Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Rencana kabur


__ADS_3

Vika mencoba menjelaskan semu kejadian dengan Rinci.


Farel sendiri yang dari tadi hanya menyimak dengan wajah datar, pandangannya lurus ke depan namun pikirannya kosong. Setelah mendengarkan penjelasan dari Vika Farel tak menjawab atau memberi pertanyaan apapun pada Vika, yang ada di Pikiran Farel sekarang adalah bagaimana caranya Farel bisa menemukan lokasi dimana Aisyah berada.


"Maafkan kamu Farel, jika bisa tolong maafkan kami!!"


Tanpa menjawab permintaan Vika Farel melangkahkan kakinya keluar dari area rumah Vika.


"Kamu berhak Marah Farel, Aisyah hilang juga karena kami sendiri. Sebagai sahabat kami telah lalai akan tugas kami terlebih kamu sendiri telah menitipkan Aisyah pada kami." Vika masih menagis, mengingat kejadian malam itu membuatnya di hantui rasa bersalah.


Farel kemudian pergi meninggalkan Vika yang masih menangis, ia memilih pulang ke rumah. Semenjak kedatangannya Farel belum pulang ke rumah.


Tak lama mobil terparkir di halaman rumah, Fandi yang melihat dari jendela kamar miliknya merasa lega.


Fandi ingin sekali menghampiri bosnya itu namun niat itu ia urungkan.


𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘗𝘢𝘬 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭, 𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪𝘮𝘢𝘯𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘬𝘢𝘣𝘢𝘳 𝘪𝘯𝘪 𝘤𝘶𝘬𝘶𝘱 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘶𝘯𝘤𝘢𝘯𝘨 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢. 𝘉𝘦𝘴𝘰𝘬 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘵𝘦𝘮𝘶𝘪 𝘣𝘰𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘢𝘩𝘢𝘴 𝘱𝘦𝘯𝘤𝘶𝘭𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘉𝘶 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪.


Fandi kemudian memilih untuk beristirahat dengan harapan semoga ada petunjuk mengenai keberadaan majikannya tersebut.


Farel masuk kedalam rumah, hatinya terasa pilu ketika angan-angan ia pulang dari kalimantan akan di sambut oleh Aisyah dengan senyum hangatnya. Namun kenyataan yang sekarang Farel alami membuatnya menyesali kenapa harus pergi meninggalkan Aisyah nya sendiri.


Musuh-musuh dari Pak Wijaya rak ada yang berani mengusik Putri semata wayangnya sebab putrinya di jaga oleh bodyguard yang memiliki kekuatan tangguh tak terkalahkan, bahkan melawan seratus orang sekaligus dapat teratasi dengan sangat baik. itu sebabnya Pak Wijaya memilih untuk menikahkan Putrinya, Aisyah dengan Farel.


Farel berlari menaiki anak tangga, menuju kamar miliknya, kamar yang pernah menjadi saksi percintaan panas mereka, saksi keharmonisan hubungan yang baru saja membaik kini telah terasa sunyi tanpa kehadiran pemilik yang sesungguhnya.


"Aisyah... kembalilah jangan tinggalkan aku... " Farel jatuh terduduk di lantai dengan memeluk lutut, Farel menumpahkan segala kesedihannya. Baru kali ini Farel merasa kekuatan yang ia miliki tak ada gunanya jika ia tak bisa melindungi belahan jiwanya. Kenangan-kenangan manis yang tercipta beberapa bulan terakhir selalu berputar di kepala.


"Aisyah... tolong berikan aku petunjuk dimana aku bisa menemukanmu... jangan uji aku dengan kehilangan dirimu, aku tak sanggup." Farel bermonolog.

__ADS_1


Farel kembali menangis hingga tanpa sadar ia telah terlelap.


***


Andre kini telah mendapatkan perawatan dirumah, sengaja Pak Darwin tak membawanya ke rumah sakit, ia lebih memilih merawat di rumah.


Beberapa luka yang di dapat dari Farel cukup membuat keadaan Andre sedikit melemah. Darwin sendiri pun tahu jika lawan yang dipilih oleh Andre bukan lah lawan biasa karena Darwin sendiri telah mengetahui dari gosip yang beredar jika bodyguard Wijaya bukanlah orang sembarangan.


"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Andre, kenapa dia memilih untuk berurusan dengan bodyguard itu." Papanya Andre merutuki kebodohan putra semata wayangnya.


