
Hi readersku tercintahh🤩😍
Sebelum baca
Pastiin udah
👇
Vote
Love
Like
Rate5
Kasih Bonus
Semoga Othor bisa update rutin setiap hari💪💪🤗
Love All
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
"Fakhri dan Rania pamit ya Umi, Abi," ujar Fakhri mewakili dirinya dan istri.
"Iya sayang. Kalian berdua yang sabar ya nak," jawab Umi yang dianggukki oleh Abi.
Umi bang Fakhri memeluk Rania. Umi tahu, menantu pertamanya itu pasti tengah terluka hatinya. Meskipun bang Fakhri, dirinya dan Abi bang Fakhri selalu berada di belakangnya. Tapi sebagai seorang wanita, Rania pasti memiliki ketakutan yang sama.
"Jangan berfikir yang negatif sayang. Yakinlah akan suamimu," Umi bang Fakhri berbisik di telinga Rania.
Rania mengangguk, kemudian membalas pelukan Umi bang Fakhri dengan erat pula.
Rania bersyukur, kedua orang tua bang Fakhri tidak menekan Rania seperti yang dilakukan keluarganya.
"Abang meletakkan koper pakaian di mobil dulu sayang. Pergilah lebih dulu temui kakek dan nenek, bersama Umi dan Abi," bang Fakhri beranjak menuju mobilnya yang terparkir di halaman rumah.
Sementara Rania, bersama Umi dan Abi bang Fakhri menuju ruang keluarga, dimana nenek dan kakek berada. Saat tiba di ruang keluarga, kakek tampak hanya melirik Rania sekilas. Orang tua berambut putih berpeci haji tersebut sepertinya tetap mengeraskan hatinya.
__ADS_1
Dan sang nenek, hanya bisa diam menatap cucu menantunya. Karena biar bagaimanapun, nenek yang paling memahami karakter suaminya yang tidak suka dibantah tersebut. Nenek terlalu tua untuk mendebat kakek swperti kebiasaannya. Ada anak, istri, dan cucunya yang dilihatnya berada di garda terdepan membentengi sang cucu menantu.
"Ayah, Ibu. Fakhri dan istrinya akan pamit kembali ke rumah mereka hari ini," ujar Ayah bang Fakhri menatap kedua orang tuanya.
"Kenapa cepat sekali ***. Nenek dan kakek masih lama kembali," kali ini nenek yang menyahuti putranya.
Wanita tua berambut putih yang masih menampakkan kecantikan di usia mudanya itu memilih menjawab ucapan putranya. Karena beliau memahami, suaminya akan tetap bersikap angkuh pada cucu menantunya itu.
Nenek sebenarnya juga heran. Kenapa suaminya itu sejak dulu ngotot sekali ingin berbesan dengan sahabatnya itu. Setelah tidak berhasil menjodohkan putranya, kini sang cucu yang akan menjadi korban pula.
"Maaf Nek. Rumah udah seminggu di tinggalin. Lagian abang dan istri baru juga pindah menenpati rumah baru, jadi banyak yang belum selesai diberesin," jelas bang Fakhri.
"Nanti sepulang kerja abang dan istri akan mampir ke sini setiap hari. Atau nenek dan kakek bisa tidur di rumah kami," bang Fakhri mencoba bernegosasi.
"Kakek akan menginap di rumah kalian jika cicit kakek sudah ada di rahim istrimu," jawab kakek ketus.
Bang Fakhri menoleh pada kakeknya dengan heran. Bagaimana bisa sang kakek melontarkan perkataannya tersebut tepat di depan Rania. Bang Fakhri menatap Rania, istrinya itu hanya diam menunduk.
"Kek, abang dan istri akan terus berusaha. Tolong doanya, semoga Allah menyegerakan," jawab bang Fakhri setelah menghela nafas berat.
"Ada cara yang lebih mudah, kenapa harus menunggu," jawab kakek kembali.
"Agama tidak melarang seorang laki-laki berpoligami. Islam membolehkan beristri lebih dari satu.....," kakek kembali mencoba membela diri.
"Asalkan bisa bersikap adil," potong bang Fakhri cepat.
"Tapi abang merasa tidak akan sanggup untuk bisa bersikap adil. Abang hanya manusia biasa, bukan nabi. Maaf abang menolak keinginan kakek," ujar bang Fakhri mantap melanjutkan bicaranya.
"Sebagai laki-laki, bagi saja keduanya dengan sama adil.....," saran kakek tanpa berperasaan sedikitpun.
"Kenapa ayah yang harus lebih ngotot," jawab Abi bang Fakhri gegas.
