Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Mulai ada getaran di Hati


__ADS_3

"Aisyah ... Aisyah ... , Farel menguncang bahu Aisyah, kenapa kamu melamun, Ini Pak Sahir mau berpamitan beliau mau melakukan perjalanannya ke mesir."


"Eeh...ya, semoga selamat sampai tujuan Pak Sahir dan salam untuk keluarga disana." Aisyah melemparkan senyum. Ia merasa tak enak hati kerana melamun saat meeting berlangsung. untuk mengakhiri meeting mereka.


"Jadi, Kita sepakat pembangunan panti asuhan akan dimulai satu bulan lagi? " Pak Sahir memastikan tanggal pembangunan panti tersebut, baginya lebih cepat lebih baik.


"Baiklah, Saya setuju pembangunan akan saya tinjau langsung karena ini merupakan impian dari mertua saya." baik Farel ataupun Aisyah tersenyum bahagia, akhirnya harapan itu menjadi kenyataan.


"Itu sangat bagus Pak Farel, semoga proyek ini berjalan lancar. Kalau begitu saya permisi Pak Farel, Bu Aisyah."


"Baik Pak Sahir, terimakasih atas waktunya."


Mereka berjabat tangan untuk mengakhiri pertemuan itu. Setelahnya Pak Sahir meninggalkan caffe tersebut menuju bandara. Sekarang tinggallah mereka berdua.


ini adalah kesempatan Farel menanyakan apa yang terjadi pada Aisyah sewaktu meeting berlangsung.


"Aisyah, Kenapa kamu melamun waktu Pak Sahir menjelaskan soal pembangunan panti, apa ada yang kamu pikirkan?" Farel dibuat bingung dengan perubahan sikap Aisyah. Ia merasa ada sesuatu yang ia tutupi tapi tak entahlah mungkin hanya perasaanya saja.


"Tidak, aku hanya ingat kalau itu juga menjadi mimpiku dan Papa, tapi darimana kamu tahu kalau aku dan Papa merencanakan membangun sebuah Panti Asuhan?" tanya Aisyah juga penasaran, ia merasa jika ia tak pernah menceritakan masalah itu pada Farel, lalu bagaimana bisa tahu. Aisyah menatap mata Farel untuk mengetahui jawabannya.


Merasa ditatap Farel menjadi salah tingkah, tatapan mendalam dengan jarak hanya dua puluh senti membuat jantungnya berdetak kencang. Namun dengan cepat Farel menetralkan sikapnya dan menjawab dengan santai.


"Pak Wijaya, banyak cerita mengenaimu yang beliau ceritakan juga mengenai keinginanmu untuk mendirikan Panti Asuhan. Papamu memang sangatlah baik Aisyah, kalau tidak bagaimana mungkin Almarhum mau mengangkat ku dari jalanan dan menjadikanku orang kepercayaannya dan sekarang aku menjadi menatunya."


Aisyah tersenyum mendengar penuturan Farel, bagaimanapun apa yang dikatakannya memang benar.


"Iya Papa mang sangat baik, seandainya ia masih disini ... Papa pasti senang keinginannya terwujud." Tak terasa air mata Aisyah jatuh juga mengenang almarhum papanya.


Farel yang melihat Aisyah menangis segera meraihnya dalam pelukan untuk menenangkannya, Dalam dekapan, Farel membuat Aisyah sedikit tenang, sungguh Farel tak tega jika melihat orang yang ia sayangi menangis, cukup lama Farel mendekap Aisyah dalam pelukan hangatnya, memberikan rasa nyaman dari seorang suami, Aisyah yang menyadari mereka berpelukan di tempat umum segera melepas pelukannya.


"Maaf, maaf jika aku lancang..." Farel tak mau jika Aisyah salah menilainya, bagaimanapun hubungannya baru saja membaik, ini kesempatannya untuk bisa mendekatinya secara perlahan, berharap Aisyah membuka pintu hatinya.


Aisyah sendiri merasa canggung, ia sebenarnya merasakan ketulusan dari perlakuan Farel, ketulusan yang sebelumnya tak pernah ia dapatkan dari kekasihnya, meski dia dan Andre sudah berpacaran selama dua tahun.


Tanpa sepengetahuan mereka, dari kejauhan ada seseorang yang mengawasi setiap gerak gerik mereka, dia adalah Andre mantan kekasih Aisyah.


