuh kemacetan. Tubuhnyapun tampak sudah sangat lelah dan lengket. Untung saja mereka punya banyak pemberhentian masjid untuk sholat saat memberikan bantuan donasi seharian tadi.


"Kalau capek, kamu tidur aja di mobil. Nanti begitu nyampe abang bangunin," ujar Fakhri menatap Rania.


Fakhri sudah melirik Rania sedari tadi. Gadis itu sudah tampak menguap berkali-kali.


Fakhri faham kalau Rania pasti merasa tidak nyaman ikut bareng dengan mobilnya. Bahkan sudah berkali-kali Rania menolaknya saat di masjid tadi. Fakhri bukannya tidak tahu niat Rania menghindarinya. Bahkan Fakhri sangat faham saat Andi dengan sengaja membuatnya mengajak Rania bersamanya ketimbang bersama Rara. Kalau mau jujur, Fakhri mau memgucapkan terimakasih pada Andi yang akhirnya bisa membuat keinginan Rara yang selalu saja hendak menempel padanya jadi tidak bisa pulang bersamanya. Fakhri tidak ingin sama sekali bersama gadis agresif itu. Berulang kali Fakhri melakukan penolakkan, walaupun hanya secara implisif, karena Fahkri paling tidak mungkin untuk menyakiti orang lain secara terang-terangan. Tapi gadis itu, Rara tidak ada kata lelah dan menyerahnya. Fakhri bahkan sampai kehabisan akal untuk memberi sebuah alasan. Didukung tempat kerja mereka yang sama, yang sangat memberi peluang bagi dirinya dan Rara untuk selalu bertemu dan bersama. Amat sangat bertolak belakang dengan sifat dan sikap Rania. Gadis itu begitu pemalu, jangankan terang-terangan menatap Fakhri, Rania bahkan selalu menundukkan kepalanya saat mereka bertemu. Mengucapkan cinta, mencari perhatian, atau melakukan hal-hal yang meminta perhatian Fakhri. Itu tidak akan pernah terjadi. Paling banter seulas senyum dengan tertunduk malu saat Fakhri menangkap tidak sengaja tatapan lekat Rania yang tengah memandanginya. Dan kemudian Fakhri tersenyum. Seorang gadis yang takut-takut memandang seorang laki-laki karena fitrahnya sebagai seorang wanita muslimah adalah satu hal yang lucu di mata Fakhri. Bukan dalam artian sebuah kelucuan yang sebenarnya. Tingkah malu itu yang seakan menggelitik hati Fakhri. Rania dan Rara dua sahabat karib, yang tampak seperti langit dan bumi. Keberanian kentara versus Kemalu-maluan yang sederhana.


Mohon Dukungannya


πŸ‘‡


Vote

__ADS_1


Like πŸ‘


Favorit ❀


Coment πŸ’¬


Baca juga Novel Author Lainnya


β˜† Love Or Be Loved


β˜† Cinta 90


Mohon juga Dukungan


πŸ‘‡


Vote


Like πŸ‘

__ADS_1


Favorit ❀


Coment πŸ’¬


__ADS_2