
Haiii....Haiiii🖐👋
Yang masih mau melihat keuwuan abang ustad dan sang istri.
Jangan lupa dukungan Vote, Favorit, Love, Like, Coment or Hadiahnya untuk othor yang manis ini😁😁🙏🏼
Tentu saja semanis keuwuuuan abang Fahkri dan adek Rania yang akan bikin readers semua pada diabetes😁🤭😜
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Suara alunan ayat-ayat Al-Quran terdengar merdu, menandakan waktu subuh sudah hampir tiba. Rania membuka matanya, bersamaan dengan bang Fakhri yang juga baru saja terbangun dari tidurnya.
Gadis itu terdiam malu ketika menyadari posisi mereka yang begitu intim. Rania masih tertidur dengan berbantal lengan bang Fakhri. Tubuh merekapun menempel dekat hanya kain yang membalut tubuh mereka masing-masing saja. Apalagi ketika pandangannya bertemu dengan pandangan lembut milik mata elang berwarna hitam legam itu. Dada Rania kembali bergemuruh.
"Sudah bangun dek," tanya bang Fakhri lembut menatap tepat ke netra coklat milik Rania.
Gadis itu hanya tersenyum malu dan menganggukkan kepalanya saja menjawab pertanyaan bang Fakhri.
"Ayo bangun. Abang imami sholat subuh," ajak bang Fakhri pada Rania sambil beranjak dari tempat tidur.
Menggerak gerakkan lengannya yang terasa kebas. Semalaman lengan kekarnya itu menjadi bantal untuk Rania, istri cantik tercintanya itu.
"Maaf bang. Nia bikin lengan abang capek semalaman Nia tiduri yah," ujar Rania lembut dengan rasa bersalah.
Fakhri kembali tersenyum mendengar suara lembutnya. Menatap kembali dengan lekat netra coklat berbulu mata lentik yang begitu cantik itu.
"Jangan lengan sayang. Minta nyawa abang sekalipun akan abang berikan," balas bang Fakhri dengan sedikit gombalan.
Dan lagi-lagi wajah cantik itu merona. Senyum manis kini menghias wajah cantik milik Rania. Ah, wajah cantikmu benar-benar mengalihkan dunia bang Fakhri.
Keduanya telah selesai melaksanakan ibadah subuh. Untuk pertama kalinya, keduanya sholat berjama'ah menjadi imam dan makmum. Dan untuk kedua kalinya juga Rania mencium takzim punggung tangan bang Fakhri ketika keduanya selesai beribadah. Setelah kali pertama dilakukan Rania ketika selesai ijab qabul.
Bang Fakhri membuka Al-Quran kecil yamg kini berada di tangannya. Setelah membaca basmallah, kemudian membaca satu jus yang diselesaikannya sebelum pagi menjelang. Dan Rania dengan memegang Al-Quran yang sama menyimak ayat demi ayat yang di dengarkannya dari suara suaminya itu dengan begitu merdu.
Rania telah menyelesaikan ritual mandinya terlebih dahulu.
__ADS_1
"Dek, apa tidak keberatan jika besok kita langsung pindah ke rumah kita?" tanya bang Fakhri dengan lembut dan hati-hati.
Rania menatap sang suami lembut.
"Maksud abang, kita tinggal di rumah abi dan umi?" tanya Rania memastikan.
"Bukan sayang, kita akan tinggal di rumah kita sendiri. Tidak bersama abi dan umi ataupun juga bersama ayah dan ibu di sini," jawab bang Fakhri.
"Alhamdulillah, walaupun tidak terlalu besar seperti kediaman kedua orang tua kita. Abang sudah mempunyai rumah yang abang persuapkan untuk istri dan anak-anak abang nanti," ujar bang Fakhri kembali dengan senyum lembutnya itu.
Rania menatap bang Fakhri dengan binar bahagia. Ternyata suaminya itu telah mempersiapkan semuanya untuk keluarga kecil mereka. Ada kebahagian yang meresap sampai ke ulu hatinya. Doa tulus dengan harapan untuk kebahagian yang baru dimulainya bersama suami dam anak-anak mereka nanti.
"Nia adalah seorang istri bang. Kemanapun langkah abang membawa Nia, Nia akan selalu berada di sisi suami dalam keadaan suka dan duka," ujarnya Rania tulus dengan suara yang begitu lembut.
Ahhhh.....bagaimana abang ustad tidak makin meleleh. Bahkan suara lembut itu begitu terdengar merdu di telinga bang Fakhri. Gadis ini, sungguh Allah maha baik, bukan hanya menciptakan wajah yang cantik, tapi hati yang juga begitu cantik.
"Terimakasi sayang. Nanti kita bicarakan pada ayah dan ibu juga pada abi dan umi. Abang yakin mereka akan mengerti dan memahami," ujar bang Fakhri yang sudah mendekat, kemudian memeluk dan mencium pucuk kepala Rania.