Begitu dilihatnya sang putra sudah ingin kembali membantah dengan wajah mulai memerah menahan amarah. Abi bang Fakhri tahu, putranya itu sudah tersulut emosi, tapi masih merendahkan suaranya dan bersikap sopan di depan kakeknya sendiri. Terlebih ada sang istri yang memang harus dilindungi perasaannya.
"Saya sebagai kakeknya tidak menuntut. Apalagi jika Fakhri tidak mempermasalahkan istrinya yang belum mengandung. Apa Ayah lupa, bahwa anak rezeki dari Allah. Mungkin Allah belum memberikannya saat ini, tapi nanti di saat yang dianggap Allah tepat," akhirnya Abi bang Fakhri terpaksa yang mendebat ayahnya.
Fahlevi, ayah bang Fakhri, putra sang kakek. Mengetahui jika dulu ayahnya itu juga pernah berpoligami. Ketika hampir dua tahun lebih pernikahan ibunya belum juga mengandung. Dan sang ibu yang soleha dan penurut hanya berusaha sabar menerima semua menjadi bagian dari takdir hidupnya.
Bedanya sang ayah lebih menuruti kedua orang tuanya yang menikahkannya kembali bersama anak sahabat orang tuanya, ketimbang bersikeras menunggu rezeki itu dari Allah, seperti yang Fakhri lakukan.
__ADS_1
Sayangnya hingga satu tahun pernikahan keduanya, istri kedua sang ayahpun belum juga mengandung. Bahkan sang ibunyalah saat itu mengandung dirinya. Allah memang maha adil, dia tidak akan meninggalkan hambanya yang tawakal dan bersabar, seperti ibunya.
"Apa Ayah bisa menjamin, setelah Fakhri menikah kembali, istri keduanya akan segera mengandung. Tidak bisa kan ayah, karena ayah pasti tahu sendiri jawabannya," tukas Abi bang Fakhri menyindir sang ayah pula.
Kakek yang tahu benar kemana arah pembicaraan putranya hanya bisa terdiam. Tidak lagi bisa berkata apa-apa. Kakekpun meninggalkan ruang keluarga kembali ke kamar tamu dengan terlihat kesal.
"Sudah bang, ajaknya istrimu pulang, nanti terlalu malam di jalan. Kasihan Rania, dia pasti masih lelah karena baru pulang dari kantor," ujar Abi bang Fakhri menepuk pundak putranya.
"Nak, jangan terlalu di fikirkan dan dimasukkan ke hati perkataan kakek. Kakek sudah tua, tolong dimaklumi saja," kali ini Abi bicara pada menantunya.
"Iya Abi....," jawab Rania lembut.
Kemudian Rania mencium tangan nenek, juga Umi dan Abi bang Fakhri berpamitan.
"Biar nenek yang nanti pamitkan pada kakekmu," ujar sang nenek ketika cucu dan cucu menantunya beranjak hendak menuju kamar tamu.
Dan di sinilah keduanya. Di dalam mobil yang dilajukan bang Fakhri dengan sedikit pelan. Sesekali sebelah tangannya melepas setir mobil dan menggenggam tangan Rania. Menatap dengan lekat sekilas wajah cantik istrinya itu.
Bang Fakhri tidak berkata apa-apa. Sedari tadi cuma keheningan yang tercipta di dalam mobil. Bang Fakhri tidak akan menunjukkan perasaannya dengan ribuan gombalan tanpa makna.
Dengan menggenggam erat tangan Rania, bang Fakhri menyalurkan kekuatan, sekaligus menegaskan dukungannya. Dia akan melalui semua berdua istrinya.
Bang Fakhri menatap Rania dengan tatapan elang nan teduhnya. Tatapan yang menusuk langsung ke ulu hati Rania. Tapi keteduhan yang tercipta dari netra coklatnya seakan kembali menegaskan. Ada diriku yang akan selalu menenangkan setiap gundah di hatimu.
Dan senyum lembut yang menghias bibir bang Fakhri ketika menatap Rania. Adalah senyum penuh rasa sayang dan cinta, hanya tercipta untuk istrinya itu.
Dan Rania. Wanita cantik sederhana, yang sangat lembut hatinya itu, bisa merasakan bagaimana sang suami, laki-laki pujaannya itu, adalah laki-laki yang akan selalu berada di sisinya, melewati semua ujian yang diterimanya. Cukuplah dengan bersikap begini saja, Rania sudah merasa bahagia dan bersyukur.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Author Kesayanganmu😘😘
__ADS_1
WCU