Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Siapa sangka


__ADS_3

Sudah hampir dua jam Fandi dan Alex menunggu di depan ruangan kerja Farel tapi sedikitpun tak ada tanda-tanda penghuninya akan keluar.


"Bagaimana ini pak Fandi, sepertinya saya harus kembali pulang dengan membawa kekecewaan, begini saja jika nanti Pak Farel telah selesai dengan tamu pentingnya ini tolong minta dia untuk menemui saya, saya harus pergi masih banyak pekerjaan yang harus saya urus." ucap Alex kesal, usahanya menunggu telah sia-sia. Meskipun Kesal, Alex tak ingin langsung menghakimi, mungkin urusannya sangat penting dan Alex sendiri merupakan mang tipe orang yang tidak terlalu suka menunggu lama.


"Baiklah pak Alex, nanti setelah tamunya pak Farel pulang saya akan langsung beritahu beliau untuk segera menemui anda di perusahaan anda, maaf atas ketidak nyamanan anda di sini." Fandi mewakili Farel meminta maaf kepada Alex, bagaimanapun Farel juga sahabatnya, selain menjadi atasannya.


Alex kemudian pergi meningalkan kantor Farel dengan sedikit kesal. "Sebenarnya siapa tamu pak Farel, kenapa lama sekali tak kunjung keluar, huft... ya sudahlah, nanti juga pak Farel datang ke kantor sekarang lebih baik aku pulang, mommy pasti sudah menungguku." Alex sudah berjanji akan menemani mommy nya berbelanja kali ini.


Di kantor Fandi masih terus menunggu kapan pintu itu menunjukkan pergerakan, sehingga Fandi bisa memberikan informasi kalau rekan kerja Farel telah datang dan sempat menunggu lama di luar ruangan kerjanya, Sebenarnya sudah berkali-kali Fandi mencoba memberi tahu Farel, namun karena ruangan yang di desain kedap suara, usaha Fandi hanya sia-sia.


𝘈𝘸𝘢𝘴 𝘢𝘫𝘢 𝘱𝘢𝘬 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭, 𝘵𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪 𝘱𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘥𝘪 𝘳𝘶𝘮𝘢𝘩, perserang dengan bos dan bawahan. Fandi sudah tersulut emosi, ingin rasanya dia menelan hidup-hidup bos laknatnya itu, jika tidak mengingat Farel adalah sahabat seperjuangan maka sudah Fandi lampiaskan kemarahannya itu saat ini juga.


Fandi akhirnya duduk kembali pada kursi tunggu yang tersedia di depan ruangan Farel, dan benar saja tak lama pintu yang berdiri kokoh tak menunjukkan perubahan apapun sekarang ad pergerakan dari dalam. Farel dan Aisyah hendak keluar, Acara romantis mereka sudah berakhir sebab Aisyah memiliki janji dengan Vika untuk pergi ke tempat Vita.


"Akhirnya, keluar juga!" ucap Fandi lirih.


"Mas aku pulang dulu ya, makasih untuk kejutannya aku suka, dan kamu Fandi, terimakasih sudah membantu Mas Farel." Aisyah berjalan keluar meningalkan Farel dan Fandi yang masih mematung di depan ruangan Farel.


"Oh ya, Fandi, di dalam ad sedikit makanan dari Aisyah, kebetulan tadi Aisyah belinya ke banyakan jadi dari pada nggak ke makan lebih baik kamu makan saja." pinta Farel tanpa disa. Sedangkan Fandi kini tengah menatap sahabatnya itu dengan tatapan kesal setengah mati.


"Tanpa permisi Fandi masuk ke dalam dan mengambil makanan yang di maksud oleh bosnya itu dan berlalu melewati Farel begitu saja, sebelum melewati Farel terlalu jauh Fandi menghentikan langkahnya dan berbalik menatap Farel.

__ADS_1


"Pak Farel, saya mau memberitahukan bahwa rekan kerja anda tadi datang ke mari hendak membahas kerja sama kalian, dia bernama pak Alex, Oh ya dia tadi sudah menunggu anda selama dua jam lamanya, dan ya jangan salahkan saya, saya sudah berusaha berkali-kali menghubungi anda, memanggil, tapi tak sedikitpun Pak Farel menghiraukannya. Satu lagi Pak Farel, tadi Pak Alex berpesan agar anda menemuinya di perusahaannya guna membahas masalah kerja sama itu, sepertinya tadi beliau meninggalkan ruangan anda dengan keadaan kesal!" setelah menyelesaikan ucapannya Fandi pergi ke ruangan kerjanya sambil membawa sekotak makanan siap saji.


