
Itulah hakikat dari sebuah pernikahan. Menciptakan irama indah pada pergolakan nafsu dua anak manusia yang berbeda genre. Itulah kenapa, bukan hanya karena islam melarang. Tapi berpacaran pasti akan menampakkan gejolak warna lain dari arti sebuah kata cinta. Keinginan untuk selalu dekat, saling menyentuh, hingga akhirmya banyak hal yang tidak akan bisa terhindari, andai iman dan nafsu tidak dijaga dengan sebaik-baiknya.
Rania menatap kedua mata sang suami yang sudah berkabut gairah. Rania faham tatapan berkabut dari manik mata teduh tersebut. Rania tersenyum malu lalu menganggukkan kepalanya atas bisikan lembut sang suami di telinganya. Tidak bisa dipungkiri gejolak muda dua anak manusia sepasang suami istri itu sama seperti gairah pasangan lain pada umumnya.
Bisikan seksi dari suara dalam khas milik bang Fakhri. Disertai sentuhan-sentuhan lembut pada tubuh Rania, membuat sang istri meremang. Bang Fakhri yang sangat faham bagaimana sifat Rania yang cenderung pendiam dan pemalu. Istrinya yang bukanlah jenis wanita agresif. Tentu saja di sini membuat bang Fakhrilah yang harus lebih dulu banyak memulai. Memberikan rangsangan cinta atas gairah yang saat ini juga sudah mulai menguasainya.
Bang Fakhri mencium lembut pucuk kepala Rania, dan memanjatkan doa.
"Bismillah, Allahumma jannibnaa asy-syaithan, wa jannib asy-syaithana ma razaqtana" (Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah jauhkanlah kami dari setan. Dan jauhkan setan dari apa-apa yang Engkau karuniakan kepada kami (anak keturunan)."
Rania mengucapkan kata amiin dan melafaskan doa yang sama dalam hatinya. Penuh harap semoga Allah memberikan kepercayaan kepada mereka berdua, dengan menitipkan calon buah cinta mereka dalam rahimnya.
Bang Fakhri menatap lembut Rania. Mendekatkan wajahnya lalu menempelkan bibir mereka, memberi ciuman lembut yang membuat Rania seketika memejamkan matanya, menikmati betapa lembutnya bibir tebal sang suami. Ciuman yang semula lembut tersebut berubah menjadi ******* yang kian mendalam setelah bang Fakhri menarik lembut tengkuk Rania. Dan baru melepaskannya pagutannya setelah keduanya mulai kehabisan nafas.
"Abang mulai ya sayang," tanya lembut bang Fakhri setelah keduanya saling menatap sehabis menghirup kuat udara yang mulai memasuki rongga paru-paru keduanya.
Lagi dan lagi Rania membalasnya dengan senyum malu dan anggukkan kepalanya saja. Sudah mau hampir dua tahun menikah, tapi wanitanya ini masih tidak berubah. Ranianya tetap begitu polos dan pemalu. Bang Fakhri kadang merasa gemas sendiri pada sang istri.
Di tatapnya lekat manik mata indah milik Rania. Sejak hatiku berdetak saat melihatnya menatap langit senja di sudut taman kota saat itu. Menatap wajah putihnya yang cantik tampak bersinar tertimpa cahaya senja yang mulai akan meredup. Senyum manisnya yang tersungging manis menatap anak-anak yang menikmati permainan di taman sore itu terlihat begitu manisnya. Kilatan kebahagian yang terpancar dari mata indahnya, memperlihatkan betapa tulusnya hati gadis pemalu itu. Kini gadis cantik itu berada di bawah kukungannya. Menggeliat dan mendesah begitu indah di telinganya.
Bang Fakhri merasakan begitu candu pada tubuh indah pemilik hatinya ini. Keduanya terus saling memberi kenikmatan hakiki. Merasakan kembali terus terbang dan melayang ke langit ke tujuh. Bila satu saja seperti Rania telah memenuhi lahir dan bathinnya. Bila satu saja telah memuaskan hasrat dan dahaganya. Bila satu saja telah membuat hasrat kelaki-lakiannya begitu terpuaskan. Lalu untuk apa harus ada Rania kedua baginya.
__ADS_1
Suara ******* terdengar lembut Rania semakin membuat bang Fakhri bergejolak. Sebagai seorang laki-laki, dengan dominan dirinya menyentuh titik titik sensitif istrinya sebelum melakukan penyatuan. Semua yang ada pada tubuh Rania membuatnya menggila. Ahhh, candunya pada bibir dan tubuh sang istri membuatnya melakukan eksplore nyata yang memuat Rania terus berteriak lembut di tengah deru nafasnya yang sudah mulai terbawa dalam lautan gaiah yang sama bersama sang ustad. Hingga berapa kali Rania mengeluarkan pelepasannya sebelum bang Fakhri mulai ke inti permainan.
