Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Keinginan Aisyah yang utama


__ADS_3

"Kenapa kamu diam saja, Kamu keberatan jika saya ikut!" ucap Aisyah tenang namun dengan tatapan mematikan. "Tidak Bu, masak iya saya keberatan Ibu kan istrinya Pak Farel saya hanya sekertaris nya jelas lebih berhak Ibu dalam menentukan keputusan." mendapat tatapan mematikan Ririn mencoba bersikap biak.


𝘛𝘢𝘱𝘪 𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘢𝘯𝘨 𝘥𝘶𝘭𝘶, 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘳𝘢𝘯𝘨 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘪𝘴𝘵𝘳𝘪 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭, 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘍𝘢𝘵𝘦𝘭 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘫𝘢𝘵𝘶𝘩 𝘬𝘦 𝘱𝘦𝘭𝘶𝘬𝘢𝘯𝘬𝘶. 𝘛𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶 𝘴𝘢𝘫𝘢 𝘬𝘦𝘩𝘢𝘯𝘤𝘶𝘳𝘢𝘯 𝘩𝘶𝘣𝘶𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯. Ririn berucap dalam hati. Setelah mengatakan yang diinginkannya, Aisyah pergi meninggalkan ruangan Ririn dan melanjutkan untuk melihat-lihat keadaan serta cara kerja kantor.


"Ck!, kenapa si Aisyah pakek acara datang ke kantor segala merusak mood ku yang bagus saja, dia itu lebih baik dima di rumah, nggak perlu tahu urusan suaminya di kantor." Ririn mengumpat istri dari sahabatnya. Ririn teringat akan perjanjiannya dengan Andre, ia menghubungi Andre meminta agar segera menyusun rencana untuk memisahkan mereka berdua.


"Kapan rencana kita akan dijalankan, sepertinya mereka sudah bertambah dekat, Kita tidak boleh terlambat memisahkan mereka atau kita akan kehilangan orang yang kita sayang untuk selamanya." Ririn yang khawatir akan kehilangan Farel pujaan hatinya.


"Kamu tenang saja, kita tunggu waktu yang tepat, jangan sampai kita terburu-buru itu hanya akan merugikan kita saja." Andre tak mau rencana yang sudah ia susun akan hancur hanya gara-gara kecerobohan semata.


Ririn yang mendapat jawaban tidak sesuai, dan diminta menunggu hanya bisa pasrah dengan apa yang terjadi.


"Oke, aku tutup dulu jika nanti ada yang mendengar pembicaraan kita bisa gawat." Ririn mematikan telpon dpn membanting bobot di kursi kerja miliknya.


𝘈𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘴𝘦𝘣𝘢𝘨𝘢𝘪 𝘱𝘦𝘯𝘨𝘩𝘢𝘭𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘬𝘪𝘵𝘢 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘵𝘶 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭, 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘮𝘶. Ririn masih berharap untuk memiliki Farel.


Sedangkan Aisyah masih senang berkeliling kantor, banyak karyawan yang menyapanya, semuanya terlihat menyenangkan. Hingga bunyi perut yang keroncongan mengingatkan Aisyah akan sekotak pizza yang ia minta dari Farel.


"Perutku sudah keroncongan, Lebih baik aku ke ruangan Farel, siapa tahu pesananku sudah datang." dengan langkah cepat Aisyah.


Sampai di ruangan Farel, pandangannya menelisik ruangan kerja Farel namun Aisyah tidak melihat siapapun. tapi ad ayang menarik perhatiannya, yaitu satu kotak pizza ukuran jumbo terletak di atas meja dekat sofa.


"Itu dia yang aku cari. Aisyah berjalan mendekati kotak tersebut. lebih baik aku makan dulu sambil nunggu Farel kembali, mungkin sekarang Farel sedang keluar." untuk sejenak Aisyah melupakan Farel dan fokus memakan Pizza di depannya.


"Makanan ini sangat lezat, Farel memang sangat pandai memilih makanan, sangat sesuai dengan seleraku." Aisyah merasa lega perutnya sudah terisi.


Aisyah sudah lama menunggu, hingga makanan yang dimakan Aisyah sudah ludes tinggal wadahnya saja.

__ADS_1


Efek memakan semua hingga habis Aisyah sekarang mengantuk. Hingga tanpa sadar Ia sudah tertidur di sofa.


***


Farel sendiri sedang mengadakan Rapat mendadak sehingga tidak sempat memberitahu Aisyah mengenai rapat tersebut. Sebelum pergi Farel sudah memesankan pizza kesukaan Aisyah yang ditaruh di atas meja dekat sofa ruangannya.


Setelah selesai Ia segera kembali ke ruangannya.


Ckleek...


Pintu terbuka menampilkan Aisyah yang sedang tertidur dengan bungkus makanan yang berserakan membuat farel geleng-gelang kepala.


"Istriku kalau lagi tidur ternyata sangat cantik, tapi bagaimana bisa Ia makan sampai seperti ini, bungkusnya saja sampai kemana-mana." Farel menghampiri Aisyah dan membetulkan posisi tidur Aisyah serta membersihkan sisa makanan yang berserakan. Farel memandang wajah cantik yang sedang tertidur dengan pulas, Tiba-tiba ia ingat sesuatu.


