
Keesokan harinya Aisyah terbangun dan terkejut mendapati dirinya sudah berada di kamar sendiri. Yang Dia ingat, semalam Dia ketiduran di ruang tamu.
"Bagaimana aku bisa ada di sini, Siapa yang pindahin aku ke tempat tidur." Mencoba mengingat kejadian semalam.
"Apa mungkin Farel yang memindahkan aku. Tapi ya sudahlah..., Itu apa sepertinya kotak hadiah." Aisyah meraihnya dan mulai membuka kotak hadiah tersebut.
"Waw...ini indah sekali...siapa yang menaruh ini di kamarku, pikirannya langsung tertuju pada Farel, apa mungkin Farel, secara di rumah ini hanya ada aku dan Farel. Ada kartu ucapan 'Sorry' juga, berarti ini memang dari Farel dong. Tapi bagus juga Farel pilih hadiahnya." Aisyah tersenyum.
Kotak musik itu di putar berkali-kali oleh Aisyah. Apalagi dari kecil Ia sangat menyukai kotak musik.
Farel turun dengan pakaian sudah rapi, Sebagai pemimpin perusahaan, Dia tidak ingin memberikan contoh yang buruk dengan datang terlambat ke kantor. lagipula ia juga sudah terbiasa bekerja tepat waktu saat masih menjadi bodyguard mertuanya.
"Bik sumi, bibi nanti tidak perlu membersihkan kamar saya karena sudah saya bersihkan sendiri dan nanti tak perlu masak makan malam, saya dengan Aisyah akan pergi keluar." Farel memberi perintah pada artnya.
"Tuan dan Non Aisyah sudah berbaikan ya... , sekarang saya tidak pernah liat tuan dan Non Aisyah berantem lagi, semoga pernikahan kalian langgeng ya." bibi ikut mendoakan, bik sumi selalu mendukung Aisyah dan Farel, mereka adalah pasangan Favorit bagi bik sumi.
"Do'akan saja bik, semoga Aisyah bisa segera menerima saya sebagai suaminya dengan apa adanya." Farel duduk di kursi meja makan sambil menikmati sarapan yang di masak sumi art mereka.
Aisyah juga memiliki kelas pagi jadi dia sudah bersiap diri dan turun kebawah untuk bergabung dengan Farel yang sedang menikmati makanannya.
"Bibik masak apa?" Aisyah duduk di samping Farel, keduanya masih saling diam tak ada pembahasan keduanya larut dalam pikiran masing-masing.
"Nasi goreng seafood, Non. Tumben Non Aisyah pagi-pagi sudah bangun." Bik sumi yang keheranan bertanya kepada Aisyah.
"Iya aku lagi ada kelas bik, kalau nggak ada ya malas bangun pagi, lebih baik lanjut tidur aku ...." Sambil mengunyah masakan yang di buat bik sumi. masakan bik sumi rak kalah enak dari masakan Aisyah. Itu sebabnya Pak Wijaya dan Aisyah sudah menganggapnya sebagai keluarga.
"Meski kamu nggak ada kelas tapi kamu tetap harus bangun pagi, Aisyah. Kamu itu seorang istri harus terbiasa bangun pagi." Farel memberikan pendapatnya dengan nada bicara lembut, takut Aisyah akan marah jika ia peringatkan.
"Kalau aku nggak bisa bangun pagi kamu mau apa." sambil terus menikmati makanan kesukaannya. kini muka Aisyah sudah berubah jutek, ia yang tadinya ingin mengucapkan terimakasih pada Farel, ia urungkan saat merasa Farel kembali mengatur dirinya.
"Terserah kamu sajalah, Farel yang mendengar jawaban Aisyah ikut kesal. Hari ini kamu saya antar, mobil yang kamu pakai bannya kempes, daripada kamu naik ojek online lebih baik kamu saya antar. Cepat, Aku tunggu di mobil." pinta Farel yang sudah lebih dulu menghabiskan makanannya. Ia tak ingin melewatkan kesempatan ini untuk bisa berduaan dengan Aisyah, sekaligus mengucapkan terimakasih atas hadiah yang diberikannya.
