
"Aku tidak akan pernah pergi darimu mas, aku akan selalu disini bersamamu, jadi jangan pernah berpikir begitu, dan ya maafkan aku karena telah membuatmu takut." Aisyah menatap suaminya sendu. Niat hati ingin bercanda serta memberi pelajaran justru telah membuat suaminya ketakutan.
"Sekali lagi maafkan aku ya, aku tak akan mengulanginya lagi, aku janji, sekarang berhentilah menangis."
Mendengar setiap kata yang diucapkan oleh Aisyah membuat Farel sedikit merasa lega.
"Tapi kamu jahat, telah melakukan ini kepadaku, apa harus membalasku seperti ini." Farel menampakkan wajah cemberut.
Aisyah yang melihat perubahan wajah Farel justru tertawa, ia yang tak pernah melihat mimik wajah Farel yang sedang cemberut, karena yang Farel tampilkan jika berada dengan Aisyah adalah selalu tersenyum dan tak pernah marah. Namun sepertinya akhir-akhir ini Aisyah dapat melihat sesuatu yang berbeda dari seorang Farel.
"Kamu menertawakanku, suamimu, sepertinya kamu memang harus diberi pelajaran agar tak mengulanginya lagi." Farel mendekatkan dirinya pada Aisyah tanpa bertanya Farel menempelkan benda kenyal itu pada bibir Aisyah, ciuman itu sangat lembut.
Aisyah yang belum sempat berkata-kata hanya bisa pasrah ketika mendapat apa yang selama tiga hari belakangan ini dia inginkan, namun Farel bahkan engan untuk sekedar berbicara padanya, hingga pada akhirnya muncul ide gila itu.
Ciuman yang awalnya lembut dan berirama lama-kelamaan menjadi ciuman yang menuntut. Hingga Aisyah dibuat kewalahan dengan gaya berciuman Farel yang terbilang cukup agresif.
Aisyah yang merasa sudah kehabisan nafas memilih menyudahi ciuman panas itu dan meminta Farel untuk menundanya karena ia sudah merasa lapar.
"Kenapa berhenti, Aku belum puas menyalurkan hasratku untuk menciummu, bukankah kita tidak melakukannya selama tiga hari belakangan ini." Farel merasa sedikit kecewa, Ia sudah mati-matian memendam hasratnya selama tiga hari terakhir.
__ADS_1
Aisyah tersenyum mengetahuinya. "Kenapa begitu, bukankah kamu sendiri yang menghindariku dan engan berbicara kepadaku?, seharusnya aku yang marah kan, kenapa ini justru kamu yang marah." Aisyah sedikit binggung dengan tingkah suaminya ini. Tapi ya sudahlah yang berlalu biarlah berlalu jika di teruskan maka mereka akan tetap saling menyalahkan.
"Aisyah Aku minta maaf, untuk sikap yang mungkin membuatmu tak nyaman selama beberapa hari ini, itu semua aku lakukan untuk menenangkan diriku juga untuk meyakinkan dirimu sendiri bahwa aku penting dalam hidupmu." Farel mengenggam tangan Aisyah dan mengecupnya tanda permintaan maaf yang tulus dari Farel.
Aisyah sendiri terharu dengan perlakuan Farel yang mampu menenangkan dirinya. Seolah Aisyah merasa sangat nyaman dan aman berada di dekat Farel.
"Kamu tak perlu menjelaskan mas, aku juga salah dalam hal ini, seandainya aku bisa lebih tegas dalam menjalin hubungan pertemanan dengan Andre dan membuat batasan-batasan untuk kami berdua mungkin kesalahpahaman ini tak akan terjadi." Aisyah bercerita sambil menyandarkan kepalanya di pundak Farel. Posisi mereka sekarang sedang duduk menghadap ke langit, dengan disaksikan beribu bintang yang bersinar terang.
"Aku memberimu kesempatan untuk menjelaskan sejelas-jelasnya apa yang terjadi di kampus waktu itu. Aku janji Aku tak akan marah setelah ini. karena jujur saat melihatmu waktu itu dengan keadaan intim bersama Andre membuat hatiku hancur, seolah itu menyadarkan aku akan posisi dan kedudukan ku di hatimu. Dan pada Akhirnya aku merasa tersakiti." pandangan Farel tertuju ke langit, menceritakan apa yang ia rasakan pada wanitanya. setelah hatinya membaik kini ia siap mendengar penjelasan dari Aisyah.