Ternyata sang ustad tidak kalah dari sang casanova. Naluri alaminya sebagai seorang laki-laki tidak dapat dipungkiri akan dengan sendirinya bereksplorisasi.
Hingga entah berapa kali sepasang suami istri tersebut mengulang ritual penyatuan mereka. Bahkan pada season akhir di saat Rania yang terlihat mulai lelah menunggang kuda saat berada di atas tubuh sang suami, yang membantu memegangi kedua pinggulnya untuk terus bergerak. Hingga akhirnya lenguhan panjang dusertai eraman nikmat mengakhiri sesi panas nan halal yang Allah ridoi sebagai ibadah terpanjang sepasang suami istri tersebut menjadi pertanda bahwa percintaan keduanya telah berakhir.
"Alhamdu lillaahi dzdzii khalaqa minal maai basyaraa”, segala puji bagi Allah yang telah menjadikan air mani ini menjadi manusia (keturunan), terima kasih sayang," bang Fakhri mencium pucuk kepala Rania.
Sebelumnya menarik tubuh langsing itu untuk bersadar di dadanya. Mengusap lembut punggungnya dan menarik selimut menutupi tubuh polos keduanya. Kemudian tangan besar bang Fakhri tampak mengelus elus perut rata Rania. Selalu berharap akan segera hadir penerusnya dalam rahim sang istri.
Rania memejamkan mata saat tangan besar itu mengelus perutnya, menikmati tiap usapan disertai dengan doa yang sama. Sebagai seorang wanita Ranialah yang acap kali mendapatkan berbagai perkataan buruk akibat belum juga memberikan bang Fakhri keturunan.
Bahkan rasa sabarnya seakan berakhir. Hingga membuatnya mengambil keputusan yang mengakibatkan amarah besar sang suami.
"Abang.....,"
"Iya dek, ada apa sayang," jawab bang Fakhri yang tengah sibuk mengecek laporan pesantren milik sang kakek yang saat ini sudah diserahkan dan berada dalam masa pimpinanya.
Kesibukannya sebagai pimpinan pondok pesantren menggantikan sang kakek akhirnya membuat bang Fakhri memutuskan mundur sebagai seorang dosen. Waktunya dirasa sangat tidak cukup jika harus dibagi untuk mengajar di kampus, apalagi ditambah usaha yang dirintis bang Fakhripun sudah mulai berkembang.
"Boleh Nia bicara serius," lanjut Rania dengan suara lembut menatap bang Fakhri yang belum juga melepaskan tatapanya dari laptop.
__ADS_1
Mendengar suara Rania yang terlihat serius, bang Fakhri menolehkan kepalanya menatap sang istri. Keningnya berkerut, tidak seperti biasanya, fikir bang Fakhri dalam hati.
"Apa ada masalah serius sayang? Apa ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya bang Fakhri cemas.
Posisinya kini sudah berhadapan dengan sang istri. Pandangannya membungkai wajah cantik Rania yang terlihat serius namun terlihat ada gundah dan kesedihan di sana.
Bang Fakri menghembuskan nafasnya pelan. Dia sudah bisa menebak. Ini semua pasti ada hubunganya dengan keturunan. Ini semua pasti dikarenakan istrinya yang belum juga menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Entah bagaimana lagi bang Fakhri menyakinkan Rania. Bahwa sebagai seorang suami, dirinya akan sabar menanti datangnya sebuah anugerah keturunan dari Allah SWT. Bang Fakhri ikhlas melalui semuanya berdua dengan sang istri. Semakin tawakal dan terus beikhtiar dengan segala usaha. Karena anak adalah juga rezeki dari Allah. Bila yang di atas memang mengatakan bahwa mereka belum pantas untuk diberikan rezeki tersebut, hanya sabar dan ikhtiar sebagai teman. Bang Fakhri yakin waktunya akan tiba juga, jika Allah memang menghendakinya.
¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤¤
Selamat Menhalankan Ibadah Puasa🙏🏻
Happy Reading🙏🏻
Agak Sedikit 21+, Mohon Dibaca Sesudah Berbuka Puasa, Agar Tidak Ikut Traveling🙏🏻✌
Love Sekebon Ubi Buat Yang Masih Setia Nungguin Kelanjutan Novel Author😘😘
Author Kesayangmu
__ADS_1
WCU😘