
Sinar mentari mulai menampakkan kehadirannya, memberikan kehangatan dikala pagi. Farel dan Aisyah sudah bangun dari jam lima pagi tadi, keduanya sekarang telah sibuk dengan aktivitas masing-masing.
"Mas Farel... mas Farel... ayo turun, kita sarapan" Aisyah memanggil suaminya untuk turun makan. lima menit telah berlalu, Aisyah yang menunggu di meja makan merasa heran kenapa suaminya tidak kunjung turun untuk makan.
𝘒𝘦𝘮𝘢𝘯𝘢 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪𝘬𝘶, 𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘵𝘢𝘥𝘪 𝘬𝘦𝘯𝘢𝘱𝘢 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯-𝘵𝘶𝘳𝘶𝘯. 𝘓𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘣𝘢𝘪𝘬 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘪𝘩𝘢𝘵 𝘮𝘢𝘴 𝘍𝘢𝘳𝘦𝘭 𝘴𝘦𝘥𝘢𝘯𝘨 𝘢𝘱𝘢!
Aisyah berjalan menuju kamar untuk mencari suaminya.
krek,
"Mas Farel... mas Farel..., dimana dia, kenapa tidak ada di kamar, apa mungkin di ruang kerjanya?" Aisyah mencari Farel yang entah menghilang kemana.
Aisyah berjalan menuju ruang kerja suaminya yang berada di ruangan paling ujung.
krek,
"Mas kamu disini, pandangannya langsung tertuju pada Suaminya yang sedang memeriksa File, aku cari ke mana-mana ternyata disini. Ayo kita turun sarapan dulu, makanannya sudah siap!" Aisyah berjalan mendekati suaminya untuk mengajaknya turun. Dari tatap muka Farel ia terlihat seperti sedang memiliki masalah.
"Mas Farel kenapa, apa ada masalah di kantor, mas kelihatannya cemas!, ceritalah mas kalau ada apa-apa, siapa tahu aku bisa bantu." Farel menatap Istrinya, "Hanya masalah kecil, aku bisa menyelesaikannya kamu tenang saja, fokuslah pada kuliahmu yang tinggal tiga bulan itu." Aisyah menggenggam tangan Farel, memberikan semangat lewat usapan lembut pada tangannya. "Kamu pasti bisa suamiku, tak ada masalah yang tak ada jalan keluarnya, semua pasti ada solusinya, hadapi semuanya dengan tenang ya, berpikirlah dengan jernih, mas pasti bisa." tak lupa senyuman manis ia hadirkan di hadapan Farel.
"Mas beruntung memiliki kamu, Dek, mas akan coba saranmu ya, semoga berhasil." Aisyah tersenyum mendengar pujian dari suaminya. "Sekarang kita turun, tinggalkan dulu itu sebentar." farel mengangguk mengiyakan perkataan Aisyah.
Di meja makan, mereka tengah adik menikmati sarapan pagi. Kali ini Aisyah yang memasak, ia ingin menyenangkan suaminya lewat perut, sedangkan bik sumi hanya bersih-bersih rumah.
"Masakanmu ini memang sangatlah lezat, seharusnya kamu ambil jurusan shef saja, pasti sekarang kamu udah jadi chef terkenal." Farel berbicara sambil menikmati setiap suapan dari masakan Aisyah. Mendengarnya Aisyah hanya tersenyum. "Sayangnya aku tak mempunyai cita-cita menjadi chef, aku lebih suka menjadi wanita karir, apa aku boleh mengejar mimpiku, suamiku. Aku tahu, aku sekarang sudah menjadi ibu rumah tangga, tapi tak salah bukan jika aku ingin menjadi seorang wanita karir, aku janji pekerjaanku nanti tak akan terbengkalai hanya karena aku berkarir." kali ini Aisyah menetap dengan memohon. Melihat tatapan Aisyah, Farel tak tega jika harus menolak keinginannya, lagipula umur Aisyah juga masih muda, ia berhak untuk mengejar mimpinya.
"Kamu tenang saja, aku pasti akan mendukungmu, apapun yang kamu mau selagi itu wajar dan masih di dalam batasnya aku akan mendukung. Sekarang yang penting kamu harus lulus dengan nilai terbaik, agar bisa meraih mimpimu!" Farel menggenggam tangan Aisyah tanda setuju dengan keinginannya.
__ADS_1
Aisyah bangkit dan memeluk suaminya, "Terimakasih, Mas memang yang terbaik."
"Iya, sekarang habiskan makananmu dulu, setelah itu aku antar ke kampus."
Aisyah dengan semangat menghabiskan sarapannya. setelah itu pergi bersiap-siap ke kampus. Tak lupa Farel pun sudah siap dengan Pakaian kantornya dan seperti biasa, Farel mampu menghipnotis setiap wanita dengan ketampanannya.
"Mas Farel ganteng banget sih, aku jadi khawatir kalau mas digodain sama para wanita di luar sana." mereka berjalan menuju mobil untuk segera berangkat.
"Siapa yang berani godain suamimu ini, tak ada yang seperti itu, buanglah jauh-jauh pemikiran itu, lebih baik kamu pikirin kuliahmu itu baru benar." Lagi-lagi Farel mengingatkan masalah kuliah, Farel ingin Aisyah bisa lulus dengan nilai terbaik, dengan begitu pak Wijaya juga pasti bangga jika anak kesayangannya lulus dengan hasil memuaskan.
