Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Tak Sabar ingin Pulang


__ADS_3

Saat hendak pulang Farel menyempatkan untuk mengadakan meeting sebentar dengan para management yang bersangkutan.


"Sebelumnya saya minta untuk semua yang telah hadir di sini untuk ikut membantu membangun kembali citra perusahaan ini yang sebelumnya sempat turun. Kita harus bisa mempertahankan kualitas produk yang kita miliki. Apakah kalian siap untuk bekerja sama dengan saya untuk membangun kembali seperti semula?" Farel tetap ingin ada kedisilinan di perusahaannya.


"Saya akan tetap mantau semuanya, meski saya besok sudah harus kembali ke jakarta. Saya harap semuanya bisa bekerja sama. Kita sudah mendapatkan kepercayaan dari para pemegang saham kembali, dengan itu kita harus bisa bangkit. Sesuai dengan apa yang saya sampaikan pada meeting dengan para pemegang saham. Saya harap gagasan ide itu bisa diwujudkan. Dengan begitu kita bisa kembali memperoleh keuntungan untuk perusahaan kita ini. Bagaimana kalian siap melakukannya?" Farel mencoba membangkitkan semangat para pekerjanya.


"Kami siap membangun kembali kepercayaan para konsumen kepada perusahaan kita ini. Kita semua akan bekerja sama dalam upaya itu. Dan dalam pimpinan Pak Farel kami percaya perusahaan ini bisa kembali seperti semula." ucap Pak Herman selaku kepala manager mewakili semuanya.


"Kalau begitu saya tutup meeting hari ini. Pesan saya tetap semangat meski saya tidak di sini. Silahkan kalian bisa pulang dan beristirahat di rumah." Farel mempersilahkan mereka pergi terlebih dahulu.


"Kamu memang hebat, Farel. Kamu bisa membangkitkan kepercayaan mereka kembali." Ririn mengagumi cara kerja Farel.


"Itu memang harus di lakukan, Rin. Berkat kerja keras mereka juga perusahaan bisa sampai di titik ini."


"Kamu benar, Farel. Sekarang kita pulang, banyak yang harus kita kemas sebelum kita kembali ke jakarta." ajak Ririn dengan suara di lembutkan.


"Iya, tapi apa boleh aku menghubungi Aisyah sebentar." tanya Farel, ia ingin meminjam handphone Ririn kembali.


"Tentu, Ririn menyerahkan handphone miliknya, bicaralah sepuasnya, aku tunggu di mobil." Ririn berjalan ke arah parkiran dan menunggu di dalam mobil.


Farel mencari tempat ternyaman untuk menghubungi Aisyah, Ia memilih duduk di kursi yang ada di samping kantor. Memang di samping kantor terdapat taman kecil yang memang masih milik perusahaan Farel.


Satu panggilan, Aisyah masih belum menjawabnya. Kedua kalinya Farel memanggil, Aisyah juga masih belum menjawabnya. Hingga Farel berpikir "Apa mungkin Aisyah masih marah kepadaku. Tapi aku sendiri masih belum mengerti apa kesalahanku." Farel masih berpikir keras untuk mengetahui apa masalahnya.


Meskipun begitu Farel tetap berusaha untuk menghubungi Aisyah.

__ADS_1


***


Aisyah dan kedua sahabatnya baru saja pulang dari salon beauty, setelah melakukan berbagai perawatan, sekarang tubuh mereka terasa lebih rileks.


"Aisyah, kita malam ini nginap lagi ya di rumah lo, lagian Farel nya kan pulangnya masih besok,! Lo nggak keberatan, kan. Kita bisa habiskan waktu bersama malam ini buat nonton atau sekedar santai, gimana." tanya Vika, sekalian memberi ide.


"Oke, aku justru senang kalian mau nginap lagi, untuk idenya aku setuju banget. lagian art ku juga cuma sampai sore saja, mungkin saat kita pulang bik sumi sudah pulang duluan." ajak Aisyah. Setelah sampai di rumah, Aisyah memilih membersihkan diri, sedangkan kedua sahabatnya sedang asik nonton drakor.


Di kamar, Aisyah meletakkan handphone miliknya di atas meja untuk di cash. Setelah itu ia mandi. Berkali-kali handphone Aisyah berbunyi, tapi Aisyah sendiri tidak mendengar nada dering dari handphone miliknya, karena memang Aisyah menggunakan nada dering pelan.


Selesai mandi Aisyah mengecek handphone miliknya.


"Astaga, Banyak sekali panggilan dari Ririn. Tapi sepertinya ini bukan Ririn tapi Farel. Karena nggak mungkin Ririn mau telfon aku berulang kali." tebakan Aisyah dan itu tidak pernah meleset. Melihat panggilan berpuluh-puluh kali dari Ririn.


Aisyah yang melihat panggilan Itu pun memilih menghubungi kembali dan benar ternyata yang memanggilnya adalah suami tercintanya.


"Tenaglah, suamiku. Istrimu ini tak mungkin bisa marah kepadamu semudah itu. Apalagi tanpa bukti. Aku sangat mempercayaimu, Farel." Aisyah meyakinkan Farel bahwa ia baik-biak saja.


"Besok, pulanglah lebih cepat, ada yang ingin aku buktikan sama kamu." pinta Aisyah. Mendengar itu Farel mulia penasaran, kenapa Aisyah berbicara seperti itu.


