Mengejar Cinta Ustad

Mengejar Cinta Ustad
Isi Hati Rania Sesungguhnya


__ADS_3

Sebelum baca, mohon pencet dulu Vote, Like, Love, Favorit & Rate5🙏🙏


Kalau mau kasih hadiah juga lebih bagus🙏🙏


Demi kelanjutan novel author agar bisa naik level🙏✌


Dan demi semangat author biar selalu rutin updatenya💪💪🙏


Teteup setia yak✌


Author yakin, readers semuanya akan ikut naik turun emosi dengan kisah abang ustad dan Rania.


Ada cinta, ada bahagia, ada duka, ada kekuatan, ada tawa, ada pula air mata, ada semua yang didefinisikan dalam arti cinta yang sesungguhnya


Love lagi sekebon ubi dari author😘


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡


"Abang sama Nia nginep di rumah ya abi, ummi," ujar bang Fakhri begitu keluar dari kediaman kakek Kosim.


Karena sepertinya pasti banyak hal yang akan di bahas keluarganya dikarenakan keinginan tiba-tiba Reyhan yang hendak menggantikan perjodohannya dengan Humairoh.


Akhirnya kakek Gun dan keluarga kembali ke rumah, setelah sebelumnya sempat sholat magrib berjamaah terlebih dahulu di rumah kakek Kosim. Karena semua merasa lelah setelah begitu banyak kejutan tidak terduga yang terjadi hari ini. Maka bang Fakhri dan Raniapun akhirnya memutuskan untuk ikut juga ke rumah orang tua bang Fahkri, berniat untuk menginap di sana.


"Rey, sana mandi dulu biar segar, terus istirahat. Pasti lelah, baru juga sampai udah langsung pergi lagi. Nanti ummi bangunkan jika makan malam sudah siap," perintah umi pada putra bungsunya.


Rey menganggukkan kepalanya, menuruti perintah ummi. Setelah berpanitan, kemudian berjalan menuju kamarnya. Sesungguhnya tubuhnya memang benar-benar lelah.


"Abah sama ummi juga istirahat saja di kamar," kali ini ummi berkata dengan lembut kepada kedua mertuanya.


Seperti halnya Reyhan. Kakek dan nenekpun hanya mengangukkan kepalanya, kemudian berlalu menuju kamar tamu.


"Abang dan Nia pamit istirahat juga ya abi, umi," bang Fakhri ikut pamit.


"Iya nak. Ajak istrimu beristirahat dahulu. Biarpun bukan badan yang merasa, sudah pasti fikiran yang lelah akan beberapa peristiwa yang terjadi belakangan hari ini," ujar ummi pada anak dan menantunya.


"Nia pamit ummi. Nanti biar Nia aja yang menyiapkan makan malam. Ummi dan abi juga sebaiknya beristirahat," ujar Rania pada kedua mertuanya.


Rania merasa beruntung. Memiliki kedua mertua yang sudah seperti orang tua kandungnya sendiri. Cinta keduanya sama seperti rasa cinta pada putra kandung mereka sendiri.

__ADS_1


Rania merasa hiduplah sungguh lengkap. Suami yang soleh, kedua mertua yang penyayang, juga keluarga yang baik.


Jika saat ini Allah tengah mengujinya, itu tidaklah sebanding dengan semua nikmat yang telah diterimanya. Ujian adalah penguat imannya. Sebagai salah satu cara untuk mengangkat derajatnya menjadi lebih tinggi. Dan Rania yakin, akan ada hikmah dari setiap ujian yang telah dilaluinya.


"Ya sudah, abi dan ummi istrihat juga kalau begitu," jawab ummi lalu membelai pucuk kepala menantunya yang tertutup hijab itu.


Setelah abi dan ummi menghilang di balik pintu kamar. Bang Fakhripun membawa istrinya beristirahat di kamar lama bang Fakhri.


Bang Fakhri dan Rania telah membersihkan tubuh mereka dan berganti pakaian. Keduanyapun merebahkan tubuh mereka masing-masing di atas tempat tidur king size di kamar bang Fakhri.


Bang Fakhri baru hendak memejamkan matanya, ketika dilihatnya mata sang istri masih terbuka lebar. Menerawang memandang plafon kamar yang berwarna biru laut itu.


"Kenapa sayang? Ada yang difikirkan?" tanya bang Fakhri sudah memutar badan menghadap istrinya.


Rania menoleh. Kemudian ikut memutar badannya pula. Kini keduanya terlihat terguling miring saling berhadapan, mata keduanya menatap lembut.


"Apa yang difikirkan sayang?" tanya bang Fakhri kembali.


Tiba-tiba mata Rania sudah berkaca-kaca. Lelehan air mata sudah menetes di pipi putihnya. Fakhkri semakin mendekatkan tubuhnya, lalu menarik wanita yang dicintainya itu masuk ke dalam pelukannya yang hangat. Bang Fakhri membiarkan saja istrinya itu terisak menumpahkan semua perasaannya.