"Mas, kalau boleh tahu, apa yang mas bicarakan dengan Ririn kemarin malam, mas udah pecat dia, kan. Aku hanya takut dia berulah!" dalam perjalanan Aisyah bertanya mengenai pertemuan Ririn dan Farel di taman.
"Sudah jangan bahas itu, semua itu sudah berlalu dan ya, aku sudah memecatnya sekarang Ririn bukan lagi sahabatku. Entah kenapa dia berubah tidak seperti dulu." Farel cukup mengingat jelas kebaikan-kebaikan Ririn.
"Yasudah kalau begitu, setidaknya untuk saat ini kita bisa hidup lebih tenang." Aisyah membuang nafas lega,
Aku hanya ingin ketenangan dalam rumah tanggaku, apa itu salah.
"Aku masuk dulu ya Mas, nanti jangan sampai telat ya, bye..." Aisyah sedikit berteriak sambil menjauh dari tempat Farel berada.
Farel hanya tersenyum melihat tingkah Aisyah, terkadang ia menjadi dewasa terkadang juga sikapnya masih seperti anka-anak.
***
Tibalah Farel di kantor,
ia mengumpulkan para manager dan staf kantor untuk memberitahukan jika Ririn telah diberhentikan sebagai sekretaris dan ia membuka lowongan untuk pekerjaan itu.
__ADS_1
"Saya harap kalian bisa tetap bekerja sesuai dengan peraturan, membangun perusahaan ini, menjadikannya lebih maju. Apa kalian bisa melakukan itu? Saya umumkan juga bahwa ada lowongan baru di bagian sekertaris, mengantikan Ririn, dia telah mengundurkan diri dari perusahaan ini. saya rasa ini cukup jelas, jadi silahkan kembali ke tempat masing-masing." setelah Farel mengumumkan pengunduran Ririn ia kembali ke ruangannya.
"Andai kamu tak melakukan hal itu Rin, pasti kamu masih disini, masih menjadi sahabat terbaikku. Aku masih tak menyangka kamu melakukan itu." Farel bermonolog. Hari ini pekerjaannya di kantor tidak terlalu banyak, sehingga Farel bisa menjemput Aisyah sepulang kuliah.
Tit...tit...tit...,Alarm handphone berbunyi, menunjukkan peringatan menjemput Istri tercinta. Farel yang melihat peringatan itu tersenyum,
Dengan perasaan senang, Farel melajukan mobilnya ke arah kampus Aisyah.
***
Hari ini kedua sahabat Aisyah tidak masuk, mereka sakit bersamaan, entah kenapa bisa sampai bersamaan. Tanpa kehadiran kedua sahabatnya itu Aisyah merasa sepi, ya meskipun masih banyak teman yang lainnya, tapi rasanya berbeda antara sahabat dan teman biasa.
𝘈𝘯𝘥𝘢𝘪 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯 𝘥𝘪𝘴𝘪𝘯𝘪, 𝘢𝘬𝘶 𝘱𝘢𝘴𝘵𝘪 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘣𝘦𝘳𝘣𝘢𝘨𝘪 𝘤𝘦𝘳𝘪𝘵𝘢 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘬𝘢𝘭𝘪𝘢𝘯. 𝘶𝘩𝘩𝘩...𝘳𝘢𝘴𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘴𝘦𝘱𝘪 𝘴𝘦𝘬𝘢𝘭𝘪. Aisyah barucap dalam hati.
Sebuah tepukan di pundak mengagetkan Aisyah. "Hai sendirian aja, kemana kedua sahabatmu, Vika, Vita. Mereka nggak masuk ya...." ucap Andre sambil duduk di samping Aisyah.
Aisyah yang mendapati Andre duduk di sampingnya menggeser sedikit duduknya agar ada jarak di antara mereka.
"Mereka memang nggak masuk, ada apa, kenapa kamu kesini?" tanya Aisyah sedikit ketus.
"Tidak tadi aku hanya lewat, aku lihat kamu sendiri ya aku temani, memang apa salahnya, kan kita sekarang berteman." Andre mengatakan yang sebenarnya.
𝘈𝘬𝘶 𝘳𝘢𝘴𝘢 𝘪𝘯𝘪 𝘸𝘢𝘬𝘵𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘱𝘢𝘴 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘭𝘦𝘣𝘪𝘩 𝘥𝘦𝘬𝘢𝘵 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩, 𝘢𝘱𝘢𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘬𝘦𝘥𝘶𝘢 𝘴𝘢𝘩𝘢𝘣𝘢𝘵𝘯𝘺𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘰𝘬 𝘵𝘢𝘩𝘶 𝘪𝘵𝘶 𝘭𝘢𝘨𝘪 𝘯𝘨𝘨𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢. 𝘈𝘬𝘶 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘥𝘦𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘮𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪 𝘈𝘪𝘴𝘺𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘮𝘣𝘢𝘭𝘪.
Andre berucap dalam hati, hanya senyum licik yang dia tampilkan, itupun tak diketahui oleh Aisyah.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1
𝘫𝘢𝘯𝘨𝘢𝘯 𝘭𝘶𝘱𝘢 𝘮𝘢𝘮𝘱𝘪𝘳 𝘬𝘦 𝘬𝘢𝘳𝘺𝘢 𝘵𝘦𝘮𝘢𝘯 𝘬𝘶 𝘺𝘢... 👇👇👇