𝘐𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪 𝘬𝘰𝘬 𝘴𝘶𝘬𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘯𝘨𝘢𝘵𝘶𝘳, 𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘱𝘦𝘬𝘦𝘳𝘫𝘢𝘢𝘯 𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘳𝘶𝘴 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱𝘬𝘶. Aisyah tengelam dalam pikirannya. Aisyah tetap makan dengan santai meski sedikit terlambat.
Farel terus saja membunyikan klakson mobil, karena Aisyah tak kunjung keluar.
"Iya...iya...sebentar. Aku datang." berlari kecil menuju halaman, kemudian masuk mobil dan mengunakan sabuk pengamannya.
Setelah Aisyah masuk, Farel melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sepanjang perjalanan mereka berdua saling diam. Aisyah tak tahu harus memulai pembicaraan dari mana. Ia sendiri mau berterimakasih untuk hadiah semalam. Begitu juga dengan Farel yang ingin mengucapkan terimakasih tapi gengsi untuk mengucapkannya.
__ADS_1
Sedangkan di belakang mobil mereka ada yang mengikuti. Mengintai mulai dari mereka keluar dari halaman rumah.
Sampai ke kampus Aisyah, tapi baik Aisyah atau Farel tak menyadari itu. mereka masih fokus dengan pemikiran masing-masing.
"Aisyah..., Terimakasih untuk hadiah yang kamu berikan, Aku sangat menyukainya." akhirnya Farel membuka pembicaraan mereka, meski terkadang hanya deheman saja yang Farel dengar.
"Kamu menyukainya...Sungguh...Aku juga ingin berterimakasih untuk hadiah yang kamu kasih, bagus aku suka." Aisyah akhirnya ikut berbicara, bagaimanapun sekarang Farel adalah suaminya.
"Nanti kamu pulangnya jam berapa?" tanya Farel. Ia sudah berjanji akan mengajaknya makan malam di luar.
"Nanti pulangnya kamu saya jemput, hari ini saya lagi nggak sibuk." Farel ingin memperlihatkan jika ia bisa menjadi suami yang baik untuk Aisyah.
"Jam tiga sore, Hari ini aku full time kuliahnya. Jika kamu mau jemput jangan sampai telat. Aku nggak suka kalau telat." ucap Aisyah ketus.
"Oke...aku nggak akan telat." seketika senyum Farel mengembang hubungannya dengan Aisyah sudah lebih baik.
Tibalah mobil Farel di depan kampus Aisyah.
"Aku masuk dulu, Ingat jangan Sampai telat." Aisyah memperingatkan. Dalam hati Aisyah berpikir, kemana Farel akan mengajaknya pergi.
"iya...." Farel berlalu meninggalkan kampus menuju kantor.
***
Diseberang telfon senyuman licik terbit dibibir Bram, ia merasa mendapat kesempatan menyelesaikan dendamnya.
"Intai terus, nanti saat ada waktu pas kita culik dia. Kali ini jangan sampai gagal." pinta Bram dengan tegas.
"Baik bos." telfon di matikan.
𝘒𝘪𝘵𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶 𝘬𝘦𝘱𝘰𝘯𝘢𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘨𝘶, 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘦𝘮𝘶𝘢𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘦𝘳𝘵𝘢𝘮𝘢 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘢𝘱 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘪𝘥𝘢𝘬 𝘵𝘦𝘳𝘬𝘦𝘫𝘶𝘵. Bram berpikir dalam hati.
"Kali ini dendam ku akan terbayar lunas. Semua harta milik Wijaya akan aku kuasai. Ha...ha...ha..." Bram tertawa bahagia.
***
Farel tiba di kantor, Hari ini Farel sengaja datang lebih pagi untuk membahas hal penting dengan, Fandi, Bodyguard bawahannya yang sekaligus teman dekatnya.
