Menikahi Bodyguard Papa

Menikahi Bodyguard Papa
Malam yang indah 2


__ADS_3

"Aku juga akan tetap mencari Pa, Papa tengah saja kita pasti akan menjadi keluarga yang lengkap kembali." Alex menyentuh pundak papanya mencoba menyalurkan semangat untuk lelaki tua itu.


"Iya, besok kamu bersiap-siap kita akan mengadakan meeting dengan perusahaan kusuma untuk menandatangani kerja sama untuk perusahaan kita. Sebelumnya Papa sudah beberapa kali berkomunikasi dengan sekertarisnya, dan baru kali ini Kita akan bertemu secara langsung dengan pemilik perusahaan itu."


"Alex sudah siap untuk terjun dalam dunia bisnis, papa jangan khawatir Alex pasti bisa membawa perusahaan kita ini semakin maju kedepannya." Alex berucap mantap.


"Yasudah Papa istirahat dulu, siapkan dirimu."


Alex hanya mengangguk, memandang Papanya yang berjalan keluar dari kamar miliknya.


"Sudahlah lebih baik aku tidur besok pasti banyak hal yang harus aku kerjakan. Semoga saja wajah cantik itu hadir dalam mimpiku." gumam Alex yang akhirnya memilih memejamkan mata menunggu hari esok tiba.


***


Farel menghempaskan tubuh Aisyah pada peraduan, mendekap Aisyah untuk memulai kegiatan panasnya. "Sungguh sayang malam ini kamu terlihat cantik dan menggoda, apa aku boleh menghabisimu malam ini?" Farel bertanya dengan suara beratnya.

__ADS_1


"Lakukanlah, aku juga merindukan saat-saat seperti ini." Aisyah juga sudah tidak sabar ingin menikmati surga dunianya.


Setelah mendapat persetujuan Farel melakukan nya dengan memulai dari atas, Ciuman yang sangat lembut mampu membuat Aisyah melayang. Farel terus saja menghujani Aisyah dengan sentuhan terampil tangannya pada bola kembar miliknya, hingga suara ******* kembali keluar dari mulut namun karena masih berciuman suara erotis itu tak terdengar sempurna. Malam ini sepasang kekasih itu ingin menyatukan cita mereka kembali.


"Milikmu sungguh manis sayang aku tak bisa melupakannya," Farel terus saja bermain sambil mengeluarkan kata-kata yang memancing hasrat lawannya.


Farel turun pada leher jenjang milik Aisyah dan meninggalkan tanda kepemilikan atas dirinya di beberapa tempat kesukaannya. Permainan itu terus turun hingga tepat pada inti milik Aisyah, suara ******* kembali keluar saat milik Farel menyapu milik Aisyah, "Kamu yakin sayang?" tanya Farel yang di jawab dengan anggukan disertai senyum menggoda dari Aisyah.


Perlahan tapi pasti benda lunak tanpa otot itu masuk menembus milik Aisyah, mengabsen setiap inci dan kenikmatan yang ada di dalamnya. Permainan itu bertambah panas saat keduanya hampir saja mencapai puncak kenikmatan yang tiada tara, itu membuat Farel semakin mempercepat laju mainnya hingga mereka berdua melepas pagar secara bersamaan, permainan itu mereka lakukan bukan hanya satu ronde melainkan tiga atau empat ronde. Dengan berakhirnya permainan Farel berharap akan ada Farel junior yang tumbuh dalam rahim Aisyah. Ya meskipun Farel akan tetap mengulang permainan itu karena memang tak akan pernah bosan jika berhubungan dengan yang satu ini.


"Akhh...., jam berapa ini?" Farel meraih handphone miliknya yang berada di meja dekat tempat tidur. "Jam tujuh, Astaga... aku baru ingat jika aku ada pertemuan." Farel bergegas menuju kamar mandi untuk segera membersihkan dirinya, meninggalkan Aisyah yang masih terlelap dalam dunia mimpi. Tak lama Farel keluar dengan pakaian sudah rapi, pagi hari ini senyum bahagia tak luput dari wajah tampan Farel. Farel selalu teringat akan pergulatan mereka tadi malam semua itu membuatnya senyum-senyum sendiri. Farel melihat jam di tangannya yang menunjukkan pukul delapan, "Sebaiknya aku tidak menggangu mu, kamu pasti lelah setelah pertempuran kita tadi malam."


Farel memilih turun dan membuatkan sesuatu untuk Aisyah sebelum akhirnya harus pergi ke kantor. Cukup lama berkutat di dapur, Farel masuk ke kamar dengan membawa sepiring nasi goreng yang ia buat spesial untuk sang istri tercinta, tak lupa Farel menaruh tulisan manis di samping nasi goreng tersebut.


"Semoga kamu menyukai hadiah kecil dariku untukmu, aku pergi dulu." Farel kemudian beranjak dari tempat tidur, mencium kening Aisyah sebelum keluar dan berangkat ke kantor untuk melakukan pekerjaannya sebagai CEO. kini jabatan itu bukan sementara, melainkan Farel sudah resmi menjadi pemilik perusahaan. Aisyah sudah menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya pada Farel, suaminya, karena Aisyah yakin perusahaan itu akan lebih maju di tangan Farel. Aisyah kini sudah memiliki butik untuk mewujudkan cita-citanya.

