Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Perjanjian antara Ririn dan Farel


__ADS_3

Pukul sepuluh pagi, Farel dan Ririn bersiap untuk melakukan perjalanan kembali ke jakarta. Selama perjalanan Ririn tak banyak bicara begitupun dengan Farel. Diantara mereka masih ada rasa canggung, kejadian tadi pagi membuat sedikit jarak di antara mereka. Ririn tidak mau terus di diamkan oleh Farel, ia ingin berbicara seperti semula untuk itu Ririn yang memulai pembicaraan mengusir rasa canggung di antara mereka. "Farel, apa kau masih marah kepadaku. Apa tidak bisa kita menjadi sahabat lagi. Mengenai permintaan aku akan memikirkannya lagi. Aku mohon jangan menjauhiku." pinta Ririn dengan tatapan memelas.


Mendengar itu Farel menatap Ririn sekilas, mencari kejujuran dari perkataannya. Untuk sejenak tatapan mereka bertemu. Ririn merasa sangat bahagia Akhirnya Farel mau menatapnya.


"Asal kamu bisa berjanji untuk tidak melakukan kesalahan itu lagi. Aku tidak bisa membiarkanmu memiliki perasaan kepadaku. itu kesalahan besar, Ririn." Farel menekankan perkataannya.


Ririn masih menunduk, ada rasa sakit hati saat Farel mengatakan perasaanya adalah sebuah kesalahan.


Ririn terdiam sejenak, ia berpikir jika ia menyerah maka yang dia lakukan selama ini hanyalah sia-sia, dan dia harus menerima kesalahan dan mengubur perasaannya dalam-dalam. Tapi jika Ririn memilih meneruskan semua rencananya, maka saat semua terbongkar Ririn terancam akan kehilangan Farel selamanya. Ririn tak akan mendapat tempat sebagai penghuni hatinya ataupun sebagai sahabat dekatnya.


"Bagaimana, apa kau bisa berjanji. Jika bisa aku akan tetap menganggap mu sebagai sahabatku, yang selalu ada di saat aku membutuhkan." Farel masih menunggu jawaban dari Ririn.


"Aku...aku akan berusaha, Farel. berikanlah aku waktu untuk merubah perasaanku kepadamu. Biarkanlah hubungan kita tetap seperti biasanya." Ririn memilih mundur menyamping kan perasaanya kepada Farel.


"Jadi kamu setuju dengan permintaanku." Farel kembali menatap Ririn, kali ini Farel bisa memastikan perkataan Ririn benar adanya melalui tatapan matanya.


"Iya, aku akan berusaha, tapi berjanjilah kamu akan ada di setiap aku membutuhkanmu, berjanjilah jika aku melakukan kesalahan kamu akan memaafkanku dan tak akan pernah memutuskan persahabatan kita ini. Kamu bisa melakukannya, jika kamu bisa menepati janjimu aku akan mengubur perasaan ini." Ririn memberikan pilihan kepada Farel.


Farel terlihat berpikir, ia tak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. jika Ririn bersedia mengubur dalam perasaanya maka hubungan Farel dengan Aisyah akan aman. Terlebih Aisyah memang cemburu terhadap Ririn. Tapi janji yang di minta Ririn juga tidak main-main.


"Aku akan menerima permintaanmu, tapi ingat hanya satu kesalahan, jika kamu melakukan dua kali kesalahan yang tak bisa termaafkan, maka aku tidak ingin memiliki hubungan apapun denganmu." Farel menyetujui permintaan Ririn dengan sedikit syarat darinya.


Ririn pun menyetujui permintaan Farel.

__ADS_1


𝘈𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭,𝘢𝘬𝘶 𝘮𝘦𝘮𝘪𝘯𝘵𝘢 𝘫𝘢𝘯𝘫𝘪 𝘪𝘵𝘶 𝘩𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘣𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘬𝘦𝘴𝘢𝘭𝘢𝘩𝘢𝘯 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘮𝘶𝘯𝘨𝘬𝘪𝘯 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘵𝘦𝘳𝘣𝘰𝘯𝘨𝘬𝘢𝘳 𝘴𝘶𝘢𝘵𝘶 𝘴𝘢𝘢𝘵 𝘯𝘢𝘯𝘵𝘪. Ririn berucap dalam hati.


Ririn berpikir jika Farel berjanji kepadanya untuk memaafkan satu kesalahannya, maka mau tidak mau Farel harus tetap menepati janjinya.


"Baiklah, kita lupakan masalah ini. anggap saja ini adalah mimpi buruk. Persahabatan kita kembali seperti semula."


Ririn mengangguk, mengiyakan ucapan Farel.