Kadang-kadang menangis adalah cara terbaik untuk melegakan rasa yang begitu menyesakkan dada. Walaupun menangis tidak akan mampu menghilangkan semua masalah. Tapi dengan menangis hati menjadi bisa sedikit lega.


Setelah tangis Rania mulai mereda. Bang Fakhri sedikit mengikis jarak diantara keduanya. Menghapus sisa-sisa air mata yang memenuhi wajah cantik istrinya itu. Kemudian menangkup kedua pipi putih milik Rania, lalu mencium mata kiri dan kanan Rania secara bergantian. Kemudian melepaskan ciuman lembut di bibir ranum berwarwa pink muda milik istri tercintanya itu.


"Apakah hati sudah lega setelah menangis?" tanya bang Fakhri yang dianggukki kepala saja oleh Rania.


"Jika sudah tenang dan sedikit lebih baik. Berbagilah sedikit beban hati itu pada abang. Abang bahkan rela memikul semuanya, agar hati istri abang tidak sedikitpun terluka," ujar bang Fakhri menatap lembut netra lentik di hadapannya ini.


Mata yang tidak memiliki kelopak mata itu, terlihat makin menyipit dan memerah. Tiba-tiba rasa perih itu memenuhi rongga dada bang Fakhri.


"Jangan pernah menangis sayang. Abang tidak sanggup melihatmu bersedih seperti ini," ujar bang Fakhri kembali sudah membelai lembut wajah istrinya kembali.


"Nia merasa bersalah pada keluarga ini bang," ucap Rania tiba-tiba setelah cukup lama keduanya terdiam saling menatap dengan berbagai tanya di kepala masing-masing.


Bang Fakhri menautkan alisnya bingung mendengar apa yang dibicarakan Rania barusan.


"Karena Nialah, keadaan keluarga menjadi kacau begini bang," ujar Rania kembali dengan mendesah lemah.


Bang Fakhri hanya menatap istrinya itu tanpa ingin memberi komentar. Bang Fakhri ingin tahu kelanjutan dari kata-kata yang akan dibicarakan Rania selanjutnya.

__ADS_1


"Jika Nia tidak memaksakan cinta Nia pada abang. Jika sejak awal Nia menyerah saja. Abang, Reyhan, kakek pasti tidak akan terlibat suasana dan keadaan seperti ini.


"Pasti kakek akan bahagia, bisa mengobati perasaan bersalahnya pada nenek Jani. Pernikahan abang dan Humai adalah jalan terbaik menyatukan ikatan persahabatan sejati kakek Gun dan kakek Kosim, menjadi ikatan keluarga pula. Dan mas Rey tidak perlu berkorban sejauh ini," ucap Rania panjang lebar menjelaskan pemikirannya.


"Lalu Nia lebih memilih menikah dengan Rey saja, begitu?" tanya Fakhri memancing.


Sedari tadi memang bang Fakhri tidak sedikitpun berkomentar. Mendengarkan saja apa yang ada di fikiran istrinya itu.


"Mas Reyhan laki-laki yang tampan, baik dan menyenangkan. Tidak akan sulit baginya mencari pengganti Nia bang," jelas Rania menegaskan bahwa dirinya tidak akan memilih Reyhan jikapun andai bang Fakhri dan dirinya tidak menikah.


"Hati Nia diliputi perasaan bersalah bang. Ketidakmampuan Nia yang belum bisa hamil juga membuat Nia sedikit merasa tertekan," kali ini wajah Rania sudah tertunduk sedih.


Bang Fakhri kembali menarik tubuh Rania agar merapat. Meletakkan satu tangannya sebagai bantalan kepala Rania.


Menyusupkan kepala istrinya itu agar berada di dadanya yang bidang. Satu tangannya lagi memeluk tubuh Rania erat.


Rania benar-benar masuk dalam dekapan suaminya. Bahkan deguban jantung keduanya terdengar begitu nyata. Hembusan nafas mint beraroma segar dari mulut bang terasa menyapu kepala hingga leher Rania. Membuatnya bulu-bulu halus ditubuh Raniapun ikut meremang.


Tidak Rania pungkiri pelukan hangat itu sungguh menenangkan perasaannya. Dekapan itu membuatnya merasa bahagia karena dicintai. Dan aroma maskulin bercampur wangi sabun mandi di tubuh bang Fakhri kini sudah menjadi candunya sendiri. Menikmati aroma tubuh suaminya itu membuat nafsu Raniapun sedikit bergejolak. Rania menyukai semua yang ada pada diri suaminya. Jangan lupakan pula tatapan hangat nan lembut itu. Rania bisa memerah malu seperti tomat, jika di tatap lekat laki-laki kecintaannya ini.


♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡




Dua novel author di atas mungkin akan jarang update🙏☝️


Tapi tetap autor usahakan diselingi updatenya walau tidak rutin🙏


Author fokus pada novel Mengejar Cinta Ustad ini☝️


Dan juga novel baru author ini


👇



Author Kesayanganmu😘

__ADS_1


WCU


__ADS_2