
"Kata dokter, Farel sudah melewati masa Kritis hanya tinggal menunggunya siuman untuk memastikan keadaannya baik-baik saja."
Aku harap apa yang dikatakan dokter tadi benar, Farel segera membuka mata dan kembali sehat seperti sebelumnya.
"Syukurlah kalau begitu. Mengenai penculik Non Aisyah, apa Non tau siapa dia dan motifnya apa?" Fadli mencoba mengorek informasi dari majikannya, siapa tahu saat di culik mereka mengatakan identitasnya.
"Dia sempat mengatakan namanya Bram Kusuma saudara dari Papa, Tapi untuk tujuannya menculikku dia tak memberitahu apa-apa." Aisyah bertanya-tanya jika penculik itu adalah pamanku, lalu kenapa dia mau membunuhku. Banyak pertanyaan yang belum terjawab.
"Bram Kusuma, sepertinya saya pernah mendengar nama itu, tapi dimana ya." Fandi yang merasa familiar dengan nama Bram mencoba mengingat-ingat dimana dia pernah mendengarnya.
"Lalu bagaimana, apakah dia sudah berada dalam penjara?"
"Non Aisyah tenang saja, Penculiknya sudah di masukkan ke sell tahanan."
"Baiklah, semoga Dia dihukum dengan berat." doa Aisyah, Semoga memang benar orang jahat akan tetap mendapatkan hukuman atas kejahatannya.
"Sebaiknya Non Aisyah pulang dulu, bersihkan diri Non Aisyah setelah itu, bisa bergantian jaga dengan saya. Lagipula Pak Farel juga masih belum siuman." melihat keadaan majikannya yang berantakan, ia mengusulkan untuk beristirahat di rumah.
"Kalau begitu Saya pulang dulu, kabari Saya jika Suamiku sudah sadar."
dengan berat hati, Aisyah pergi meninggalkan Farel dengan Fandi di rumah sakit. Sebenarnya, dia masih ingin bersama suaminya, menunggu hingga dia sadarkan diri. Tapi benar juga apa yang di katakan oleh Fandi jika ia harus mengurus dirinya juga." tanpa membantah Aisyah berlalu pergi.
"Pak Farel harus segera sembuh, lihatlah Non Aisyah mulai perhatian dengan pak Farel, bahkan mau memangilmu dengan sebutan Suamiku. Dan, Bapak masih punya tugas menemukan siapa yang telah membuat almarhum pak Wijaya Kusuma kecelakaan. Bangunlah Pak, jangan terlalu lama Bapak tidur." ucap Fandi memberikan semangat pada Farel.
Aisyah pulang dengan menggunakan taksi online. Sampai di depan rumah Aisyah di sambut oleh Bik Sumi yang khawatir mengetahui majikannya diculik." bik sumi yang mengetahui siapa yang turun dari taksi online berlari menghampiri dan memeluk majikannya tersebut.
"Non Aisyah, Non sudah pulang, syukurlah, bibi khawatir mendengar kabar dari tuan Farel kalau Non diculik. Lalu dimana Tuan Farel, kok nggak ikut pulang bersama Non Aisyah?" bibi ingin mendengar cerita Non Aisyah.
"Farel ada di rumah sakit bik, Ia terkena luka tembak di bahunya. Bibi nggak usah khawatir, keadaan Farel sekarang sudah baik-baik saja, sudah di pindah ke ruang perawatan kok." ucap Aisyah menjelaskan.
Bik Sumi sedikit lega mendengar majikannya baik-baik saja.
"Kita masuk Non, Bibi sudah masak makanan kesukaan Non Aisyah."
Aisyah terharu." Terimakasih bik, sudah menyayangi Aisyah seperti putri bibik sendiri."
"Bibik sudah lama kerja disini Non, jadi sudah seperti keluarga sendiri." ucap bik Sumi ikut sedih.
"Sekarang, Non Aisyah makan terus istirahat sebentar, nanti kalau mau ke rumah sakit kasih tahu bibik ya Non, bibik mau ikut jenguk tuan Farel."
"Iya bik, Aku masuk dulu ya."
"Iya Non."
Aisyah dengan cepat menghabiskan makanan yang di siapkan bik Sumi, rencananya ia ingin beristirahat sebentar lalu pergi ke rumah sakit bersama bik sumi.
__ADS_1
Di kamar, Aisyah selalu teringat akan Farel, yang mengorbankan nyawanya untuk melindungi dia.
"Kenapa, kenapa kamu mau melakukan itu, Apa Aku ... sepenting itu dalam hidupmu,? sampai kamu tak ragu untuk melakukannya."
Pikiran Aisyah berkelana kemana-mana. Banyak yang menjadi pertanyaannya. Hingga karena lelah, Aisyah tak sadar sudah tertidur dua jam lamanya, padahal Ia hanya ingin istirahat selama tiga puluh menit saja.
"Astaga, Sudah pukul sebelas siang Bagaimana aku bisa seceroboh ini, harusnya aku, sudah ada di rumah sakit menemani Farel. Sekarang justru aku masih di rumah."
Dengan cepat Aisyah bersiap untuk ke rumah sakit. Tak lupa mengajak Bik Sumi.
Tak butuh waktu lama, Aisyah sudah sampai di rumah sakit. Mereka langsung menuju ruangan Farel, Ruangan yang di tempati Farel merupakan ruangan VIP. Sehingga, yang berkunjung pun merasa nyaman.