***


Di kediaman Aisyah,


Aisyah tidak tau pasti kapan Farel akan tiba di rumah. Waktu menelfon kemarin ia lupa menanyakan jam Berapa Farel akan tiba di Jakarta. Yang Aisyah tahu Hari ini Farel positif pulang. "Aku harus menyiapkan semuanya dengan sempurna, tak ada yang boleh terlewat."


Tak lama kedua sahabatnya datang, mereka sepakat akan membantu Aisyah. Memberi dukungan, tak lupa memberi saran untuk menyambut Farel datang. Aisyah dengan senang hati menerima usulan mereka.


"Boleh juga, sekalian lo beli sesuatu untuk Farel gitu. Masak udah pada tahan rindu selama tiga hari kalian nggak ngapa-ngapain. Kan nggak mungkin!" Vika mencoba untuk menggoda Aisyah.


"Kalian tuh ya, pikirannya selalu ke mana-mana. Padahal disini yang menikah aku, tapi yang suka bicara soal begituan, kalian sebel deh." Aisyah mulai kesal karena digoda habis-habisan oleh kedua sahabatnya.


"Ya nggak pa-palah Aisyah. Itung-itung kita juga sekali belajar, caranya jadi ibu rumah tangga, bener nggak, Vika." Vita meminta pembelaan dari sahabatnya Vika.


Vika hanya mengiyakan ucapan Vita.

__ADS_1


"Kalian ini, kalau udah kompak, ya nggak bakalan ada yang bisa pisahin." Aisyah mulai tawa ringan.


Mereka berbelanja di mall. Awalnya Aisyah yang hanya ingin menemani mereka belanja, juga ingin membeli beberapa baju sesuai dengan selera, Farel.


Mata Aisyah tertuju pada sebuah baju syar'i warna abu-abu yang di pajang. ia sangat menyukai desain baju syar'i itu. dengan langkah cepat ia mengambil baju yang dia maksud untuk menjadi miliknya.


"Mbak, saya mau yang itu, ya. Tolong di bungkus." Aisyah memberi perintah pada karyawan butik untuk mengambil baju yang dimaksud.


"Baik Bu, tunggu sebentar." karyawan butik mengambilkan yang berada di pajangan paling atas.


"Lo beli apa Aisyah, kita udah banyak nih, masak lo nggak beli baju apapun. Kita kesibukan emang niatnya mau belanja, Aisyah." Kedua sahabatnya ikut gemas melihat perubahan Aisyah. Hendak bertemu dengan Farel saja,


banyak yang Aisyah harus persiapkan.


Mereka akhirnya selesai berbelanja, semua menyediakan baju bawaannya kedalam keranjang dan meletakkan di kasir.


"Mengambil baju yang sudah diambil, Aisyah, lo benar mau pakai ini, Aisyah. Sejak kapan, lo udah mau merubah semua yang lo punya hanya untuk Farel semata." Vita tak percaya dengan apa yang sedang di lihat dari diri Aisyah.


"Emang kenapa, jika suami gue suka ya, bakalan gue lakuin. lagian ini juga masih belajar berubah. Farel juga nggak maksa gue, gue sendiri yang mau."


"Vita, sahabat kita ini sekarang sudah punya pemikiran yang dewasa. Kita harus dukung dia sebagai sahabat." Vika memberikan pandangannya mengenai Aisyah. Kalian seharusnya senang dong, gue bisa berpikir dewasa, lalu kenapa kalian harus terkejut dengan apa yang akan gue lakukan?" Aisyah heran dengan kedua sahabatnya.


"Sorry, gue tadi hanya nggak percaya, aja, dengan apa yang lu katakan. Secara Aisyah yang kita kenal, kan, tidak atau belum menyukai pakaian tertutup seperti ini. Ya, kita kagetlah!" Vita membenarkan perkataannya.

__ADS_1


"Sudah, jangan berdebat hanya karena aku menggunakan pakaian Syar'i. sekarang lebih baik kita cari makan kemudian pulang. Aku takut, Farel sudah perjalanan pulang. Nanti kalau dia pulang dan nggak nemu aku dirumah gimana. Pasti panik suamiku, secara di luar sana masih banyak musuh-musuh papaku yang mengincarku." Aisyah mengingat pesan Farel untuk selalu waspada mengenai bahaya dari musuh-musuh Papanya.


"Farel sendiri masih menyelidiki siapa saja musuh dari mertuanya. Menjadi pengusaha terkaya sedunia nomor dua membuatnya banyak memiliki musuh. entah itu bebuyutan atau yang sekedar iri melihat pencapaian yang tinggi tersebut.


__ADS_2