Wajah Andre terlihat memerah menahan Amarah, matanya menyiratkan dendam yang membara, ia tak Terima jika Aisyah menjadi milik orang lain. Bagaimanapun caranya ia harus merebut miliknya kembali, meski sempat mengatakan jika dia dan Aisyah sudah tak memiliki hubungan apapun tapi melihat mereka bahagia Andre tak rela.

__ADS_1


"Jangan kalian pikir bisa enak-enakan di atas penderitaan ku, akan ku balas setiap rasa sakit hatiku padamu Aisyah dan Bodyguard kampungan itu." Andre menatap pasangan itu dengan kebencian. Namun Andre terus menyembunyikan wajahnya agar tak diketahui oleh Aisyah dan Farel. Andre sebenarnya tidak mengikuti Aisyah hanya saja mereka bertemu di caffe tersebut, sebelum Farel dan Aisyah datang Andre sudah lebih dulu berada di caffe tersebut.


***


"Sudah jangan patah semangat, Papa pasti bangga dengan kamu karena tetap memenuhi keinginannya itu. Sekarang kita makan disini atau di rumah." Farel menawari Aisyah makan untuk mengalihkan perhatiannya pada Papanya. Sekarang sudah menjadi tugasnya untuk bisa membahagiakan Aisyah.


"Di sini saja, habis ini aku akan langsung ke kampus ada kelas jam sembilan." Sambil melirik jam.


Jam di tangan Aisyah menunjukkan pukul delapan tiga puluh itu artinya tiga puluh menit lagi dia harus sudah ada di kampus jika tidak maka dia bisa kena hukuman karena telat.


"Aku tak jadi makan, aku akan makan di kampus saja, tak perlu menjemput, aku bisa pulang sendiri." Aisyah mengatakannya sambil berlari keluar dari area caffe, meninggalkan farel sendiri seraya tersenyum."Istri kecilku yang manis." satu kalimat yang Farel ucapkan, mendengarnya aku merasa geli.


Akhirnya Farel mengalah, mengikuti keinginan istrinya itu. Aisyah memang tak suka jika ada yang mengatur hidupnya dia lebih memilih kebebasan. Namun ia tak pernah menyalahgunakan kebebasan yang di berikan oleh Papanya. Ia tahu batasan-batasan tersebut.


Aisyah sudah pergi ke kampus tanpa di antar Farel, ia pergi mengunakan taksi online, sedangkan Fandi di minta untuk mengantar Farel pulang karena Farel sendiri masih masa penyembuhan.


***


Di kampus,


Aisyah sedikit berlari masuki area kampus yang sudah terlihat ramai. Untung saja Aisyah tepat waktu, kebetulan dosen yang mengajar hari ini memang terkenal akan kedisiplinannya, siapa saja yang telat datang walau hanya semenit akan tetap mendapatkan hukuman berupa berjalan sambil jongkok mengelilingi lapangan sebanyak 3 kali. Dosen tersebut bernama Ariani s. pd. Dengan hukuman seperti itu membuat semua murid yang memiliki kelas dengan dosen tersebut memilih datang sebelum waktu kelas dimulai.


***


"Fandi, Apa saya salah jika saya memiliki perasaan pada istri saya sendiri?" dalam benak Farel terdapat banyak sekali pertanyaan yang menganggu pikirannya. Pertanyaan tersebut meluncur begitu saja dari mulut Farel.


"Maksud Bapak?" Fandi dibuat bingung oleh pertanyaan dari sahabatnya itu.


"Kamu tahu segalanya Fandi, tak pernah aku menyembunyikan sesuatu darimu, aku selalu berbagi denganmu apapun itu." Farel membuang nafas kasar, pertanyaan itu berhasil memecah konsentrasinya, dengan bertanya pada sahabat terdekat ia berharap mendapat jawaban dari masalahnya.


"Lalu kenapa Bapak bingung, Bu Aisyah adalah Istri sah Bapak sekarang, jika Pak Farel memiliki perasaan padanya saya rasa itu hal yang wajar. Tergantung Bu Aisyah apa dia juga memiliki rasa terhadap Pak Farel. karena setau Saya Bu Aisyah pernah memiliki kekasih sebelum menjadi istri Pak Farel. Memang Bu Aisyah sepertinya sudah menerima Bapak sebagai suami, saya juga turut senang, tapi apa mungkin Bu Aisyah juga menerima bapak dalam hatinya. Itu yang harus Pak Farel cari tahu." fandi menjawab pertanyaan Farel sekaligus memberikan masukan untuk sahabatnya menurutnya pasangan Farel Aisyah sangat cocok.