"Sudahlah pa, kita bicarakan itu nanti sekarang yang terpenting adalah kesadaran putra kita. Kenapa Andre belum juga sadar." Mila yang merupakan ibu dari Andre sangat merasa cemas dengan keadaannya sekarang.


"Papa rasa Andre telah membuat kesalahan pada Farel jika tidak Bodyguard itu tak akan menghajar putra kita sampai begini. Jika terbukti Andre bersalah, aku sendiri Yang akan memberinya hukuman, tapi jika terbukti benar aku akan menuntut balik Farel dan memasukkannya dalam jeruji besi." Darwin merasa kesal.


"Apapun itu pa, papa harus membela Andre, dia putra kita satu-satunya Pa, jangan biarkan ketidak adilan terjadi kepadanya." Mila tetap menganggap bahwa putranya tidak bersalah.


Darwin tak ingin berdebat dengan istrinya, ia lebih memilih meninggalkan kamar putranya itu.


Andre sendiri sebenarnya sudah tersadar, namun ia memilih untuk tetap memejamkan mata dan mendengar setiap pembicaraan kedua orang tuanya.


𝘚𝘦𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘩𝘢𝘳𝘶𝘴 𝘮𝘦𝘺𝘢𝘬𝘪𝘯𝘬𝘢𝘯 𝘗𝘢𝘱𝘢 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩, 𝘥𝘢𝘯 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘩𝘪𝘭𝘢𝘯𝘨𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘶𝘬𝘵𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘢𝘱𝘢𝘱𝘶𝘯 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘭𝘶𝘮 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘭𝘪𝘬 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘦𝘳𝘢𝘯𝘨𝘬𝘶. Andre berucap dalam hati.


Setelah kepergian Mamanya Andre mencoba untuk bangkit, duduk bersandar pada dipan kayu. Andre meraih handphone miliknya dan menghubungi nomor yang diberi nama paman B.


Drreeettt...


Drreeettt...


Panggilan terjawab, suara dari sebrang mulai terdengar.

__ADS_1


"Aku minta segera akhiri ini, Farel suami Aisyah telah kembali. jika bisa lenyapkan saja Aisyah sekarang dan hapus bukti keterlibatan ku dalam hal ini." pinta Andre setelah menyadari jika lawan mainnya memang benar-benar jauh di atasnya.


"Farel ada disini... hahaha.... apa kau takut kepadanya?"


"Kau tebang saja, Farel tak akan menemukan Aisyah, wanita ini aman bersamaku." Senyuman licik menghiasi wajah Bram.


"Apapun itu, aku harap rencana kita berhasil." Andre menekankan setiap katanya.


Tutt... Andre mematikan panggilan sepihak.


Braakk...


Bram melempar sebuah vas bunga pada kaca yang menyebabkan kepingan kaca berjatuhan.


Mendengar kabar Farel telah kembali membuat kepingan ingatan kejadian saat Bram hendak menghabisi nyawa Aisyah dan digagalkan oleh Farel serta bawahannya Fandi mengusik dirinya.


"Tak akan ku biarkan kau mengagalkan rencanaku lagi. untuk kali ini akan ku pastikan Farel akan merasakan kehilangan dengan begitu rencanaku balas dendam akan berhasil." Bram menyerigai. Umpan yang sudah di depan mata tak mungkin ia lepaskan begitu saja. setelah penantian sekian lama akhirnya Bram memiliki kesempatan membalaskan dendamnya.


"Setelah ini kamu pasti akan merasa danau istri dan anakku, keluarga yang telah membuat kita terpisah telah aku hancurkan. Dan sebentar lagi akan ku akhiri untuk selamanya. Aku janji setelah ini aku akan pergi mencari kedamaian ku." Bram berbicara di depan foto keluarga kecilnya.


Aisyah sudah tersadar dari pingsannya, ia masih terus mencari cara agar bisa terlepas dari ikatan dan kemudian kabur dari pat terkutuk ini.


Kini mulut Aisyah sudah tidak diberi penyumpal lagi, sehingga Aisyah bisa berbicara.


"Hai kau... apa aku bisa pergi ke toilet."


"Tidak, kau tak akan pergi kemana-mana."


"Tolonglah, aku sudah tidak tahan ini, apa kau ingin aku mengeluarkannya di sini." pinta Aisyah dengan tatapan memelas.

__ADS_1


"Baiklah, tapi jangan lama-lama lima menit kamu harus kembali kesini. jika tidak kamu tahu sendiri akibatnya." preman itu melepaskan ikatan tangan Aisyah dan mengantarnya menuju toilet yang terletak di gudang bekas itu.


__ADS_2