Aisyah dengan senang hati meluruskan permasalahan mereka, itu memang yang diinginkan Aisyah beberapa hari lalu, namun belum bisa ia lakukan.
"Semu kamu kamu lihat itu salah, kejadiannya tidak seperti tangas bayangkan. Memang betul Andre memelukku saat itu dan aku bukannya tak menghindar ataupun menolak, hanya saja pelukan Andre terlalu kuat hingga aku terkunci dalam pelukannya. Dan saat itu Andre mengungkapkan isi hatinya padaku yang membuat aku tak bisa berkata-kata padanya." Aisyah membuang nafas kasar, ia juga menyesali kenapa ia harus terlalu dengan penuturan Andre waktu itu.
Farel pun masih dengan setia mendengarkan tanpa menyela perkataan dari Aisyah. Ia tak mau melewatkan ataupun salah mengartikan lagi kejadian itu.
"Mas datang di saat yang tidak tepat, saat aku masih diam membisu mendengarkan perkataan Andre hingga mas mengira jika kau menyukai di peluk oleh laki-laki lain selain suamiku. Saat itu aku ingin menjelaskan semu itu. Tapi apalah daya ku, semua penjelasanku tak akan mas dengar jika mas sendiri sedang di kuasai oleh amarah." Aisyah membuang nafas lega, seakan bebannya telah hilang seiring cerita yang telah ia katakan pada Farel. Farel memeluk Istrinya, membawanya dalam dekapan, Farel merasa ia tak memiliki kepercayaan apapun pada istrinya, hingga dengan mudanya bisa berpikir hal buruk mengenai Aisyah.
"Maafkan suamimu ini, yang tak percaya pada mu Dek, mas tahu seharusnya hubungan kita dilandasi kepercayaan, tapi mas lebih percaya pada apa yang mas lihat, hingga mengabaikan kebenaran mu." Farel memeluk Aisyah lebih erat. Ia merutuki kebodohannya yang dengan mudah tertipu dengan Andre, seharusnya ia tahu jika Andre telah merencanakan semua ini untuk mendapatkan Aisyah kembali.
__ADS_1
"Sudahlah, aku tak mau mengingat itu lagi, aku hanya ingin menikmati malam indah ini bersamamu, aku udah siapin semua ini untukmu, khusus hanya untukmu."
"Iya makasih sayang, I love you."
"I Love You too my wife."
Hidangan lezat sudah menanti mereka di atas meja, suasana malam ini tampak sangat mendukung mereka masalah yang membuat mereka jauh pada akhirnya lebih mendekatkan mereka.
Seberat apapun masalah yang kamu hadapi jangan pernah menyerah, jangan pernah lelah berjuang, berserah lah pada yang dia atas, pasti akan ada jalan untuk mu mengatasi masalah tersebut.
Farel Dan Aisyah dua insang yang baru saja berbaikan, membuat janji kembali untuk selalu bersama walau apapun masalah dan serumit apapun keadaan yang akan mereka hadapi nantinya, Meraka akan tetap bergandengan tangan melewati duri yang melintang hingga sampai pada akhir yang memuaskan. Harapan mereka adalah bisa menua bersama.
"Terimakasih untuk semuanya Dek, mas bangga memilikimu dalam hidup ini, hidup yang dulunya mas sangat membencinya karena tak memiliki siapapun, hingga mempertemukan ku dengan Papamu dan berakhir pada dirimu. Mas sangat mensyukuri itu. Mas tak ingin berjauhan lagi darimu. Hanya dirimu, Aisyah yang mas punya."
Farel tak hentinya bersyukur bagaimanapun apapun yang ia miliki sekarang adalah campur tangan dari yang maha kuasa.
"Sekarang yang terpenting kita berbaikan, itu yang aku inginkan sejak kemarin, aku merindukan pelukanmu, kasih sayang dari suamiku yang tampan ini, pelukan yang menenagkan dan...."
Dahi Farel berkerut, dalam hati bertanya apa yang akan Aisyah katakan selanjutnya kenapa menghentikan ucapannya saat Farel begitu serius mendengarkan setiap perkataannya.
__ADS_1