"Memang ada apa, Aisyah, apa yang ingin kamu buktikan?"


"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan, sekarang kamu ada dimana?" Aisyah mengalihkan Perhatian Farel dari membahas Ririn.


"Aku masih di kantor, ini juga mau pulang. Aku sempatkan dulu menelfonmu karena aku sangat merindukanmu." Farel ingin sekali bisa memeluk istrinya sekarang, meluapkan rasa rindu yang sudah berada di puncaknya. Rasanya Farel sudah tak sabar ingin pulang malam ini juga hanya untuk menemui Istrinya.

__ADS_1


"Istrimu ini memang sangat cantik, Tapi apa mungkin kamu tidak tertarik pada wanita di sana yang sering kamu temui, bagaimana pun kamu jauh dariku, kesempatan tertarik pada yang lain itu pasti ada."


"Jangan tertarik, sayang. Memikirkannya saja aku tak sempat. Banyaknya pekerjaan membuat aku terlalu sibuk, Aisyah. Tunggulah aku pulang, aku membawakan sesuatu untuk mu." Farel ingin memberikan Hadiah kecil kepada Istrinya.


"Baiklah, aku akan menunggumu. Cepatlah pulang." pinta Aisyah. Ia tak bisa memungkiri jika dia juga sangat merindukan suaminya, Farel di sisiNya. berada dekat dengan Farel selalu membuatnya nyaman.


Farel menutup panggilannya karena sudah hampir satu jam ia berbicara dengan Aisyah hingga melupakan Ririn yang menunggunya di mobil.


"Sudah ya sayang, aku hendak pulang ke untuk istirahat, sepertinya tulang-tulangku ini butuh di luruskan. salam sayang, tunggu aku pulang ya!" Farel mengakhiri panggilannya.


Setelah menelfon Aisyah, Farel jadi lebih bersemangat untuk segera pulang. Farel berjalan ke arah mobil, sedangkan di mobil Ririn yang masih menunggu Farel tanpa sadar sudah tertidur di mobil. Farel yang kasihan melihat sahabatnya kecapekan, memilih membiarkannya tertidur dan akan membangunkannya saat mereka sudah sampai di Hotel tempat mereka menginap.


Jalanan cukup padat karena memang masih tidak terlalu gelap. sebelum pulang ke penginapan Farel mampir ke konter yang membetulkan handphone miliknya dan ternyata benar sudah bisa di ambil.


๐˜‘๐˜ช๐˜ฌ๐˜ข ๐˜ฃ๐˜ฆ๐˜จ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ช ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฃ๐˜ช๐˜ด๐˜ข ๐˜ต๐˜ฆ๐˜ญ๐˜ง๐˜ฐ๐˜ฏ ๐˜ˆ๐˜ช๐˜ด๐˜บ๐˜ข๐˜ฉ ๐˜ด๐˜ฆ๐˜ฑ๐˜ถ๐˜ข๐˜ด๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ฑ๐˜ฆ๐˜ณ๐˜ญ๐˜ถ ๐˜ญ๐˜ข๐˜จ๐˜ช ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ฏ๐˜ซ๐˜ข๐˜ฎ ๐˜ฉ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฑ๐˜ฉ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜ฆ ๐˜ฎ๐˜ช๐˜ญ๐˜ช๐˜ฌ ๐˜™๐˜ช๐˜ณ๐˜ช๐˜ฏ. Farel tersenyum bahagia.


Tak lama, Farel tiba di penginapan. Ingin sekali membangunkan Ririn karena sudah sampai tapi Farel tak tega apalagi ia mendengar dengkuran halus keluar dari mulut Ririn yang menandakan jika dia sangat lelah.


๐˜‰๐˜ข๐˜จ๐˜ข๐˜ช๐˜ฎ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ข ๐˜ค๐˜ข๐˜ณ๐˜ข ๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฎ๐˜ฃ๐˜ข๐˜ฏ๐˜จ๐˜ถ๐˜ฏ๐˜ฌ๐˜ข๐˜ฏ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ต๐˜ข๐˜ฌ ๐˜ต๐˜ฆ๐˜จ๐˜ข, ๐˜ข๐˜ฑ๐˜ข ๐˜ข๐˜ฌ๐˜ถ ๐˜ฎ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜จ๐˜จ๐˜ฆ๐˜ฏ๐˜ฅ๐˜ฐ๐˜ฏ๐˜จ๐˜ฏ๐˜บ๐˜ข ๐˜ด๐˜ข๐˜ซ๐˜ข. Farel berkata dalam hati.


Farel akhirnya memilih untuk menggendong Ririn masuk ke kamarnya. Semua yang melihat mereka tampak biasa saja, karena mereka berpikir Farel dan Ririn memang memiliki hubungan suami istri.


Farel pun acuh dengan semuanya. baginya hanya satu wanita yang mengisi jiwa dan raganya, yaitu Aisyah tercinta.


Sampai di kamar Ririn, Farel menidurkan nya dengan sangat hati-hati. satu menit kemudian Ririn justru menarik tangan Farel dan menindih nya, Ririn pun mengigau menyebut nama Farel berulang. Suara itu sangat jelas Farel mendengarnya.

__ADS_1


Jangan lupa mampir karya temanku ya sobatโ˜บโ˜บโ˜บโ˜บ



__ADS_2