"Bagaimana ini, sudah hampir jam dua, aku harus menghadiri meeting dengan pak Gunawan. Tapi bagaimana dengan Aisyah, jika aku tinggal dia akan bertambah marah. lebih baik aku bawa saja meskipun lagi tidur nanti juga dia bangun." pilihan akhir Farel membawa Aisyah dalam gendongannya dengan hati-hati, melawati setiap lorong perusahaan.


Ririn yang sudah menunggu di samping mobil terkejut melihat Farel menggendong Aisyah.


"Loh, Bu Aisyah jadi ikut, tapi kenapa dia tidur kalau mau ikut." tanya Ririn yang kesal. Sebagai sekertaris Ririn juga akan ikut bergabung dengan mereka.


"Biarkan saja, nanti Aisyah juga akan bangun, dia tadi sudah berpesan untuk ikut, kasihan jika harus ditinggal, apalagi saat dia sedang tidur. Aku tidak tega meninggalkannya sendiri disini. Sudah lebih baik kita pergi sekarang." Farel membela istrinya di depan Ririn, hal itu membuat Ririn bertambah kesal.


"Baiklah, terserah kamu Saja."


Dalam mobil Aisyah yang merasakan guncangan terbangun dan terkejut, bagaimana Ia yang sedang tidur di sofa bisa berada di dalam mobil bersama Farel dan juga Ririn.


"Sudah bangun, bagaimana rasa pizzanya, enak." tanya Farel menggoda, membayangkan Aisyah menghabiskan satu kotak pizza ukuran jumbo membuat Farel geleng-geleng kepala.

__ADS_1


Aisyah yang mendengar itu hanya tersenyum malu, jika mengingat kalau Ia memakan sendiri pizza itu tanpa menyisakan sedikit untuk suaminya.


"Maaf, tadi aku sudah sangat lapar, lagipula kamu tadi nggak datang-datang aku tunggu di ruangan kamu." Aisyah berganti kesal dengan Farel.


"Aku tadi sedang rapat mendadak, jadi nggak sempat buat kasih tahu kamu, lagian kamu tadi kelilingnya lama nggak balik-balik, ya aku tinggal saja. Tapikan sekarang sudah diajak meskipun tadi masih tidur." Farel menjelaskan agar Aisyah tak marah.


Ririn yang melihat mereka sudah berbaikan bertambah kesal, jarak yang ingin Ia buat untuk Farel dan Aisyah gagal total.


𝘚𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘴𝘶𝘴𝘢𝘩 𝘱𝘢𝘺𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘮𝘢𝘳𝘢𝘩 𝘬𝘢𝘳𝘦𝘯𝘢 𝘥𝘪 𝘵𝘪𝘯𝘨𝘨𝘢𝘭 𝘮𝘦𝘦𝘵𝘪𝘯𝘨 𝘣𝘦𝘳𝘫𝘢𝘮-𝘫𝘢𝘮, 𝘮𝘦𝘳𝘦𝘬𝘢 𝘫𝘶𝘴𝘵𝘳𝘶 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘤𝘦𝘱𝘢𝘵 𝘪𝘯𝘪. Ririn berucap dalam hati.


Meeting yang diadakan sebelum mereka berangkat adalah rencana dari Ririn yang ingin membuat jarak di antara mereka.


Perubahan wajah Ririn diperhatikan oleh Aisyah melalui kaca spion belakang.


𝘚𝘴𝘱𝘦𝘳𝘵𝘪𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘳𝘦𝘯𝘤𝘢𝘯𝘢 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶, 𝘢𝘱𝘢 𝘥𝘶𝘨𝘢𝘢𝘯𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘫𝘪𝘬𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘴𝘦𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳𝘯𝘺𝘢 𝘪𝘯𝘨𝘪𝘯 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘴𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘯 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭. Aisyah berucap dalam hati.


Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di tempat perjanjian.


"Ayo Aisyah, kita masuk." ajak Farel.


"Apa tidak sebaiknya Bu Aisyah menunggu di hotel saja, atau memilih berbelanja saja. Maaf, sebelumnya, saya menyarankan itu karena takut Bu Aisyah merasa bosan di saat meeting berjalan, Bu Aisyah sendiri kan tidak pernah mengikuti hal seperti ini." Ririn memberi alasan agar Aisyah tak bergabung dengan mereka.


"Kalian tenang saja aku tak akan menggangu kalian Meeting. Aku hanya akan mendengarkan saja." Aisyah yang menyadari itu adalah rencana Ririn bersikeras untuk tetap ikut dalam meeting.


"Ririn benar Aisyah apa nanti kamu tidak merasa bosan jika Ikut kita meeting di dalam. Apa tidak lebih baik kamu berbelanja." Farel juga tak ingin Aisyah sampai merasa bosan karena hanya mendengarkan.


"Aku tidak akan pergi kemana-mana, titik." ucap Aisyah bersikukuh.

__ADS_1


"Baiklah jika kamu mau seperti itu, kamu akan ikut masuk kedalam." Farel memilih mengiyakan daripada nanti Aisyah marah lagi.


__ADS_2