Farel sendiri masih terbentang mendengar perkataan Fandi barusan, "Sepertinya aku melakukan kesalahan, Pak Alex merupakan rekan kerja sekaligus teman baru, aku harus bisa membujuk Pak Alex." Farel bergegas masuk menyambar kunci mobil dan pergi menuju Holding companny.


****


Aisyah kini tengah berada di salah satu restoran milik Vita, gaya hitungan bulan Vita bisa mengembangkan usahanya itu. kalau memang sudah rezeki jalan pun akan terbuka sendiri.


"Vika, Aisyah, kalian datang?" tanya Vita yang cukup terkejut ketika kedatangan kedua sahabat baiknya.


"Kejutan lah, kalau bilang-bilang bukan kejutan lagi namanya." Mereka bertiga kini berpelukan saling melepas rindu, setelah sekian lama bergelut dengan dunia bisnis masing-masing.


"Ya, gue seneng banget kalian datang ke restoran gue, kalian duduk saja, kita makan bersama jangan di tolak, kapan lagi kita bisa makan bersama." tak lama Vita menangis pelayang dan memintanya menyiapkan makanan untuk mereka makan bertiga sebagai pelepas rindu.


"Pastilah, sahabat kita ini kan paling bisa kalau soal urusan perut, pasti suaminya kelak bakalan gemuk nih, tiap hari di sajikan makanan yang enaknya tiada tara ini." cerca Aisyah menambahkan.


"Iyalah terserah kalian, semoga saja jodohku segera turun, biar aku nggak jadi obat nyamuk sendiri, masa tiap kali ketemuan pasti pada bawa pasangan masing-masing, sedangkan aku hanya sendiri kalian buat jiwa jomblo ku meronta-ronta tau nggak." ucap Vita mengeluarkan uneg-unegnya.


"Apa mau kita carikan jodoh?"


"Aku punya banyak kenalan cowok tampan, kayaknya pas buat lo, tapi tergantung lo nya juga sih, kalau nggak suka ya jangan di paksa, cinta itu datang dari hati, tapi ada juga kasus yang cintanya datang karena terbiasa, ya seperti sahabat kita ini," Vika melirik Aisyah yang hanya menjadi pendengar.

__ADS_1


"Lo kok jadi aku yang jadi topik pembahasan." ucap Aisyah tampak cemberut, tapi itu rak berlangsung lama sebab yang namanya sahabat mau sekesal atau semarah apapun tak akan terpisahkan.


Beberapa pelayang datang membawakan makanan yang diminta oleh Vita, Vika dan Aisyah melongo, mereka kira hanya akan makan sedikit untuk menghargai Vita, tapi nyatanya meja mereka kini telah penuh dengan berbagai makanan terlezat yang dimiliki oleh restoran milik Vita.


"Serius ini, mana bisa kita makan sebanyak ini, Vita."


"Kalian harus mencicipi nya jika tidak maka kalian bukan lagi sahabatku!" ancam Vita, ancaman itu sekses membuat mereka berdua mati kutu.


"Ya, kita makan," ucap mereka bebarengan namun terdengar lirih.


"Begitu lebih baik." Vita tertawa senang bisa menbuat kedua sahabatnya seperti sedang tertangkap basah melakukan sesuatu, Vika dan Aisyah kini mau tak mau harus memakan apa yang Vita siapakan untuk mereka.


****


Farel kini telah sampai di perusahaan Holding Companny, tanpa basa-basi Farel segera berjalan masuk dan menanyakan dimana ruangan Pak Alex pada resepsionis. Tak lama ia mendapat jawaban atas pertanyaannya itu, dengan langkah seribu Farel telah tiba di depan ruangan Alex.


"Baiklah, saatnya memperbaiki kesalahan!" gumam Farel menyemangati diri sendiri.


Cklek...


Pintu terbuka, Farel terkejut mendapati orang yang sedang berdiri di samping Rekan kerjanya itu, dia orang yang Farel kenal beberapa hari terakhir.

__ADS_1


"Bu Maya." beo Farel.


__ADS_2