Mendengar suara dokter di dalam ruangan, Aisyah langsung saja memasuki ruangan.
"As'salamuallaikum, Aisyah berjalan menghampiri Dokter yang memeriksa Farel, Bagaimana keadaan Suami Saya Dok. Tidak ada yang serius, kan Dok? tapi kenapa Ia belum sadarkan diri dok."
Fandi dan Dokter menjawab salam bersamaan,"wa'alaikumsalam, Semuanya baik Bu. Tidak ada yang perlu di khawatirkan, Belum sadar, itu karena kami memberikan bius total pada Suami Ibu."
"Saya permisi dulu, Jika Pak Farel sudah sadar tolong pangil kami." Dokter memberi arahan sebelum pergi.
"Baik Dokter." jawab Aisyah dan Fandi bersamaan.
"Fandi, Sekarang Saya sudah datang dan ada Bik Sumi juga, Kamu bisa pulang."
Fandi meninggalkan ruangan Farel, sebenarnya Dia sendiri juga merasa lelah, karena ikut bertarung dengan para preman itu."
Bik Sumi meletakkan parsel buah, dimeja samping tempat tidurnya Farel. kemudian mendekat ke arah Farel.
"Kasihan sekali Tuan Farel, semoga, Tuan cepat sembuh ya Non Aisyah. Kalau begini, kan bibi ikut sedih." bik sumi sedih karena salah satu pasangan favoritnya sedang terbaring lemah di rumah sakit.
"Aisyah juga berharap Farel segera membuka matanya. Kalau seperti ini, bukan seperti Farel yang kita kenal, yang selalu ceria. Tapi ini seperti patung yang lagi tidur, ia setia menutup matanya."
Tak berlangsung lama, Tiba-tiba Farel mengerakkan ibu jarinya, matanya mengerjap, berusaha membuka mata meski sangat lemah.
Aisyah yang menyadari pergerakan Farel, langsung mengenggam tangannya.
"Farel, Kau sudah sadar, syukurlah, Aku akan panggil Dokter."
"Aisyah, jangan pergi, jangan tinggalkan Aku," ucap Farel lirih, dengan masih memegang tangan Aisyah.
"Tenanglah, Aku disini bersamamu. jangan banyak bicara dulu, Kamu harus istirahat." masih tetap mengenggam tangan Farel. Memberikan ketenangan pada Farel.
"Biar bibi saja, yang memangil dokter, Non."
Tak lama, Dokter dan Suster masuk keruangan Farel. Memeriksa kondisi Farel.
__ADS_1
"Bagaimana kondisi Suami Saya Dok?" tanya Aisyah, ia takut ada luka serius.
Dokter tersenyum."Alhamdulillah, semuanya baik, untung saja pelurunya tidak mengenai tulang, sehingga tidak ada yang serius. Tetapi tangan Pak Farel jangan banyak gerak dulu. Untuk sementara, Pak Farel mengunakan Arm Sling agar luka Pak Farel cepat sembuh."
"Baik Dok, Terimakasih."
Dokter pergi meninggalkan ruangan.
"Farel, lepaskan tanganku dulu, Aku mau mengabari Fandi kalau kamu sudah sadar. Dia ada di rumah sekarang."
"Tidak Aisyah, Aku tak mau melepaskannya. Kamu akan pergi dariku, jika aku melepaskannya." Farel berucap sedikit pelan karena ia masih lemas.
"Tidak, aku disini bersamamu. Jangan takut, tolong lepaskan sebentar!"
setelah perdebatan kecil akhirnya Farel bersedia melepas tangan Aisyah.
"Baiklah ... "
Aisyah mengambil handphonenya di dalam tas, menghubungi Fandi, memberi kabar jika Farel sudah sadar.
"Cepatlah kemari, Tuanmu Farel sudah sadar." panggilan singkat itu membuat sinar kebahagiaan pada mata Fandi.
Dengan cekatan, Fandi yang sedang bersantai, langsung meluncur ke rumah sakit. Tak butuh waktu lama, Ia tiba di rumah sakit.
Di ruangan Farel.
"Aisyah, aku harus, mau minum." Farel sengaja berucap sedikit manja, ia ingin Aisyah memperhatikannya.
Siapa yang tak ingin melewatkan kesempatan untuk di perhatikan istri saat sakit. Aku rasa tak ada, semuanya ingin dimanja saat mereka sakit.
Aisyah memberikan segelas air dan membantu Farel meminumnya. Sedangkan Bik Sumi yang melihat tingkah Farel senyum-senyum sendiri, sebagai orang yang sudah berumur, ia bisa menebak jika yang dilakukan Farel adalah sengaja, tapi bik sumi juga bersyukur, setidaknya hubungan mereka sudah mulai harmonis.
Ckleek
Pintu terbuka Fandi masuk ke ruangan Farel dan bergabung bersama mereka.
"Bagaimana keadaan Pak Farel, Saya senang Bapak sudah sadar."
"Seperti yang kau lihat, Saya baik-baik saja. Apakah penculiknya sudah di hukum?"
"Mereka sudah di penjara, dan sebentar lagi, kita akan tahu apa motif dari penculikan Non Aisyah."
"Syukurlah kalau begitu.Saya lega mendengarnya."
"Sudahlah Farel, Fandi, semua sudah berlalu. Tak perlu kita bahas lagi."
__ADS_1