Mendengar penuturan Bawahannya, Fandi, Farel mengangguk-anggukkan kepalanya. kini tak ada lagi keraguan di hatinya tinggal mencari tahu apa yang di sarankan oleh fandi.


"Kamu benar Fandi, aku akan mencoba membuat tempat sendiri di hati Aisyah. semoga dia bisa menerimaku sepenuhnya bukan hanya raga tetapi juga jiwaku."


"Aminnn ...." Fandi juga berharap itu terjadi. bagaimanapun Farel adalah sahabatnya, ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk Farel.

__ADS_1


Farel memilih pulang ke rumah, rasanya untuk masuk kantor ia belum bisa karena tangannya masih menggunakan penyangga. Fandi pun selalu mengikuti kemanapun sahabatnya itu pergi, mereka tak pernah terpisahkan.


Sampai di rumah Farel mengajak Fandi untuk makan bersama dengannya karena tadi di caffe time ia dan Aisyah hanya minum kopi dan makan makanan ringan saja.


"Kita makan Fandi, aku sudah sangat lapar." ajak Farel sudah tak sabar menikmati masakan Bik sumi yang terkenal enak, namun belum bisa menyaingi masakan istrinya.


"Ayo, Kita kenyang kan perut kita. Di meja makan dipenuhi oleh canda dan tawa dari mereka berdua.


Setelah puas makan Farel memilih untuk tidur sedangkan Fandi memilih bermain handphonenya.


"Hallo..., Ririn saya minta selama Saya belum bisa masuk kantor kamu handel pekerjaan Saya dulu, oke...!"


"Baiklah Pak Farel, Oh ya bagaimana keadaan Pak Farel apa sudah lebih baik, Maaf Aku belum bisa menjenguk ke rumah Bapak, masih repot dengan urusan pekerjaan."


"Tak apa, masalah jenguk-menjenguk kan sudah di rumah sakit. Yasudah saya tutup telponnya."


Farel merebahkan tubuhnya di kasur hinga tak terasa ia sudah tertidur.


***


Jam sebelas siang Aisyah sudah menyelesaikan kuliahnya. Ia memilih langsung pulang karena ia belum sempat sarapan sampai kuliah selesai, bagaimana lagi, ia sampai kampus tepat waktu tidak ada sisa waktu sedikitpun untuk membeli makanan di kantin. Al hasil, dia belum sempat sarapan untung saja maggnya nggak kambuh jika tidak apa jadinya Aisyah.


Tiba di rumah Aisyah membuka pintu dan tak mendapati Siapapun.


"Farel..., apakah kamu di rumah, bik sumi, bibik di belakang..., dimana mereka semua apa mereka sedang ada urusan di luar, lebih baik aku membersihkan diri dulu baru makan." Aisyah tak mengambil pusing hal itu, semenjak kepergian Almarhum Aisyah sudah mulai terbiasa di rumah sambil berjalan menaiki tangga menuju kamarnya.


Aisyah terkejut melihat pintu kamar tidak di tutup." Apa ada maling masuk kamarku?"


Aisyah bergegas masuk dan terkejut melihat Suaminya sedang tertidur dengan keadaan telanjang dada, ia hanya mengunakan celana pendek tidur tengkurap dengan nyenyak nya. Melihat Farel menindih bahunya dengan tengkurap dan melihat lukanya yang masih belum sembuh membuat Aisyah segera menghampirinya."


"Farel, bagaimana cara tidurmu ini, lukamu akan terbuka lagi jika kau tidur tengkurap." mencoba membalikkan tubuh Farel. Namun saat membalikkan, Farel justru membawa Aisyah dalam dekapannya dan menguncinya sehingga Aisyah tidak bisa melepaskan pelukan Suaminya itu.


"Jangan pergi dariku Aisyah, aku ... aku ...." Farel tak meneruskan perkataannya Membuat Aisyah penasaran apa yang akan di katakan Farel mengenai dirinya.


Sentuhan itu membuat desiran hebat pada hati Aisyah. Memandang dengan jarak dekat membuatnya merasa gelisah.


"Ada apa denganku, perasaan apa ini, apa aku mencintai Farel."

__ADS_1


Saat Aisyah tanpa sengaja menyenggol luka yang masih belum kering betul membuat Farel mulai mendapat kesadarannya.


Mata Farel perlahan mulai membuka "Aisyah ...." menatapnya sejenak dengan dekat membuat Farel merasakan desiran hebat di hatinya. Ia semakin yakin bahwa ia telah jatuh cinta dengan Istrinya sendiri.


__ADS_2