Sementara Rania. Gadis itu hanya terdiam kaku merasakan kelembutan sikap yang bang Fakhri lakukan padanya. Mereka sudah berpelukan rapat, hanya kain yang melekat pada tubuh keduanya yang jadi pemisah. Bang Fakhri hanya mengulum senyum melihat gadis yang sudah resmi sebagai istrinya itu.
"Kenapa tegang begitu dek. Kita ini udah sah sebagai suami dan istri," ucap bang Fakhri lembut di telinga Rania.
"Inilah nikmatnya pacaran setelah menikah sayang. Kita berpelukan beginipun sudah tidak lagi berdosa. Semua yang kita lakukan sudah halal dan juga bernilai ibadah," ucap lembut bang Fakhri kembali.
"Ni....Niaa turun ke bawah dulu bang. Mau bantu ibu siapin sarapan," ujar Nia gugup dan melepaskan pelukan bang Fakhri.
Kini keduanya sedikit berjarak. Bang Fakhri menatap lekat netra coklat lentik nan indah milik Rania. Bang Fakhri baru menyadari betapa indah netra coklat itu ketika menatapnya begitu lembut.
"Nanti abang menyusul. Sekalian membicarakan kepindahan kita ke rumah kita nanti," ucap bang Fakhri mencium kening Rania.
Ahhh, jantung ini. Aku bisa mati mendadak jika abang selalu bersikap begini lembut. Tuhan, tolong kuatkan aku, gumam Rania dalam hati setelah menganggukkan kepalanya menyetujui ucapan bang Fakhri.
Ketika Rania telah tiba di bawah, ternyata rumahnya sudah sepi. Sahabat dan teman bang Fakhri sudah pulang pagi-pagi sekali karena pekerjaan. Mas Reypun juga ikut pulang karena akan bersama umi dan abi menjemput Rania. Mbak Sinta dan Lunapun sudah pulang juga.
Kini Rania dan bang Fakhri sedang duduk santai di ruang keluarga bersama ayah dan ibu setelah selesai sarapan bersama.
__ADS_1
"Ayah, ibu.....," ucap bang Fakhri memulai pembicaraan.
Seketika kedua orang tua tersebut mengalihkan pandangan mereka menatap bang Fakhri lekat.
"Begini ibu dan ayah. Fakhri bersama istri mau meminta izin kepada ibu dan ayah," ucap bang Fakhri dengan sopan.
Sementara kedua orang tua itu sudah mengeryit heran, dan menatap serius menantu mereka itu. Menunggu apa gerakan yang akan disampaikan pada mereka bahkan ketika baru satu keduanya menikah.
"Fakhri meminta izin pada ayah dan ibu untuk membawa istri Fakhri tinggal di rumah kami sendiri," ucap Fahkri kembali.
"Maksud abang membawa Nia tinggal bersama kedua orang tuamu," tanya ibu Rania.
"Bukan ibu. Fakhri akan membawa istri ke rumah kami sendiri. Alhamdulillah, walaupun tidak terlalu besar, Fakhri sudah mempunyai rumah sendiri yang akan ditempati bersama istri dan anak-anak kami nanti ibu," jelas bang Fakhri dengan sopan dan lembut.
"Tapi kalian baru satu hari menikah. Apa tidak lebih baik tinggal dulu sementara di rumah orang tua. Dan ibu berharap kalian akan tinggal sementara waktu dulu di rumah ini," tahan ibu Rania kembali.
"Bukannya Fakhri dan istri menolak bu. Tapi sedari awal Fakhri sudah berkomitmen akan langsung menempati rumah kami sendiri begitu menikah. Fakhri dan istri ingin lebih saling mengenal dekat, belajar berumah tangga, saling suport dan mendukung agar menjadi keluarga yang sakinah mawadah warohmah. Kami berdua ingin belajar mandiri, dan tidak merepotkan kedua belah pihak orang tua," jelas bang Fakhri kembali dengan hati-hati dan tentu saja sopan.
"Tapi ibu jangan khawatir. Kami akan sering-sering datang dan juga menginap bergantian di rumah ayah dan ibu, juga di rumah abi dan umi. Fakhri meminta izin ayah dan juga, semoga menyetujui rencana kami berdua," bang Fakhri kembali berucap lembut dan tulus.
Menyakinkan sang ibu agar tidak merasa ragu melepaskan putri tercintanya yang akan mencoba hidup mandiri sebagai sepasang suami istri baru. Menyelami hati dan diri masing-masing untuk saling mencocokkan satu sama lain. Saling memahami dan menyayangi dalam maghligai rumah tangga.
Karena setelah bang Fakhri sangat yakin. Kesulitan yang sama juga akan menghadangnya bersama sang istri yang harus menyakinkan umi pula akan niat mereka untuk langsung menempati rumah sendiri.
♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡♡
Baca & Dukungannya juga tuk Novel Author yg lain🙏🏻🙏🏻
Klik profil aja tuk cari novel Author yg lainnya🙏🏻🙏🏻
Love😗😘
__ADS_1
Autor Kesayanganmu
WCU