"Apa sudah ada kabar terbaru mengenai siapa dalang dari kecelakaan itu Fandi?" Farel ingin segera menemukan pelakunya. Rasanya tak rela membiarkannya berkeliaran dengan bebas di luar sana.
__ADS_1
"Masih belum, orang itu susah di lacak dia mengunakan identitas samaran untuk menjalankan aksinya." jelas Fandi.
"Bagaimanapun, kita harus bisa menangkap orang itu Fandi. Meski kita harus mencari ke lubang semut sekalipun aku tak perduli." Farel mulia tersulut emosi kembali ketika mengingat gara-gara orang itu ia kehilangan mertuanya.
"Pak Farel tenang saja, pasti ada jalan untuk menyelesaikan masalah ini. Ya sudah saya balik dulu, ada yang harus saya kerjakan." Fandi meninggalkan ruangan Farel.
"Oke...pergilah, jangan lupa kabari saya terus."
Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, sebentar lagi Farel harus menjemput istrinya sesuai dengan janjinya.
"Sebentar lagi kuliah Aisyah berakhir, Aku harus sampai di sana tepat waktu, jika tidak, Aisyah akan marah lagi padaku. Aku tak mau Hubunganku dengan Aisyah berantakan lagi setelah semuanya mulai membaik.
Farel mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi berharap Ia cepat sampai di kampus.
"Kenapa mobil ini oleng...." Farel keluar memeriksa mobilnya. Ternyata ban mobilnya kempes karena menginjak paku.
"Kenapa harus kempes sekarang, Aisyah pasti sudah menunggu ku. Bagaimana ini?" Farel terlihat kebingungan. Akhirnya Farel memilih mengunakan Taksi online agar cepat sampai kampus karena Dia sudah sangat terlambat menjemput Aisyah,
Jam kelas sudah berakhir, seperti apa katanya, Aisyah menunggu di depan gerbang kampus. Namun yang di tunggu tak juga datang. Sudah hampir satu jam Aisyah menunggu, Farel tak datang juga.
Di balik jalan sebuah mobil mengintai Aisyah. Menunggu waktu yang pas untuk melakukan Aksinya. Setelah melihat keadaan yang sepi kedua preman itu mulai menjalankan Aksinya.
Mobil Preman itu mendekat ke arah Aisyah, beberapa preman turun dari dalam mobil dan menjalankan aksinya.
"Kalian siapa, mau apa kalian, jangan dekat-dekat jika tak ingin aku teriak." ancam Aisyah.
"Hai gadis kecil, berteriak lah sekencangnya, tidak akan ada yang menolongmu. Kampus ini sudah sepi, tak ada yang akan datang." preman itu tertawa mendengar ancaman Aisyah.
"Kita bawa Dia." preman tersebut membekal Aisyah dengan Bius untuk memudahkan aksinya.
Dari kejauhan Farel yang sampai di kampus, sempat melihat kalau istrinya Diculik dan di bawa pergi menggunakan mobil honda hitam. Farel yang panik meminta pak supir taksi online mengikuti dari belakang. Tak lupa Farel mencatat nomor plat mobil tersebut. Sayangnya mobil taksi yang di tumpangi Farel terkena lampu merah dan tak bisa mengejar kembali mobil yang menculik Aisyah.
Farel lalu menghubungi Fandi sahabatnya untuk mengerahkan seluruh Bodyguard Pak Wijaya guna mencari keberadaan Istrinya.
Farel yang kalut merutuki kesalahannya, mengapa Dia sampai telat menjemput istrinya. Jika saja dia tidak kelupaan, maka semua ini tak akan terjadi.
𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘢𝘬𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘢𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯𝘮𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢, 𝘪𝘯𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪𝘬𝘶.
Semalaman Farel terus mencari keberadaan Aisyah, tapi tak menemukan titik terang. JPS Aisyah juga tidak aktif mungkin HP Aisyah mati.
__ADS_1