__ADS_1


Tak lama Aisyah terbangun dari tidurnya, Aisyah yang tak mendapati Farel di tempat tidur, hanya bisa tersenyum, bayangan pergulatan mereka tadi malam masih terngiang di kepalanya. "Semoga dengan awal yang baru kehidupan pernikahan kita jadi lebih berwarna Mas, aku berdoa semoga tak ada masalah yang tak bisa kita selesaikan, Kita akan selalu bersama-sama sampai kita menua." Aisyah bergumam, pandangan Aisyah langsung tertuju pada sepiring nasi goreng kesukaannya. Aisyah mengambil kertas tersebut dan mulai membacanya.


𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢𝘵 𝘱𝘢𝘨𝘪 𝘣𝘪𝘥𝘢𝘥𝘢𝘳𝘪 𝘮𝘢𝘯𝘪𝘴, 𝘭𝘦𝘸𝘢𝘵 𝘬𝘦𝘳𝘵𝘢𝘴 𝘪𝘯𝘪 𝘴𝘶𝘢𝘮𝘪𝘮𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘢𝘮𝘱𝘢𝘯 𝘪𝘯𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘵𝘦𝘳𝘪𝘮𝘢𝘬𝘢𝘴𝘪𝘩 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘭𝘢𝘮, 𝘴𝘶𝘯𝘨𝘨𝘶𝘩, 𝘵𝘢𝘬 𝘢𝘥𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘨𝘢𝘮𝘣𝘢𝘳𝘬𝘢𝘯 𝘣𝘦𝘵𝘢𝘱𝘢 𝘣𝘢𝘩𝘢𝘨𝘪𝘢𝘯𝘺𝘢 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘬𝘶 𝘪𝘯𝘪, 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘵𝘦𝘭𝘢𝘩 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘦𝘳𝘪𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘮𝘢𝘯𝘨𝘢𝘵 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘣𝘢𝘳𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘶, 𝘴𝘦𝘮𝘰𝘨𝘢 𝘬𝘢𝘮𝘶 𝘮𝘦𝘯𝘺𝘶𝘬𝘢𝘪 𝘩𝘢𝘥𝘪𝘢𝘩 𝘬𝘦𝘤𝘪𝘭 𝘥𝘢𝘳𝘪𝘬𝘶 𝘺𝘢, 𝘤𝘢𝘯𝘵𝘪𝘬.


Aisyah tersenyum membacanya, "Seharusnya aku yang berterimakasih mas, kamu telah sabar menghadapi ku selama ini, tujuanku sekarang adalah kebahagiaan mu, tak ada yang lebih penting dari pada itu." Aisyah bermonolog. Setelah selesai membaca, Aisyah pergi ke kamar mandi dan menyegarkan diri, baru setelah itu Aisyah menikmati menu sederhana tapi memiliki rasa yang spesial sebab dibuat dengan cinta dan kasih sayang.


Kali ini Aisyah sedikit terlambat untuk pergi ke butik, Aisyah ingin mengunjungi butik milik sahabatnya terlebih dahulu.


Farel telah tiba di kantor, "Selamat pagi pak Farel." suara Fandi yang lebih dulu datang ke kantor dan menyambut kedatangan bosnya itu. "Pagi, apa klien kita sudah datang?" tanya Farel sambil berjalan memasuki lift VIP yang langsung menuju ke ruangan pribadinya.


"Belum Pak Farel, mungkin masih dalam perjalanan, semua berkas sudah saya siapkan, apa Pak Farel ingin memeriksanya kembali Sebelum kita melakukan meeting tersebut?"


"Tak perlu, bukankah kamu sendiri yang membuat berkas-berkas ini, aku percayakan semuanya padamu, Fandi. Apakah kamu melihat keraguan di mataku, aku bahkan tak bisa menemukan kesalahan yang pernah kamu buat selama bekerja di perusahaan ini." Fandi semakin menatap kagum pada sosok Farel, sosok yang dulunya hanyalah seorang anak jalanan yang mendapat keberuntungan di angkat oleh pak Wijaya Kusuma menjadi bodyguard kepercayaan, yang memang di tugaskan menjaga putri semata sayang nya. Fandi kini telah beralih profesi dari bodyguard menjadi sekertaris pribadi Farel. Semenjak Ririn sekertaris lama mengundurkan diri Farel yang kewalahan meminta Fandi untuk menempati posisi tersebut, lagipula keadaan Aisyah saat itu tak memungkinkan untuk memintanya bergabung dengan perusahaan, dan saat ini kepala Bodyguard di pimpin oleh Dika. Farel memilih menunggu di ruangan meeting, tak lama klien yang di tunggu-tunggu datang juga.


"Selamat datang pak Alex." sapa Farel formal sambil merentangkan tangan tanda perkenalan.

__ADS_1


Alex sempat tertegun saat menatap wajah Farel, entah mengapa ia merasakan perasaan yang berbeda, ada rasa akrab meski baru pertama kenal.


__ADS_2